
Genap seminggu setelah keberhasilan Rhapsodia mengambil alih wilayah Eblan dan Cirrus.
Tyrion kini mulai memperkuat penjagaan di wilayah perbatasan Damcyan dan Raygod.
Sementara di wilayah Harbring pasukannya juga mulai terlihat di beberapa tempat penting di pesisir pantainya. Bersiap untuk menghadang Pasukan Kapal Tempur milik Rhapsodia.
-
-
Aksa dan Nata yang sudah kembali ke Kota Varun, tampak sedang mengadakan pertemuan untuk terakhir kalinya sebelum mulai melancarkan serangan ke sisa wilayah kekuasaan Tyrion.
"Menurut informasi yang saya terima, besok rencananya Tyrion, Vistralle, dan perwakilan dari Augra dan juga Joren akan mengadakan pertemuan di Kota Nezarad." Terdengar suara Joan melapor dari balik Pengeras Suara Radio Komunikasi di dalam ruang pertemuan.
Saat ini perempuan itu sedang berada jauh di Kota Wang di wilayah Nalbina. Bersiap untuk menjalankan tugasnya.
"Berarti sudah saatnya untuk kita mengambil alih Kota Suci juga," sahut Aksa asal mengomentari laporan dari Joan.
"Ck.." Terdengar Jean berdecak tidak senang mendengar celetukan Aksa tersebut.
"Kurasa itu bukan ide yang buruk." Namun tampaknya Nata menanggapi hal tersebut dengan positif.
"Apa kau ingin merubah rencana kita mengambil alih wilayah Harbring, Nalbina, dan Nabradia, Nat?" Lucia segera memotong karena hal itu tidak ada dalam rencana yang sudah mereka buat dan jalankan sejak dua hari yang lalu.
"Ini kesampatan kita, Yang Mulia. Pihak Augra dan Joren juga berada di tempat tersebut. Itu berarti sekali tepuk 3 lalat mati," jawab Nata mencoba menjelaskan maksudnya kepada Lucia.
"Maafkan saya tuan Nata, tapi menurut saya mereka pasti sudah bersiap dengan Kristal Arcane untuk melarikan diri dari tempat itu. Bahkan sebelum kita sempat mendekati gedung tempat mereka mengadakan pertemuan," sahut Joan mengutarakan pendapatnya.
"Hal itu bukan masalah. Kita hanya perlu membuat mereka melihat apa yang kita punya, dan apa yang bisa kita lakukan," ucap Nata kembali mencoba menjelaskan rencananya. "Dengan begitu mereka akan bergegas dan tergesa dalam membuat keputusan."
"Seperti itu ternyata. Saya mengerti sekarang," ucap Joan kemudian.
Terlihat beberapa orang dalam ruang pertemuan itu juga tampak mengangguk paham mendengar alasan dibalik rencana Nata tersebut.
"Berarti kau akan mengirim satu Kapal Udara kita yang tersisa untuk menyerang Kota Nezarad?" Lucia kembali kemastikan.
"Benar, Yang Mulia. Saya rasa dari kota tersebut, kita bisa melakukan intimidasi terhadap kerajaan Joren dan Augra. Melihat posisi dan jarak Kota Nezarad dari kedua wilayah kerajaan tersebut," jelas Nata kemudian.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan lakukan hal itu," ucap Lucia memberikan persetujuan terhadap rencana Nata.
"Terima kasih, Yang Mulia," balas Nata seraya mengangguk kecil. "Oh iya, dan apakah rencana untuk warga Kota Wang dan Zang di wilayah Nalbina dan Narbadia sudah siap semua, Joan?" tambahnya kemudian dengan pertanyaan kepada Joan.
"Kami akan mencoba yang terbaik untuk mengungsikan sebanyak mungkin warga dari kota tersebut. Namun tetap saja kami tidak akan dapat memindahkan seluruhnya tanpa diketahui oleh pihak bangsawan pemimpin kota." Terdengar suara serak Joan menjelaskan dari balik Pengeras Suara.
