
"Membuat festival sebagai sebuah perayaan dan memulai penandaan tahun yang baru?" Lucia sedikit tidak mengerti maksud dari ucapan Aksa saat mereka sedang berbincang di tenda pemuda itu setelah selesai makan siang.
"Benar. Karena selama ini kita tidak memiliki alat bantu untuk penanda hari dan tahun yang standar, maka akan jauh lebih baik bila kita mulai membuat kalender kita sendiri." Aksa menjawab dengan wajah seolah ucapannya adalah hal yang sangat penting.
"Kalender?" Lucia kembali dibuat bingung dengan ucapan Aksa.
"Sebenarnya itu hanya alasan Aksa saja agar dia bisa membuat sebuah festival," sahut Nata kemudian. "Tapi saya setuju dengan gagasan membuat penanggalan sendiri.
"Disamping mempermudah penduduk yang saat ini menggunakan 2 jenis penanggalan, Penanggalan Selatan peninggalan para Elf dan Penanggalan Utara peninggalan kaum Ninue, dengan metode yang kita miliki sekarang ini, penanggalan atau perhitungan hari dalam satu tahun akan jauh lebih tepat," jelasnya panjang lebar.
"Dan juga kita perlu menentukan hari libur dan Hari Jadi kerajaan ini. Benarkan?" celetuk Aksa menyahut.
"Bukan itu point pentingnya," sergah Nata cepat.
"Ya, menurutku masih mungkin bila hanya membuat penanggalan baru. Tapi untuk sebuah perayaan, apa saat seperti ini tepat untuk kita mengadakannya?" Lucia terlihat menimbang.
"Memang kenapa dengan saat seperti ini Ratu?" tanya Aksa terlihat tidak terima dengan jawaban Lucia.
"Mungkin saat ini wilayah Rhapsodia sudah mulai memasuki masa damainya, tapi aku merasa sedikit tidak nyaman mengadakan sebuah perayaan mengingat orang-orang di utara sedang berada dalam pergolakan," ucap Lucia menjelaskan alasannya.
"Lah? Apa hubungannya?" sahut Aksa merasa lebih tidak terima atas alasan yang diberikan Lucia.
"Mereka bukan tanggung jawab anda Yang Mulia." Kali ini Nata yang menjawab.
"Ya, aku tahu itu. Tapi tetap saja ada rasa mengganjal dalam hatiku. Karena mau bagaimana pun aku juga keturunan Elbrasta," jawab Lucia lagi.
"Tapi itu di luar kemampuan anda, Yang Mulia. Yang harus anda lakukan sekarang adalah mementingkan warga dari wilayah anda sendiri." Nata membalas.
"Ya, aku tahu itu. Aku selalu mendahulukan kepentingan wilayah Rhapsodia. Aku hanya.. mungkin merasa sedikit bersalah. Karena alih-alih membantu mereka, aku malah berencana membuat sebuah pesta."
"Kita memang tidak bisa dan tidak dianjurkan untuk menyenangkan semua orang, Yang Mulia," ucap Nata mencoba mengingatkan Lucia.
"Kalau memang anda ingin sekali membantu mereka, kenapa tidak anda kuasai saja sekalian wilayah utara? Dengan begitu anda akan memiliki tanggung jawab secara resmi atas keselamatan mereka," celetuk Aksa menyahut.
__ADS_1
"Bagaimana? Anda ingin menguasai daratan utara juga?" tanyanya kemudian yang terdengar seperti menantang.
Lucia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Aksa tersebut. Karena pada awalnya, meski ia sangat ingin membantu orang-orang Elbrasta, namun tak sedikit pun terbersit niatan untuk menguasai kerajaan tersebut. Atau kerajaan lain secara umum.
Namun kini saat pertanyaan itu ditanyakan secara langsung, Lucia mulai berpikir untuk mempertimbangkan.
Semua orang yang ada di tempat itu terdiam menatap Lucia. Mereka tampak penasaran menunggu jawaban yang tidak langsung diberikan oleh ratu muda itu.
Terutama Jean dan Nata yang merasa sedikit aneh, karena Lucia tidak membalas jenis pertanyaan seperti itu dengan cepat.
"Sudahlah Aks, jangan membahas tentang hal seperti itu dulu sekarang. Satu perang saja sudah cukup membuatku pusing. Kita bicarakan tentang festival yang kau gagas saja," ucap Lucia kemudian setelah terdiam beberapa saat, seraya mengelengkan kepala dan mengibas-kibaskan tangannya ke arah Aksa.
Tampak Jean dan Nata sedikit terkejut Lucia tidak menjawab 'tidak', dan hanya menghidarinya saja.
Namun kemudian mereka berdua mulai tersenyum kecil. Karena sadar bahwa ada kemungkinan Lucia mempertimbangkan tentang hal tersebut.
Sedangkan Aksa terlihat tesenyum lebar mendengar ucapan ratu muda itu. Karena itu berarti gagasannya tentang membuat sebuah festival perayaan memiliki peluang besar untuk disetujui.
"Apa itu berarti anda setuju untuk mengadakan festival?" tanya Aksa kemudian memastikan.
