Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
7. Sistem Pendidikan


__ADS_3

"Wah, Anda punya Limosine sekarang?" tanya Aksa saat mereka sudah berada di halaman depan kediaman Lucia di depan sebuah Kereta Besi tertutup yang cukup panjang dengan 3 pasang roda terpasang.


"Apa itu, limosin?" tanya Lucia yang mulai memasuki Kereta Besi tersebut.


Mereka memutuskan untuk mengunakan Kereta Besi tersebut agar lebih mudah mengangkut semua orang yang hendak menuju ke utara. Yang totalnya adalah 9 orang. Aksa, Nata, Lily, Luque, Rafa, Lucia, Jean, Alexander, dan Eden


"Maksudnya Kereta Besi yang panjang seperti ini," ucap Nata menjelaskan maksud Aksa saat mereka bersembilan sudah memasuki Kereta Besi tersebut. Nata duduk di antara Lily dan Aksa berhadap-hadapan dengan Jean.


Kereta dengan lambang Kerajaan Rhapsodia terpasang di daun pintunya itu memiliki kursi panjang yang saling berhadapan di bagian dalamnya. Seperti bentuk dari tempat duduk Kereta Tempur, namun didekor layaknya Kereta para Bangsawan. Sangat mewah dan elegan.


"Kereta Besi ini hanya meniru dari rancangan Kereta Tempur dengan tujuan seperti gerbong dari Kereta Uap untuk bisa membawa banyak orang dan barang secara sekaligus." Lucia menjawab dari sebelah Jean yang berhadap-hadapan dengan Aksa.


Meski diisi oleh 9 orang, ruangan di dalam kereta tersebut masih terlihat cukup lega. Karena memang kereta itu dirancang untuk diisi setidaknya oleh 12 orang sekaligus.


"Kurasa perkembangan wilayah ini berada di jalur yang benar." Nata membalas sebelum kemudian Kereta Besi itu mulai berjalan meninggalkan kediaman Lucia diiringi 12 ksatria berkuda di sekelilingnya.


.


"Pada dasarnya Sistem Pendidikan di wilayah ini sekarang dipisah menjadi empat bidang, agar mudah diatur. Itu adalah; Ilmu Pengetahuan, Pertukangan dan Kerajinan, Pelatihan Tempur, dan Pelatihan Sihir," ujar Rafa menjelaskan saat percakapan mereka mulai mengarah ke pendidikan di wilayah tersebut.


"Kenapa membedakan Pelatihan Tempur dan Pelatihan Sihir? Apakah kalian memisah antara Penyihir dan Prajurit dalam sebuah pasukan?" Aksa bertanya penasaran tepat di saat mereka mulai menyeberangi jembatan Jurang Besar untuk menuju ke Kota Utara.


"Bukan seperti itu, Tuan Aksa. Pelatihan Tempur tidak serta merta dikhususkan untuk menjadi seorang Prajurit. Bisa saja digunakan untuk menjadi seorang Pemburu atau Petarung." Perempuan yang sekarang berusia 26 tahun itu mencoba menjelaskan kepada Aksa.


"Oh, maksudmu pelatihan untuk keahlian membela diri dan mengunakan senjata?"


"Benar sekali. Pelatihan untuk keahlian tersebut," sahut Rafa dengan cepat. "Itu pun berlaku dengan Pelatihan Sihir. Yang dibagi menjadi dua. Yaitu keahlian sihir untuk bertarung, dan keahlian sihir untuk kehidupan sehari-hari." Perempuan yang menyembunyikan sebagian rambutnya dalam tudung itu kembali menjelaskan saat pemandangan di luar jendela menunjukan sebuah jurang yang membentang sangat lebar dibawah jembatan yang mereka lewati.


"Sehari-hari?" Kali ini Nata yang bertanya. Tampak penasaran.


"Benar, Nona Rafa datang dengan ide untuk mengajarkan penggunaan sihir tidak hanya dalam bidang membangun saja, namun dalam bidang lain seperti membuat barang, bercocok tanam, atau melaut." Lucia menyahut sebelum Rafa sempat menjawab.


