Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
13. Pertemuan


__ADS_3

Sementara itu Nata sudah terlihat duduk melingkari meja oval di ruang pertemuan bersama Lucia, Orland, Amithy, Caspian, dan Helen di Kota Tengah.


Mereka adalah orang-orang yang mengurusi dan berhubungan langsung dengan permasalahan di wilayah daratan selatan yang akan mereka bahas setelah ini.


"Jadi saya akan bertanya sekali lagi kepada Anda, Yang Mulia," ujar Nata memulai percakapan. "Jadi apa rencana Anda untuk mengakhiri permasalahan dengan wilayah selatan?"


"Sudah kuputuskan, Nat. Bahwa kita akan merebut kembali wilayah tersebut dari tangan siapapun yang menguasainya sekarang ini." Lucia menjawab tanpa jedah untuk berpikir. Seolah ia sudah menunggu Nata menanyakan pertanyaan tersebut.


"Anda yakin?" Nata menegakan tubuhnya.


"Aku sudah memikirkannya berulang kali selama lima tahun ini. Bukan hanya karena wilayah itu adalah bagian dari Rhapsodia saat pertama kali berdiri. Atau karena Tyrion harus bertanggung jawab atas semua yang telah ia perbuat." Lucia menjedah.


"Tapi hanya dengan cara itu aku bisa menebus kesalahan pada keluarga para penduduk dan prajurit yang kehilangan nyawa karena aku. Dan juga kepada orang-orang di luar sana yang selama ini kubiarkan menderita karena aku tidak memiliki kekuatan untuk bertindak," lanjut ratu muda itu kemudian. Tampak ketegasan dan penyesalan terlihat di matanya.


"Itu kesalahan kita semua, Yang Mulia." Orland menyahut.


"Bukan, paman. Itu kesalahanku sebagai pemimpin yang lemah dan tidak mampu." Lucia membalas.


Semua orang yang berada di tempat itu terlihat muram, terdiam mendengar ucapan Lucia tersebut. Mereka mengerti kenapa pemimpin mereka bersikap seperti itu. Alasan yang tidak diketahui oleh Nata.


"Dan aku percaya bahwa kembalinya kalian sekarang ini adalah sebuah kesempatan kedua yang diberikan dewa kepadaku. Jadi aku akan menukar apapun untuk mengambil kesempatan itu dan memenangkan peperangan ini." Lucia kembali melanjutkan ucapannya.


"Jadi, Nat. Pinjamkanlah kekuatan kalian untuk kerajaan ini... tidak, bukan. Pinjamkanlah kekuatan kalian untuk ku. Karena perang kali ini adalah beban dan tanggung jawab ku." Gadis itu menutup perkataannya dengan sebuah permintaan.


Tampak Nata sedikit terkejut karena tidak mengira Lucia akan berbicara seperti itu. "Tapi Anda tahu ada hal yang harus dikorbankan untuk sebuah kekuatan, kan?" Nata mengingatkan.


"Ya, aku tahu dan sudah siap akan hal itu."


"Dan juga ada batasan pengorbanan untuk mendapat kekuatan yang tidak boleh kita langgar." Nata seperti kembali mengingatkan Lucia. Karena ia merasa kuatir terhadap sikap gadis itu yang terlihat seakan rela mengorbankan apapun demi memenangkan peperangan ini.


"Aku mengerti apa yang kau maksud, Nat. Karena ini adalah penebusan kesalahanku, jadi aku tidak akan melewati batasan itu. Kau tidak perlu kuatir," jawab Lucia tanpa keraguan. "Kau, Aksa, dan kalian semua memiliki hak untuk menegurku bila aku sudah mulai kehilangan kendali dan hendak melewati batas," tambahnya lagi yang kali ini ditujukan untuk semua orang yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Nata menatap Lucia sesaat sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang. "Baiklah kalau begitu. Kurasa Anda benar-benar sudah memutuskannya," ucapnya kemudian. "Sekarang mari kita mulai pertemuan kita."


Lucia tampak tersenyum mendengar ucapan Nata tersebut. Yang kemudian disusul oleh yang lainnya.


"Jadi apa saja yang kita ketahui tentang mereka sekarang ini?" tanya Nata kemudian seraya memajukan tubuhnya agar terasa lebih dekat dengan orang-orang yang duduk di seberang meja.


"Wilayah Provinsi Timur dan Barat itu sekarang dibagi menjadi empat bagian oleh mereka." Orland mulai bercerita. "Wilayah bagian selatan dari distrik Dua dan Tiga, sekarang dikuasai oleh kerajaan Augra. Sedang wilayah bagian barat distrik Tujuh dan Delapan dikuasai oleh kerajaan Jouren.


"Sedang wilayah sisanya dibagi dua. Sisa dari wilayah provinsi Barat dikuasai oleh Tyrion dan dan sisa dari wilayah provinsi Timur dikuasai oleh Vistralle," tutup Orland kemudian.


"Siapa Vistralle ini? Apa salah satu dari pemimpin Estat?" tanya Nata kemudian.


