
Satu setengah bulan berlalu sejak senjata dan seragam baru diperkenalkan. Kini produksi peralatan medis dan obat-obatan sudah benar-benar dimulai. Bersamaan dengan itu, proyek pembuatan Ransum yang dipegang oleh Edward dan dibantu oleh sanak keluarga Lumire juga sudah mulai membuahkan hasil.
Kini tugas Aksa dan para pengerajin adalah menyelesaikan pembuatan Kapal Udara. Sementara Nata berurusan dengan pelatihan prajurit dan masalah lain di luar peperangan.
.
"Dua hari lagi kita akan mulai memasang alat Elektrolisis Air di tepian Jurang Besar. Sekaligus mulai merangkai Kapal Udaranya di tempat itu." Aksa berucap dari seberang meja di hadapan Nata. "Karena disamping akan lebih praktis mengapungkan kapal tersebut di atas air saat sudah selesai dirakit, juga supaya tidak terlalu menimbulkan keributan warga saat melihatnya melayang," lanjutnya kemudian.
"Apa kau tetap akan menggunakan Hydrogen, Aks?" Nata bertanya.
Kali ini mereka hanya berdua saja di dalam tenda. Rafa, Luque, dan Lily yang biasa hadir masih belum kembali dari pekerjaan mereka di wilayah timur.
"Kau ingin aku menggunakan apa? Hellium? Kau sadar tidak, kalau elemen yang dinamai dari nama dewa matahari itu adalah elemen yang langka? Setidaknya di planet yang serupa dengan bumi seperti ini." Aksa menjawab ketus. "Ya, kecuali kau menemukan sumber gas alam dari tumpukan fossil uranium. Itu pun tidak menjamin akan selalu ada, karena sejatinya kita masih belum tahu cara memproduksi ulang Hellium," sewotnya kemudian.
"Ya aku tahu itu. Aku hanya ingin memastikannya saja." Nata mengangkat tangan.
"Oh. Kalau tidak, kita bisa memanennya dari planet gas terdekat dalam tata surya ini." Tampak Aksa masih merasa kesal.
"Tidak perlu sarkas juga. Aku hanya kuatir karena Hydrogen sangat mudah terbakar. Dan dunia ini punya sihir api yang dapat ditembakan lebih tinggi dari busur panah." Nata membalas.
"Kurasa satu-satunya jalan adalah membuat pelapis balon dari kulit hewan mistik anti api. Aku sudah membicarakan hal itu dengan Tuan Selene beberapa hari yang lalu." Aksa memberikan solusi.
"Tapi butuh berapa lama dan berapa banyak hanya untuk satu Kapal Udara saja? Biaya produksinya terlalu tinggi." Nata menanggapi.
"Ya kalau begitu kita hanya bisa berharap tidak ada penyihir yang mampu menembakan sihir api cukup tinggi hingga dapat mengenai balonnya," jawab Aksa sarkas. "Lagi pula Hydrogen adalah urutan pertama dalam periodik table. Itu berarti dia element terbaik," celetuknya kemudian.
"Tidak ada hubungannya dengan hal itu."
"Kita bisa mulai membuat mesin-mesin bertenaga Hydrogen Cell kedepannya." Aksa kembali berucap. "Seperti mesin uap lokomotif itu. Kau pikir sampai kapan akan terus menggunakan bahan bakar kayu? Kita sudah cukup berlimpah air sekarang," lanjutnya memberi usulan.
"Ya kurasa kau benar. Kita bisa memulai green energy sejak dari awal." Nata terlihat mengangguk mempertimbangkan usulan sahabatnya itu. "Terus, kapan kau akan membuat Drone nya? Sebentar lagi pelatihan prajurit-prajurit itu akan selesai. Aku mau menunjukan photo peta udara saat melakukan pembahasan rencana dengan Lucia dan orang-orang militer," tambahnya.
"Sabar. Aku masih harus mengawasi pengerjaan Elektrolisis Air ini dulu sebelum benar-benar bisa ku tinggal. Karena aku tidak ingin diganggu saat sedang membuat sesuatu." Aksa menjawab. "Tak perlu kuatir. Aku akan selesaikan dalam waktu kurang dari seminggu. Santai saja," tambahnya memberi jaminan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," balas Nata cepat tanpa meragukan ucapan Aksa.
"Hai kalian, kami pulang!" Tiba-tiba muncul dengan berteriak, Luque bersama Rafa dan Lily dari pintu depan tenda. "Hari ini lelah sekali. Aku akan berendam air hangat dulu sebelum tidur."
...***...
Dua hari kemudian di barat pinggiran Jurang Besar. Tak jauh dari kediaman Lucia. Pekerja dan beberapa penyihir terlibat sudah memulai melakukan pekerjaan mereka membuat landasan dan mendirikan katrol untuk memasang alat yang disebut Aksa dengan Elektrolisis Air.
Alat tersebut memang cukup besar. Seukuran dua generator listrik seperti yang ada di Bukit Waduk. Berbentuk kotak dengan beberapa lempengan besi terpasang saling-silang di dalamnya.
Di salah satu sisi kotak tersebut terdapat pipa untuk mengisi air. Dan di sisi yang lain terpasang kabel tembaga untuk mengaliri listrik.
Kemudian di bagian atasnya terdapat dua pipa yang mengarah ke dua buah tabung logam yang berbeda. Tabung yang satu tidak terlalu besar dengan bagian atas terlihat berongga. Tertulis huruf 'O' besar pada badan tabungnya. Dan yang satu lagi berukuran dua kali tabung pertama. Dengan tampak alat pengukur tekanan terpasang di atasnya. Terdapat huruf 'H' besar di badan tabung tersebut.
