Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
35. Serangan Berbalas I


__ADS_3

Seminggu kemudian, alat sihir yang disebut Aksa dengan Nega-Blaster pun selesai dibuat. Bentuknya lebih kecil dari Nega-Cannon.


Terpasang pada setiap Kereta Penghancur yang sudah dimodifikasi bagian rodanya. Yang Aksa sebut sebagai Hover.


Sementara yang lain menyebutnya Kereta Melayang. Karena kereta itu memang hanya dapat melayang pada ketinggian tertentu saja. Tidak sampai terbang ke angkasa, meskipun itu memungkinkan.


Kereta itu memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dibanding Kereta Penghancur sebelumnya. Juga tidak memerlukan bahan bakar, sehingga sangat efisien saat digunakan baik sebagai alat transportasi, maupun alat perang.


Tidak diperlukan pelatihan tambahan untuk mengendalikannya. Karena cara pengendaliannya sama seperti Kereta Penghancur sebelumnya. Hanya saja ada tambahan peralatan baru untuk menyalakan dan mematikan sumber tenanganya, juga untuk mengatur tinggi rendahnya kereta tersebut melayang.


Dan butuh 3 sampai 4 hari untuk mengirim Kereta-Kereta dengan senjata anti Aliran Jiwa itu ke garis depan setiap wilayah kerajaan.


.


"Kereta Melayang itu benar-benar luar biasa, tuan Nata." Makari terdengar sangat kagum dan gembira saat mengatakannya.


Pagi itu diadakan perundingan antar pemimpin Aliansi Utara setelah masing-masing sudah menerima Kereta Melayang dengan senjata anti Aliran Jiwa.


"Tuan Aksa benar-benar luar biasa bisa membuat benda seperti itu hanya dalam 1 minggu saja," lanjut pemimpin pemberontakan Cilum itu masih terdengar kagum.


"Kereta itu benar-benar sangat mengejutkan orang-orang di tempat ini. Belum lagi membahas senjata yang dapat menghilangkan Aliran Jiwa." Kali ini Lugwin yang berucap.


"Bahkan Piere ingin sekali bertemu dengan tuan Aksa secara langsung untuk mengajukan penawaran membuatkan Kereta serupa yang ditujukan hanya untuk alat angkutan saja," lanjut pemimpin perempuan itu kemudian.


"Oh, kalau yang mengenai hal itu jangan kecualikan kami. Kami juga menginginkan pengetahuan tersebut." Makari tidak ingin ketinggalan.


"Ya-ya, kita akan bicarakan tentang hal itu lagi setelah perang ini berakhir," balas Lucia menanggapi.


"Ya, semoga perang ini cepat berakhir." Nata menambahi. "Kalau begitu, mari kita mulai pembahasan rencananya," lanjutnya kemudian membuka perundingan.


.


Dan setelah perundingan tersebut, pergerakan pasukan Aliansi Utara untuk mengambil kembali markas dan wilayah mereka yang sempat terebut sebelumnya pun dimulai.


Dan dengan adanya senjata anti Aliran Jiwa itu, arah peperangan pun mulai berubah.


Karena begitu prajurit Bruixeria mendapat serangan dari senjata yang disebut dengan Nega-Blaster itu, hampir tiga perempatnya akan menyerah dan tidak ingin melanjutkan pertarungan.


Dan itu membuat pasukan Aliansi Utara jadi lebih mudah untuk bergerak dan hampir tidak menjatuhkan korban sama sekali.


Sementara para prajurit yang tersadar dari kekuatan Sihir Pengendali akan dibuatkan tempat penampungan khusus di masing-masing wilayah.


.


Disuatu sore tiga hari setelah sarangan balasan dimulai, tiba-tiba saja Lucia mendapat panggilan dari Alexander melalui Radio Komunikasi. Pemuda itu meminta untuk bertemu.


