
Tak lama kemudian rombongan Aksa pun pamit undur diri. Saat matahari sudah benar-benar tenggelam dan jalanan sudah mulai diterangi oleh cahaya lampu.
"Ngomong-ngomong kemana keponakan Anda, Nona Anna? Aku tidak melihatnya sedari tadi," tanya Aksa saat mereka sudah berada di jalan di luar wilayah pemukiman. Anna dan Nikolai memang sengaja ikut berjalan mengantar rombongan Aksa hingga stasiun kereta.
"Gale? Sekarang dia tinggal sementara di tempat Tuan Selene. Bocah itu tertarik dengan Binatang Mistik. Dia hanya pulang kemari dua kali seminggu," jawab Anna.
"Oh iya, aku juga harus menyempatkan diri buat mampir ke kebun binatang mistik milik Tuan Selene nanti."
"Ngomong-ngomong, apa Anda tidak jadi mampir untuk melihat Distrik Merah, Tuan Aksa?" tanya Anna tiba-tiba dengan maksud menggoda.
"Oh, benar." Aksa memukul telapak tangannya sendiri seraya berhenti berjalan.
"Tidak! Tidak perlu," sahut Luque dengan cepat dan nyaris panik. Wajahnya terlihat jengkel menatap Anna.
"Benar, Anda tidak perlu mampir. Kita... kita akan ketinggalan kereta nanti." Rafa buru-buru ikut menambahi, sementar Lily hanya tersenyum kecil menyaksikan kejadian tersebut.
"Benar, benar," sahut Luque seraya merangkul lengan Aksa sebelum pemuda itu sempat berbalik arah. Dan kemudian segera menariknya untuk tetap berjalan ke arah stasiun kereta.
"Bukannya masih ada waktu 2 jam lagi sampai kereta terakhir?" Aksa mencoba berargumen.
"Untuk amannya kita tidak boleh menunggu sampai kereta terakhir, Tuan Aksa," sahut Rafa yang kemudian ikut merangkul lengan Aksa yang lain dan memaksanya untuk berjalan menuju stasiun kereta.
"Kalau begitu kita bisa kembali sejam sebelum kereta terakhir. Kurasa tidak butuh waktu lama untuk sekedar melihat-lihat wilayah itu," ujar Aksa yang tidak dihiraukan sama sekali oleh kedua gadis tersebut.
Sedangkan Anna dan Nikolai hanya tertawa kecil melihat dua gadis yang sedang mengapit dan menarik Aksa berjalan dengan paksa itu dari belakang.
Dan setelah berjalan melewati pintu gerbang Bukit Barat, dimana cahaya dari lampu-lampu yang terpasang di stasiun kereta mulai terlihat, dan suara peluit kereta mulai samar terdengar, barulah Rafa dan Luque melepaskan rangkulan mereka dari lengan Aksa.
-
Malam nya di tenda Aksa dan Nata di dasar jurang Ceruk Bintang. Seperti biasa Aksa, Nata, Rafa, Luque, dan Lily tengah berbincang di sela-sela pekerjaan mereka, sambil menikmati teh herbal hangat.
"Kau kenapa, Nat?" tanya Aksa saat mendapati Nata sedang menelengkan kepalanya dalam lamun.
"Aku merasa sangat aneh dengan gadis itu," jawab Nata masih dengan tatapan menerawang ke arah lantai.
"Gadis Aneh?" Aksa bertanya sambil kembali menundukan kepalanya menatap buku yang sedang ia tulis.
"Gadis itu berubah banyak sekali."
__ADS_1
"Maksudmu Lucia?"
"Benar. Dia seperti orang yang berbeda. Aku seperti tidak lagi mengenalnya."
"Meski kau baru menghilang beberapa jam saja, tapi kenyataannya sudah 5 tahun terlewatkan. Jadi pantas bila kau merasa aneh saat mendapati orang lain telah banyak berubah." Kali ini Luque yang menyahut dari seberang ruangan. Tampak ia sudah rapat terbalut oleh selimut di atas sofa panjang.
