Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Serangan Cepat


__ADS_3

Terlihat Vossler sedang mengadakan arahan singkat kepada para pemimpin kelompok yang akan melakukan serangan di atas geladak Kapal Udara. Tampak pula Evora sebagai pemimpin Pasukan Udara juga mengikuti arahan tersebut.


"Jadi kita tidak perlu sampai mempertahankan tempat-tempat tersebut setelah berhasil kita ambil alih. Kita hanya perlu menjarah apapun yang ada di dalam tempat tersebut. Entah itu harta, senjata, ataupun bahan makanan," ucap Vossler yang sudah mengenakan pakaian pelindung lengkap yang terlihat tidak jauh berbeda dengan yang digunakan oleh Pasukan Elit.


"Kita akan menyerang dengan cepat. Jadi bila ada tempat yang memakan waktu untuk kita kuasai dan kita jarah, maka kita tidak perlu menguasai atau menjarahnya. Bakar dan hacurkan saja tempat tersebut. Mengerti?" tambah Vossler kemudian.


"Siap, mengerti!" seru para pemimpin kelompok yang berdiri di hadapan Vossler itu.


"Dan untuk tempat-tempat umum, pastikan kalian hanya melumpuhkan para prajurit dan mereka yang mungkin bisa membahayakan. Utamakan keselamatan rakyat sipil."


"Siap, mengerti!" seru para pemimpin kelompok sekali lagi.


Dan malam itu penyerangan dilakukan bersamaan di 6 tempat sekalgus. Yang tiap kelompok beranggotakan antar 15 sampai 20 orang yang terdiri dari manusia dan Yllgarian. Baik itu Prajurit Senapan maupun Penyihir Petarung.


.


Terlihat di antara langit malam, Pasukan Udara Yllgarian menurunkan para prajurit di area yang aman atas arahan dari jaringan informan Versica, tak jauh dari tempat yang akan mereka menjadi sasaran.


Lalu ditambah dengan informasi jumlah dan terkadang juga posisi penjagaan, pasukan Rhapsodia dapat melancarkan serangan dengan sangat efektif dan efisien.


Dan tak berapa lama kemudian suara-suara pertarungan pun mulai terdengar. Namun semua itu berlangsung dengan cepat.


Tanpa memakan waktu, tempat-tempat yang menjadi sasaran tadi berhasil diambil alih semuanya. Ada pun di beberapa tempat terlihat api membumbung tinggi yang membuat panik beberapa warga.


.


Pasukan Yllgarian Burung Hantu dibantu beberapa Yllgarian Kelelawar bertugas untuk mengangkut barang-barang seperti persenjataan dan persediaan bahan pangan yang ada di tempat yang mereka serang tadi, naik ke atas Kapal Udara.


Dan setelah selesai, mereka pun segera bergerak menuju ke sasaran berikutnya. Yang membuat seolah-olah pasukan Rhapsodia menghilang begitu saja setelah melakukan serangan.


-


Di kediaman Vistralle di kota Dios, terlihat seseorang berlari dengan tergesa menuju kamar tidur utama. Tempat Vistralle beristirahat.


"Dux Vistralle, Dux Vistralle," teriak pria Narva berkumis tipis terlihat panik di depan pintu kamar tidur tersebut.

__ADS_1


"Ada apa, John? Kau seperti sedang dikejar setan." Vistralle yang tampak baru setengah terbangun itu membuka pintu kamarnya.


"Serangan, Dux. Terjadi serangan di tempat-tempat penyimpanan senjata dan bahan makanan kita." Pria Narva yang dipanggil John itu menjawab dengan sedikit berteriak.


"Serangan? Siapa yang melakukannya? Apakah kerajaan Augra?" Vistralle yang masih mengenakan pakaian tidurnya itu kini terlihat sadar sepenuhnya karena terkejut.


"Bukan, Dux. Mereka adalah prajurit Rhapsodia." John menjawab.


"Apa kau bilang? Rhapsodia? Segera kabarkan semua jendral untuk bersiap. Lindungi tempat pelindungan kita yang masih belum mereka serang," perintah Vistralle sigap sambil bergegas mengganti pakaiannya.


"Maafkan saya, Dux. Tapi seluruh tempat penyimpanan kita sudah di serang oleh mereka."


"Seluruhnya?" Vistralle berhenti mengancingkan bajunya, kemudian menegok ke arah John. "Bagaimana bisa? Apa mereka memiliki mata-mata di wilayah ini?" Pertanyaan yang lebih untuk dirinya sendiri. "Panggil semua Jendral kemari. Cepat. Perintahkan untuk segera menemuiku," tambahnya memerintah John.


"Para Jendral sudah berada disini. Mereka sedang menunggu anda di ruang pertemuan," jawab John dengan segera.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Ayo, segera ke ruang pertemuan."


-


"Sampai sejauh ini, saya menerima laporan 20 tempat, Dux," jawab pria Narva yang mengenakan bros tanda seorang Baron Kehormatan di bagian dada pakaian yang dikenakannya.


"Apa? 20 tempat?" Vistralle terlihat benar-benar terkejut.