"Tidak pernah ada pelatihan untuk pengguna sihir yang seperti ini sebelumnya. Setidaknya sejauh yang kutahu selama empat ratus tahun belakangan." Luque menambahi. Terlihat ia sangat membanggakan Rafa.


"Wow, luar biasa sekali. Jadi sekarang wilayah ini tidak hanya memiliki Fighting Jobs saja, tapi juga Crafting Jobs. Aku semakin bangga padamu, Ra," ujar Aksa yang terlihat sangat bangga kepada Rafa.

__ADS_1


"Saya juga merasa bangga dan kagum kepada Anda, Nona Rafa," ucap Nata ikut menambahi.


"Oh, itu belum seberapa. Kalian tahu? Rafa bersama Nona Ende juga membuat penelitian tentang peningkatan sihir menggunakan ilmu pengetahuan," ujar Luque lagi yang terlihat belum puas membanggakan apa yang sudah dilakukan oleh sahabat barunya itu.


"Benarkah? Berarti sekarang kau sudah bisa disebut sebagai Utusan Dewa nomer dua," sahut Aksa terlihat sangat antusias mendengarnya. "Setelah ini ceritakan semua mengenai penelitianmu itu padaku," tambahnya lagi.


Nata juga terlihat sama antusiasnya mendengar hal tersebut.


"Tidak perlu melebih-lebihkan, Nona Luque. Itu semua juga karena ajaran dan pengetahuan yang ditulis oleh Tuan Aksa dan Tuan Nata. Saya hanya menirunya dan memasukannya dalam bidang yang lain. Sama seperti bagaimana Kereta Besi ini dibuat," ucap Rafa yang merasa dirinya dipuji terlalu tinggi oleh Luque dan yang lain.


"Tapi memang seperti itulah sebuah Penemuan baru dilahirkan, Nona Rafa," sahut Nata dengan cepat.


"Itu berarti maksud Anda adalah tidak ada hal yang benar-benar baru di dunia ini? Bahkan penemuan baru pun berdasar dari hal yang sudah ada?" Tiba-tiba Alexander bertanya dari tempat duduknya di ujung bangku di sebelah Eden adiknya yang kini sudah berusia 15 tahun. Yang menandakan bahwa ia menyimak semua percakapan yang terjadi dalam ruangan tersebut, meski terlihat seolah tak acuh.


"Benar sekali, Pangeran," sahut Nata cepat. "Penemuan itu dibagi menjadi dua jenis. Menciptakan dan Mengetahui. Dan kedua jenis penemuan itu bukanlah benar-benar hal yang baru," jelasnya kemudian.


"Maksud Anda?" Alexander bertanya dengan wajah datarnya.


"Pada Penemuan dalam hal menemukan sesuatu yang belum pernah diketahui oleh banyak orang, seperti menemukan sebuah pulau di tengah lautan, atau menemukan bahwa partikel terkecil memiliki muatan Positif, itu sebenarnya bukanlah hal baru di dunia ini. Hanya kitanya saja yang baru mengetahuinya." Nata kembali menjelaskan.


"Apa lagi dalam hal menciptakan sesuatu. Semua hal baru pasti memiliki dasar dari hal yang sudah penah ada. Tapi untuk sebuah ciptaan sampai bisa disebut sebagai sebuah Penemuan itu biasanya adalah, ketika suatu hal digunakan dengan cara atau dengan metode yang belum pernah terpikirkan oleh banyak orang, namun berguna dan sangat membantu untuk kehidupan," tambah Nata lagi.


Terlihat Alexander hanya mengangguk dengan wajah datarnya menanggapi penjelasan dari Nata tersebut.


"Jadi selama ini Rafa sudah berpikir sama seperti kalian?" tanya Luque kemudian.


"Tepat setingkat di bawah kejeniusan kami," sahut Aksa seraya tersenyum lebar.


"Asal jangan berlaku seperti kalian saja," celetuk Jean kemudian.


"Memang kenapa dengan kelakuan kami?" Terlihat Aksa tidak terima dengan ucapan Jean barusan.


"Ngomong-ngomong, menurut Anda bagaimana tingkat dari pendidikan di wilayah ini, Pangeran Alexander?" tanya Nata yang merasa penasaran terhadap tanggapan dan cara Alexander melihat hal di kerajaan ini.


