Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Epilog Arc Kedua Part 2


__ADS_3

Malam di dalam hutan di pinggiran Kota Zerasa di daratan utara, terlihat rombongan Yvvone sedang berbincang di perkemahan mereka. Tiga Tenda Setengah Jadi yang praktis buatan Rhapsodia, tampak berdiri mengelilingi sebuah api unggun.


Rafa yang telah mempersiapkan tenda tersebut untuk dibawa sebelum mereka meninggalkan Wilayah Pusat Rhapsodia. Disamping itu mereka juga membawa beberapa peralatan lain dan juga makanan instan.


"Sudah dua minggu lebih kita di sini. Tapi kita tidak menemukan orang-orang itu," ucap Ymone yang terlihat duduk nyaman di sebelah Ares di depan api unggun. Tampak sedang membakar daging kijang hasil buruan para Azorgia.


Mengelilingi api unggun itu saat ini hanya terlihat empat Getzja Azorgia dan para elf saja. Yvvone, Ymone, Ares, Solas, Talos, dan seorang perempuan elf berambut hitam, bermata perak, bernama Kanna. Sementara Murrel dan Morgana sedang bertugas mencari informasi di kota-kota lain di sekitar wilayah tersebut.


"Apa mungkin mereka memutar melalui wilayah Cilum?" Yvvone menduga-duga.


"Kemungkinan besarnya memang seperti itu," balas Solas dari seberang Yvvone. Tampak elf marga Rhafie itu sedang membaca buku yang dipinjamkan oleh Rafa, dengan bantuan alat penerangan buatan pengerajin Rhapsodia, yang disebut Lampu Senter.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Perempuan elf bernama Kanna itu bertanya. "Apa kita perlu mencari mereka di wilayah Cilum?"


"Percumah saja bila niatan mereka memang sengaja bersembunyi dari kita," jawab Ymone kemudian.


Namun saat Yvvone hendak mengeluarkan pendapatnya, tiba-tiba turun dari langit malam, sosok Murrel bersama Morgana.


"Hei, kalian mengejutkanku," ucap Yvvone terlihat tidak terima karena dikejutkan.


"Terlambat." Bukannya menanggapi ucapan Yvvone, Murrel malah berucap hal yang tidak dimengerti oleh yang lainnya.


"Ada apa? Apa yang terlambat?" tanya Ymone terlihat penasaran.


"Orang-orang itu sekarang sudah berada di Kotaraja Elbrasta," jawab Morgana menjelaskan.


"Mereka berada di Elbrasta? Apa kalian yakin?" Yvvone bertanya meyakinkan.


"Ya, siang tadi aku mendapat informasi dari beberapa anggota Serikat Petarung di Kota Metana," jawab Morgana. "Beberapa hari yang lalu, mereka terlihat dalam peperangan melawan pasukan dari para bangsawan di luar Kotaraja," lanjutnya menjelaskan.


"Apa kau yakin itu orang-orang yang kita cari?" Yvvone tampak belum bisa percaya.


"Ya, ciri-ciri mereka seperti orang-orang yang kita kejar. Dan setidaknya ada enam yang terlihat dalam peperangan tersebut." Kali ini Murrel yang menambahi.


"Berarti kita harus ke sana untuk memastikannya," ucap Yvvone seraya bangkit berdiri.


"Benar. Kita berangkat sekarang juga, sebelum mereka kembali bersembunyi," balas Ymone yang disetujui oleh yang lain.


Namun saat mereka hendak bersiap untuk membereskan perkemahan mereka, tiba-tiba saja para elf merasakan sesuatu.


"Aliran Jiwa ini..." Belum selesai Yvvone berucap, tiba-tiba muncul dari ketiadaan, sesosok bertopeng tengkorak menghujamkan pedangnya ke arah Aeron muda itu.


Namun dengan cekatan Yvvone segera mengeluarkan sihirnya untuk menahan seranga tiba-tiba dari sosok misterius tersebut.

__ADS_1


Kubah angin tak kasat mata yang mengelilingi tubuh Yvvone itu berhasil menghentikan pedang lawan yang dihunuskan tepat ke arah jantungnya.


Mendapati serangannya gagal, sosok bertopeng tengkorak itu melompat mundur ke belakang. Terlihat jubah hitamnya berkelebatan.


Sedang yang lain segera memasang kuda-kuda bertarung mereka, setelah menyadari keberadaan penyerang misterius itu. Baik para elf, Yllgarian, atau pun Azorgia.


"Kau masih secakap lima tahun yang lalu, Aeron muda." Suara yang keluar dari penyerang bertopeng itu terdengar seperti suara ketika perempuan dan laki-laki berbicara secara bersamaan.


Yvvone segera menambah kewaspadaannya setelah mengenali sosok bertopeng itu. Mereka pernah berhadapan sebentar ketika para Mugger melakukan penyerangan ke Wilayah Pusat Rhapsodia lima tahun lalu.


"Pisau Kegelapan?!" ucap Ares yang terdengar sedikit tidak percaya saat melihat sesosok bertopeng tengkorak di hadapannya itu.


"Maksudmu, Glaive?!" Kali ini Murrel yang terdengar tidak percaya.


"Oh, sudah lama kami tidak mendengar kata-kata itu," ucap sesosok bertopeng yang dikenal dengan sebutan Glaive itu.


"Berhati-hatilah. Tiap individu dari mereka adalah petarung yang handal. Dan mereka selalu bertarung secara berkelompok," ucap Ares lagi memberikan peringatan.


"Tidak salah," ucap sosok bertopeng itu, saat kemudian beberapa sosok lain yang serupa dengannya, muncul begitu saja dari ketiadaan di sekitarnya.


