
Para prajurit Penjaga Raja yang berada di ruanga baca tersebut segera maju untuk menyerang Helen dan timnya.
Namun baru sejauh dua langkah mereka bergerak, puluhan peluru meluncur dari luar jendela dan menghantam bagian-bagian vital tubuh para prajurit penjaga itu.
Menghancurkan kaca-kaca mosaik indah yang mengelilingi ruangan tersebut menjadi berkeping-keping karenanya.
Tak ketinggalan 3 dari anggota tim yang datang bersama Helen juga mulai menembakan senjata api mereka ke arah para prajurit penjaga itu.
Dan alhasil puluhan prajurit tumbang dengan begitu saja. Menyisakan bekas peluru di beberapa jirah dan pelindung besi yang mereka kenakan.
Suara desing senapan yang cepat dan mendadak itu tadi menggaung dalam ruang baca tersebut. Mengejutkan tidak hanya sang raja dan beberapa prajurit yang masih menjaganya, tapi juga orang-orang di luar ruangan. Karena suaranya yang cukup nyaring dan terdengar janggal ada dalam istana.
"Anda tidak perlu merasa marah dan panas kepala seperti itu Yang Mulia. Sekali lagi saya kemari hanya ingin mengirimkan surat kepada anda." Helen berucap setelah keheningan tidak nyaman mulai terbentuk.
Terlihat darah yang mengucur dari sisa luka puluhan prajurit penjaga tadi mulai membentuk genangan di lantai marmer ruang baca tersebut.
Beberapa prajurit masih terdengar merintih, namun kebanyakan sudah meregang nyawa.
"Kau pikir dengan senjata api itu kau bisa selamat lolos dari tempat ini? Arogan sekali." Sang raja terlihat sangat berang. Meski ada sedikit rasa ragu dan kuatir tersirat di wajahnya.
"Terima kasih karena Yang Mulia sudi memikirkan keselamatan kami," jawab Helen tidak terpancing ucapan sang raja.
"Pasukan penjaga luar mulai bergerak masuk dari gerbang utara dan gerbang timur." Suara Penembak Jitu terdengar memberikan informasi dari alat pendengar semua tim.
"Jangan kuatir. Akan kami urus." Suara lain terdengar menyahut.
"Dimengerti."
Dan tak lama kemudian terdengar suara ledakan dari luar ruang baca tersebut.
"Oh, sepertinya sedang ada pesta di istana ini," sahut Helen menanggapi suara ledakan tersebut.
"Dasar orang-orang tidak tahu adat dan tata krama!" Sang raja membentak dengan penuh amarah.
Dan setelah itu tiba-tiba saja sebuah lingkaran berwarna ungu gelap muncul dari tembok di belakang Meja Baca sang raja. Itu adalah sihir dari kristal Ruang dan Waktu.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, sisa prajurit Penjaga Raja segera berinisiatif untuk membawa sang raja berlari mendekat ke lingkaran tersebut.
Namun dengan cekatan beberapa anggota dari tim Helen menembakan senjata mereka menjatuhkan beberapa prajurit tersebut dan menghentikan gerakan sang raja untuk beranjak dari tempatnya.
Dan begitu lingkaran ungu tadi telah terwujud dengan sempurna, muncul beberapa kesatria, penyihir, dan puluhan prajurit dari dalamnya.
"Yang Mulia?!" teriak beberapa kesatria dan prajurit secara nyaris bersamaan.
Beberapa prajurit dan kesatria yang secara naluri berlari ke arah raja mereka itu segera dihentikan dengan tembakan tepat di lantai di depan sang raja berdiri.
"Aku tidak akan gegabah bila jadi kalian," ucap Helen memperingatkan.
Menanggapi peringatan tersebut, para kesatria dan para prajurit tadi segera memasang kuda-kuda mereka menghadap ke arah Helen dan timnya.
"Pakaian aneh berwarna serba hitam dan senjata api. Apakah kalian dari Rhapsodia?" tanya seorang kesatria dengan pakaian seorang kesatria-bangsawan siap menarik pedang yang mengantung di pinggangnya.
"Benar." Helen menjawab cepat. "Kami memang dari Rhapsodia."
Terdengar keributan kecil dari pihak lawan mendengar jawaban Helen tersebut. Mereka tidak percaya sekaligus marah mendengarnya.
"Itu benar. Segera tangkap mereka semua, Farnir! Bunuh semuanya. Tidak ada pengampunan yang layak bagi mereka!" sahut sang raja memberikan perintah dengan berteriak-teriak.
"Seperti yang anda lihat, Jendral. Yang Mulia Raja lah yang ingin membunuh kami. Bukan sebaliknya," jawab Helen yang kini mengenali siapa kesatria bangsawan itu dari nama yang diserukan sang raja. Dia adalah Jendral Besar Farnir.
"Tapi aku tidak melihatnya seperti itu," balas sang Jendral seraya melihat puluhan prajurit yang tergeletak di lantai di antara genangan darah.
"Oh, maksud anda para prajurit ini? Mereka menyerang kami terlebih dahulu. Jadi mau tak mau kami harus membela diri," jawab Helen masih dengan tenang.
