
Siang harinya terjadi sesuatu yang menggegerkan para pelayan, pekerja, dan prajurit jaga di kediaman Lucia tersebut.
Ratu mereka mengadakan makan siang bersama para Petinggi Kerajaan di ruang Kantin. Dimana ruang Kantin itu adalah ruang makan untuk para pekerja, pelayan, dan prajurit penjaga di kediaman tersebut. Yang biasa juga untuk ruang makan beberapa Ksatria dan Penyihir Kerajaan.
Beberapa orang yang sedang makan tampak terkejut saat melihat lebih dari 25 orang dari Kabinet dan Parlemen mengikuti Lucia untuk duduk makan bersama mereka. Mengisi ruangan Kantin yang memang cukup luas itu.
Dan dengan seketika hal itu menimbulkan kehebohan dalam ruang Kantin tersebut. Semua orang merasa sungkan dan dengan tergesa menyelesaikan acara makan mereka dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu, meski Lucia memerintahkan semuanya untuk berlaku biasa saja.
Tidak kalah hebohnya dengan orang-orang yang berada di dalam Kantin, para pelayan dapur dan Juru Masak juga tampak pontang-panting memindahkan semua peralatan makan dari Ruang Makan Utama ke Kantin tersebut.
Dan itu semua disebabkan oleh karena Aksa yang bersikeras ingin makan di Kantin tersebut.
"Kenapa kau selalu saja membuat kehebohan sih, Aks?" sahut Nata saat melihat beberapa prajurit yang dengan bergegas meninggalkan tempat duduknya di ujung ruangan, meski mereka belum selesai dengan makanannya.
"Mana ada? Aku hanya ingin makan di tempat ini. Mereka saja yang ingin ikut. Bukan salahku, dong?" jawab Aksa santai seraya duduk di bangku panjang di hadapan Lucia.
"Memang ada apa dengan tempat ini sampai kau ingin sekali makan di sini?" tanya Nata yang kemudian duduk di sebelah Aksa.
"Apa kau tidak melihatnya, Nat? Tidak kah tempat ini mengingatkanmu pada ruang makan sekolahan sihir yang terkenal itu?" jawab Aksa seraya mengamati sekeliling ruangan Kantin tersebut.
Ruangan Kantin itu memiliki langit-langit yang tinggi berhias lampu gantung sederhana. Tembok bangunannya tidak dilapis dengan semen, hingga memperlihatkan susunan batu dan kayu yang membuatnya terlihat lusuh dan tampak antik.
Kemudian terdapat 6 meja panjang yang memiliki bangku untuk duduk 60 orang sekaligus secara behadap-hadapan dalam satu mejanya, yang tampak berjajar bersebelahan tepat di tengah ruangan.
"Sudah, jangan terlalu dipermasalahkan. Jadi bagaimana ceritanya sampai kalian bisa menghilang tanpa jejak dengan tiba-tiba seperti itu?" tanya Lucia yang terlihat tidak sabar, mewakili yang lain yang juga merasa tidak sabar untuk mendengar alasan tentang kepergian tanpa kabar dua pemuda tersebut.
Dan kemudian Nata pun mulai menceritakan apa yang dia dan Aksa alami kepada yang lain.
.
"Pantas saja saya merasa bahwa Anda berdua tidak berubah sama sekali dari yang pernah saya ingat. Jadi Anda benar-benar masih berusia delapan belas tahun?" ujar Caspian menanggapi cerita dari Nata.
"Sembilan belas sebentar lagi," sahut Aksa menambahi.
"Berarti kalian berdua sama sepertiku sekarang ini," ujar Luque tampak gembira.
__ADS_1
"Ya, tidak sama juga, Nona Luque. Kami bukannya tidak bertambah tua, tapi hanya melewati waktu." Nata mencoba menerangkan bahwa mereka tidak abadi seperti Luque.
"Tapi yang membuatku terkejut adalah tangan Rafa yang sudah kembali utuh. Jadi kau memang benar-benar bisa menumbuhkan organ tubuh ya, Luq," ucap Aksa seraya mengangguk kecil menatap lengan Rafa yang duduk di sebelah Luque.
Tampak beberapa orang baru dan para pelayan terkejut dan merasa ngilu mendengar Aksa memanggil Luque tanpa sebutan Primaval. Bahkan tanpa tambahan kata 'Nona' untuk menunjukan rasa hormat.
"Benar, saya sangat bersyukur Nona Luque mau menyembuhkan lengan saya ini," sahut Rafa yang terlihat benar-benar bersyukur.
"Oh, kau tidak memanggilnya Primaval lagi sekarang?" Aksa menyadari adanya perubahan dari cara Rafa berbicara.
"Itu karena kami sahabat sekarang," jawab Luque yang duduk di antara Aksa dan Rafa dengan ceria. Tampak suasana hati gadis berusia ratusan tahun itu sedang baik saat ini.
"Oh, benarkah?" Aksa terkejut mendengar hal tersebut. Namun kemudian terlihat ia mulai tersenyum lega. "Tuh lihat, Nat. Rencanaku berhasil, kan?" tambahnya berucap kepada Nata.