"Siapa yang mengirim kalian?!" tanya Yvvone kemudian.


"Pertanyaan yang salah," jawab sosok bertopeng itu sebelum kemudian melesat maju bersama puluhan sosok bertopeng lainnya menyerang rombongan Yvvone.


\=


Seminggu sebelumnya, di kediaman Sefier di dalam hutan di pingiran wilayah Novus, barat daya Kotaraja Elbrasta.


"Sudah saatnya kita bergerak." Sefier menatap sebuah peti kayu berbingkai logam yang menyita separuh lebar dari meja kerjanya itu dengan puas. Terlihat dari senyum samar di wajahnya.


"Tapi, bagaimana dengan Grevier, Tuan?" Edea bertanya dari samping Sefier.


"Tidak perlu kuatir. Aku sudah memiliki rencana untuk itu," jawab Sefier seraya meletakan beban tubuhnya ke sandaran kursi dengan nyaman.


"Apa anda berniat untuk menyingkirkannya kali ini?" Gadis Getzja itu bertanya lagi.


"Ya, benar. Sama seperti ayahnya, sekarang dia sudah tidak berguna lagi untuk kita."


"Apa kita perlu membunuhnya dalam pertempuran seperti yang kita pernah lakukan pada ayahnya dulu?" Edea bertanya memastikan.


"Tidak. Aku punya rencana lain," jawab Sefier yang terlihat sedang mengetuk-ketukan jarinya ke sandaran lengan.


"Apa itu rencana untuk mengambing hitamkan Cilum dan Estrinx, seperti yang pernah anda jelaskan sebelumnya?"

__ADS_1


"Benar sekali," jawab Sefier yang kini mulai menegakan posisi duduknya. "Kita akan kirim pembunuh ke kediamannya. Dan buat seolah itu perbuatan dari kerajaan lain," ucapnya menjelaskan. "Dengan begitu, kita bisa menuduh Cilum dan Estrinx atas kematian Grevier. Dan memberi kita alasan untuk melakukan serangan ke wilayah mereka."


Edea terlihat tersenyum mendengar rencana dari tuannya itu. "Lalu bagaimana dengan para bangsawan itu?"


"Ya, kita juga akan membabat habis serangga-serangga itu. Seminggu dari sekarang, dimulai dari Dreanor, kemudian Strene," jawab pria Seithr berambut panjang itu kemudian.


"Kalau putri Elbrasta itu, tuan?" Edea kembali bertanya karena teringat akan keberadaan Lucia dan hubungannya dengan kerajaan Elbrasta dan Grevier. "Dari kabar yang saya dapat, kerajaan di Tanah Mati itu saat ini sudah berhasil mengambil alih separuh wilayah dari bekas Kerajaan Urbar," lanjutnya lagi.


"Ya, Tyrion memang tidak berguna. Kalau saja kita tidak butuh dia untuk mengalihkan perhatian, aku tidak akan sudi untuk membantunya," jawab Sefier kemudian. "Tapi memang mau tak mau kita akan berhadapan juga dengan keturunan langsung Elbrasta itu."


"Bagaimana bila mereka menyerang saat kita belum siap?"


"Tak perlu kuatir, Edea. Mungkin sampai beberapa bulan ke depan mereka tetap akan disibukan oleh permasalahan di daratan selatan. Meskipun Tyrion gagal mempertahankan wilayahnya, Joren dan Augra tetap akan membuatnya sibuk." Sefier menjawab dengan rasa percaya diri.


"Lagi pula kita sudah memiliki ini," lanjut Sefier seraya menunjuk kota kayu di hadapannya. "Meski kita masih harus menunggu beberapa waktu lagi untuk bisa menggunakannya secara penuh, tapi senjata ini adalah senjata yang akan mengubah jaman."


Edea hanya terlihat mengangguk mendengar ucapan tuannya itu, dengan senyum penuh kepuasan.


"Jadi, kita sudah tidak perlu lagi bersembunyi dan menunggu. Keadilan kita akan segera tiba. Dan kerajaan Bruixeria akan kembali berdiri," ucap Sefier lagi dengan nada penuh kebanggaan. "Sekarang pergilah, Edea. Kabarkan hal ini pada yang lain. Kita akan memulai peperangan suci kita," lanjutnya kemudian dengan perintah.


"Baik, tuan!" jawab Edea dengan cepat dan tegas, sehelum kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Sekarang tinggal mencari cara untuk menangani para Elf yang suka ikut campur itu," ucap Sefier kepada dirinya sendiri. "Liz, kau di sana?" Panggilnya kemudian, yang ia tujukan kepada seseorang di balik pintu di luar ruang kerjanya.


"Tuanku." Suara wanita menjawab.


"Sepertinya kita perlu bantuan Glaves sekali lagi," ucap Sefier kemudian.


"Saya mengerti, tuan," jawab perempuan yang dipanggil Liz itu tanpa bertanya lebih rinci.


"Bawa serta Noel bersama mu. Itu akan mempermudahkan mu melakukan perundingan dengan mereka."


"Baik, tuan," jawab Liz sekali lagi sebelum kemudian pergi meninggalkan posisinya.


Setelah itu Sefier mulai membuka kotak kayu di atas meja kerjanya. Yang kemudian memperlihatkan empat gelang dan sebuah tiara di atas kain sutra berwarna merah mengkilat, lengkap dengan permata tertatah di setiap gelang dan di tengah tiara tersebut.


"Tak lama lagi, Bruixeria akan bangkit kembali untuk menyatukan dunia yang kacau ini," ucap Sefier dengan senyum mengembang.


-


Arc Kedua Selesai


---iIi---

__ADS_1


__ADS_2