Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Prolog Arc Ketiga


__ADS_3

Lucia mengadakan pertemuan untuk membahas tentang situasi dan kondisi wilayah selatan, serta status mereka terhadap Joren dan Augra, beberapa hari setelah serangan ke wilayah Cleyra dan Solidor dilakukan.


Disamping itu, pertemuan juga akan digunakan untuk membahas tentang kekacauan di wilayah utara lebih lanjut.


Hanya ada beberapa petinggi militer di ruang pertemuan itu. Sedang para Parlemen dan ketua tiap wilayah terlihat lengkap menghadirinya. Kecuali tetua Yllgarian.


"Saat ini Jendral Caspian telah berhasil mengambil alih sebagian wilayah Cleyra. Namun Kerajaan Joren tampaknya tidak akan tinggal diam," ucap Vossler setelah Lucia membuka pertemuan tersebut.


"Kabar dari jaringan mata-mata, tiga ratus prajurit sedang bergerak menuju perbatasan Cleyra dan Solidor, beberapa hari yang lalu. Dan mungkin akan tiba antara besok pagi atau besok malam," lanjutnya menjedah.


"Tapi tak perlu kuatir. Karena Kapal Udara kita sudah tiba dan siap untuk digunakan," tambah kesatria dengan luka melintang di batang hidungnya itu kemudian.


"Baguslah kalau memang begitu." Lucia merespon.


"Lalu, seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Augra memiliki gelagat akan memanfaatkan situasi kita yang sedang menggempur pasukan Joren, dengan memulai pergerakan mereka ke Kota Nezarad." Vossler melanjutkan laporannya.


"Benar, kita harus lebih memperhatikan pergerakan mereka." Kali ini Evora yang berbicara dari seberang tempat duduk Vossler. "Karena pasukan mereka cukup kuat, dan mereka juga cukup cerdik membaca pergerakan kita."


Hanya Vossler dan Evora saja perwakilan militer yang hadir dalam pertemuan tersebut.


"Kurasa memang ada orang-orang dengan pemikiran logis dalam kerajaan itu," sahut Nata dari ujung meja. Duduk di antara Aksa dan Lily. "Dan itu berarti ada kemungkinan untuk kita melakukan perundingan atau mengajukan sebuah perjanjian kepada mereka," lanjutnya lagi.


"Apa kau yakin mereka mau melakukannya?" tanya sang Ratu dari ujung meja sisi lain tepat di seberang tempat duduk Nata.


"Benar. Mereka terbukti tidak gentar melihat kekuatan kita. Bahkan setelah mengetahui Kapal Udara kita sekalipun," ucap Evora menambahi. "Bukankah Itu berarti mereka merasa dapat bersaing dengan kita? Akan sulit melakukan perundingan dengan jenis orang seperti itu."


"Kurasa mereka belum tahu kekuatan kita yang sebenarnya, tuan Evora." Nata menjawab dengan tenang. "Mereka hanya mengira tahu kekuatan yang kita punya. Jadi mereka bertindak seperti itu.


"Tapi jangan kuatir, saya sudah memiliki rencana, yang mungkin juga akan efektif untuk Kerajaan Joren bila setelah kita berhasil merebut kembali Cleyra dan Solidor, mereka tetap bersikeras untuk melakukan perlawanan," lanjut pemuda dengan rambut yang kini sudah sepanjang dagu itu dengan penuh percaya diri.


"Sepertinya kau cukup percaya diri dengan rencanamu itu, Nat. Baiklah, aku serahkan padamu. Kita akan bahas masalah itu dalam pertemuan lanjutan dengan para petinggi militer," ucap Lucia tanpa ragu, yang juga disetujui oleh seluruh orang yang hadir di tempat itu.


"Terima kasih, Yang Mulia." Nata menjawab sopan.


"Lalu bagaimana dengan penyelidikan kita tentang pergolakan di utara?" tanya Lucia kemudian merubah topik pembicaraan.


