
Nata berjalan mendekati meja dan menunjuk ke dua papan berjajar yang sekarang memperlihatkan gambar yang tampak bergerak-gerak.
Semua orang segera mendekat ke arah meja setelah Lucia. Berdiri bergerombol di hadapan papan bergambar tersebut, tepat di belakang Aksa, Nata, dan Lucia.
Dan karena terlalu sempit, beberapa orang terpaksa mengalah untuk tidak melihatnya sekarang. Seperti Rafa, Luque, Lily, dan beberapa orang lainnya memutuskan untuk melihatnya setelah semua selesai.
"Papan ini sama seperti Laptopmu." Lucia teringat begitu melihat dua papan bergambar itu.
"Benar, Yang Mulia. Benda ini disebut dengan Layar Monitor." Nata menjawab. "Dia bisa menampilkan baik gambar diam, maupun gambar bergerak. Juga dapat mengelurkan suara."
"Ya, aku tahu tentang itu." Lucia mengangguk.
"Nah, jadi sekarang monitor ini sedang menampilkan gambaran yang ditangkap oleh Drone itu." Nata memulai penjelasannya.
"Ditangkap?" Lucia tidak mengerti maksud perkataan Nata.
"Maksud saya, gambaran yang dilihat oleh Drone itu." Nata mengulang penjelasannya mengunakan kata yang lebih mudah dipahami.
"Dilihat? Jadi benda itu memiliki mata?" Lucia semakin terlihat bingung. Tak ubahya dengan orang-orang yang tengah berdiri di belakangnya.
"Ya, kurang lebih seperti itu," jawab Nata yang terlihat sedang memilah kata untuk menjelaskannya kepada Lucia dan yang lain.
"Anda lihat bola silver dengan banyak kaca bundarnya di bagian bawah Drone itu? Itu mata nya," ucap Aksa sambil mengarahkan Drone itu terbang mendekat. Agar mudah dilihat oleh Lucia.
"Oh. Begitu ternyata." Lucia tampak ragu, harus kah ia bertanya lebih rinci mengenai bola logam yang disebut mata oleh Aksa itu, atau tidak.
"Aku akan menganggap itu sebagai sihir dan tidak akan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Karena pasti kalian akan mengocehkan hal yang tidak masuk akal lagi padaku," celetuk Jean kemudian, yang seolah menjawab keraguan Lucia.
Semua orang tertawa kecil mendengar ucapan Jean barusan. Mereka sangat setuju dengan ksatria perempuan itu.
"Oh, benar. Sekarang ada gambar kita di dalam apa namanya, papan layar ini," ucap Lucia sedikit terkejut namun terlihat kagum mendapati wajahnya dan beberapa orang muncul di layar monitor saat Drone itu berada di hadapan mereka.
"Itu gambaran kita sekarang ini," seru salah satu orang.
__ADS_1
"Rasanya seperti sedang berkaca," ucap yang lain menanggapi.
"Ini sangat luar biasa. Jadi kita bisa serasa terbang bersama benda Dron ini," ucap Lucia yang masih terlihat kagum dengan kemampuan benda buatan Aksa tersebut.
"Tunggu sampai Anda lihat yang ini," ucap Aksa kemudian. "Sekarang coba kalian perhatikan layarnya," lanjutnya seraya mengendalikan Drone tersebut menjauh dari tenda.
Bersama dengan Drone yang terus melayang naik, gambar tebing padas dari Jurang Ceruk Bintang yang terlihat dalam layar monitor itu semakin lama semakin mengecil. Dan kemudian menampakan bentuk keseluruhan dari Jurang tersebut dari atas. Lengkap dengan Stasiun Gondola yang terlihat cukup jelas di bagian ujungnya.
"Ini!" Orland yang kali ini berteriak tertahan karena terkejut.
Dan tidak berhenti sampai di situ, Aksa mulai mengerakan Drone itu ke utara. Dan terlihat dalam layar, batas selatan Kota Tengah yang bangunannya dikenali oleh beberapa orang.
Aksa kemudian memutarnya ke arah ke timur, dan jalur kereta uap pun terlihat seperti sebuah garis di atas lembaran kertas berwarna coklat kusam.
Dan ketika Drone itu mengarah kembali ke Jurang Ceruk Bintang, terlihat di balik tebing jurang sebelah selatan, lautan yang mengejutkan setiap orang yang melihatnya.
"Apa itu laut tepi selatan? Dan... itu berarti di seberangnya adalah tanah Ceodore?" Amithy yang berdiri di sebelah Lucia dan Orland terlihat tidak percaya.
Itu karena nyatanya sekarang ini mereka dapat melihat wilayah lawan tanpa beranjak dari tempat. Dan bahkan melewati lautan.
