Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
15. Kisah Mengejutkan


__ADS_3

Rombongan Aksa dan Nata pun memasuki sebuah ruang tunggu setelah mereka sudah berada dalam bangunan di dasar pohon paling besar tersebut.


Ruangan itu memiliki banyak jendela tanpa bingkai dan penutup di salah satu sisinya. Yang menunjukan sebagian dari pemukiman dan juga jembatan masuk sebelumnya.


Gelas-gelas kecil yang terbuat dari kayu berisi minuman hangat terlihat berjajar rapi di atas meja di tengah kursi rotan yang mengelilinginya.


Aksa, Nata, dan Rafa kini tampak berubah dari antusias dan kagum menjadi gugup dan kuatir. Karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan pemimpin dari Marga Azuar.


Dan tak lama kemudian terlihat seorang pria Elf yang tampak cukup berumur mncul dari balik pintu masuk. Rambut peraknya yang panjang dikepang kebelakang dengan beberapa gelang dari rotan yang dianyam terpasang di bagian ujungnya sebagai pengganti tali pengikat.


Di belakang pria Elf itu mengikuti Elf perempuan yang usianya terlihat tak terpaut jauh, dengan gaya penataan rambut yang sama seperti pria Elf tadi. Hanya saja perempuan itu menambahkan sebuah bunga putih di sepanjang kepangannya.


Yvvone dan yang lain segera berdiri saat melihat pria dan wanita Elf itu masuk. "Pemimpin Moor, Nona Istar," sapa gadis Aeron itu kemudian.


"Tuan Moor, Nona Istar." Luque juga menyapa mengikuti Yvvone.


"Oh, Nueva? Lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabar anda?" Pria Elf yang dipanggil Moor itu menjawab dengan sedikit terkejut mendapati keberadaan Luque di tempat itu. Terlihat mereka sudah saling mengenal.


"Kabar saya baik, tuan Moor." Luque menjawab sopan dan anggun.


"Tak kusangka kita akan bertemu lagi di tempat ini, Nueva. Kebetulan yang tidak biasa." Kali ini perempuan Elf yang dipanggil Istar yang berucap.


"Benar. Ceritanya panjang Nona Istar." Luque kembali menjawab masih dengan sopan dan anggun.


"Ngomong-ngomong siapa itu Nueva?" tanya Aksa dengan berbisik kepada Rafa yang berdiri di sebelahnya.


"Itu gelar pemberian yang setara dengan Gadis Suci dalam kebudayaan Elf." Val yang berdiri tepat di belakang Aksa menjawab menggantikan Rafa yang tampaknya juga tidak mengetahui tentang hal tersebut.


"Oh, aku tidak pernah membaca tentang hal itu. Kurasa aku memang perlu buku tentang kebudayaan Elf," ucap Aksa sambil berbisik, yang terdengar seperti sedang merapal sebuah mantra.


"Lagian kenapa Luque punya banyak sebuatan dan gelar, sih?" lanjutnya kesal dengan hal yang tidak penting.


"Dan ini adalah dua pemuda yang pernah saya bicarakan sebelumnya, Pemimpin Moor." Kali ini Kanna yang berucap setelah perbincangan pemimpin itu dengan Luque selesai.


"Perkenalkan saya Nata." Nata berucap seraya mengangguk dengan sedikit canggung. Karena ia tidak yakin haruskah menjulurkan tangan untuk dijabat, atau hanya perlu membungkuk saja.


"Dan saya Aksa," susul Aksa seraya mengangkat tangan seperti sedang menyapa seorang teman.


Baik Moor dan Istar tampak terkejut setelah melihat Aksa dan Nata memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Nata dan Aksa?" Moor bertanya seolah sedang memastikan sesuatu.


"Benar, Pemimpin. Yang ini Nata, yang ini Aksa," ucap Yvvone kali ini memperkenalkan ulang kedua pemuda itu kepada pemimpin Marga Azuar.


Kemudian terlihat Moor dan Istar pun saling memandang dengan tatapan tidak percaya.


"Apa ada yang salah Pemimpin?" Kanna bertanya dengan sedikit kuatir melihat sikap dua Elf tersebut.


"Kau tidak pernah mengatakan pada kami kalau nama mereka adalah Nata dan Aksa sebelumnya," ucap Moor menjawab.


"Memang kenapa Pemimpin?" Kanna kembali bertanya dengan lebih ragu kali ini.


"Karena kami sedang mernanti mereka," sahut Istar yang menjawab.


"Menanti mereka?" Nyaris serempak semua orang bertanya karena tidak mengerti dengan maksud ucapan Pemimpin Marga Azuar itu.


"Anda menati kami?" Nata juga bertanya tidak paham.


"Benar," jawab Moor singkat.


"Oh, tak bisa kupercaya. Akhirnya kedua pemuda itu benar-benar datang." Istar berucap seperti setengah tidak yakin setengah lega seraya menatap bergantian ke arah Aksa dan Nata.


