
Sementara itu Aksa masih bersama Rafa, Luque, dan Trio Pemburu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke wilayah timur. Kali ini mereka menggunakan Kereta Besi untuk menuju ke timur dari Stasiun Gondola.
Mereka mengunakan Kereta Besi milik Haldin yang mampu menampung 8 orang sekaligus. Yang berada di depan Stasiun Gondola bagian atas.
.
"Kudengar dari Lily kemarin, Hutan Sekai kedatangan Yllgarian baru lagi?" tanya Aksa saat mereka sedang dalam perjalanan menuju terowongan Jalan Tembus Dinding Sekai.
"Benar. Ada tiga klan Yllgarian yang datang dan menetap sekitar tahun ke tiga sebelum gerbang ditutup." Huebert menjawab dari kursi pengemudi di sebelah Aksa. "Mereka berasal dari hutan-hutan di tenggara dan selatan yang memang sedang mencari tempat tinggal baru yang aman."
"Klan apa saja mereka? Apakah sama dengan lima klan yang sudah ada? Atau jangan-jangan klannya Lily?" Aksa terlihat mulai antusias dengan tema pembicaraan tersebut.
"Dua di antaranya dari klan reptil," sahut Loujze dari deret kursi ketiga setelah kursi Rafa dan Luque.
"Oh, apakah mereka amfibi? Aku belum pernah melihat Yllgarian jenis reptil. Apakah itu kadal? Atau ular?"
"Mereka adalah Bufo, Yllgarian Katak yang sekarang tinggal di hutan lereng gunung," ucap Huebert menjelaskan.
"Wow, apa mereka pertapa katak yang tinggal di gunung-gunung?" Aksa terlihat mulai bersemangat bicara pada dirinya sendiri.
"Kami sedang melakukan penjelajahan di wilayah lereng itu saat ini," celetuk Loujze lagi dari belakang.
"Kemudian ada Squam, Yllgarian Kadal yang tinggal di pesisir tenggara. Di bibir hutan yang langsung berbatasan dengan pantai."
"Oh, jadi benar ada Yllgarian Kadalnya. Aku jadi penasaran ingin melihat seperti apa wujud dari Lizardmen dan Kermit itu," ucap Aksa yang terlihat semakin bersemangat. "Kemudian? Klan yang ketiga?"
"Kemudian ada Scrofa, Yllgarian BabiHutan. Mereka tidak tinggal di dalam hutan, melainkan di Desa Sekai di pesisir pantai timur." Huebert menutup penjelasannya.
"Manusia BabiHutan? Semacam Orc?" tanya Aksa kemudian, yang tidak dimengerti oleh yang lain.
"Klan Scrofa adalah salah satu klan Yllgarian bukan petarung. Bentuk fisik mereka tidak cocok untuk digunakan bertarung atau bahkan berburu. Sama seperti klan Bufo, rata-rata mereka adalah penambang dan pengerajin." Kali ini Rafa yang menambahkan informasi.
"Manusia katak itu juga seorang penambang?" Aksa mencoba memastikan.
__ADS_1
"Rata-rata Bufo adalah pengguna sihir tanah dan es." Rafa menjawab.
Terlihat Aksa mengangguk kecil mendengarkan penjelasan dari Rafa.
-
Tak lama kemudian mereka pun tiba di wilayah tempat tinggal Lumire. Dan Aksa memutuskan untuk singgah sebentar di tempat Lumire.
Wilayah sabana di antara jalan tembus Dinding Sekai dengan Kota Tengah itu sekarang terlihat sangat ramai.
Jalanan menuju ke wilayah timur itu dilewati oleh puluhan Kereta Besi yang nyaris tanpa sela. Karena memang itulah satu-satunya cara untuk menuju ke wilayah timur. Tidak ada jalur kereta yang menuju ke sana.
Pasar yang dibuat khusus untuk para pedagang nomad dari tanah bebas Azzure sebelumnya, sekarang terlihat seperti sebuah pemukiman. Karena setelah penutupan gerbang, mereka sudah tidak dapat lagi bepergian dengan menggunakan kereta kuda dan karavan mereka lagi. Dan kebanyakan memutuskan mebetap di tempat itu.
Meski masih berfungsi sebagai pasar, namun kedai untuk menjajakan berbagai dagangan yang dulunya berupa kereta-kereta dan tenda-tenda berbentuk kubah itu, sekarang sudah terlihat seperti sebuah tempat tinggal layak huni. Tak jauh berbeda dari tenda Aksa di dasar jurang Ceruk Bintang.