Dan karena permintaan tersebut mendesak, maka untuk mempersingkat waktu, mereka akan mengadakan pertemuan di wilayah Pengungsi di timur wilayah Ignus. Dengan menggunakan Kristal Arcane.


.


Wilayah Penampungan Pengungsi itu kini sudah jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Meski nyaris setengah dari orang-orang Elbrasta sudah meninggalakan tempat tersebut, terutama para bangsawan, namun sisanya masih memilih untuk tetap tinggal setidaknya sampai perang benar-benar selesai.

__ADS_1


Dan dengan masih berdatangannya pengungsi ke wilayah tersebut, membuat tempat itu menjadi semakin besar dan ramai.


Alexander datang bersama beberapa wajah lama, dan beberapa wajah baru.


Wajah yang sudah dikenal antara lain Daniel Voryn, dan seorang Jendral besar Elbrasta bernama Lessage, yang sebelumnya mengungsi ke wilayah barat dataran selatan. Yang kini bertugas sebagai pemimpin pasukan utama milik Alexander.


Sedang wajah barunya adalah perempuan Narva paruh baya yang berpakaian layaknya seorang bangsawan laki-laki dan seorang pria Seithr dengan pakaian serba hitam.


Mereka mengadakan pertemuan di salah satu tenda militer di tempat itu.


.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Al? Kenapa permintaanmu ini begitu mendadak?"


Lucia bertanya saat semua orang sudah duduk melingkari meja yang biasa digubakan untuk merencakan strategi.


Hanya ada Nata, Lily, dan beberapa kepala pasukan setempat yang menemani Lucia menghadiri pertemuan tersebut.


"Ada yang harus saya pertemukan langsung kepada Yang Mulia Ratu." Alexander menjawab.


"Mempertemukan padaku?"


"Benar. Perkenalkan mereka adalah Nyonya Kandis Roxan, dan Kurois."


Alexander memperkenalkan perempuan Narva sebagai Kandis, dan pria Seithr sebagai Kurois.


"Kandis Roxan? Itu berarti anda adalah adik perempuan Dux Draenor?" Lucia mencoba menebak dari ingatan samarnya.


"Berada dimana anda selama ini, Nyonya Kandis?" Lucia kembali bertanya.


"Selama hampir setengah tahun ini saya menjadi tahanan di Kotaraja Yang Mulia." Kandis menjawab.


"Menjadi tahanan di Kotaraja Elbrasta?"


"Benar Yang Mulia. Ceritanya panjang, tapi singkat kata saya berhasil diselamatkan dari tempat itu."


"Anda pasti telah mengalami banyak penderitaan selama berada di tempat itu. Terima kasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini nyonya Kandis," ucap Lucia tulus.


"Terima kasih Yang Mulia. Saya sangat gembira akhirnya bisa bertemu dengan Yang Mulia lagi. Terakhir saya melihat Yang Mulia saat Yang Mulia memutuskan untuk turun dari tahta dan menuju ke tanah ini." Kandis mencoba merubah arah pembicaraan agar suasana tidak menjadi muram.


"Ah, lama sekali. Tujuh? Atau delapan tahun yang lalu?" Lucia tampak mengingat-inga


"Saya rasa sudah delapan tahun Yang Mulia." Kandis menjawab.


"Lalu siapa pria Seithr ini?" tanya Lucia kemudian yang merasa penasaran sedari tadi.


"Dia adalah Kurois penjaga pribadi kak Grevier." Alexander menjawab.


"Apa? Penjaga pribadi Kak Grevier?" Lucia tidak mengira akan jawaban itu.


"Benar, Yang Mulia. Perkenalkan saya Kurois pengabdi setia keluarga kerajaan Elbrasta. Anda bisa memanggil saya Kuro." Pria Seithr berpakaian serba hitam itu mengenalkan diri kepada Lucia dengan penuh hormat.

__ADS_1


"Lalu ada tujuan apa kau membawa mereka menemuiku, Al?" Rasa penasaran Lucia masih belum selesai.