"Bukan. Yang mengatakan hal ini adalah kak beradik Narva dan seorang gadis Morra yang mengaku keturunan kalian." Moor menjawab cepat.


"Oh, begitu." Aksa mengangguk pelan seolah ia paham dengan ucapan Moor barusan. "Eh... sebentar, apa barusan aku salah dengar?" tanyanya kemudian setelah benar-benar memproses maksud dari ucapan Pemimpin Marga Azuar tersebut.


"Apa baru saja anda mengatakan bahwa keturunan kami mengatakan hal tersebut kepada anda?" tanya Nata yang terlihat tidak paham dengan maksud ucapan Moor.


"Benar, 200 tahuan yang lalu," jawab pria Elf itu lagi.


"Dua ratus... tahun? Yang lalu?" Aksa terlihat semakin tidak paham semakin Moor memberikan jawaban.


"Ya." Pria Elf itu mengangguk kecil.


Sementara semua orang yang berada di tempat itu juga terkejut dan tidak begitu paham maksud dari ucapan Moor tersebut.


"Sebentar. Apa kita memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah kata? Keturunan dan leluhur itu jelas tidak terdengar serupa." Aksa kembali berucap mencoba memastikan segala kemungkinan yang masuk akal baginya.


"Ya, kalian tidak salah dengar. Karena aku ingat betul mereka yang memberi tahukan Nona Stellar akan adanya perang besar Marga Elf setahun sebelum perang tersebut terjadi. Juga memberi peringatan akan kekuatan Alta Larma yang nantinya akan digunakan untuk hal buruk." Kali ini Istar yang berucap memastikan.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut membuat Aksa dan Nata saling memandang. Mereka berdua sudah mendapatkan kesimpulan tentang hal ini.


"Apa maksud anda keturuna kami datang dari masa depan, Nona Istar?" tanya Nata kemudian memastikan dugaannya.


Istar mengangguk menjawab pertanyaan Nata. "Mereka juga mengatakannya sendiri. Dan terbukti bahwa semua perkataan mereka tentang masa depan, benar-benar terjadi," lanjutnya dengan penjelasan.


"Sebentar... Meski aku sangat mengukai cerita fantasy dan time travel, tapi apa yang anda berdua maksud saat ini adalah; bahwa keturunan kami dari masa depan kembali ke masa lalu untuk memberi peringatan pada anda sekalian?" Aksa masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan pertanyaan tersebut.


Moor dan Istar terlihat tak mengerti maksud dari perkataan Aksa. Jadi mereka hanya diam tidak memberikan jawaban.


"Sulit dipercaya." Kanna terlihat menggelengkan kepalanya pelan.


"Ini hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya," sahut Solas dari sebelah Kanna.


Sedang Val, Lily, Rafa, Yvvone, dan Luque hanya terdiam. Karena meski tidak sepenuhnya yakin, namun mereka tahu dan percaya bahwa sang Oracle memilih kedua pemuda itu pasti bukan tanpa alasan.


"Dan bila yang dikatakan oleh Tuan Moor dan Nona Istar itu memang benar, berarti kemungkinan besar kita tidak akan pernah kembali ke Bumi lagi," ucap Nata kecewa dengan pemikirannya sendiri.


"Itu bukanlah hal yang terlalu buruk, kan?" sahut Luque dengan cepat. Wajahnya terlihat berseri-seri. "Pada akhirnya kita memang akan menikah juga," tambahnya lagi.


"Apa maksud ucapanmu itu, Luq?" Aksa tampak tidak terima melihat Luque senang mendengar kemungkinan mereka tidak dapat kembali ke Bumi lagi.


"Apa anda bisa jelaskan secara lebih lagi tuan Moor, orang-orang itu keturunan siapa dengan siapa? Siapa nenek buyut mereka?" tanya Luque cepat tanpa memperdulikan ucapan Aksa.


"Kami tidak tahu. Karena mereka tidak membicarakan tentang hal tersebut," jawab Moor cepat.


"Tapi seingatku Aliran Jiwa si gadis Morra itu mirip dengan Aliran Jiwa Nona ini," sahut Istar sambil menunjuk ke arah Rafa.


"Apa? Seperti Rafa?" balas Luque yang terdengar lebih seperti tidak terima dari pada tidak percaya.


"Apakah jangan-jangan wajahnya mirip juga dengan orang ini?" lanjutnya lagi dengan menunjuk ke arah Aksa.


"Karena terlalu lama, aku sudah lupa dengan wajah-wajah mereka." Istar menjawab.


"Coba Nona Istar perhatikan wajah pemuda ini. Pasti anda akan segera ingat begitu menemukan adanya persamaan," ucap Luque yang terlihat tidak ingin menyerah.


Sementara Rafa sendiri tampak terkejut mendengar ucapan Istar tadi. Namun setelah itu ia mulai tersipu malu dengan pemikiran dan bayangannya sendiri.


-

__ADS_1


__ADS_2