Jalanan yang dilapis dengan pecahan batu tampak menyebar di seluruh komplek. Puluhan orang yang hendak mencari barang-barang tertentu yang hanya dijual oleh pedagang Azzure, tampak berlalu-lalang di atasnya.
.
Tampak Lumire yang sedang duduk di depan tendanya terkejut saat melihat Kereta Besi rombongan Aksa berhenti tak jauh dari halaman pekarangannya.
"Tuan Aksa?!" Tampak Lumire yang rambut dan kumisnya dipenuhi dengan uban itu menganga sampai menjatuhkan pipa tembakaunya, saat melihat Aksa memasuki pekarangan tendanya. "Fatima, kemari cepat!" panggilnya kemudian dengan berteriak.
Istri Lumire keluar dari dalam tenda dengan wajah sedikit kesal. Ia baru akan mengeluh tentang sikap suaminya yang seperti tidak tahu adat itu, saat kemudian sudut matanya menangkap sosok Aksa yang sedang berjalan mendekati tenda.
"Apa kabar, Tuan Lumire? Nyonya Fatima?" Aksa melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Para dewa! Tuan Aksa?! Terberkatilah Anda beserta seluruh keluarga Anda," ucap Fatima dalam satu tarikan nafas.
"Jadi apa yang dikatakan Fla dan Dio itu benar ternyata. Anda berdua sudah kembali." Lumire segera mendekat dan memeluk Aksa dengan satu lengan. "Mana Tuan Nata?" tanyanya kemudian.
"Dia bersama ratu di Kota Tengah."
__ADS_1
"Kami benar-benar merindukan kalian berdua," ucap Fatima seraya mengusap punggung Aksa dengan penuh perhatian. "Sayang Tuan Nata tidak ikut bersama kalian. Sebentar, saya akan siapkan makanan terlebih dahulu," tambahnya kemudian seraya bergegas masuk ke dalam tenda.
"Jangan terlalu berat, Nyonya Fatima. Kami baru saja selesai makan siang di Kota Selatan."
"Bicara apa Anda? Porsi makan siang para bangsawan itu tidak bisa dihitung sebagai makan siang yang pantas," sahut Lumire kemudian. "Benar, kan?" tanyanya kemudian kepada Trio Pemburu.
"Benar sekali," jawab Loujze sambil tertawa.
"Tuan Aksa?" Seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam tenda karena mendengar kegaduhan yang tengah terjadi itu terlihat sangat terkejut melihat Aksa.
"Oh, sejak kapan kau berubah menjadi seorang gadis seperti ini, Andele?" Tampak Aksa juga terkejut mendapati seorang gadis Morra berambut panjang dikucir kuda yang ia kenali sebagai Andele, adik Selene.
"Sudah lima tahun semenjak kepergian Anda yang tanpa pamit itu, Tuan Aksa. Saya sekarang sudah berusia 17 tahun," jawab gadis yang mengenakan pakaian dari kulit binatang dengan bentuk tidak simetris, sama seperti yang sering dikenakan oleh Selene. "Lagi pula, kenapa Anda tidak bertambah tua?" Andele terlihat benar-benar bingung.
"Karena aku adalah Utusan Dewa," jawab Aksa dengan nada sombongnya. "Oh, apa itu binatang peliharaanmu?" imbuhnya lagi saat melihat rubah dengan 2 ekor yang ujungnya berwarna merah terang, sedang berjalan pelan mengikuti di belakang Andele.
"Benar. Kenalkan namanya Dende." Andele memperkenalkan rubahnya yang saat dalam posisi terduduk tingginya tak lebih dari lutut Andele.
"Jadi kau juga seorang Penjinak sama seperti kakakmu?" ujar Aksa seraya membelai kepala rubah tersebut dengan lembut.
"Benar. Tapi saya Penjinak yang jauh lebih baik dari kakak," timpal Andele dengan penuh percaya diri. Yang tampak disetujui oleh rubahnya dengan mengeluarkan seperti suara kekehan tawa pendek.
"Ngomong-ngomong kemana saja Anda selama ini, Tuan Aksa?" tambah Andele dengan pertanyaan.
"Ceritanya cukup membingungkan," jawab Aksa kemudian.
"Sudah-sudah, kemarilah, duduklah di sini. Banyak yang perlu kita bicarakan." Lumire memotong seraya mempersilahkan para tamunya untuk duduk di bangku panjang yang terbuat dari batang kayu besar yang dibelah dua di depan pekarangan tendanya.
Dan setelah beberapa saat mereka duduk dan mulai berbincang, Fatima dan beberapa perempuan tampak keluar dengan sebuah meja kecil dan banyak piring berisi makanan.
Kemudian merekapun melanjutkan perbincangan mereka sembari makan.
-
__ADS_1