
Hari ini Aksa, Rafa, Luque, dan Lily melakukan kunjungan ke lereng gunung Sekai bersama rombongan dari Desa Pesisir Timur untuk memantau pembersihan lahan dan pembangunan fasilitas untuk Pemandian Air Panas nantinya.
Aksa diperkenalkan kepada para Yllgarian dari klan Bufo yang serupa manusia katak oleh Fang di sebuah komplek perumahan yang dibangun tak jauh dari sumber air panas untuk tempat tinggal sementara para pekerja.
"Perkenalkan tuan Aksa, ini Gai pemimpin klan Bufo yang tinggal di sekitar tempat ini," ucap Fang memperkenalkan manusia katak dengan pakaian yang hanya berbalut jubah yang tingginya nyaris setinggi Lily.
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda tuan Aksa, Tuan dari Nona Lilian," ucap manusia katak itu dengan suara berat seraya mengulurkan tangannya yang mungil ke arah Aksa.
"Senang bisa bertemu dengan anda juga tuan Gai," sahut Aksa yang segera menjabat tangan Gai dengan antusias.
"Apa klan anda punya sihir untuk memanggil katak raksasa? Atau sihir untuk berubah menjadi banyak?" lanjutnya kemudian dengan rentetan pertanyaan yang membuat bingung manusia katak tersebut.
"Apa yang anda maksud, tuan? Kami klan Bufo hanya mahir dalam sihir air dan tanah saja," jawab Gai sedikit ragu, kalau-kalau bukan itu yang dimaksud oleh Aksa.
"Jangan terlalu dipikirkan, Gai. Aksa memang seperti itu. Kau akan sering mendengar perkataan dan pertanyaan yang aneh darinya. Biasakanlah," ucap Lily kemudian yang disetujui oleh semua orang yang sudah lama mengenal Aksa.
"Hahaha... Itu benar. Tapi saya yakin anda akan segera terbiasa, tuan Gai," tambah Fang dengan tertawa mendengar ucapan Lily tersebut.
"Kenapa aku merasa kalian sedang bersekongkol untuk mengoloku?" Aksa merasa sedikit jengkel semua orang setuju dengan ucapan Lily.
"Sudah-sudah, lebih baik kita lanjutkan tujuan kita kemari," sahut Rafa mengalihkan topik pembicaraan.
Dan tak lama kemudian mereka pun mulai berkeliling wilayah tersebut.
"Melihat semua fasilitas yang sudah selesai dibangun, beserta jalur air panasnya, aku rasa sudah saatnya untuk kita membangun bangunan utama," ucap Aksa setelah mereka tiba di area utama tempat sumber air panas tersebut berada.
"Saya mengerti tuan Aksa. Kami akan mulai mempersiapkan untuk pembangunan tersebut." Fang menjawab.
"Apa di bagian sana juga sudah selesai dibangun?" tanya Aksa lagi saat mendapati sebuah jalan setapak yang dibangun ala kadarnya di sisi kanan area tersebut.
"Oh, benar. Saya lupa menyampaikannya pada anda. Bagian itu belum kami apa-apakan karena kami menemukan sebuah tugu prasasti dengan tulisan kuno terukir di atasnya," jawab Fang yang terlihat baru ingat akan hal tersebut.
"Benarkah?" Tidak hanya Aksa yang baru pertama kalinya mendengar tentang hal itu. Rafa, Luque, dan Lily juga baru pertama kalinya mendengar tentang temuan tersebut.
"Kami menemukannya kurang lebih sebulan yang lalu. Dan kami belum mengabarkannya karena saat itu Anda masih sibuk mengurusi acara festival." Fang menjelaskan.
"Dan karena itu juga kami tidak mau bertindak gegabah dengan berinisiatif melakukan pembangunan di wilayah tersebut tanpa arahan dari anda," lanjut manusia singa itu kemudian.
"Kalau begitu coba antarkan aku ke tugu prasasti itu," ucap Aksa yang mulai tertarik dengan hal tersebut.
Dan setelah 15 menit berjalan naik melalui jalan setapak yang cukup terjal, mereka pun tiba di sebuah dataran landai yang cukup besar dengan semak belukar memenuhinya.
__ADS_1
Namun yang menyita perhatian dari wilayah itu adalah sebuah tugu batu yang menjulang sangat tinggi di bagian tengahnya, yang lebarnya nyaris seukuran tubuh pria dewasa.
Bila tidak berada di sebuah lereng gunung yang dirimbuni pepohonan, tugu batu itu pasti akan terlihat dari kejauhan.
"Oh, benar ternyata," ucap Aksa kagum sambil mendongak menatap ujung dari tugu tersebut.
"Entah kenapa aku merasakan sisa-sisa Aliran Jiwa di tempat ini. Apa tugu batu ini dibalut dengan semacam sihir pelindung?" ucap Lily saat berjalan mendekat ke tugu tersebut.
"Benar. Kami menemukan tugu prasasti ini juga karena merasakan sisa-sisa dari Aliran Jiwa tersebut," sahut Gai yang berjalan lebih dulu di depan Lily.
"Apa ini semacam situs mistik? Atau malah alat sihir?" tanya Aksa yang terlihat penasaran.
"Saya rasa bukan, Tuan Aksa." Rafa menjawab. "Biasanya sebuah monumen yang memiliki informasi penting memang selalu dilapisi oleh sihir pelindung agar bisa bertahan hingga berpuluh-puluh tahun."