"Pangeran Grevier telah mengumumkan secara terbuka akan melakukan perlawanan terhadap keluarga Voryn dan Roxan, Yang Mulia," ucap Cornelius menjawab.


"Dan karena perang saudara itulah para bangsawan dan beberapa rakyat biasa melarikan diri ke tempat kita di gerbang utara," lanjutnya menjelaskan.

__ADS_1


"Situasi di sekitar Kotaraja Elbrasta saat ini benar-benar kacau dan tidak stabil," terdengar Constine menambahi.


"Hal ini mengingatkanku pada wilayah Lugwin dulu," celetuk Aksa kemudian.


Yang jelas membuat Lucia teringat dan mulai membayangkan situasi dan keadaan di Kotaraja tersebut.


"Dan juga hari ini kita kedatangan bangsawan Ghalia di perkemahan di luar gerbang utara," ucap Cornelius melanjutkan laporannya. "Dan anehnya, mereka datang bersama keluarga Voryn."


"Kenapa keluarga Ghalia datang bersama keluarga Voryn? Bukankah Pangeran Grevier sudah mengumumkan untuk melakukan perlawanan terhadap Voryn dan Roxan?" Amithy yang sedari tadi diam di sebelah Orland akhirnya angkat bicara karena penasaran.


"Entahlah, Bi. Pasti ada sesuatu di balik semua ini." Cornelius menjawab.


"Siapa itu keluarga Ghalia, Aks?" tanya Nata secara berbisik di dekat telinga Aksa.


"Keluarga dari almarhum bibi Lucia yang Ratu dulu itu. Ibunya si Grevier dan kedua pangerang itu," jawab Aksa seraya berbisik balik ke telinga Nata agar tidak mengganggu pembicaraan.


"Oh..." Nata mengangguk paham.


"Sepertinya tujuan mereka adalah Pangeran kedua," ucap Constine kemudian memberikan pendapatnya.


"Aku juga merasa seperti itu. Mereka memerlukan Alexander untuk mengumpulkan kekuatan guna melawan kak Grevier." Lucia juga sepemikiran dengan Constine.


"Dan seperti yang telah dicurigai oleh Tuan Nata sebelumnya, memang ada beberapa Garnisun di desa-desa kecil di wilayah sisi timur." Constine kembali berucap melanjutkan laporannya.


"Kemungkinan besar itu adalah Garnisun milik keluarga Voryn atau Ghalia untuk persiapan mereka melakukan serangan balik ke Pangeran Grevier," lanjut Constine kemudian. "Jadi karena itu, kita tidak bisa gegabah melakukan hubungan dengan mereka, Yang Mulia."


"Ya, aku juga sadar akan hal tersebut. Ini akan jadi pembicaraan yang cukup serius," jawab Lucia yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa Yang Mulia berniat untuk bicara dengan mereka?" Kali ini Cornelius yang bertanya dengan nada keberatan.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa mengabaikan mereka sekarang." Lucia menjawab. "Aku akan berbicara dengan Alexander setelah ini," tambahnya seraya membuang nafas cepat.


"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan," ucap ratu muda itu melanjutkan pertemuan sebelum terdengar keberatan dari yang lain.


"Untuk wilayah selatan, saat ini kita akan menitik beratkan pada pemulihan wilayah terlebih dahulu Yang Mulia." Orland segera menyahut mengambil alih. "Terutama tempat-tempat yang terkena wabah dan yang dilanda kelaparan juga kekeringan," lanjutnya lagi.


"Untuk tempat-tempat tersebut, saya dan Aksa sudah mulai mencari tahu permasalahannya sejak beberapa minggu yang lalu. Semoga dalam minggu-minggu ini kita sudah bisa mulai melakukan penanganan," sahut Nata menyambung ucapan Orland.


