
Dua hari kemudian Aksa mulai menghubungi orang-orang yang terkait dengan rancangannya untuk membuat benda-benda yang diminta oleh Nata.
"Benda aneh apa lagi yang Anda ingin kami buat, Tuan Aksa?" Haldin menggeleng pelan setelah membaca gulungan kertas berisi gambar rancangan yang baru pertama kali ia lihat.
"Rasanya seperti sudah puluhan tahun tidak melihat rancangan unik Anda yang seperti ini, Tuan Aksa," sela Matyas yang terlihat tersenyum lebar tanpa memindahkan tatapannya dari gambar rancangan Aksa tersebut.
"Apa anda sekalian merindukan rancangan-rancangan 'Ilahi' ku?" balas Aksa seraya mengangkat kepala membanggakan diri.
Mereka sedang mengadakan pertemuan di atelir utama Bintang Timur. Selain Haldin dan Matyas, ikut hadir pula Val, Marco, Couran, Go, Win, dan beberapa kepala perkumpulan pengerajin dari Kota Selatan.
Sedang Aksa sendiri hanya ditemani oleh Lily. Dua gadis yang selalu bersamanya, Rafa dan Luque kali ini sedang mendapat tugas lain untuk bertemu dengan Ellian, Katarina, dan Selene terkait dengan bahan obat-obatan yang akan digunakan tidak hanya untuk para prajurit, tapi juga untuk bidang kesehatan dan kedokteran yang rencana akan mulai dibangun.
"Banyak sekali barang yang ingin Anda buat, Tuan Aksa. Apa bahan material kita mencukupi untuk semua ini?" ujar Go yang terlihat masih menjelajahkan tatapnya dalam daftar yang Aksa buat.
"Mengeluh saja pada Nata, Nona Elaine. Dia yang ingin semua benda-benda itu," jawab Aksa yang segera dibalas dengan decakan lidah oleh Go karena memanggil nama depannya.
"Dan berapa lama aku harus menyelasaikan semua rancangan ini?" Tiba-tiba Val membuka mulut bertanya.
"Kau bertanya waktu pengerjaannya seolah membuat semua peralatan baru ini adalah hal kecil bagimu, Val. Itu baru yang namanya semangat remaja. Optimis vibe. Aku suka!" ujar Aksa sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah Val.
"Karena aku tahu Nata pasti memiliki batasan waktu untuk menjalankan rencananya," jawab Val dengan santai.
"Yang sudah berumur memang beda, ya?" celetuk Aksa dengan cengiran menggoda yang tidak diperdulikan oleh Val. "Sebisa mungkin untuk pembuatan senjata bisa diselesakan dalam waktu 1 sampai 2 bulan ini. Karena rencananya akan digunakan untuk para prajurit berlatih," lanjutnya menjawab tidak hanya untuk Val, namun juga untuk yang lainnya.
Mendengar ucapan Aksa membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mulai saling memandang dan kemudian memulai diskusi kecil mereka.
"Itu termasuk pakaian pelindung dan helmnya," tambah Aksa lagi. "Dan sisanya, yang peralatan lain, setidaknya selesai dalam 3 sampai 4 bulan dari sekarang."
Beberapa orang tampak menggangguk kecil menerima batasan waktu tersebut, meski tak sedikit juga yang terlihat keberatan.
"Bagaimana, masih ada yang perlu ditanyakan? Atau ada yang keberatan dan punya usulan lainnya?" tanya Aksa kemudian yang dijawab dengan diam oleh yang lain.
Setelah menunggu cukup lama, dan masih juga tidak mendapat respon dari yang lain, akhirnya Aksa pun kembali berbicara. "Baiklah kalau begitu aku akan lanjutkan ke tema utama pertemuan ini."
"Tema utama? Masih ada hal yang ingin Anda sampaikan?"
Alih-alih menjawab, Aksa malah mengangkat gulungan kain lebar yang sedari tadi berada di lantai di sebelah tempatnya berdiri dan mulai memanggulnya ke arah papan kayu besar di sudut ruangan. "Tolong, bantu aku," tambahnya saat ia terlihat sempoyongan dengan gulungan kain tersebut.
"Apa masih ada rancangan yang ingin Anda buat?" Kali ini Matyas yang bertanya.
"Benar. Ini adalah rancangan ultimate yang akan menguncang tatanan dunia ini," jawab Aksa terengah setelah berhasil memasang salah satu ujung gulungan kain tersebut di bagian atas papan kayu dan masih menahan bagian bawahnya agar tetap tergulung.
__ADS_1
"Benda yang akan mengguncang tatanan dunia?" Couran terlihat mengeryitkan dahinya. Sudah lama ia tidak mendengar atau melihat benda buatan Aksa yang seperti itu.
Sementara semua orang yang ada dalam ruangan tersebut terlihat mulai memasang wajah penasaran dan antusias.
"Ladies and Gentlemen, I present you," ujar Aksa sambil melepas ujung lain dari gulungan kain tersebut dan membiarkannya jatuh tergerai. "Kapal Udara," tambahnya seraya membungkuk kecil dan mengarahkan tangannya ke sebuah gambar rancangan yang terlihat rumit dan detail di atas kain lebar tersebut, seolah sedang memperkenalkan seseorang dengan status penting dan terhormat.
"Kapal Udara?!"
Segera semua orang berdiri dari tempat duduk mereka dan bergegas mendekat untuk melihat rancangan Kapal Udara itu dengan lebih jelas.
-
Sementara di saat yang bersamaan Nata juga memulai jadwal pelatihan para prajurit dan mulai membahas strategi mengenai rencananya lebih detail dengan Lucia dan para elit militer.
Kemudian siang harinya Nata bersama Caspian mengadakan pertemuan dengan salah satu informan kerajaan di bar tempat Luna bekerja.
