
Seminggu kemudian kabar tentang jatuhnya kerajaan Cilum pun terdengar. Yang jelas sangat mengejutkan seluruh daratan Elder. Karena hanya dalam 2 minggu saja Elbrasta berhasil mengambil alih wilayah Kerajaan Cilum.
Hal tersebut juga semakin membuat resah Kerajaan Estrinx. Mereka tahu benar bahwa setelah ini, Elbrasta akan menyerang mereka dengan kekuatan penuh.
"Kabar yang kami dapat, Kotaraja Kerajaan Cilum hancur karena sebuah sihir tingkat tinggi dalam skala besar," ucap Vossler dalam sebuah pertemuan darurat di kediaman Lucia.
"Benarkah ada sihir sedasyat itu?" tanya Cornelius terlihat tidak ingin percaya.
"Informan kita menyaksikan sendiri kondisi kotaraja yang benar-benar telah hancur dan hanya menyisakan puing-puingnya saja. Tak ada orang yang selamat dari sihir tersebut. Termasuk sang raja," lanjut Vossler.
"Untungnya keluarga kerajaan Cilum berhasil melarikan diri ke barat daratan selatan sebelum kejadian tersebut. Mereka menuju ke Kerajaan Durahan. Ke tempat salah satu sanak keluarga mereka di kerajaan tersebut."
"Jadi sang Raja tidak selamat saat kehancuran Kotaraja tersebut?" Nata memastikan.
"Benar. Dan karena sebab itulah Cilum jatuh seminggu kemudian." Vossler menjawab dengan nada sedih.
"Sihir dari gelang terkutuk itu memang benar-benar mengerikan," ucap Cornelius kali ini.
"Benar. Alta Larma memang senjata yang sangat berbahaya. Bahkan untuk para Elf sekali pun." Orland menambahi.
"Berarti hanya tinggal menghitung hari sebelum Sefier melakukan serangan serupa ke wilayah Estrinx," ucap Vossler kemudian.
"Itu juga yang aku kuatirkan. Dan tak lama lagi mungkin giliran kita." Cornelius menanggapi ucapan Vossler.
"Bagaimana menurutmu, Nat? Apa kita perlu ikut campur sekarang untuk menghentikan Sefier?" tanya Lucia kepada Nata.
"Tidak Yang Mulia. Kita harus menyelesaikan rencana yang sudah kita jalankan untuk wilayah selatan terlebih dahulu. Kita tidak bisa bertindak sekarang," jawab Nata.
"Mungkin kita bisa mulai mengawasi gerak-gerik Elbrasta lebih dalam lagi. Dan mencari informasi tentang bagaimana cara menghadapi senjata dasyat tersebut." Vossler memberikan ide.
"Itu ide yang bagus, Tuan Vossler," jawab Nata yang tampak setuju dengan ide salah satu Jendral Rhapsodia itu.
"Dan juga saya memiliki firasat bahwa tak lama lagi pihak Estrinx akan menghubungi kita," lanjutnya kemudian.
"Ya kurasa cepat atau lambat Lugwin pasti akan menghubungi kita," balas Lucia yang juga berpikir seperti Nata. "Apa kita baru akan bertindak setelah itu?" tanyanya kemudian.
"Tidak Yang Mulia. Saya yang akan membantu mereka." Nata menjawab.
"Kau akan membantu mereka? Aku tidak mengerti." Lucia terlihat bingung mendengar jawaban Nata. "Kau bilang kita tidak akan bertindak, tapi kau akan membantunya? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Rhapsodia tidak boleh membantu Estrinx sekarang. Tapi saya dan Aksa bisa membantu Arcdux Lugwin," jawab Nata lagi. Kali ini dengan lebih jelas.
"Dengan begitu kami bisa menahan gerakan Sefier selama yang kami bisa, menggunakan kekuatan Estrnix. Ini cara yang akan menguntungkan kedua belah pihak," lanjutnya kemudian.
"Maksud anda, Anda dan tuan Aksa akan menjadi semacam ahli strategi kerajaan Estrinx?" Vossler bertanya memastikan.
"Ya, kurang lebih begitu. Selama wilayah ini masih melakukan persiapan," jawab Nata kemudian.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu," ucap Lucia setelah terdiam sesaat. "Kita akan bahas masalah ini lagi, setelah Lugwin sudah benar-benar mengirimkan pesan kemari."
"Ya, saya mengerti Yang Mulia."
-
Tepat sehari kemudian, rombongan Yvvone pun tiba di Wilayah Pusat. Kali ini Elf muda itu hanya ditemani oleh Solas dan Kanna saja. Karena sisa anggota dari rombongannya yang lain tengah melakukan tugas mereka masing-masing.
Ketiga Elf itu diantar Lily menemui Aksa dan Nata yang sedang bekerja di dalam Laboratorium nya di dalam gua Ceruk Bintang.
"Kami telah memberi tahu semua pemimpin para Marga. Dan beberapa hari lagi akan diadakan sebuah pertemuan di Hutan wilayah Marga Azuar," ucap Yvvone saat ia sudah duduk berhadapan dengan Aksa, Nata, dan Lily di sofa di tengah ruangan.
Sementara Solas dan Kanna yang baru pertama kali memasuki ruang Mahan Staan itu masih tampak berkeliling. Melihat dengan kagum setiap barang aneh yang ada di tempat itu.
"Baguslah kalau memang Elf sudah mulai bergerak. Kami jadi sedikit merasa tenang," ucap Nata menjawab. "Jangan lupa kabari kami keputusan dari pertemuan itu nanti," tambahnya lagi.
"Apa itu?" tanya Nata yang terlihat penasaran dengan sikap Yvvone yang tidak seperti biasanya.
