
Lucia tampak memasuki Mahan Staan di dalam gua di dasar jurang Ceruk Bintang seorang diri. Kali ini Jean tidak bersama ratu muda itu karena sedang menghadiri pertemuan dengan para petinggi militer. Sedangkan prajurit penjaga tinggal berjaga di mulut gua.
Terlihat Nata sedang sibuk melakukan sesuatu di depan papan bergambar yang disebut dengan monitor saat Lucia membuka pintu masuk.
"Oh, Yang Mulia Ratu." Nata tampak sedikit terkejut melihat kehadiran Lucia.
"Bagaimana kabarmu, Nat?" tanya Lucia seraya berjalan mendekat. Kekuatiran terlihat dalam tatapannya.
"Seperti yang anda lihat. Luar biasa," balas Nata dengan ceria seraya mengerakan-gerakan lengan kanannya yang sebelumnya terluka karena peluru sihir.
"Gadis Suci memang luar biasa," balas Lucia yang terlihat cukup lega melihat kondisi Nata sekarang.
"Ya, benar. Bahkan, tidak meninggalkan bekas luka sama sekali." Nata menarik lengan bajunya untuk memperlihatkan bahwa tak ada lagi bekas beku membiru pada lengannya.
"Benar. Bersyukur pada dewa," ucap Lucia setelah memastikan apa yang dikatakan Nata benar.
Kemudian gadis itu menghembuskan nafas lega. "Lalu apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?" lanjutnya merubah tema pembicaraan seraya berjalan berkeliling mengamati ruang sekitar.
"Saya sedang menghitung ulang proba... Maksud saya, saya sedang memperbaiki Alat Pemecah Partikel," ucap Nata mencoba memberi penjelasan yang mudah dipahami oleh Lucia.
"Apa benda ini?" tanya Lucia saat berdiri di depan Alat Pemecah Partikel. "Alat untuk kembali ke dunia kalian?" lanjutnya memastikan.
"Benar yang itu," jawab Nata menatap ke arah Lucia. "Dan ada keperluan apa sampai Yang Mulia datang kemari seorang diri?" sambungnya kemudian dengan pertanyaan karena merasa sedikit janggal dengan kedatangan Lucia ke tempat itu.
"Sudah kubilang jangan berbicara terlalu sopan bila tidak ada orang lain," sahut Lucia mengingatkan sebelum kemudian menjawab. "Aku hanya ingin menyapa dan memastikan keadaanmu saja. Karena aku tidak melihatmu sejak seminggu setelah serangan itu." Ekspresi yang dibuat ratu muda itu tidak dapat dipahami oleh Nata.
"Yang Mulia tidak perlu kuatir. Saya baik-baik saja," balas Nata mencoba mencegah Lucia merasa sedih ataupun bersalah. "Saya mengerti mengapa anda tidak menjenguk saya dalam seminggu ini. Karena memang banyak hal yang harus anda lakukan setelah mengambil alih wilayah Tyrion."
"Ya, benar. Syukurlah bila kau baik-baik saja." Lucia duduk di atas sandaran kursi sambil meletakan tangan ke samping untuk menahan tubuhnya.
"Lalu apa anda baik-baik saja, Ratu?" Kemudian Nata bertanya balik.
__ADS_1
Lucia sedikit terkejut akan pertanyaan dari Nata tersebut. "Ya," jawabnya terburu. "Kurasa," tambahnya setelah itu.
"Kita masih harus berhadapan dengan Joren dan Augra setelah ini," ucap Nata lagi. "Belum lagi masalah para bangsawan di utara." Pemuda itu melanjutkan.
"Ya. Itu juga," jawab Lucia yang terdengar menggantung tidak yakin, sambil menatap menerawang ke arah Nata.
"Sempatkan waktu untuk beristirahat, Ratu. Biarkan yang lain menggantikan anda untuk sementara mengurus masalah-masalah itu," ucap Nata yang mulai terlihat menghawatirkan keadaan Lucia.
Lucia terdiam sesaat menatap Nata. Seolah sedang memproses perkataan pemuda itu, sebelum kemudian mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Dan kira-kira berapa lama sampai alat itu bisa kembali bekerja?" Tiba-tiba Lucia merubah topik pembicaraan seraya berjalan kembali menuju ke Alat Pemecah Partikel.
"Menurut perhitungan kami, mungkin sekitar sebulan lagi," jawab Nata yang juga terlihat kembali menatap monitor di belakangnya. "Setelah bagian yang diperlukan selesai dibuat, kami bisa menyalakan Pemecah Partikel ini."
