
Akhirnya air terjun dengan kincir air yang menjadi ciri khas wilayah Bukit Waduk itu mulai terlihat di garis pandang. Rombongan Aksa dan Nata hanya butuh waktu kurang dari 20 menit untuk tiba di tempat Ellian dari komplek Granisun Utara tadi.
Terlihat Ellian, Katarina, dan beberapa penduduk Desa Waduk sudah menanti kedatangan mereka di depan sebuah rumah kayu yang terlihat artistik tepat di seberang danau. Itu adalah rumah milik Ellian dan Katarina.
Beberapa penduduk terlihat telah menyiapkan rangkaian bunga yang kemudian diberikan kepada Aksa dan Nata saat mereka keluar dari Kereta Besi Lucia. Para penduduk itu adalah penduduk lama yang mengenal kedua pemuda itu.
"Kalian benar-benar sudah kembali," ucap Katarina sedikit tidak percaya melihat keberadaan Aksa dan Nata di hadapannya.
"Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Nyonya Katarina," ucap Nata menjawab.
"Wah, tempat ini jadi seperti lukisan. Cantik sekali," sahut Aksa yang terlihat lebih tertarik dengan sekitarnya dibandingkan Katarina.
Danau buatan di bawah air terjun itu kini terlihat semakin cantik dikelilingi oleh berbagai jenis bunga. Sekilas pandang terlihat hewan air hidup di dalamnya. Seperti jenis ikan kecil dan kepiting air tawar. Dibangun pula sebuah dermaga kayu sederhana di tepian sebelah baratnya. Tampak dua buah kursi kecil terletak di atasnya.
"Benar, tempat ini jadi seperti resort untuk berlibur saja." Nata menambahi setela ikut menatap berkeliling.
"Tujuan kami memang ingin membuat tempat ini menjadi seindah mungkin," ucap Ellian yang terlihat puas dengan reaksi kedua pemuda itu.
"Apa itu bangunan untuk menyimpan tenaga listrik?" Tanya Aksa saat pandangannya menemukan sebuah bangunan yang cukup besar berwarna putih kusam di lereng bukit di sebelah pintu air. Terlihat pula sebuah pipa besi besar terpasang turun ke bawah dari bangunan tersebut.
Aksa bisa menebak pipa besi itu berisi beberapa kabel listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di tempat Ellian, Desa Waduk. dan peternakan miliki Selene. Itu karena dia yang menggambar rancangannya sebelum ini.
"Benar bangunan itu berisi alat penyimpan listrik yang dihasilkan oleh kincir air tersebut," jawab Katarina kali ini.
__ADS_1
"Bangunan itu merusak pemandangan," sahut Aksa kemudian yang terlihat kecewa.
.
Kemudian Aksa dan Nata dipandu oleh Ellian dan Katarina mulai berkeliling ladang yang ada di sekitar tempat itu. Serta tak ketinggalan mengunjungi rumah kaca yang sekarang diperlebar tiga kali lebih besar dari ukuran sebelumnya. Tampak beberapa jenis tanaman baru ditanam di dalamnya. Baik yang sudah diketahui oleh Aksa atau yang belum.
Dan tidak hanya jenis tumbuhan untuk dimakan saja, tapi juga jenis tumbuhan obat, jamur, dan bunga. Aksa dan Nata tampak terkesan melihat koleksi jenis tumbuhan yang dimiliki wilayah ini sekarang.
Kemudian setelah memakan waktu lebih dari 2 jam berkeliling di bawah terik matahari, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam rumah kayu milik dua saudari itu sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Selene di barat. Dan juga untuk mencoba teh herbal yang sedari tadi selalu dibangga-banggakan oleh Katarina sebagai komoditas andalan yang baru dari wilayah tersebut.
"Hm, teh hermal ini enak sekali. Aku menyukainya. Hangat di tubuh, tapi terasa sejuk di mulut," ucap Nata setelah meneguk minuman berwarna merah tua dari dalam gelasnya.
Mereka bersembilan termasuk Ellian dan Katarjna tampak berdesak-desakan di dalam rumah sempit tersebut. Bahkan 3 kursi tambahan dikeluarkan untuk mengakomodasi agar semua orang bisa duduk.