"Antibiotik, beberapa jenis obat, dan peralatan yang diminta Tuan Aksa sudah mulai disiapkan dari beberapa hari yang lalu." Ellian ikut menyambung ucapan Nata barusan.

__ADS_1


"Lega mendengarnya. Semoga kita bisa tepat waktu untuk menyelamatkan mereka yang terkena musibah," jawab Lucia dengan senyum penuh harapan. "Lalu?" lanjutnya kemudian.


"Fasilitas pembangunan di wilayah selatan untuk jalur kereta di Provinsi Timur, saat ini sudah selesai seluruhnya dan sudah dapat digunakan, Yang Mulia." Kali ini Matyas yang berucap memberi laporan. "Sementara untuk Provinsi Barat, jalur dari wilayah Damcyan menuju Nabradia baru saja dimulai," lanjutnya.


Terlihat Lucia mengangkuk kecil. "Bagus," ucapnya menaggapi.


"Kemudian mengenai jaringan kabel tembaga, baik untuk listrik maupun komunikasi, kita baru memulai pemasangannya kembali di wilayah Lighthill dan Ravus. Mungkin akan sedikit memakan waktu karena pasokan tembaga kita," ucap Matyas melanjutkan.


"Ya, aku mengerti," jawab Lucia yang kemudian disambung dengan pertanyaan baru. "Lalu bagaimana dengan para bangsawan di wilayah selatan?"


"Kita sudah memiliki daftar para bangsawan yang anti dengan kita. Dan mereka akan diusir dari wilayah kita secepatnya," jawab Amithy kali ini. "Sedang mereka yang berada dipihak kita sudah siap untuk membantu mengembalikan kondisi wilayah selatan," lanjutnya.


"Apakah dari mereka ada yang Bibi lihat pantas menjadi pemimpin wilayah atau pemimpin sebuah rencana pengerjaan?" tanya Lucia kemudian.


"Beberapa ada. Tapi tidak banyak. Tidak akan cukup untuk seluruh wilayah," jawab Amithy. "Padahal itupun sudah memasukan kandidat dari Wilayah Pusat ini juga."


"Sebisa mungkin cari orang dari wilayah tersebut, Nyonya Amithy," ucap Nata menyela. "Karena ada jaminan akan lebih didengar oleh para penduduk. Karena mereka mengenalnya."


"Tapi sebisa mungkin jangan mengambilnya dari pemimpin kelompok pemberontak bila dirasa tidak meyakinkan dan tidak dapat dipercaya," tambah Nata kemudian.


"Iya, aku mengerti," jawab Amithy seraya mengangguk paham.


"Oh, benar juga. Bagaimana dengan kelompok para pemberontak?" tanya Lucia menyahut.


"Kebanyakan dari anggota pemberontak sudah kita tempatkan ke bagian-bagian yang membutuhkan." Orland menjawab. "Nantinya kita akan mengajari mereka beberapa pengetahuan dan keahlian, sebelum kemudian memberi mereka pekerjaan tetap," lanjut pria tua itu kemudian.


"Lalu bagaimana dengan tawanan perang kita?" Lucia melanjutkan pertanyaannya.


"Mereka masih berada dalam penjara di masing-masing wilayah di tempat mereka ditangkap. Kita akan melakukan pengadilan terhadap mereka setelah perang ini berakhir," jawab Orland lagi.


Lucia hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban tersebut. Kemudian menatap ke arah jam dinding yang terpasang di sebelah peta besar Wilayah Pusat di sisi kanan pintu masuk.


"Baiklah kalau begitu. Karena sudah hampir setengah sebelas siang, dan setelah ini aku harus menghadiri pertemuan lain, maka untuk sementara cukup sampai di sini dulu pertemuan kita kali ini," ucap Lucia seraya berdiri mendahului yang lainnya.


"Selamat siang semuanya."


Dan ratu muda itu pun berjalan keluar ruang pertemuan diikuti yang lain di belakangnya.


-

__ADS_1


__ADS_2