"Real and live. Dan peta ini bisa langsung dicetak dalam kertas tanpa perlu sampai keriting menggambarnya," celetuk Aksa menambahi.
Lucia terlihat menatap ke arah Nata dengan penuh arti. Kemudian mengalihkannya ke Caspian dan Orland secara berurutan. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan alat tersebut dalam membantu mereka memenangkan peperangan.
"Sekarang aku mengerti kenapa Aksa menyebutnya Mata Dewa." Lucia mulai terlihat bersemangat
"Kan? Benar, kan? Aku memang Utusan Dewa yang ditugaskan untuk meminjamkan Mata Dewa ini pada kalian semua, Mortals." Aksa menyahut dengan nada sombong khas nya.
"Dan seperti yang Yang Mulia mungkin sedang pikirkan sekarang ini, bahwa kita akan menggunakan alat ini pertama-tama untuk membuat peta wilayah secara akurat. Kemudian kita bisa menggunakannya sebagai alat untuk melakukan pengintaian ke wilayah lawan," ucap Nata memberikan gambaran tentang rencana penggunaan Drone tersebut nantinya.
"Ini benar-benar..." Lucia terlihat kehabisan kata-kata. "Tampaknya kalian benar-benar serius saat mengatakan untuk tidak menahan diri," ucapnya kemudian.
"Ini belum seberapa. Nata sudah memberikan lampu hijau untuk ku mengaktifkan limit break. Jadi nantikan relik-relik legenda buatanku yang tak kalah dari peralatan mistik buatan para Elf." Terlihat Aksa mulai mengoceh sendiri.
__ADS_1
"Lalu sejauh apa alat ini dapat terbang?" Lucia kembali bertanya.
"Maaf, Ratu." Tiba-tiba Aksa menyela ucapan Lucia. "Karena Anda sudah mengakuinya sebagai Mata Dewa, jadi jangan lagi menyebutnya dengan benda ini atau alat itu. Namanya adalah Qubeley," ucapnya kemudian mengkoreksi Lucia.
Mendengar ucapan Aksa tersebut, beberapa orang merasa sedikit tidak terima karena Ratu mereka diperlakukan seperti itu. Tapi mereka masih dapat menoleransi karena Aksa yang melakukannya. Meski terlihat Jean sudah siap untuk menarik pedang saat mendengarnya.
"Oh, maafkan aku," ucap Lucia membalas. Dan semua orang merasa bertambah miris mendengar Ratu mereka meminta maaf dengan begitu saja. "Jadi seberapa jauh Kyublei ini bisa terbang?" ucapnya kemudian bertanya ulang.
"Sejauh masih di dalam jangkauan pengendalinya. Yang kurang lebih sepanjang jarak antara tempat ini ke Stasiun Gondola dalam bentuk Hemisphere." Aksa menjawab.
"Maksudnya dalam jarak sepanjang itu ke segala arah." Nata membantu memberi penjelasan.
"Itu berarti benda tersebut juga bisa terbang setinggi jarak antara tempat ini sampai Stasiun Gondola?" Caspian memastikan.
"Benar, Tuan Caspian," jawab Nata mengangguk.
"Dan masih dapat mengambil gambar dengan resolusi 1080p dalam ketinggian maksimumnya." Aksa menambahkan informasi yang tidak dipahami oleh yang lain.
"Jadi bila pengendali ini ikut bergerak, maka benda- maksudku, Kyublei itu bisa terbang sejauh apapun?" tanya Lucia memastikan.
"Benar sekali. Tapi hanya selama empat jam saja sebelum baterainya harus diisi ulang." Aksa menjawab dengan tatapan bangga ke arah Lucia.
"Berarti dengan membawa pengendali ini menyusuri seluruh wilayah Rhapsodia, berarti kita dapat membuat peta wilayah dengan akurat sampai ke pelosok-pelosok," ucap Orland lebih kepada dirinya sendiri.
"Tapi sebentar, itu berarti kita tetap akan kesulitan untuk melakukan pengintaian di wilayah lawan." Lucia terlihat sedang menimbang sesuatu. "Karena tidak mungkin kita membawa pengendali tersebut berkeliling wilayah lawan, kan?" tambahnya memberikan alasan.
"Itu masalah yang akan kita selesaikan setelah Kapal Udara dapat digunakan, Yang Mulia." Nata menjawab dengan senyum mengembang.
"Oh, benar. Kita masih memiliki benda terbang yang lain," sahut Lucia cepat
"Tapi sebelum itu, ayo semua lihat ke atas, kita akan Group Selfie." Tiba-tiba Aksa menyela sambil menunjuk ke arah Drone yang melayang rendah di atas tenda.
"Semuanya, say cheese!"
__ADS_1
-