"Ya, jelaslah. Mana ada festival tanpa Pasar Raya?" balas Aksa cepat. "Rencananya kita akan mengadakan Pasar Raya itu di wilayah selatan. Disamping untuk meningkatkan semangat dan kepercayaan diri warga wilayah selatan, juga untuk memberi tahukan pada mereka dan kerajaan lain bahwa kita tidak sedang mengalami kesulitan setelah perang. Itu juga akan membantu membangun citra kita di wilayah lain," jelas pemuda itu dengan mengebu-gebu.
"Sedikit banyak saya setuju dengan maksud dan tujuan Aksa. Meski sebenarnya tidak harus dengan membuat festival juga," sahut Nata setuju dan tidak setuju dengan usulan Aksa.
"Kau bilang apa, Nat? Festival ini penting. Karena akan membantu membentuk jati diri kerajaan ini. Membantu penduduknya bersatu dan merasa bagian dari wilayah ini," ssut Aksa terlihat tidak terima dengan ucapan sahabatnya itu. "Syukur-syukur nantinya hal ini akan jadi event khas yang menarik minat orang luar untuk menghadirinya."
"Ya-ya, terserah kau lah," balas Nata dengan sedikit tak acuh.
"Itu berarti kita harus memperketat penjagaan di wilayah tempat Pasar Raya itu diadakan?" tanya Jean kemudian.
"Ya, tapi itu untuk kedepannya. Bukan sekarang ini." Aksa membalas cepat.
"Benar. Aku rasa yang harus kita lakukan untuk saat ini adalah memastikan bahwa jalur kereta bekerja dengan baik." Nata menyahut. "Karena rencananya Aksa berniat mengundang sebanyak mungkin penduduk dari ujung wilayah untuk ikut menghadirinya."
__ADS_1
"Kau berencana membuat Pasar Raya besar-besaran?" Jean bertanya memastikan.
"Tentu saja. Kau pikir perayaan sekelas kerajaan hanya akan seperti perayaan panen biasa? Mana prestige nya, Jean?Kau mau membuat Sang Ratu kehilangan muka?" sahut Aksa terlihat tidak terima dengan pertanyaan Jean.
"Ck..." Jean hanya berdecak seraya menajamkan tatapannya ke arah Aksa dengan jengkel.
"Nantinya kita juga akan menyiapkan lahan untuk berkemah bagi mereka-mereka yang datang dari jauh dan tidak memiliki cukup uang untuk tinggal di penginapan selama menghadiri Pasar Raya tersebut. Dan juga mengadakan semacam dapur umum untuk mengurangi pengeluaran mereka," jelas Aksa kemudian.
"Memang kau berencana membuat festival itu berlangsung berapa lama?" Lucia yang kali ini bertanya.
"Seminggu minimal," jawab Aksa cepat. "Karena kita perlu memberi waktu untuk mereka-mereka yang tidak bisa hadir di hari tertentu," jelasnya kemudian
"Oh, benar. Aku mengerti maksudmu," ucap Lucia seraya mengangguk kecil.
"Kita juga akan menggelar bazar dalam Pasar Raya tersebut. Seperti menjual kebutuhan pokok dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga umum, atau menjual barang-barang mewah dengan harga yang relatif terjangkau agar rakyat biasa setidaknya bisa membelinya, meski hanya sekali." Aksa menjelaskan rencananya lebih lanjut.
"Oh, itu rencana yang sangat bagus, Aks. Dengan begitu mereka yang datang akan mendapat keuntungan." Lucia tampak setuju dengan rencana Aksa tersebut.
"Tapi tidak hanya itu saja. Nantinya kita juga akan mengadakan hiburan dan pertunjukan di saat-saat tertentu selama Pasar Raya tersebut digelar," lanjut Aksa yang seperti sedang memamerkan sesuatu dibanding sedang menjelaskan sebuah rencana.
"Wah, sepertinya akan jadi acara yang menyenangkan. Aku jadi tidak sabar untuk menghadirinya," sahut Luque tiba-tiba yang terlihat bersemangat di antara Rafa dan Lily di ujung ruangan.
"Jelas akan sangat menyenangkan. Ini akan jadi Festival yang akan terus dibicarakan selama berabad-abad lamanya," balas Aksa menyombongkan rencananya.
"Lalu dimana kau ingin menggelar Pasar Raya tersebut?" Lucia memotong acara Aksa menyombongkan diri dengan pertanyaan.
"Untuk kali ini kita akan menggelarnya di wilayah Eblan. Wilayah yang paling tertinggal dibanding wilayah lainnya.
"Karena dengan adanya Pasar Raya tersebut, maka penghasilan wilayah mereka akan sedikit meningkat," jawab Aksa sekaligus menjelaskan alasannya. "Namun nantinya kita akan gilir tempat diselenggarakannya Pasar Raya tersebut."
"Ternyata Festival ini memiliki manfaat yang jauh lebih banyak dari yang ku pikirkan," ucap Lucia yang terlihat cukup kagum.
"Kan? Apa ku bilang. Aku itu orangnya bijak. Tidak mungkin aku membuat rencana hanya sekedar ingin bersenang-senang saja," ucap Aksa dengan nada sombong khasnya seraya membusungkan dada.
__ADS_1
"Menurutku statement itu tidak valid," sahut Nata menimpali.
-