"Syukurlah bila Anda menyukainya," ucap Ellian yang terlihat lega bahwa Nata tampak menyukai teh herbal tersebut.
"Benar, orang-orang di wilayah ini sangat menyukainya." Lucia juga ikut menambahi.
"Apa nama daun yang menyebabkan rasa sejuk ini, Nyonya Katarina?" tanya Aksa kemudian.
"Oh, kau bahkan mengenali bentuk tumbuhannya?" Tampak Katarina terkejut Aksa bahkan mengetahui bahwa cita rasa unik itu berasal dari sebuah daun. "Kami menyebutnya daun Lamia. Tumbuhan ini banyak tumbuh di sekitaran Hutan Tua," tambahnya memberi penjelasan.
"Ya, kami juga memiliki daun yang punya rasa menyejukan seperti ini. Namanya daun Mint," balas Aksa cepat. Ia tidak terlihat terlalu terkesan terhadap teh herbal itu seperti Nata. Meski ia masih terlihat menikmatinya.
__ADS_1
"Minuman ini memang cocok untuk hari yang terik ataupun hari yang sejuk. Juga pas saja disedu panas atau diminum dingin dengan es. Jadi wajar saja minuman ini sangat digemari oleh banyak orang," ucap Nata yang mencoba membuat Katarina kembali bersemangat setelah sempat lesu melihat reaksi dari Aksa.
"Bahkan digemari sampai keluar wilayah juga." Kali ini Lucia yang ikut menambahi.
"Oh, sampai keluar wilayah? Bagaimana bisa? Bukankah jalur perdagangan sedang ditutup?" Nata terlihat penasaran. Tak ubahnya Aksa yang duduk di sebelahnya.
"Meskipun secara resmi jalur perdagangan kita ditutup, namun beberapa kapal dagang masih bisa singgah di pelabuhan kita. Dan oleh karenanya barang-barang kita masih bisa beredar di luaran sana. Meski dalam jumlah kecil," jawab Lucia kemudian.
"Saya tidak tahu bagaimana detailnya, namun semua itu berkat para Pemburu dan Petarung bayaran yang membawanya keluar untuk pertama kali." Ellian menambahi seraya mengisikan ulang gelas Lucia yang sudah kosong dengan teh herbal dari poci di hadapannya.
"Maksud Anda mereka yang keluar untuk menjalankan tugas Permintaan Jasa?" tanya Nata memastikan.
"Benar. Jadi racikan teh herbal ini awalnya di bawa keluar oleh para Pemburu dan Petarung bayaran saat tengah menjalankan tugas Permintaan Jasa yang mereka ambil. Dan tampaknya orang-orang luar menyukainya dan berani membayar mahal untuk itu." Katarina menjawab dengan penjelasan yang cukup panjang.
"Dan sejak saat itu para Pemburu dan Petarung bayaran sering sekalian membawa barang-barang hasil dari wilayah ini untuk dijual lagi di luar sana. Untuk mencari tambahan penghasilan. Menurut mereka barang-barang dari wilayah ini sangat dicari dan berharga tinggi." Yang kemudian dilanjut oleh Lucia.
"Baguslah buat mereka yang harus membahayakan nyawa melewati penjagaan militer kerajaan lain," jawab Nata dengan jujur. "Setidaknya mereka jadi punya penghasilan lebih," tambahnya kemudian.
"Karena permintaan lebih tinggi dari ketersediaan barang, maka menjadikan barang tersebut berkesan eksklusif dan bernilai tinggi. Boleh juga," ucap Aksa menanggapi.
.
Dan kemudian mereka pun melanjutkan perbincangan yang kali ini menyangkut tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan gaya hidup. Seperti tumbuhan yang menghasilkan bahan untuk membuat barang menjadi lebih awat dan tahan lama. Atau tentang bagaimana tumbuhan membantu menjaga lingkungan dan ekologi tertentu agar tidak mudah rusak.
__ADS_1
Aksa dan Nata harus mengakhir perbincangan tersebut secara paksa setelah 45 menit kemudian. Dan menjanjikan untuk membahasnya lagi secara tuntas dengan Ellian dan Katarina di lain hari. Karena setelah ini mereka masih harus berkunjung ke tempat Selene.
-