
"Tuan Aksa?! Tuan Nata?!" Suara teriakan terdengar dari hampir semua orang yang mengikuti pertemuan tersebut.
"Aksa!"
"Tuan Aksa!"
Terlihat Rafa dan Luque segera berlari menyerbu ke arah Aksa dari tempat duduk mereka di seberang meja.
"Oh, Rafa, tanganmu..." Belum selesai Aksa berucap, dua perempuan itu segera memeluknya.
Luque mendekapkan tangannya melingkari perut Aksa, sedang Rafa merangkulkan tangannya mengalungi pundak Aksa. Tampak mereka menangis sejadinya.
Aksa sampai mundur beberapa langkah ke belakang karena dorongan dari Rafa dan Luque. Wajah Aksa juga terlihat terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini dari Rafa dan Luque. Hal itu membuatnya merasa terharu dan juga bahagia.
"Anda kembali..." seru Rafa dalam tangis.
"Kenapa kalian lama sekali perginya... " ujar Luque di antara isakan.
Kemudian dengan sedikit canggung Aksa mendekapkan tangan kanannya ke punggung Rafa, dan tangan kirinya ke punggung Luque. "Baru kali ini dalam seumur hidupku dipeluk seorang perempuan. Dan langsung dua sekaligus. Akhirnya keberuntungan berpihak kepadaku!" serunya kemudian, yang mencoba untuk mengalihkan perhatiannya sendiri agar tidak sampai meneteskan air mata karena terbawa perasaan. "Ayo, kemari sekalian Nona Anna, Nona Margaret, Nona Helen, biar aku kelihatan seperti protagonis dalam kisah-kisah Harem. Ayo sini peluk juga," tambahnya seraya melihat berkeliling.
Kemudian tampak semua orang mulai merubah tatapan terkejut mereka menjadi sebuah senyuman bahagia.
"Kenapa tidak ada yang memeluk ku?" sahut Nata kemudian dari samping Aksa dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
"Tuan Nata, biar saya yang memeluk Anda," ujar Dirk yang berada paling dekat dengan posisi Aksa dan Nata. Yang kemudian berjalan mendekati Nata dan merangkul pemuda itu. Terlihat matanya berkaca-kaca.
"Saya tidak bersungguh-sungguh mengatakannya hal itu, Tuan Dirk," sahut Nata yang merasa tidak nyaman dengan pelukan Dirk.
Dan kemudian hampir seluruh orang yang ada dalam ruangan tersebut, segera menghambur ke arah Aksa dan Nata. Mereka adalah, Lucia, Jean, Orland, Amithy, Cornelius, Anna, Fla, Caspian, Helen, Cedrik, Margaret, Selene, Ellian, Matyas, Go, dan 2 Yllgarian Burung Hantu dan Banteng.
Kemudian ada juga beberapa orang baru yang belum mengenal Aksa dan Nata. Mereka hanya berdiri di tempat, terlihat bingung dengan semua ini.
Tampak beberapa orang mengekor Dirk dengan ikut memeluk Nata. Seperti Caspian, Selene, Matyas, dan Cedrik. Sedang sisanya hanya sekedar menyalaminya saja.
Sementara itu untuk Aksa, sepertinya Rafa dan Luque tidak berniat untuk melepaskan pelukan mereka dalam waktu dekat. Jadi yang lain hanya menyapa saja ke arah Aksa atau sekedar menepuk punggungnya sebagai penggati salam.
__ADS_1
Banyak sekali yang ingin orang-orang itu bicarakan dengan Aksa dan Nata. Terlihat mereka tidak sabar untuk melakukannya.
Sedangkan Lucia tampak berjalan mendekat dengan perlahan. Gadis itu seolah sedang meragukan keberadaan Aksa dan Nata di tempat tersebut, sekarang ini.
"Kalian kembali?" tanya Lucia lirih.
"Sekarang Anda terlihat anggun seperti seorang Ratu sesungguhnya, Yang Mulia," ucap Nata saat Lucia sudah berdiri di hadapannya.
Tidak membalas ucapan Nata, Lucia kembali berjalan mendekat dan kemudian memeluk tubuh Nata dengan begitu saja.
Nata yang terkejut hanya mampu terdiam. Ia tidak berani membalas pelukan Lucia.
Beberapa orang baru terlihat sangat terkejut Ratu mereka memeluk seorang laki-laki di tempat umum seperti sekarang. Sedangkan bagi mereka yang sudah lama mengenal Aksa dan Nata tampak terharu melihat Lucia memeluk Nata.
"Kalian kembali," ucap Lucia lirih dengan tubuh yang mulai bergetar pelan. "Kalian kembali," ulang gadis itu dengan suara yang juga mulai terdengar bergetar.
Terlihat Lucia mulai menangis lirih di dada Nata. Meski tidak jelas terdengar, namun semua orang bisa mengetahuinya hanya dari getaran tubuh gadis itu. Lucia sedang menangis meluapkan emosinya. Emosi yang ia pendam selama 5 tahun lamanya.
