
Sementara di belakang barisan, Lucia, Jean, Aksa, Nata, dan Lily tengah memantau jalannya pertempuran melalui teropong dari sebelah Kereta Besi.
"Sepertinya Nona Versica dan teman-temannya, bersama Penyihir Bulan sedang mencoba menghadapi para Juara Urbar," ucap Jean dari balik teropongnya.
"Para Juara memang cukup merepotkan," ucap Lucia menanggapi. "Dan enam lawan empat, aku pikir itu tidak cukup adil. Mengingat mereka juga memiliki Senjata Mistik masing-masing," tambahnya mencoba membuat penilaian.
Namun sebelum Lucia sempat melanjutkan ucapannya, Jean tiba-tiba memotong. "Maaf, Yang Mulia. Tapi ijinkan saya untuk ikut serta membantu mereka. Setidaknya lima lawan enam dapat memperkecil masalah perbedaan jumlah," ucapnya meminta ijin. "Disamping saya juga membawa Senjata Mistik sekarang ini."
"Baik, Jean. Bantulah mereka." Lucia menjawab nyaris tanpa berpikir. Karena sebelum ucapannya dipotong, ia juga berniat mengirim Jean untuk membantu Versica dan yang lain menghadapi para Juara.
"Semoga para dewa menyertaimu," lanjut ratu muda itu memberikan restu.
"Terima kasih, Yang Mulia." Dan dengan segera Jean melompat ke atas kuda kemudian memacunya menuju ke arah para Juara berada.
-
Tepat di depan gerbang kota, terlihat Versica, Karka, dan Guanna tiba lebih dulu untuk menghadapi mantan teman-teman mereka sesama Juara.
"Lihat-lihat, siapa yang muncul?" ucap pria Narva bersenjata tombang trisula yang pertama mengenali Versica. Dia adalah Agoros. "Apa kau ingin kembali kepada kami, penghianat?" tanyanya dengan nada sarkas.
"Tutup mulutmu Ag. Aku tidak ingin mendengar cemooh dari seorang pengecut sepertimu," sahut Versica membalas.
"Apa katamu?!" Agoros terlihat mengangkat trisulanya siap untuk menyerang Versica, saat kemudian 5 Juara yang lain datang mendekat.
"Tahan, Ag," ucap Urgula. Juara yang sebelumnya menggunakan Senjata Mistik berupa sarung tangan cakar. "Tak kusangka aku akan bertemu kalian di tempat ini dengan kondisi seperti sekarang. Terutama kau Guan," lanjutnya kemudian.
"Benar. Aku kecewa denganmu, Sic," timpal Pollux, pemuda yang sebelumnya mengunakan dua Pedang Mistik.
"Perempuan itu memang sudah terlihat murahan dari sejak pertama kita bertemu." Kali ini Kanya yang menyahut. Perempuan Narva yang sebelumnya menggunakan tongkat sihir berbentuk bulan sabit. Tongkat sihir yang oleh Lucia telah diberikan kepada Rafa.
"Terserah apa katamu, Kan. Aku tidak akan mengambil hati ucapan dari seorang simpanan." Versica masih dapat membalas dengan tajam setiap ucapan kasar terhadap dirinya.
"Mulut itu... " ucap Kanya yang kemudian mulai merapal sesuatu dengan tongkat sihir barunya, yang kali ini dipenuhi dengan ukiran rumit dan tampak artistik.
Melihat hal tersebut Versica juga dengan segera mengeluarkan pedang tulangnya dan memasang kuda-kuda bersiap untuk menyambut serangan dari penyihir wanita itu.
__ADS_1
Namun belum selesai Kanya merapal sihirnya, sebuah petir tiba-tiba saja menyambar dari atas, mengincar kepala penyihir wanita itu tanpa sempat ia sadari.
Beruntungnya Zygos, pria Narva yang dulu menggunakan Senjata Mistik berupa Tameng itu, dengan cekatan mengeluarkan sihir pelindung tepat sebelum sihir petir itu mengenai Kanya.
Hal tersebut mengejutkan semua orang yang ada di sekitar tempat itu. Dan tak lama kemudian terlihat Parpera berlari mendekat.
"Nona Parpera?" Karka terlihat terkejut melihat Penyihir Bulan itu mendekat. Tak ubahnya Versica dan para Juara yang lain.
"Aku datang untuk menyamakan jumlah," jawab Parpera yang mulai memasang kuda-kuda siap bertempur.
"Kalau begitu bersiaplah untuk mati bersama mereka, Penyihir!" teriak seorang pria Morra yang berdiri di belakang Kanya seraya menerjang dan menghujamkan Pedang Mistiknya yang tampak seperti air yang terus bergerak itu ke arah Parpera.
Namun Karka yang berdiri tak jauh dari Parpera dengan cepat melompat dan menahan pedang air tersebut dengan kapak apinya. Terlihat uap air keluar saat kedua Senjata Mistik itu beradu.
"Tak perlu terburu-buru seperti itu, Drag," ucap Karka dengan senyum liarnya, sebelum kemudian mendorong pria yang dipanggil Drag itu mundur ke belakang. "Tak kusangka pedang sihir barumu memiliki kekuatan yang sama seperti Aquarius," tambahnya seraya kembali memasang kuda-kuda tempurnya.