Dari semua orang yang ada dalam ruangan tersebut, hanya Helen dan sang raja saja yang tidak mengeluarkan senjata.
Kepercayaan diri kesatria perempuan itu terbentuk karena 4 anggota tim yang berdiri di belakangnya. Yang selalu bersiap dengan senjata mereka mengawasi setiap gerak gerik semua orang dalam ruangan tersebut. Belum lagi 6 Penembak Jitu yang akan selalu melindunginya dari jarak jauh.
"Dan anda juga melihatnya sendiri bahwa Yang Mulia raja masih tampak sehat di ujung sana, kan?" Helen melanjutkan ucapannya. "Anda pasti tahu kalau kami memang menginginkan nyawa Beliau, maka anda sudah tidak akan dapat mendengar kemarahan beliau sekarang ini."
"Ya, aku sadar itu," balas Farnir seraya menatap sekeliling mengamati situasi dan kondisi sekitar. Ia sedang melakukan perhitungan. "Lalu apa yang kalian mau?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Kami kemari hanya ingin mengirim surat dari Ratu kami kepada Yang Mulia raja. Namun tampaknya beliau tidak ingin hanya sekedar menerimanya saja dan membuat kejadian menjadi semakin rumit," jawab Helen dengan tenang.
Terlihat beberapa kesatria dan penyihir mencengkeram senjata mereka masing-masing karena merasa tersinggung dengan ucapan Helen tersebut. Situasi dalam ruang baca itu terasa sangat menegangkan bagi orang-orang Augra.
"Kalau hanya untuk itu, kalian bisa mengirimkannya melalui kurir secara resmi, kan? Bukannya tindakan kalian ini yang membuat semuanya menjadi semakin rumit?" ucap Farnir membalas.
"Ini adalah surat untuk menyajukan perundingan," jawab Helen. "Apakah menurut anda surat ini akan dipertimbangkan bila kami mengirimkannya dengan cara normal?"
"Bahkan sampai saat ini Kerajaan Augra masih terus melakukan serangan meski mengetahui bahwa kami memiliki Kapal Udara." Kesatria perempuan itu melanjutkan. "Dan dengan keberanian seperti itu, kami rasa mustahil bagi kami mengajukan sebuah perundingan secara biasa, kan?"
Farnir terlihat menyipitkan matanya dan menggegatkan giginya dalam diam. Ia sadar benar bahwa ini adalah sebuah ancaman. Pihak Rhapsodia ingin memberitahukan bahwa mereka bisa melakukan hal seperti ini pada kerajaannya.
Dan setelah beberapa waktu mencoba menekan amarahnya dan mencoba untuk berpikir secara tenang, Farnir pun berucap. "Baiklah kalau begitu, aku mengerti. Jadi kalian akan pergi setelah surat itu diterima, kan?"
"Benar." Helen menjawab singkat dengan senyum yang mulai mengembang.
"Farnir! Apa yang kau bicarakan? Cepat tangkap orang-orang hina itu sekarang. Jangan biarkan mereka pergi dari tempat ini hidup-hidup." Sang raja terlihat tidak terima Jendral Besarnya mengikuti rencana para penyusup tersebut.
"Maaf, Yang Mulia. Tapi saat ini kita tidak dalam posisi untuk dapat melakukan hal tersebut," jawab Farnir mencoba menjelaskan situasi yang tidak disadari oleh rajanya. "Mungkin terlewat dari perhatian Yang Mulia karena terlalu sederhana, tapi begitu kami tiba dalam ruangan ini, Aliran Jiwa tidak dapat dirasakan lagi."
Mendengar ucapan Farnir, sang raja segera memeriksa Aliran Jiwa di sekitarnya. "Oh, kau benar," ucapnya setelah itu.
"Dan saya yakin titik merah di dada Yang Mulia itu merupakan salah satu senjata rahasia milik mereka yang diarahkan tepat kepada Yang Mulia," ucap Farnir kemudian.
"Titik merah di dada yang mana?" Sang raja mencoba memeriksa bagian dadanya. "Oh, sejak kapan ada titik merah ini bajuku?!" Sang raja mulai mengusap-usapkan tangannya untuk menghilangkan titik merah tersebut seolah itu adalah noda pada pakaiannya.
Namun tak lama bersalang, sebuah peluru meluncur melewati telinga kanan sang raja, yang mengejutkan semua orang saat kemudian menghantam tembok di belakangnya.
Desing peluru yang hanya berjarak beberapa ruas jari dari telinga itu membuat sang raja segera diam membeku. Terkejut dengan wajah pucat ketakutan.
Namun bukan hanya sang raja saja yang tampak pucat pasi. Hampir seluruh kesatria dan prajurit di ruangan itu juga terlihat ketakutan akan hal yang baru saja terjadi. Ketakutan akan kehilangan raja mereka.
"Yang Mulia jangan melakukan pergerakan yang tiba-tiba seperti itu," ucap Helen masih dengan senyuman. "Hal tersebut akan membahayakan nyawa Anda, Yang Mulia."
-
__ADS_1