Rencananya mereka akan membicarakan tentang jaringan informasi dan potensi gerakan pemberontak di wilayah selatan yang selama ini vakum karena absennya seorang pemimpin.
.
Sudah terlihat seorang perempuan Narva berambut panjang dianyam rapi duduk di depan meja bartender saat Nata dan Caspian memasuki bar.
"Sepertinya saya mengenal gadis itu," ucap Nata tanpa ragu.
"Dia salah satu dari mata dan telinga kita di wilayah selatan. Versica. Mantan Juara Urbar." Caspian memberi penjelasan singkat.
"Bukannya dia pernah melamar untuk menjadi prajurit kita di awal-awal pembentukan kerajaan ini?" Nata mencoba mengali ingatannya.
"Benar sekali."
Melihat Caspian dan Nata mendekati meja bartender, perempuan itu segera berdiri dan sedikit membungkukan badan menyapa.
"Kau gadis dengan pedang sirip itu, kan?" Nata membuka perbincangan.
"Anda mengenali saya?" Terlihat Versica tidak menduga Nata mengenalinya.
"Mana mungkin seseorang bisa tidak mengenali orang yang nyaris menghabisi nyawa nya," sahut Nata dengan sedikit tertawa.
"Maafkan saya," ujar Versica seraya menunduk malu.
"Beliau adalah Nata. Mungkin kau belum mengenalnya secara resmi," ucap Caspian memperkenalkan Nata kepada Versica.
__ADS_1
"Salam kenal Nona Versica. Tapi sebelum saya memaafkan anda, terlebih dahulu saya ingin mendengar cerita tentang kenapa anda mau menjadi informan kerajaan yang telah menghancurkan tanah kelahiran anda?" ucap Nata seraya mengenyakan diri di atas kursi di sebelah kursi Versica.
Gadis dengan rahang ramping itu tersenyum kecil mendengar ucapan Nata. "Saya tidak keberatan dengan hal tersebut, Tuan Nata," jawabnya kemudian sambil mengikuti Nata duduk.
"Tapi sebelum itu lebih baik kita pesan minum dulu. Seperti biasa, Lun." Caspian ikut duduk di sebelah Nata.
"Saya Anggur Bintang, Nona Luna." Versica ikut memesan.
Dan disaat Nata hendak ikut memesan, Luna tiba-tiba menyela. "Untuk Anda saya akan buatkan minuman terbaru yang belum pernah Anda coba, Tuan Nata."
"Oh, baiklah kalau begitu. Kupercayakan pesananku padamu, Nona Luna," sahut Nata dengan senyuman.
.
"Ibu saya adalah salah satu korban dari ledakan sihir api di kota Meso 6 tahun lalu." Versica mulai bercerita saat minuman pesanan mereka sudah datang. "Hari itu beliau sedang membeli bibit bunga di sebuah kios yang berjarak 6 gedung dari pusat ledakan."
Tampak Nata yang duduk di sebelahnya menyimak dengan sungguh-sungguh.
"Dan menurut cerita dari warga yang menyaksikannya, para penyihir wilayah ini lah yang telah menyelamatkan beliau dari puing-puing gedung yang menimpanya," lanjutnya kemudian.
Terlihat Luna juga ikut menyimak sembari mengeringkan gelas dari tempat cucian. Sekarang ini hanya ada mereka berempat di tempat itu. Karena Bar baru akan buka sore nanti.
"Sekarang beliau tinggal di Desa Waduk. Sudah hampir 4 setengah tahun ini. Dan meski beliau tidak dapat berjalan lagi, namun beliau bahagia bekerja menjemur dedaunan dan beragam bunga untuk racikan teh herbal di tempat itu." Versica tersenyum dengan tulus. Kebahagiaan yang terpancar dari matanya terlihat sangat jujur.
Sementara Caspian hanya terdiam menatap gelas di hadapannya. Ia sudah pernah mendengar cerita itu sebelumnya.
"Harusnya dengan semua cerita tadi, sudah cukup jadi alasan untuk membuat saya membuang dan menghianati tanah kelahiran saya," ucap perempuan Narva itu kemudian. "Tapi jangan salah, saya masih tetap setia dan mencintai tanah kelahiran saya. Kota Meso."
Terdengar suara lemah dari potongan es yang mulai mencair dalam gelas Versica.
"Dulu ketika saya mengetahui kebenaran dibalik sihir peledak tingkat tinggi yang menghancurkan pusat kota Meso, saya mulai berjanji pada diri saya sendiri. Bahwa saya tidak akan mengangkat senjata lagi tanpa alasan yang kuat. Saya hanya akan bertarung bila itu menyangkut keamanan dan kemakmuran tanah kelahiran saya." Versica menjedah ucapannya.
"Dan saya masih mempertahankan janji tersebut sampai sekarang." Kemudian perempuan itu menyibak rambut yang menutupi mata kirinya sebelum kembali berkata-kata. "Jadi pertanyaan mengapa saya mau menjadi mata-mata untuk kerajaan yang telah menghancurkan tanah kelahiran saya, sepertinya kurang tepat, Tuan Nata.
"Karena satu-satunya cara untuk melindungi kota Meso dan warganya sekarang ini adalah dengan membawanya kembali ke dalam kerajaan ini. Dan itulah alasan utama saya melakukan hal ini," lanjutnya dengan senyum penuh percaya diri.
"Jadi bagaimana? Apakah anda sudah puas dengan jawaban saya?" tanya Versica yang juga mengakhir rangkaian dari kisahnya.
Sedang Nata tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil mengangkat gelas minumannya seolah mengajak perempuan itu bersulang tanpa kata-kata. Yang kemudian disambut Versica dengan ikut mengangkat gelas minumannya.
-
__ADS_1