
"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" Symmré bertanya meminta saran dari rekan sesama pemimpin
"Manusia itu saat ini bukan hanya ancaman bagi kaumnya saja. Tapi semua mahluk di daratan Elder ini." Moor berucap.
"Maka dari itu tujuan saya mengadakan pertemuan kali ini adalah ingin meminta kepada para Elf untuk juga ikut ambil bagian dalam peperangan kali ini. Setidaknya sebagian saja." Nata buru-buru menambahkan.
"Karena jelas manusia seperti kami tidak akan dapat melawan jenis kekuatan seperti yang sudah anda sekalian tahu. Kami perlu bantuan," lanjutnya dengan sebuah alasan.
Para pemimpin Elf terlihat saling pandang. Beberapa tampak ragu memutuskan, beberapa terlihat enggan untuk ikut campur.
"Aku mewakili Marga Azuar memutuskan untuk ikut membantu dalam perang ini." Moor yang memberi putusan paling pertama.
"Marga Nautua juga akan ikut ambil bagian." Disusul oleh Galvatr,
"Begitu pula Marga Aeron." Disambung Xorzio,
"Ya, Realn juga akan ikut." Ditutup oleh Reiré.
Empat Marga sudah memutuskan untuk ikut membantu dalam perang tersebut.
Dan dari keempat Marga tersebut memang memiliki hubungan yang cukup baik dengan Aksa dan juga Nata.
Kemudian terlihat Solas menatap pemimpin Marganya dari ujung ruangan. Seolah sedang memberi tanda untuk juga ikut serta.
"Kurasa... Rhafie juga ikut." Symmré pun berucap dengan sedikit canggung.
"Karena saat ini Marga Ghorea tidak memiliki pemimpin, maka posisi pengambilan suara ini adalah lima banding empat untuk yang ikut membantu." Moor berucap.
"Bila memang sudah seperti ini apa boleh buat. Kita putuskan untuk ikut campur dalam perang manusia kali ini." Tama angkat bicara.
"Hanya saja kita harus tentukan batasan untuk kita ikut campur," tambahnya memberikan syarat.
"Setidaknya saya ingin anda sekalian bisa ikut dalam serangan penuh yang rencana akan kami lakukan setelah Kereta Terbang sudah siap untuk digunakan." Nata segera menyebutkan rincian dari permintaannya.
"Saya mengharapkan kekuatan para Elf untuk menghadapi sihir-sihir bersekala besar yang mungkin akan dikeluarkan oleh Sefier," lanjutnya kemudian.
"Bila memang hanya itu aku rasa kami bersedia untuk membantu. Tapi apa kau yakin hanya itu saja yang kau perlukan dari kami?" Tama bertanya memastikan.
"Kami tidak akan terima bila kau meminta hal lain dikedepannya."
Pemimpin Marga Vaelum itu mencoba memastikan bahwa tidak akan ada permintaan lain yang akan disusulkan di kemudian hari.
__ADS_1
"Anda tidak perlu kuatir tuan Tama. Hanya itu saja yang saya minta kepada para Elf. Karena untuk melawan para prajurit dengan Sihir Pengendali itu kami sudah menyiapkan alat untuk menanganinya. Yang mungkin anda sekalian sudah mengetahuinya." Nata menjawab dengan sebuah alasan.
"Baiklah kalau memang begitu," ucap Xorzio seperti hendak mengambil keputusan.
"Tapi kita juga harus membicarakan hal ini kepada Yllgarian Hutan Tua," ucap Tama lagi menyela.
"Ya, kau benar." Xorzio sependapat dengan ucapan Tama. "Berarti kami akan membicarakan hal ini bersama Yllgarian Hutan Tua terlebih dahulu. Karena hal ini juga akan jadi permasalahan mereka bila tidak segera diselesaikan," lanjutnya kepada Nata.
"Baik tuan Xorzio. Saya mengerti. Tapi saya berharap pembicaraan itu tidak memakan waktu lama. Karena kita sedang diburu waktu." Nata menanggapi.
"Aku mengerti. Kami akan pastikan keputusan sudah diambil begitu kereta-kereta terbang itu selesai seluruhnya." Xorzio menjanjikan.
"Saya merasa lega mendengarnya," balas Nata kemudian.
.
"Peralatan untuk menangani Sihir Pengendali yang dimaksud Nata itu bukankah senjata anti Aliran Jiwa itu?" Moor bertanya kepada Kanna saat berada di teras lantai dua kediamannya.