"Bukan begitu maksudku. Kalian bertiga tidak terlalu banyak berubah meski sama-sama melalui waktu 5 tahun. Malah nyaris tidak ada perubahan sama sekali kecuali penampilan kalian," ujar Nata menjelaskan maksudnya.
"Ya, aku setuju." Tampak Aksa mengangguk setuju meski masih tidak memindahkan pandangannya dari buku.
"Oh, Benarkah? Itu karena aku memang perempuan yang konsisten," balas Luque dengan wajah sombongnya.
"Banyak hal telah dialami Yang Mulia Ratu dalam kurun waktu 5 tahun ini. Mungkin karena hal-hal tersebutlah yang membuat beliau berubah menjadi benar-benar berbeda." Kali ini Rafa yang ikut berbicara. Tampak ia baru saja selesai menyeduh teh dalam teko keramik.
"Apakah perubahan sang Ratu hal yang buruk, Nat?" Giliran Lily yang ikut masuk dalam percakapan.
"Tidak bisa dibilang buruk juga. Dia berubah menjadi lebih tenang dan dewasa. Sudah tidak lagi bertindak berdasarkan emosi, dan tidak memaksakan kehendaknya meski ia merasa itu keputusan yang tidak sesuai dengan pandangannya," jawab Nata dengan wajah penuh pertentangan.
"Bagus dong kalau memang begitu. Akhirnya gadis itu dewasa juga," celetuk Aksa menanggapi.
"Tapi ada yang janggal dari prilaku nya yang seperti itu." Nata semakin terlihat penuh dengan pertentangan.
"Janggal?"
Aksa spontan terkikik mendengar ucapan Nata tersebut. "Xixixi... harusnya aku ada di sana saat hal itu terjadi," ucapnya di tengah tawa. "Tapi bukankah itu hal normal, Nat? Orang memang selalu mempertanyakan rencana tidak masuk akal mu. Terus di mana janggalnya?"
Mendengar ucapan sahabatnya itu Nata langsung mengajungkan jari telunjuknya ke arah Aksa dengan mantap. "Tepat sekali. Dia yang menjadi normal seperti orang lain yang belum mengenal kita lah, yang menjadikannya janggal," ujarnya kemudian.
Aksa mengangkat pandangannya ke arah Nata. "Bagaimana sih?" ujarnya sambil mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sakit hati karena dianggap orang asing yang belum dikenal, ya? Atau mungkin harga dirimu terluka karena sudah tidak dijadikan andalan lagi oleh gadis itu?"
"Bukan begitu. Tapi pemikiran dan caranya mengambil keputusan itu membuatku menjadi sedikit kawatir. Aku jadi tidak bisa memperkirakan perilakunya. Dia jadi seperti variable X yang akan menyulitkanku untuk membuat rencana di kedepannya." Nata mencoba meluruskan kesalah pahaman yang dikira oleh Aksa.
"Kau bukannya kawatir karena tidak dapat membaca perangainya, Nat. Kau itu sakit hati karena tidak dianggap penting. Sudah akui saja." Aksa tetap bersikukuh pada perkiraannya mengenai perasaan Nata. "Oh, atau jangan-jangan sekarang ini kau mulai ada rasa sama Lucia? Cie.. cie... " godanya kemudian.
"Oh, benarkah? Apa kau menyukai Sang Ratu, Nat?" Luque tiba-tiba menegakan tubuhnya dan terlihat bersemangat mendengar ucapan Aksa tadi.
"Sudah-sudah, berhenti bercanda. Aku serius ini." Nata mulai terlihat jengkel.
"Kau yang berhenti denial-denial kaya gitu, Nat. Jijik tahu lihatnya," timpal Aksa sambil mengusap-usap lengannya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah. Tidak akan ada habisnya berbicara denganmu mengenai hal ini." Nata buru-buru memutus tema perbincangan dengan mengambil sesuatu dari dalam tas nya. "Nih, kerjaan untukmu." Kemudian melemparkan gulungan kertas ke atas meja di hadapan Aksa.