"Ada yang perlu mereka sampaikan kepada Yang Mulia," balas pemuda itu dengan intonasi datarnya.


"Menyampaikan sesuatu padaku?" Lucia mengeryitkan dahi tidak mengerti.


"Benar Yang Mulia. Ini mengenai rencana Sefier." Kali ini Kandis yang berucap.


"Rencana Sefier? Baiklah, coba katakan padaku," sahut Lucia kemudian tanpa berlama-lama.


Dan kemudian Kandis beserta Kurois mulai bercerita panjang lebar tentang kisah mereka dari awal yang berakhir pada informasi yang mereka ketahui tentang Sefier dan Bruixeria.


"Jadi setelah anda diselamatkan oleh Kuro dari tahanan, anda bersembunyi di Kotaraja selama beberapa bulan?" Lucia bertanya seperti sedang mencoba untuk menyimpulkan setelah selesai mendengar keseluruhan cerita dari kedua orang di hadapannya itu.


"Benar Yang Mulia. Karena sebelumnya saya dan Kuro tidak memiliki tujuan. Baru beberapa minggu lalu kami mendengar tentang Pangeran Alexander yang membangun markas di sekitaran Lembah Kabut. Maka dari itu kami mendatangi beliau." Kandis menjelaskan.


"Lalu menurut anda sekarang ini Sefier sedang berada di utara wilayah Estrinx untuk membangun sesuatu?" Lucia kembali bertanya.


"Benar Yang Mulia. Karena selama dalam persembunyian di Kotaraja, saya berusaha mengumpulkan kembali orang-orang Roxan. Dan dari mereka saya mendapat akses informasi ke lingkar dalam kerajaan yang baru dibentuk Sefier itu."


"Dan apa anda tahu apa yang tengah dibangun oleh Sefier di utara wilayah Estrinx itu?"


"Saya sudah menyelidikinya secara langsung ke tempat tersebut sebelum ini. Dan bangunan itu adalah Altar Pengganda Yang Mulia." Kali ini Kuro yang menjawab.


"Altar Pengganda? Apa kau yakin?" Lucia terdengar tidak percaya.


"Saya yakin. Karena mungkin tidak akan diketahui oleh orang awam, tapi sebagai seorang penyihir, saya mengenal benar bentuk dari bangunan tersebut." Kembali pria Seithr itu menjawab.


"Dan karena hal inilah saya memutuskan untuk meminta pertemuan mendadak ini Yang Mulia." Alexander menambahi.


"Lily, apa itu Altar Pengganda?" Nata bertanya dengan berbisik kepada Lily yang duduk di sebelahnya.


"Rangkaian Formasi Sihir yang memiliki kemampuan serupa dengan Generator Listrik Aliran Jiwa buatan Aksa. Hanya saja ini untuk menggandakan kekuatan sebuah sihir." Lily menjawab juga dengan berbisik kepada Nata.


"Menggandakan kekuatan sihir?" Wajah Nata terlihat mulai kuatir.


"Kalau semua itu memang benar, maka kita harus segera bertindak. Sebelum dia menyelesaikan Altar Pengganda tersebut." Lucia berucap dengan terlihat sama kuatirnya dengan Nata dan yang lain.


"Bagaimana menurutmu, Nat?" tanya ratu muda itu kemudian.


Namun belum juga Nata menjawab, seorang prajurit tiba-tiba saja datang dengan tergesa.


"Maaf, Yang Mulia. Tapi ada pesan penting dari garis depan," ucap prajurit itu setelah dengan terengah memberi hormat kepada Lucia.


"Pesan penting apa?" Lucia bertanya.


"Terjadi serangan sihir tingkat tinggi ke wilayah Lembah Kabut, dan markas pasukan pemberontak Cilum di sepanjang pesisir pantai selatan." Prajurit itu menyampaikan pesan yang ia terima.


"Apa?"


-

__ADS_1


__ADS_2