"Apa kau ingin menjajal kemampuan yang baru ini?" tanya Drag dengan nada meremehkan.
Pria bernama Dragcoz yang sempat berhadapan dengan Aksa dan Anna saat penyerangan di laut barat itu, sebelumnya memang menggunakan Pedang Mistik berkekuatan Angin dan Air yang sekarang dipegang oleh Vossler.
"Ya, kurasa tidak akan ada apa-apanya selama kau yang menggunakannya," balas Karka dengan sedikit terkekeh.
Dan seolah menjadi sebuah penanda, serangan Dragcoz tadi memicu yang lain untuk juga ikut melakukan serangan.
.
Urgula yang kali ini menggunakan kapak besar bermata dua itu melompat menyerang Guanna yang memang telah menjadi incaranya sejak awal.
Suara dua besi beradu terdengar berdentum keras seperti suara lonceng menara kota, ketika palu Guanna menghadang kapak besar Urgula.
Dan dampak kekuatan dari kedua Senjata Mistik itu benar-benar menggetarkan tanah seperti gempa bumi.
Sesaat terlihat para prajurit kehilangan keseimbangan mereka. Dan bahkan beberapa bangunan di balik tembok kota yang berada di sekitar pintu gerbang, roboh karenanya.
"Kenapa kau melakukan hal ini, Guan? Kenapa kau menghianati Urbar?" tanya Urgula di tengah mereka saling menekan menggunakan senjata mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kurasa kau dan aku melihat Urbar secara berbeda, Urg," balas Guanna sebelum kemudian melempar Urgula ke belakang dengan ayunan kuat dari palunya.
Urgula dengan cepat menghantamkan kapaknya ke tanah dan menjadikannya sebagai jangkar untuk menahan agar ia tidak terlempar lebih jauh.
"Aku tidak melihat Urbar sebagai sebuah kerajaan yang bedaulat, atau sebuah harga diri untuk dibela," ucap Guanna kemudian saat Urgula sudah kembali memasang kuda-kudanya.
"Aku melihat Urbar sebagai penduduk. Dan bila ada yang membuat penduduk menderita, berarti dialah yang akan ku anggap sebagai lawan," tambah pria Narva berbadan kekar itu lagi.
"Ya, tidak kusangka kita benar-benar memiliki sudut pandang yang berbeda," balas Urgula yang terlihat sedikit kecewa. "Berarti sudah tidak ada artinya lagi kita berbicara," lanjutnya kemudian seraya berlari maju sambil mengayunkan kapaknya dengan liar.
-
Sementara itu Versica terlihat sedang berhadapan dengan Agoros dan Pollux secara sekaligus. Sama seperti Parpera yang sekarang tengah melawan Kanya dan Zygos secara bersamaan.
"Kenapa kau mau menjawab panggilan mereka, dan tidak panggilanku? Apa yang mereka tawarkan padamu hingga kau mau melawan teman-temanmu sendiri seperti sekarang?" Terdengar Pollux masih belum terima atas keputusan yang diambil Versica.
"Apa kau sedang berkeluh kesah, Lux?" Agoros menyela dari samping Pollux.
"Diam kau, Arg. Aku harus tahu mengapa Sica melakukan semua ini."
"Aku lupa kau memang orang yang seperti itu, Lux," sahut Versica yang akhirnya menanggapi ucapan Pollux. "Baiklah akan ku beri tahu alasannya," lanjut perempuan berperang cambuk itu kemudian.
"Ya, katakan, Sic. Aku ingin mendengarnya."
"Mereka tidak menawarkan apapun untuk membuatku melawan teman-temanku. Karena yang pertama; kalian bukan temanku," ucap Versica dengan tajam tanpa berbasa-basi. "Kalian bahkan tidak ada di saat aku harus mati-matian menyelamatkan ibuku ketika pasukan bayaran Vistralle menyerang dengan membabi buta di Kota Meso," lanjutnya mulai bercerita.
"Kemudian yang kedua; mereka tengah mengusahakan kesejahteraan penduduk dan kehidupan damai. Hal yang tidak pernah dijanjikan oleh pemimpin wilayah selatan ini sebelum-sebelumnya. Karena para penguasa itu hanya peduli dengan kehormatan dan harga diri," tutup perempuan itu kemudian.
"Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu, Sic?" Pollux terlihat belum dapat menerima alasan dari Versica tersebut.
"Fiuh... rasanya lega juga dapat menumpahkan segara perasaan yang telah lama ku pendam," ucap Versica kemudian tanpa memperdulikan tanggapan Pollux.
"Kau sudah puas sekarang, Lux? Sudah kubilang perempuan itu tidak pernah menganggapmu." Agoros kembali menyahut dengan nada meremehkan.
"Kau telah melukai perasaanku, Sic. Sebagai gantinya, aku sendiri yang akan mengalahkanmu di tempat ini," ucap Pollux seraya mengangkat Pedang Mistiknya yang terlihat mulai mengeluarkan kilatan-kilatan petir.
__ADS_1
"Tidak secepat itu bocah." Tiba-tiba terdengar seruan dari arah medan perang, dan kemudian serupa sabit es dan sabit api meluncur cepat ke arah Pollux sebelum ia sempat beranjak dari posisinya.
-