"Pendidikan yang mana?" balas Alexander dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Semua yang Anda tahu atau yang Anda ikuti," ujar Nata kemudian.


Terlihat pangeran muda berwajah rupawan itu terdiam sesaat sambil menatap ke langit-langit kereta mencoba untuk menyusun penilaiannya.


"Saya setidaknya mengikuti tiga bidang dari sistem pendidikan di tempat ini. Ilmu Pengetahuan, Pelatihan Tempur, dan Pelatihan Sihir," jawab Alexander kemudian. "Dan menurut saya ketiganya memberikan pengetahuan dan keahlian yang sangat berguna untuk saya bisa bertahan hidup secara mandiri.


"Mulai dari mengerti tentang bagaimana alam bekerja, bagaimana lingkungan bekerja. Lalu belajar bagaimana cara hidup dengan berburu, bercocok tanaman, berdagang. Sampai melatih fisik dan keahlian untuk bertahan dan membela diri," lanjut Alexander.


"Apa Anda merasa ada yang kurang dari sistem seperti sekarang ini, Pangeran?" tanya Nata yang disengaja untuk melihat bagaimana tanggapan Alexander.


"Tidak ada yang kurang menurut saya. Tapi hal itu membuat saya merasa kuatir," jawab Alexander kemudian.


"Kenapa Anda merasa demikian?"


"Selama ini keteraturan dapat ditegakan karena adanya pihak-pihak yang memiliki kekuatan lebih untuk melakukannya. Dan bila semua orang memiliki kekuatan yang sama, bagaimana cara keteraturan dapat ditegakan?" ucap Alexander mengutarakan hal yang membuatnya merasa kuatir.


Mendengar ucapan Alexander tadi membuat Lucia dan Rafa sadar akan hal yang mungkin bisa saja terjadi di kemudian hari.


"Anda memang orang yang cerdas dan kritis, Pangeran." Sedangkan Nata terlihat tersenyum puas. Karena apa yang ia duga mengenai Alexander semenjak pertama kali bertemu itu ternyata benar.


"Lalu bagaimana caranya, Nat?" tanya Lucia tidak sabar setelah cukup lama menunggu Nata yang tidak kunjung memberi jawaban.


"Ya memang harus menciptakan kekuatan yang lebih tinggi untuk menegakan keteraturan," jawab Nata dengan santai.


"Berarti kita harus membatasi jumlah ilmu pengetahuan yang kita berikan ke penduduk?" Lucia memastikan.


"Atau memilah mana saja yang harus kita ajarkan kepada mereka?" Kali ini Rafa yang berucap.


"Ya, memanipulasi dan membatasi perkembangan ilmu pengetahuan itu memang salah satu cara agar pihak-pihak tertentu memiliki kekuatan lebih. Tapi mereka yang memiliki kekuatan biasanya cenderung akan menggunakannya secara egois. Yang kemudian berujung pada tirani," jawab Nata kemudian.


"Lalu?" Kali ini Alexander yang bertanya. Terlihat tatapan matanya dipenuhi rasa penasaran, meski wajahnya terlihat biasa saja.


"Kita hanya perlu memindahkan kekuatan tersebut dari pihak-pihak tertentu ke sebuah peraturan dan hukum. Dan dengan semakin bertambahnya orang-orang berpendidikan, maka akan menciptakan sebuah kebudayaan yang kritis dan sadar akan pentingnya sebuah keteraturan. Dengan begitu aturan akan terus beradaptasi mengikuti perkembangan jaman, namun tetap akan memegang kekuasaan yang tertinggi. Bahkan lebih tinggi dari seorang Ratu sekalipun." Terdengar Nata menjelaskan dengan panjang lebar.


"Kita sampai di Kota Utara," sahut Aksa dengan tiba-tiba saat Kereta Besi yang mereka tumpangi itu melewati lengkung gapura Kota Utara. Yang juga mengejutkan Lucia dan Rafa yang tengah mencoba memikirkan apa yang baru saja Nata ucapkan.

__ADS_1


Sementara Alexander masih terdiam terlihat sedang berpikir.


-


__ADS_2