"Benar, tuan Moor." Kanna menjawab. "Apa anda menguatirkan hal tersebut?" tanyanya kemudian.
Mereka sedang berbincang ringan setelah selesai dengan pertemuan sebelumnya.
Bersama mereka ada Istar, Reiré, dan juga Talos.
"Dan manusia memiliki reputasi untuk mudah menjadi tamak dan egois," sahut Reiré.
"Ya. Mungkin dua pemuda itu tidak. Namun orang-orang di sekitarnya akan berusaha untuk memanfaatkan kemampuan mereka demi kepentingan sendiri," balas Moor lagi.
"Mungkin belum terlihat dalam beberapa tahun ini, karena mereka sedang berperang. Namun akan mulai nampak setelah mereka memasuki masa damai."
"Lalu bagaimana baiknya menurut anda pemimpin?" Kini Istar yang bertanya.
"Kita harus menjauhkan dua pemuda itu dari peradaban manusia setelah perang ini berakhir." Moor menjawab.
"Aku juga setuju dengan itu." Tiba-tiba muncul Xorzio dari pintu depan. Menyusul di belakangnya Tama.
"Bawa saja dua pemuda itu kembali kemari setelah perang ini selesai." Tama yang kini mengutarakan pendapatnya.
"Itu mungkin akan sulit untuk dilakukan." Berjalan di belakang Xorzio dan Tama, Solas dan pemimpinnya Symmré.
"Kalian berada disini ternyata." Galvatr yang paling terakhir masuk.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa mengatakan sulit? Apa mereka tidak suka berada disini?" Istar bertanya mengenai ucapan Solas sebelumnya.
"Bukan. Tuan Aksa dan Tuan Nata memiliki kedekatan dengan orang-orang di wilayah itu. Jadi akan sulit untuk membuat mereka menjauh dari tempat itu." Solas menjelaskan maksud ucapannya.
"Akan jadi masalah bila mereka tetap berada di kerajaan itu ketika perang telah berakhir." Moor masih tetap pada pendiriannya.
"Mungkin bila hanya pergi untuk sementara waktu mereka pasti mau melakukannya. Karena pada dasarnya mereka berdua adalah pemuda yang senang melakukan hal-hal baru dan mengunjungi tempat-tempat baru. Terlebih tuan Aksa," ucap Solas menjedah,
"Tapi untuk pergi selamanya dari tempat itu rasanya mustahil. Kecuali ada alasan kuat yang mengharuskan mereka meninggalkan wilayah itu," lanjutnya kemudian.
"Alasan itu ada." Kali ini Yvvone yang muncul dari balik pintu.
"Yvvone? Apa tuan Nata sudah pergi?" tanya Solas kemudian.
"Belum. Dia sedang menunggu di balairung bersama nona Lilian. Kami masih menanti Ymon menyiapkan beberapa keperluan," jawab Yvvone.
"Lalu alasan apa yang kau maksud tadi, Von?" Xorzio bertanya karena cukup penasaran.
"Sudah jelas, kan? Alasan untuk kembali ke dunia mereka." Yvvone menjawab dengan penuh percaya diri.
"Ah, benar juga."
Beberapa Elf terlihat mengangguk-angguk kecil karena baru menyadarinya.
"Ya, kurasa kita bisa menawarkan bantuan kepada mereka untuk mencari cara kembali ke dunia mereka." Istar berucap.
"Aku setuju." Kali ini Gavlatr yang berucap.
"Meski sangat disayangkan mereka harus meninggalkan dunia ini bersama dengan pengetahuan yang mereka miliki, tapi itu jauh lebih baik untuk semua pihak," tambahnya lagi.
"Berarti setelah perang berakhir nanti kita akan beri tahu mereka." Moor berucap.
Dan semua orang mengangguk.
.
.
Dua hari kemudian bertepatan dengan selesainya Kereta Terbang, yang jumlah keseluruhannya 8 buah, Elf dan Yllgarian Hutan Tua memutuskan untuk ikut dalam rencana penyerangan penuh milik Nata.
Namun bersamaan dengan itu, yang juga tepat seminggu setelah penyerangan ke pertambangan Arcane di wilayah Cilum, tiba-tiba pada suatu siang terlihat dua buah bola pijar besar, yang entah datang dari mana mengarah ke Wilayah Pusat Rhapsodia.
__ADS_1
-