"Tapi seingatku tipe cewek mu itu memang yang lebih tua gitu kan, Nat? Kurasa selisih 5 tahun sudah masuk dalam kategori, dong?" Aksa masih mencoba menggoda Nata saat memungut gulungan kertas itu dari meja.
"Benarkah-Benarkah? Coba ceritakan padaku tentang gadis yang disukai Nata, Aks," sahut Luque yang terlihat semakin tertarik. Tak ubahnya dengan Rafa, meski hanya terlihat dari raut wajahnya saja.
"Sudah diam kau, Aks. Baca gulungan itu dan segera buat rancangannya untuk diberikan ke Val dan para pengerajin lainnya," timpal Nata dengan ketus sambil menekuk wajahnya.
"Ih, kok jadi sensi," balas Aksa yang masih mencoba menggoda Nata sambil mulai membaca isi gulungan kertas tersebut.
Sedang Luque dan Rafa terlihat sedikit kecewa karena gagal mendengar sesuatu yang menarik tentang Nata.
"Heh, apa-apaan ini?" ucap Aksa kemudian setelah membaca isi gulungan yang diberikan oleh Nata. "Jam tangan. Kompas. Senter. Teropong. Swiss Knife. Tangga Portable. Dan botol minum kaleng Kecil melengkung? Kalau semua ini, aku juga mau," seru Aksa kemudian.
"Ya sudah, tinggal buatkan desin nya saja. Kita perlu sekitar 60 per barang," sahut Nata masih dengan nada ketusnya.
"Memang benda apa yang kau sebut tadi, Aks?" Luque tampak penasaran terhadap benda-benda yang disebutkan Aksa dengan nada yang dilebih-lebihkan itu tadi.
"Peralatan Modern," sahut Aksa singkat.
"Moderen? Kalau begitu aku juga mau!" balas Luque tanpa pikir panjang sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Bila diperbolehkan, saya juga ingin memilikinya, Tuan Aksa," tambah Rafa kemudian.
Terlihat dua gadis itu tampak kembali bersemangat, meski mereka belum tahu benda apa yang dimaksud Aksa dengan Peralatan Modern itu.
"Tenang-tenang, akan kuminta Val membuatkannya untuk kita semua. Kau pasti juga mau kan, Lily?"
Mendengar tawaran dari Aksa tersebut, Lily hanya tersenyum kecil seraya menyeruput teh dalam gelasnya. Dan meski tidak memberikan jawaban, namun Aksa tahu pasti bahwa gadis kelinci itu juga menginginkannya.
"Juga jangan lupa dengan radio dan kapal udaranya. Kita juga perlu itu segera," sela Nata mengingatkan.
"Iya-iya aku paham," jawab Aksa dengan sedikit kesal mendengar ucapan ketus dari Nata. "Tapi yang pertama-tama harus kita lakukan, dan yang paling penting adalah, kita perlu membuat kamar mandi dan Gazebo di tempat ini," ujarnya kemudian sambil dengan santai kembali menulis sesuatu dalam bukunya.
"Ya! Kamar mandi!" seru Luque setuju dengan usulan Aksa. Yang tidak diperdulikan oleh Nata.
"Oh iya, apa kau sudah tahu, Nat?" Aksa kembali mengangkat tatapannya ke arah Nata. "Kalau ternyata Distrik Merah wilayah ini ada di kota pelabuhan di barat sana," ucapnya kemudian yang terlihat baru saja teringat akan hal tersebut.
"Eh, Tuan Aksa, apa itu Ga- Gasibu?" Rafa tiba-tiba saja menyahut bertanya sebelum Nata sempat menanggapi ucapan Aksa barusan.
__ADS_1
"Iya-iya, apa itu Gasibu?" Luque buru-buru ikut menambahi.
-