"Benar. Dia adalah seorang Dux mantan penguasa Estat Ceodore." Orland menjawab.


"Orang ini lebih berbahaya dari Tyrion. Karena ia cerdik dan juga sangat berhati-hati dalam memutuskan sesuatu." Caspian menambahi.


"Benar, orang ini mempelajari tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan kita, kemudian menggunakannya untuk melawan balik." Amithy juga ikut menambah.


"Mengunakan ilmu pengetahuan kita untuk melawan balik?" Nata memastikan.


"Menarik." Nata terlihat mengangguk kecil. "Dan sejauh apa Vistralle ini menyerap ilmu pengetahuan kita?"


"Orang-orang kita yang berada di tempat itu melaporkan, bahwa mereka sudah mengetahui bagaimana cara mengolah logam Dracz menjadi pelindung ataupun senjata. Dan juga, mereka sudah tahu bagaimana cara menggunakan senjata yang kita punya." Kali ini Caspian yang menjawab.


"Oh? Apakah mereka juga tahu cara membuat Kereta Besi atau memproduksi bubuk mesiu?" tanya Nata kemudian.


"Sepertinya tidak. Karena informasi tentang pengetahuan yang mereka dapat itu sepertinya berasal dari prajurit atau orang-orang yang berurusan dengan perbekalan barang." Caspian kembali menjelaskan.


"Mungkin ada beberapa pengerajin yang membocorkannya, namun rata-rata pengerajin yang mengetahui cara kerja mesin uap itu hanya orang-orang Bintang Timur yang tidak berhubungan langsung dengan wilayah selatan," jedahnya kemudian.


"Sama dengan bubuk Mesiu. Cara pembuatan bubuk mesiu itu hanya diketahui oleh orang-orang Tuan Selene di wilayah peternakan."

__ADS_1


"Dan apa informasi ini terpercaya dan akurat?"


"Kami cukup yakin bahwa informasi ini bukanlah informasi palsu. Karena orang-orang yang memberikan informasi ini adalah bagian dari pemberontak yang tidak ingin berada di bawah kekuasaan Tyrion ataupun Vestralle." Caspian menjawab dengan percaya diri.


"Oh, kelompok pemberontak. Apakah kelompok itu besar?"


"Mereka memiliki jaringan yang luas, hanya saja tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Karena dalam setahun pertama wilayah tersebut di kuasai, Tyrion dan Vestralle melakukan pembersihan dengan menghabisi orang-orang yang mencurigakan dan berpotensi untuk menggerakan sebuah pemberontak."


"Ya, antisipasi yang masuk akal," sahut Nata.


"Beberapa yang masih bertahan memutuskan untuk tetap diam dan mulai menghubungi kita, yang kemudian menjadi mata dan telinga kita di wilayah tersebut."


"Begitu rupanya." Nata kembali terlihat mengangguk paham. "Berarti kita secara tidak langsung memiliki semacam mata-mata di tempat itu sekarang ini?"


"Benar." Caspian menjawab cepat.


"Orang bernama Vistralle itu akan jadi masalah di kemudian hari bila tidak segera ditangani." Nata menyandarkan tubuhnya kebelakang. "Aku yakin tak lama lagi bila mereka sudah menemukan orang yang mengerti tentang mineral atau tentang hewan, mereka akan segera menyadari apa itu bubuk mesiu dan bagaimana cara pembuatannya."


"Ya, itu salah satu dari ketakutan kami," sahut Caspian.


"Lalu untuk Tyrion sendiri?" Nata melanjutkan pertanyaannya.


"Menurut informasi yang kita punya, di samping didukung oleh dua serikat petarung Yllgarian, Tyrion juga memberlakukan wajib militer untuk menambah prajuritnya." Caspian kembali menjelaskan. "Pemuda dari kalangan petani diharuskan untuk menjadi prajurit. Dan juga para budak laki-laki. Mereka dipersenjatai untuk maju ke medan perang," imbuhnya lagi.


"Dari mana dia mendapat semua biaya untuk mendanai semua itu?" Nata bertanya pada dirinya sendiri


"Dan karena hal itulah banyak dari penduduk wilayah selatan yang ingin mengungsi ke wilayah pusat ini. 'Ke dalam tembok', kalau mereka bilang." Lucia tiba-tiba berucap.


"Namun berkaca pada hal yang pernah terjadi sebelumnya, kami tidak bisa begitu saja memasukan mereka." Orland menambahi.


"Benar. Meski kami tahu para penduduk itu akan menderita di bawah kekuasaan Tyrion dan Vistralle," ucap Lucia kemudian. "Egois memang, meninggalkan mereka semua dengan begitu saja. Tapi, resikonya terlalu besar untuk wilayah ini dan orang-orang yang sudah tinggal di dalamnya."

__ADS_1


Nata kembali dibuat terkejut dengan perubahan cara pikir Lucia. "Tidak kusangka Anda akan mengambil keputusan seperti itu," ucapnya kemudian, tanpa tahu harus merasa senang atau merasa sedih melihat perubahan tersebut.


-


__ADS_2