"Apa Jurang Besar ini memiliki terusan untuk mengalirkan air?" Aksa menyipitkan mata menatap ke ujung barat aliran sungai di Jurang Besar itu seraya mengangkat tangannya ke depan pelipis seperti sedang memayungi mata dan hidungnya dari sinar matahari.
"Ada celah seperti terowongan yang mengarah ke tebing di pesisir pantai di barat daya sana." Matyas yang juga ikut hadir sebagai pemimpin para pengerajin menjawab.
"Lalu kenapa airnya bisa meninggi? Meski sesempit apapun celahnya, bila air bisa melewatinya, harusnya permukaannya tidak akan meninggi. Di awal-awal volume air tidak sebanyak ini, kan?"
"Apa cukup besar?"
"Mungkin seukuran pria dewasa. Hanya saja mulut celah itu terletak di bawah permukaan air laut."
"Begitu." Aksa mengangguk kecil.
Tepat di bawah tempat untuk memasang Elektrolisis Air yang sedang dikerjakan oleh para pekerja dan penyihir tadi, para pengerajin yang dibantu oleh pembuat kapal dari Kota Barat tengah sibuk membuat Galangan Kapal baru di tepian sungai di dasar Jurang Besar tersebut.
Dan karena dasar jurang tersebut cukup dalam dari permukaan, maka dibuatlah sebuah elevator serupa dengan yang ada di Kota Utara. Hanya saja yang ini sedikit lebih besar. Untuk menurunkan bagian-bagian Kapal yang dibuat di wilayah selatan.
Aksa yang sedang mengurusi pemasangan Elektrolisis Air, hanya bisa mengamatinya dari atas bersama para pemimpin proyek yang lain.
"Jadi apa yang disebut dengan Hidrogen itu tadi?" Couran bertanya setelah ia selesai berkeliling mengamati situasi wilayah tersebut. Kemudian duduk di kursi lipat di sebelah Aksa menghadap ke Jurang Besar.
__ADS_1
"Pada dasarnya hydrogen adalah gas teringan yang ada di dunia ini. Karena hanya terdiri dari 1 proton tanpa neutron. Dan karena termasuk gas Diatomik, jadi gampang meledak," jawab Aksa masih belum mengalihkan pandangannya dari pekerjaan di dasar jurang.
"Meledak? Seperti bubuk mesiu?" Tidak hanya Couran, Matyas dan beberapa orang yang mendengar ucapan Aksa itu tampak terkejut.
"Ya, kurasa ledakannya masih lebih dasyat mesiu," jawab Aksa yang kali ini menatap Couran. "Lidah api Hydrogen itu cepat kaya Flash," tambahnya dengan perkataan yang tidak dapat dimengerti oleh yang lain.
"Apa tidak akan apa-apa memakai gas yang dapat meledak seperti itu? Bagaimana kalau meledak saat terkena panas matahari?" Matyas terlihat kuatir.
"Tidak perlu kuatir. Hydrogen akan meledak sendiri pada temperatur 500 °C. Jadi hanya percikan api yang berpotensi menyulut ledakannya saat berada dalam balon nantinya. Anda bisa tenang, karena aku sudah belajar dari kasus Hindenburg untuk antisipasi." Aksa mencoba menenangkan dengan penjelasan yang tidak dapat dipahami.
"Dan bagaimana cara membuat hidrogen itu? Apakah sama dengan cara untuk membuat bubuk mesiu?" Couran terlihat penasaran. "Apakah alat itu sama dengan tangki pendingin untuk biogas?"
"Tidak sama Tuan Couran. Kita tidak membuat hydrogen. Tapi memisahkannya dari air," jawab Aksa.
"Air?"
"Benar. Senyawa air itu terdiri dari satu oksigen dan dua hydrogen. Sebenarnya bisa juga dari Hydrocarbon seperti gas Metana yang punya satu carbon dan empat Hydrogen. Tapi sumber berlimpah dan termudah yang kita punya saat ini adalah Air. Ya jadi, kita pakai air saja," jelas Aksa dengan ringan. Sementara yang lain terlihat kebingungan mendengarnya.
"Dan bagaimana cara Anda memisahkan hal-hal itu tadi dari air?" tanya Matyas dengan wajah seperti berharap Aksa hanya sedang bercanda saja.
"Benar, bagaimana kau menyisihkan Oksigen dan Hidrogen itu? Membelah air? Atau memanaskannya dan merubahnya menjadi gas? Lalu bagaimana kau bisa memilah antara oksigen dan hydrogen dari gas tersebut?" Couran mencoba memikirkan berbagai cara yang tetap mustahil untuk dilakukan.
"Ya bukan menyisihkan dalam artian harafiah, Tuan Couran. Eh, harafiah sih, tapi tidak dengan cara yang umum kita lakukan." Aksa menjawab.
"Lalu?"
"Ada cara yang namanya Elektrolisis. Secara sederhanannya, kita mengalirkan listrik pada suatu zat untuk memisahkan kandungan elektron di dalam zat tersebut. Dengan bantuan Elektroda. Seperti yang kita gunakan pada lampu pijar dan tabung Audion kemarin itu." Aksa mencoba menjelaskan.
"Jadi pada katode, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida atau OH-. Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen, melepaskan empat ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air..."
"Sudah-sudah, cukup." Couran memotong penjelasan Aksa. "Kau membuatku semakin pusing, Aks. Kurasa akan kubaca ulang tulisanmu tentang Energi Reaksi Kimia yang kemarin. Mungkin setelah itu baru akan ku tanyakan ulang tentang metode menyisihkan hidrogen ini." Terlihat pria baya itu memijat pelan pelipisnya.
"Anytime, tuan Couran," balas Aksa cepat.
__ADS_1
.