"Kami semua sepakat untuk mengajak kalian mengikuti pertemuan tersebut," jawab Elf muda itu kemudian.
"Mengundang kami ikut dalam pertemuan Elf?" Nata mengulang ucapan Yvvone untuk memastikan.
"Benar." Yvvone menjawab cepat.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita menghadiri pertemuan para Elf itu!" sahut Aksa cepat sambil mengepalkan tangannya dengan bersemangat.
"Sebentar. Kau diam dulu, Aks," timpal Nata setelahnya.
"Untuk tujuan apa kami harus hadir dalam pertemuan itu? Lagi pula, apa boleh kami manusia menghadiri pertemuan khusus Elf itu?" lanjutnya kemudian dengan pertanyaan kepada Yvvone.
"Sebenarnya memang tidak etis mengundang ras lain mengikuti pertemuan Elf. Tapi kurasa kalian adalah pengecualian," sahut Solas dari belakang tempat duduk Yvvone. Tampak pemuda Elf itu sudah selesai berkeliling ruangan.
__ADS_1
Nata terdiam sebentar menatap Solas. Seperti sedang memikirkan sesuatu. "Anggap saja kami memang pengecualian. Tapi untuk apa kami harus hadir? Apa yang kalian butuhkan dari kami?" ucapnya kemudian mengeluarkan pertanyaan.
"Kami ingin kalian bertemu dengan para pemimpin Marga dan ikut membagikan pemikiran kalian tentang masalah yang sedang terjadi." Kali ini Yvvone yang menjawab.
"Dan kenapa kalian beranggapan bahwa pemikiran kami akan relevan dengan masalah tersebut? Kami bahkan tidak dapat menggunakan Aliran Jiwa dan tidak tahu sama sekali tentang sihir dan peralatan sihir," balas Nata mencoba untuk berpikir logis. "Terlebih lagi hal apa yang bisa membuat para pemimpin Marga kalian mau mendengarkan kami?"
"Ya, kami tahu kalian tidak mengerti sama sekali tentang sihir. Tapi kalian adalah orang-orang yang dipilih oleh sang Oracle. Juga yang menulis Mahan Gyaan dan pemilik dari Mahan Staan ini." Kali ini Solas yang menjawab. Masih berdiri di belakang Yvvone.
"Itu berarti kebijaksanaan yang kalian miliki jelas akan diperhitungkan. Bahkan oleh para pemimpin Marga sekalipun," lanjutnya menambahi.
"Wah, aku suka kata-kata 'kebijaksanaan' itu tuan Solas. Kami orang-orang bijaksana ini akan dengan senang hati membantu kalian," sahut Aksa dengan cepat.
Nata menatap Aksa sambil mengelengkan kepalanya. Kemudian kembali menatap Yvvone dan Solas secara bergantian. "Apa kalian benar-benar yakin mengajak kami menghadiri pertemuan itu?"
Yvvone menatap balik ke arah Nata. "Sebenarnya, apa yang ingin kau sampaikan, Nat?" tanyanya kemudian.
"Jujur, kami mungkin tidak akan banyak membantu. Dan mungkin malah akan memanfaatkan situasi untuk kepentingan kami sendiri bila kami melihat ada kesempatan untuk itu. Apakah kalian tidak apa-apa dengah hal tersebut?" ucap Nata mengungkapkan hal yang sedang ia pikirkan.
Yvvone sedikit terperanjat sebelum kemudian tersenyum mendengar ucapan Nata tersebut.
"Aku akan lebih terkejut bila kalian tidak melakukan hal tersebut," ujar gadis Elf itu dengan sedikit tertawa.
"Anda orang teraneh yang pernah saya temui Tuan Nata," sahut Kanna yang sedari tadi hanya diam berdiri di ujung ruangan.
"Setiap orang pasti memiliki motivasi untuk keuntungan mereka pribadi. Namun baru kali ini saya melihat ada orang yang mengungkapkannya, dan meminta orang lain memikirkan tentang hal tersebut," lanjut gadis Vaelum itu terlihat tidak paham.
"Saya hanya ingin memastikan kepada anda sekalian apa yang seharusnya anda sekalian harapkan dari kami," jawab Nata kemudian.
"Entah anda sedang merendah atau memang anda tidak mengerti benar kemampuan yang anda berdua miliki, tapi anda tidak perlu kuatir. Kami cukup mampu untuk melakukan penilaian," balas Kanna lagi yang diikuti oleh tawa kecil dari Yvvone.
"Hahaha... tak perlu dijawab dengan serius ucapan mereka, Kan. Mereka memang seperti itu," ucap Yvvone kemudian.
"Utusan dewa memang harus humble supaya jadi suri toladan bagi yang lain," sahut Aksa menimpali.
"Lalu butuh berapa lama untuk menghadiri pertemuan tersebut? Karena situasi di wilayah ini cukup genting untuk kami tinggal terlalu lama." Nata kembali berucap melanjutkan topik pembicaraan.
"Mungkin sekitar 2 sampai 3 hari tanpa memperhitungkan waktu perjalanan menuju Hutan Marga Azuar." Yvvone menjawab.
Nata mengangguk kecil mendengar ucapan Yvvone. "Baiklah kalau begitu, aku akan berbicara dengan Yang Mulia Ratu terlebih dulu. Mungkin kita bisa menggunakan Kapal Udara untuk mempersingkat waktu perjalanan," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Akhirnya setelah sekian lama kita bisa pergi ke pemukiman Elf juga. Ini akan jadi Quest yang mendebarkan dan juga epic," sahut Aksa dengan mengebu-gebu dan penuh semangat.
-