Sedang Jean yang berdiri sedikit jauh di belakang Lucia hanya terlihat tersenyum saat pandangannya beradu dengan Nata.
Kontras dengan Lucia yang sedang menangis lirih, tampak tangisan Rafa dan Luque semakin menjadi-jadi. Sedang Aksa terlihat sedang berusaha untuk membuat mereka berhenti menangis.
"Kurasa kita harus menunda pertemuan ini," ujar Orland memecah suasana.
"Tidak perlu, Tuan Orland. Anda sekalian bisa melanjutkan pertemuannya, kami akan menunggunya sampai selesai." Nata segera menimpali. "Maaf, sudah menyela pertemuan ini. Itu semua karena tadi Aksa bersikeras ingin mengejutkan semua orang," tambahnya kemudian.
"Sudah tidak heran lagi dengan kelakuan bocah itu," sahut Jean dengan ketus seraya menatap sinis ke arah Aksa.
"Kau pasti sangat merindukanku kan, Jean?" balas Aksa dengan senyum meremehkan masih di antara pelukan Rafa dan Luque yang kini sudah mulai berhenti menangis.
Lucia kemudian menarik diri dan menatap ke arah Nata dengan serius. Seperti sedang meminta kepastian dalam diamnya.
"Tenang saja Yang Mulia Ratu, kami tidak akan kemana-mana. Kami akan menunggu di luar," ucap Nata kemudian.
"Benar. Lagian aku mau berkeliling melihat Istana baru mu, Luc... Maksud ku, Istana Anda, Ratu," ujar Aksa yang buru-buru meralat ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Anda tidak akan pergi tanpa pamit lagi, kan?" Rafa tiba-tiba melepas pelukannya dari Aksa dan bertanya dengan wajah serius.
"Aku mana mungkin pergi tanpa pamit. Kemarin itu ada penjelasannya. Biar Nata yang memberi tahukan pada kalian setelah ini," jawab Aksa bersamaan dengan Luque yang juga melepas pelukannya.
"Mengapa kalian tidak ikut Pertemuan ini sekalian? Biar langsung bisa menjelaskan apa yang kalian ingin jelaskan." Dirk memberi saran.
"Percumah saja, Tuan Dirk. Kami tidak akan memahami apa yang sedang Anda sekalian bahas. Malah akan jadi membuang waktu, karena Anda sekalian secara tidak sadar akan mencoba untuk menjelaskannya kepada kami," ucap Nata menolak saran dari Dirk.
"Juga membuang waktu kami yang harusnya bisa kami gunakan untuk berkeliling melihat-lihat Istana baru ini," sahut Aksa menambahi.
"Bilang saja kalau kau hanya ingin berkeliling tempat ini," sahut Jean lagi dengan ketus.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan bicara lagi setelah pertemuan ini selesai," ucap Lucia kemudian. "Dan penjaga, minta kepada Kepala Pelayan untuk mengantar mereka berkeliling tempat ini," lanjutnya dengan perintah kepada prajurit penjaga yang tadi mengantar rombongan Aksa dan Nata memasuki ruang pertemuan tersebut.
"Siap, Yang Mulia!" jawab prajurit tadi dengan tegas dan cepat.
"Baiklah kalau begjtu, kami permisi dulu," ucap Nata sebelum menuju ke arah pintu keluar.
"Nat? Aks?" panggil Lucia tiba-tiba, ketika Nata dan Aksa sudah membuka pintu hendak meninggalkan ruangan tersebut. "Selamat datang," ucap gadis itu lagi ketika Aksa dan Nata berpaling menatapnya.
"Ya, bergembiralah! Utusan Dewa kalian sudah kembali," balas Aksa dengan lantang sebelum menghilang di balik pintu.
Sedang Nata hanya tersenyum dan mengangguk kecil membalas ucapan Lucia barusan, seraya mengikuti Aksa menghilang di balik pintu menuju koridor Aula Utama.
-
Terlihat sesosok kelinci mungil bersama beberapa Yllgarian Kelelawar dan seorang prajurit penjaga memasuki Aula Utama, tepat di saat rombongan Aksa dan Nata bersama dengan seorang pria baya yang adalah Kepala Pelayan tempat tersebut, hendak memulai perjalanan mereka berkeliling kediaman Lucia itu.
"Hai, apa kabar, Lily?" sapa Nata kemudian, meski sosok Lily masih jauh berada di seberang ruangan.
"Kalian sudah kembali?" ujar Lily setelah terdiam sesaat untuk memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar Aksa dan Nata.
"Apa kau tidak ingin memelukku, Lily? Apa kau tidak rindu padaku seperti yang lain?" tanya Aksa menyeletuk.
"Selamat datang kembali, kalian berdua." Lily berucap tanpa memperdulikan perkataan Aksa.
__ADS_1
-