"Benar. Mereka menyerang secara bersamaan ke seluruh wilayah kita," sahut pria Narva lainnya yang tampak mengenakan pakaian kesatria lengkap.


"Aku sudah menduga mereka akan melakukan hal-hal seperti ini. Tapi tidak kukira akan secepat ini," keluh Vistralle sambil menggeleng pelan.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang perintahkan para prajurit untuk menyelamatkan senjata dan bahan makanan yang masih bisa kita selamatkan, dan kumpulkan ke satu tempat kemudian jaga dengan seluruh pasukan yang ada," perintah Vistralle kemudian.


"Baik, Dux," jawab pria yang mengenakan pakaian kesatria tadi seraya berdiri dan kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku yakin mereka pasti melakukan ini untuk mengalihkan perhatian dan mencoba memecah pasukan kita," ucap Vistralle yang terlihat sedang berpikir sambil mengetukan jarinya ke atas meja berulang kali.


Semua orang di dalam ruangan itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara saat melihat tuan mereka sedang berpikir untuk mencari jalan keluar.

__ADS_1


"Steave, segera hubungi Tyrion dan pihak Augra. Kabarkan tentang masalah ini, dan minta mereka untuk mengirimkan pasukan bantuan," perintah Vistralle kemudian kepada seorang pemuda Narva yang duduk di sebelahnya.


"Baik, Dux," sahut pemuda yang dipanggil Steave itu dengan cepat tanpa jedah berpikir. Seraya berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan.


"Dan kau, Gall. Besok pagi gerakan seluruh pasukan yang kita punya ke wilayah Ignus. Aku yakin mereka pasti akan melakukan serangan ke wilayah tersebut," lanjut Vistralle memberikan perintah ke pria Narva berbadan kekar dengan plat besi pelindung terpasang di bagian pundak dan dadanya.


"Baik, Dux," jawab pria itu yang kemudian berdiri dan pamit meninggalkan ruangan bersama 2 pria lainnya.


.


Tampak kini hanya ada beberapa orang yang masih tinggal bersama Vistralle di Ruang Pertemuan tersebut. Setelah para Jendral besarnya sudah mulai bergerak menjalankan tugas mereka masing-masing.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kupikir kau sudah mengawasi orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata Rhapsodia? Kenapa mereka bisa tahu dengan tepat tempat-tempat penyimpanan yang kita rahasiakan di antara pemukiman penduduk?" Vistralle yang sudah sedikit tenang itu bertanya pada Lucas yang merupakan tangan kanannya.


"Saya sudah mengawasi semua orang yang kita curigai, Dux. Terutama tiga mantan Juara itu," jawab Lucas mencoba menjelaskan. "Namun selama ini mereka tidak menunjukan gerakan-gerakan yang mencurigakan. Mereka tidak bertemu dengan orang baru atau berpergian keluar wilayah. Meski memang mereka bertiga kerap mengadakan pertemuan di pinggiran kota ini."


"Apa mungkin mereka mengirimkan informasi menggunakan batu Arcane?" Vistralle mulai mencoba mencerna semua hal dengan lebih tenang.


"Itu kemungkinan paling besarnya, Dux," sahut John menimpali. "Muncul dan menghilangnya para prajurit mereka secara tiba-tiba itu juga merupakan bukti kuat bahwa mereka menggunakan batuan Arcane untuk penyerangan kali ini," tambahnya lagi.


"Kurasa tidak." Lucas menyanggah. "Yang pertama, wilayah pusat Rhapsodia itu memiliki alat sihir buatan marga Aeron yang dapat mematikan kekuatan batu Arcane. Jadi Batu Arcane jenis apapun tidak akan dapat bekerja di wilayah mereka," jelasnya kemudian.


"Oh, benar. Aku juga pernah mendengar tentang hal tersebut." Vistralle mengangguk kecil.


"Dan yang kedua, beberapa tempat penyimpanan yang kita miliki sudah terpasang Formasi Sihir yang dapat mengacaukan Aliran Jiwa. Jadi kecil kemungkinan pasukan mereka menyerang menggunakan Sihir Pemindah," lanjut Lucas lagi.


"Bagaimana kalau mata-mata mereka berhasil mematikannya sebelum mereka melakukan serangan?" John terlihat tidak sependapat dengan Lucas.


"Formasi Sihir yang kita pasang itu dijaga dengan cukup ketat. Kecuali bila mata-mata mereka adalah salah satu dari prajurit kita, hal tersebut tidak mungkin bisa terjadi. Dan juga saya berani jamin tidak ada mata-mata dalam prajurit kita." Lucas mencoba mempertahankan pendapatnya.


"Lalu bagaimana cara mereka melakukan penyerangan ke semua tempat penyimpanan kita tanpa meninggalkan jejak sama sekali?" tanya John yang masih merasa semua hal tersebut tidak masuk akal.


"Bisa jadi kerajaan itu menciptakan peralatan aneh lagi," ucap Vistralle menebak-nebak. "Aku jadi merasa tidak nyaman dengan semua ini."


-

__ADS_1


__ADS_2