"Jadi sebulan lagi ya?" tanya Lucia masih memperhatikan benda dengan tiga gelang yang saling bersinggungan itu tanpa mentap ke arah Nata.
"Tapi itu tidak berarti kami bisa langsung kembali ke dunia kami. Karena sebelumnya alat ini sempat menjadi tidak stabil." Nata kembali berucap. Sedikit lebih detail kali ini. "Jadi setelah kami berhasil menyalakannya, kami masih harus menganalisanya kembali, dan menemukan pola yang tepat untuk membawa kami kembali."
"Ya, belum pasti. Baru bisa kami prediksikan setelah alat ini bisa menyala," jawab Nata memastikan.
"Begitu...." Lucia kembali memutar tubuhnya menghadap Nata. Senyum samar terlihat di wajahnya.
"Sepertinya anda merasa senang melihat kami tidak bisa segera pulang?" Tiba-tiba Aksa menyembul keluar dari balik panggung besi tepat di atas kotak-kotak logam dengan cahaya berkedipan di sebelah kanan atas tempat Nata berdiri.
"Aksa?! Kau mengejutkanku." Terlihat Lucia benar-benar terkejut mendapati Aksa yang muncul dengan tiba-tiba itu. "Apa yang kau lakukan di atas sana?"
"Memeriksa sambungan kabel Power Supply dan kipas pendingin Server," jawab Aksa dengan ringan.
Lucia kemudian berdeham pendek. "Bukannya aku merasa senang melihat kalian tidak bisa pulang kembali ke dunia kalian," jedahnya dengan ragu. "Aku hanya... mungkin merasa... akan sedikit kehilangan. Bila kalian kembali."
"Apa aku termasuk dalam kata 'kalian' itu?" tanya Aksa mencoba untuk menggoda Lucia saat ia beranjak turun.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Jelas aku akan merasa kehilangan kalian berdua," jawab Lucia dengan terburu dan terlihat tidak terima.
"Baiklah kalau memang begitu," ucap Aksa kemudian saat sudah berada di bawah. "Dan karena sudah jam 12 siang, jadi ayo kita segera makan siang. Sebelum Rafa dan Luque datang dan mengomeli kita sepanjang hari," lanjutnya lagi seraya membersihkan pakaiannya dari debu.
"Oh, benar. Aku sudah berjanji untuk selalu mendengarkan ucapan Nona Luque sebagai balas budiku karena sudah menyembuhkan lenganku," ucap Nata yang seolah baru saja teringat akan hal itu. "Ayo Yang Mulia, ikut makan siang bersama kami," lanjutnya lagi mengajak Lucia.
"Baiklah," jawab Lucia dengan senang hati.
Dan kemudian mereka bertiga pun keluar dari Laboraturium.
Mereka ditemani 4 Penjaga Ratu berjalan menuju tempat di mana Kereta Besi untuk keluar dari gua berada.
"Jadi kalau ada aku jadinya, Yang Mulia? Tapi kalau cuma berdua, anda-saya?" tanya Aksa pelan sambil mendekat ke arah Nata. Memastikan Lucia yang berjalan di depan mereka bersama para penjaga tidak mendengar ucapannya.
"Apa yang kau bicarakan, Aks?" Nata terlihat sedikit panik namun berhasil ia tutupi.
"Jangan-jangan beberapa bulan lagi jadinya, Aku-kamu?" Aksa masih mencoba untuk menggoda sahabatnya itu.
"Terserah kau sajalah," timpal Nata dengan sedikit ketus tak ingin memperpanjang perbincangan tentang hal itu.
"Tapi apa istilah dari pasangan seorang Ratu? Yang jelas bukan raja, kan?" Tampak Aksa masih belum mau berhenti karena Nata belum merasa jengkel. "Pangeran? Earl? Dux? Arcdux? Suami Ratu?" lanjutnya sambil terus menebak.
"Sudah berhenti membahas tentang hal itu, Aks!" seru Nata yang kali ini sudah tidak dapat menahan merasa jengkelnya atas kelakukan sahabatnya itu.
"Membahas hal apa?" Lucia menoleh ke belakang karena merasa penasaran.
"Tidak, bukan apa-apa Yang Mulia," jawab Nata dengan cepat sambil tersenyum lebar.
"Benar. Bukan apa-apa, Yang Mulia." Aksa mengikuti cara Nata mengucapkan kata Yang Mulia sebagai ledekan.
"Baiklah," jawab Lucia yang kembali menatap ke depan dan lanjut berjalan menuju ke Kereta Besi yang sudah cukup dekat.
__ADS_1
-