"Aku mengerti. Setidaknya jauhkan mereka dari gerbang kota, barak, dan juga kediaman bangsawan berpengaruh. Karena kita akan melakukan serangan cepat dengan menghancurkan tempat-tempat tersebut," ucap Nata memberikan perintah.
"Ya, kami sudah menyebarkan informasi tersebut ke jaringan anggota kami. Tapi..." Terdengar Joan menahan ucapannya.
"Aku mengerti keresahan yang anda rasakan. Tapi kita harus segera menyudahi peperangan ini," ucap Nata mencoba untuk meyakinkan Joan. "Disamping kita tidak akan pernah tahu hal nekat apa yang akan dilakukan oleh Tyrion bila ia mulai terdesak. Karena Vistralle pernah mencoba membakar Kota Varun dan mengorbankan para penduduk saat merasa sudah tidak bisa menang menghadapi kita," lanjutnya menjelaskan.
"Iya, Tuan Nata. Saya paham akan hal tersebut. Saya hanya merasa kuatir saja akan rencana tersebut," ucap Joan menanggapi.
"Tidak perlu kuatir. Aku menjanjikan mu keberhasilan atas rencana ini. Jadi lakukan yang terbaik, dan sampai jumpa setelah perang ini selesai. Semoga kita semua selamat," ucap Nata mencoba menyemangati Joan.
"Baik, Tuan Nata. Kami akan melakukan yang terbaik di sini. Semoga dewa menyertai kita semua," jawab Joan sebelum kemudian memutuskan komunikasinya.
"Semoga dewa menyertai kita semua," ucap beberapa orang di ruang pertemuan itu membalas ucapan Joan sebelumnya.
"Saya rasa serangan ke kasti Kota Hui akan jauh lebih sulit dari yang kita kira," ucap Nata kemudian membahas topik yang lain. "Sementara pasukan utama kita akan dipecah menjadi dua untuk mengambil alih Kota Guam di wilayah Raygod."
"Ya, aku juga sadar akan hal itu. Tapi kita harus melakukannya. Kita harus segera menyelesaikan perang ini," balas Lucia dengan tegas.
Keesokan harinya, pertemuan antara Tyrion dan Vistralle dengan pihak Joren dan Augra diadakan di Kota Nezarad sesuai dengan rencana.
"Pasukan Mugger mu itu jelas tidak akan dapat menandingi mereka, Ty. Kerajaan itu memiliki Kapal yang dapat melayang di udara," ucap Dux Farmir, Jendral yang pemimpin penyerangan ke Pegunungan Trava.
"Mereka memiliki apa?" Terdengar Vistralle lebih seperti tidak terima dari pada tidak percaya.
"Kapal yang dapat melayang di udara?" ulang seorang pria Narva berwajah penuh berewok yang duduk di seberang meja di hadapan Farmir.
"Benar. Aku melihatnya sendiri saat melakukan serangan ke Pertambangan Trava," jawab Farmir tanpa basa-basi.
"Kapal Udara?" Tyrion terlihat mengulang-ulang ucapannya. Seolah sedang mencoba membuatnya terdengar masuk akal.
"Sekarang semuanya jadi masuk akal kenapa mereka bisa menyerang secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh para penjaga," ucap Vistralle seraya menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Aku yakin mereka menyimpan senjata rahasia. Tapi ini benar-benar di luar akal sehat," lanjutnya seraya menggeleng pelan.
"Apa mereka menggunakan Alat Mistik atau semacamnya untuk menerbangkan kapal tersebut?" Pria Narva penuh berewok tadi bertanya.
__ADS_1
"Kurasa tidak, Ars. Penyihir ku tidak merasakan adanya Aliran Jiwa dari Peralatan Sihir. Tapi memang ada pergerakan Aliran Jiwa bangsa Elf yang terasa dari kapal tersebut. Elf marga Aeron," jawab Farmir menjelaskan.