Sedang Nata terlihat mengacuhkan ucapan Aksa dan mulai bertanya kepada Fla yang ada di sebelah Dirk di seberang meja. "Kulihat sekarang kau menggantikan posisi ayahmu, Fla?"
"Benar, Tuan Nata. Sekarang saya menggantikan posisi ayah saya sebagai Kepala Desa," jawab Fla yang kini terlihat bertambah dewasa dengan kumis dan berewok yang tumbuh jarang di wajahnya.
"Kau jadi Kepala Desa, Fla? Apa tangan kananmu sekarang ini adalah tangan buatan?" celetuk Aksa yang tiba-tiba saja menanyakan hal yang tidak ada kaitannya.
"Kau jangan membuat orang menjadi bingung dengan menanyakan hal-hal aneh dari komik dan kartun seperti itu, Aks." Nata memperingatkan.
"Kan siapa tahu, Nat. Aku cuma memastikan saja," kilah Aksa kemudian.
"Sudah, jangan dengarkan omongannya, Fla. Lalu bagaimana kabar Ayahmu? Baik-baik saja, kan?" ujar Nata melanjutkan percakapannya dengan Fla.
"Sekarang ini Beliau mulai lemah secara fisik, namun Beliau baik-baik saja di rumah. Bermain bersama cucu-cucunya," jawab Fla yang terlihat sangat babagia.
"Kau sudah punya anak?"
"Iya, saya dan Livia menikah beberapa saat setelah Anda berdua menghilang. Dan beruntungnya sekarang kami sudah dianugrahi seorang putri dan seorang putra," jawab Fla masih dengan wajah yang penuh dengan rasa syukur.
"Ku ucapkan selamat, Fla," ucap Nata kemudian.
"Selamat ya, Fla," susul Aksa kemudian.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Nata, Tuan Aksa."
"Banyak juga yang sudah menikah. Seperti halnya Tuan Edward. Tadi sebelum ini kami sempat singgah sebentar di kedainya. Dan istrinya cantik sekali. Apa ada dari kalian yang juga sudah menikah?" tanya Aksa kepada yang lain.
"Kalau aku kan menunggu kamu, Aks." Luque tiba-tiba menyahut yang membuat orang-orang baru dan para pelayan terguncang mendengarnya.
Bahkan bagi mereka yang sudah mengenal dekat Luque pun hanya mampu tertawa canggung. Tidak tahu harus merespon seperti apa. Karena hanya Aksa, Nata, Rafa, dan Luque sendiri yang tahu tentang perbincangan mengenai syarat menjadi suami yang dijadikan Luque sebagai acuan dari ucapanya tadi.
"Diana dan Thomas. Mereka menikah tiga tahun yang lalu," ujar Margaret yang mencoba merubah suasana canggung yang tengah terjadi.
"Kalau Anda, Yang Mulia Ratu?" tanya Aksa kemudian, yang mencoba untuk menghindar dari kemungkinan Luque yang kembali memintanya menjadi suami. "Biar kutebak, pasti belum, kan? Anda pasti kurang pergaulan karena kerajaan Anda terisolasi, kan?" ucapnya dengan candaan yang terdengar sudah mulai kelewat batas.
"Jaga bicaramu, Aks," sergah Nata.
"Tuan Aksa!" Terdengar beberapa orang ikut menyergah Aksa.
"Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata yang membuat telingaku panas. Kau cari mati, bocah?" sahut Jean yang duduk tepat di depan Nata dengan nada mengancam dan tubuh yang mencondong ke arah Aksa.
Sedangkan Lucia tiba-tiba saja mulai tertawa sendiri setelah mendengar ucapan dari Aksa tadi. "Haha... sudah lama aku tidak mendengar ejekan seperti itu," ujarnya kemudian di tengah tawa.
"Anda tertawa karena diejek? Anda baik-baik saja kan, Ratu? Aku jadi takut sendiri sekarang," celetuk Aksa yang terlihat berusaha bersembunyi di balik tubuh Luque.
"Hei, bocah! Jaga ucapanmu!" Kali ini Jean berucap sambil menunjuk liar ke arah Aksa.
"Tapi kurasa aku memang kurang pergaulan sekarang ini. Dan mungkin akan sangat lama seperti ini." Lucia kembali berucap. Senyuman getir terlihat di wajahnya.
Suasana mulai terasa suram setelah Lucia selesai berucap.
"Kalau kau, Jean? Apa kau sudah menikah? Apa jangan-jangan sudah terlambat untuk menikah di usiamu yang sekarang ini?" Aksa kembali berucap mencoba untuk merubah suasana.
Dan dengan segera Jean berdiri kemudian menarik pedang dari sarungnya, yang mengejutkan Lucia dan Helen yang berada di sebelahnya. "Kau memang sedang mencari gara-gara denganku. Kemari dan mati saja ditanganku, dasar bocah iblis!" sahutnya kemudian seraya bersiap untuk menebaskan pedangnya sebelum berhasil dicegah oleh Helen dan Lucia.
Dan setelah kehebohan tersebut dapat diredam, semua orang mulai tertawa. Lalu mulai saling bercerita tentang kehidupan yang mereka alami dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini.
-
__ADS_1