"Dan melihat dari Aliran Jiwanya, kemungkinan prasasti ini sudah berdiri selama ratusan tahun dan sihirnya tidak pernah diperbaharui," lanjut Lily memberikan analisanya.
"Apa sihir memang perlu diperbarui? Sihir yang dipasang di Laboraturium ku di dalam gua itu bisa bertahan hingga ratusan tahun, kan?" tanya Aksa yang terlihat sedikit bingung.
"Itu beda. Yang ini bukan sihir segel buatan Elf seperti yang terpasang di Mahan Staan. Ini sihir pelindung biasa." Lily memberikan jawaban.
"Memang sihir pelindung biasa bisa bertahan hingga ratusan tahun?" Aksa bertanya lagi.
"Itu memungkinkan bila orang yang menciptakannya memiliki kekuatan yang sangat besar," jawab Rafa kemudian.
"Ya, benar. Mungkin saja seorang Sage." Rafa tampak setuju dengan Lily.
"Dan mana yang anda maksud dengan tulisan kuno tadi tuan Fang?" tanya Aksa yang terlihat semakin bersemangat.
"Oh, tulisan itu ada di bagian belakangnya tuan," jawab Fang seraya memandu rombongan Aksa memutar ke balik tugu batu tersebut.
"Oh, ini tulisan Hiryu kuno," ucap Aksa saat mengenali tulisan yang terukir di sebuah bidang datar di bagian bawah dari tugu batu tersebut.
"Oh, benar," sahut Luque yang juga mengenali huruf-huruf tersebut.
"Bersemayam di dasar pilar yang menyangga langit ini, seorang Putri, Penguasa, dan Pahlawan besar suku Hagia." Aksa membaca tulisan kuno tersebut.
"Oh, jadi ini sebuah makam?" Lily berucap.
"Suku Hagia? Bukankah itu sukumu, Luq?" tanya Aksa kemudian.
"Benar. Tapi aku tidak pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya," jawab Luque yang terlihat cukup bingung mendapati tulisan tersebut.
__ADS_1
"Bahkan dongeng dari para leluhur pun tidak ada yang menyebutkan tentang seorang pahlawan besar dari suku Hagia. Terlebih lagi tidak ada pemimpin wanita sepanjang sejarah suku Hagia yang aku tahu." Terlihat Luque tampak kebingungan.
"Apa jangan-jangan tulisan ini memang sengaja ditulis menggunakan kiasan yang bukan sebenarnya?" Aksa mencoba menganalisa.
"Meskipun begitu, bila ada sebuah menara yang dibangun di tempat ini jauh sebelum aku lahir, harusnya aku pasti akan mengetahuinya, kan?" Luque berucap.
"Benar juga. Wilayah ini dulunya memang wilayah sukumu, kan?" Aksa bertanya memastikan.
"Benar dulu wilayah ini adalah tempat tinggal suku Hagia sebelum kami pindah ke daratan selatan. Tapi semenjak aku lahir sampai kami pindah ke selatan, tidak pernah ada menara atau monumen yang dibangun oleh suku Hagia," jawab Luque dengan penjelasan. "Apa lagi melihat menara setinggi ini masih bertahan dari kehancuran yang terjadi di tanah ini. Jadi kurasa mustahil Hagia yang membangunnya."
"Apa maksudmu tugu ini dibangun setelah kehancuran?" Aksa kembali bertanya.
"Aku rasa begitu. Tapi oleh siap, dan atas tujuan apa, aku tidak tahu," jawab Luque mengungkapkan pemikirannya. "Terlebih lagi siapa pahlawan besar yang dikubur di bawah sini?"
"Kita akan menyelidikinya lebih lanjut setelah ini," ucap Aksa kemudian.
"Dan untuk sementara biarkan saja tempat ini tuan Fang. Buatkan saja jalan yang lebih baik untuk menuju kemari dan pagar agar tugu atau makam ini aman," lanjutnya memberi perintah.
"Baik tuan, saya mengerti." Fang menjawab cepat.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan ke tempat lain," ajak Aksa kemudian.
.
Sore harinya di Kereta Besi dalam perjalanan pulang menuju Jurang Ceruk Bintang, terlihat Luque sedang melamun menatap jalanan di luar kaca jendela.
"Kau kenapa, Luq?" tanya Aksa yang duduk di sebelahnya di kursi kemudi.
"Makam itu membuatku kepikiran," jawab Luque kemudian.
"Apa kau berpikir bahwa makam itu adalah sisa-sisa dari suku Hagia yang masih bertahan setelah kehancuran?" tanya Aksa menembak.
"Entahlah? Tapi aku merasakan Aliran Jiwa yang aku kenali," jawab Luque kemudian.
"Oh, saya juga merasa tidak asing dengan Aliran Jiwa yang ada di tempat itu tadi." Lily menyahut dari kursi belakang di sebelah Rafa.
"Apa maksud kalian penyihir yang mengeluarkan sihir itu seseorang yang kalian berdua kenali?" Aksa kembali bertanya untuk memastikan.
"Kemungkinan seperti itu." Lily menjawab. "Tapi aku tidak bisa mengingatnya."
"Penyihir besar bukan Elf yang mungkin hidup seratus tahun lalu," ucap Luque menambahi.
__ADS_1
-