"Apa mereka yang membuat kapal-kapal itu? Tidak kusangka mereka terang-terangan mencapuri urusan para manusia." Pria Narva yang dipanggil Ars itu terlihat cukup terkejut dengan informasi tersebut.
"Lalu bagaimana anda menangani Kapal Udara tersebut, Dux Farmir?" Vistralle bertanya terlihat benar-benar penasaran.
"Pasukan ku mundur," jawab Farmir tanpa ragu. "Sebenarnya kami hampir saja berhasil menjatuhkan Kapal tersebut dengan Senjata Mistik milik salah salah satu dari kesatria ku. Bila ssja sang Kilat Putih tidak ikut campur."
"Ck, tak kusangka Yllgarian tua itu akan mengotori tangannya juga dan ikut campur dalam pergolakan wilayah ini." Kembali Ars terlihat tidak senang dengan informasi yang baru saja ia dengar itu.
"Tidak perlu merasa kaget seperti, Dux Arsycol. Dulu istana Urbar juga dihancurkan oleh Lagoom itu. Ia datang bersama Valastrum dan dua Morra untuk menyerbu istana," timpal Tyrion memberi tambahan informasi.
"Seperti yang sudah kita dengar, bahwa sang Kilat Putih dan Valastrum memang telah melakukan sumpah setia kepada dua pemuda tersebut," ucap Vistralle menambahi.
"Ya, aku juga mendengar tentang hal tersebut," balas Tyrion.
"Dan kurasa sekarang beberapa Elf juga mulai mengikuti dua pemuda itu," ucap Vistralle kemudian.
"Ini tidak bisa dibirakan. Dengan bantuan dari para Elf dan Kilat Putih, kerajaan itu akan dengan mudah menghancurkan kerajaan lain di wilayah selatan ini." Ars terlihat mulai kuatir.
"Itu jugalah yang saya takutkan, Dux Arsycol," ucap Vistralle menanggapi. "Alasan mengapa kami mengundan anda sekalian untuk mengadakan pertemuan dan mengusulkan aliansi ini," lanjutnya kemudian. "Kita perlu menghentikan mereka sebelum terlambat. Dan bila kita masih bergerak sendiri-sendiri, kemungkinan kita menang sangatlah kecil."
"Ya, setelah menyaksikan kekuatan mereka secara langsung, kurasa ucapanmu cukup masuk akal, Vis," jawab Farmir. "Tapi kami tidak akan mengirim pasukan atau menggabungkan kekuatan dengan kalian dalam melancarkan serangan nantinya."
Tampak Jendral Augra itu menjedah ucapannya. Menatap setiap orang yang duduk mengelilingi meja pertemuan itu seolah sedang memastikan bahwa tidak ada yang keberatan. "Karena saat ini beberapa wilayah Augra juga sedang dalam bahaya," lanjutnya kemudian.
"Kurasa hal itu dapat dimengerti. Asal pihak Augra setuju untuk berbagi informasi dan startegi penyerangan untuk kedepannya," ucap Vistralle kemudian.
"Ya, untuk hal itu kurasa kami bisa melakukannya," jawab Farmir cepat.
"Baiklah kalau begitu." Vistralle terlihat cukup puas dengan jawaban dari pihak Augra.
Namun tiba-tiba terdengar seseorang menyela jalannya pertemuan.
"Dux Arsycol! Gawat. Gawat." Seorang Narva muda dengan bentuk badan yang jauh dari atletis terlihat berlari terengah memasuki ruangan pertemuan.
"Ada apa, Cloir? Apa yang terjadi?" Arsycol bertanya sembari berdiri dari kursinya.
"Kita sedang diserang, Dux. Kota Nezarad sedang diserang," jawab pria yang dipanggil Cloir itu dengan masih terengah-engah.
__ADS_1
"Diserang?!"
-