
"Mereka benar-benar berbaris menuju ke wilayah Cleyra dan Solidor." Biggs terlihat menggeleng pelan menatap ke bawah dari ujung geladak Kapal Udara yang terbang tinggi di kawasan perbatasan Solidor-Cleyra dan Kerajaan Joren.
Tampak pula satu Kapal Udara lain yang melayang di sebelah Kapal Udara tersebut.
"Ya, itu karena adanya bukit Nakie di perbatasan wilayah Narbadia yang cukup susah dilewati oleh pasukan dalam jumlah besar. Jadilah mereka berarak kemari," balas Corvette si Yllgarian kelelawar dari sebelah Biggs.
"Tapi apa kabar tentang Kapal Udara kita tidak sampai ke telinga mereka?" Jaguar si Yllgarian Macan Kumbang ikut berucap. "Bukankah dengan berbaris seperti ini akan jadi sasaran empuk dari atas?"
"Kurasa mereka tidak benar-benar paham dengan kemampuan dari Kapal Udara. Atau mungkin mereka sudah menyiapkan hal untuk menghadapinya." Biggs menjawab.
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan cara seperti ini. Tapi, mau dipikir seperti apapun, ini adalah cara yang paling sedikit memakan korban dipihak kita." Caspian menyahut sambil juga mengamati pergerakan pasukan Joren di bawah.
"Ya, inilah perang." Biggs menanggapi.
"Tidak. Sama seperti pendapatku sebelumnya, ini bukanlah perang. Ini pembantaian," balas Caspian dengan pertentangan terdengar dalam nada bicaranya.
"Ya. Tapi anda juga tahu, kan? Apa jadinya bila kita berlaku lunak pada lawan kita sebelum ini. Orang-orang yang kita kenal dan kita sayangi bisa hilang sewaktu-waktu," jawab Biggs kemudian.
"Ratu Daisy, Tuan Mateus, Billy, dan masih banyak lagi. Semua itu terjadi karena kita tidak bersikap tegas untuk memberi tahu pada mereka bahwa tidak bijak mengusik kita," lanjutnya lagi.
"Ya, aku tahu itu. Aku paham. Dan aku bukannya tidak setuju dengan cara ini," balas Caspian. "Tapi tetap saja sangat disayangkan. Orang-orang itu harus kehilangan nyawa tanpa dapat melakukan apapun."
"Kurasa akan jauh lebih baik bila mereka berada di bawah kekuasaan Yang Mulia Ratu," sahut Corvette kemudian.
"Maksudmu dengan mengambil alih wilayah Joren secara keseluruhan?" Biggs memastikan maksud ucapan Corvette.
Yang hanya dijawab dengan anggukan kecil dari perempuan Kelelawar tersebut.
"Ya, kurasa itu memang gagasan idealnya," ucap Biggs kemudian. "Tapi kurasa akan sangat sulit dan akan memakan banyak korban."
"Nah, tidak. Bila tuan Aksa dan tuan Nata benar-benar mau, wilayah selatan ini akan sangat mudah kita ambil alih," balas Corvette tidak setuju dengan pendapat Biggs.
"Yang Mulia Ratu yang sepertinya enggan melakukan hal tersebut." Caspian menyahut.
"Mungkin Yang Mulia Ratu memikirkan hal-hal diluar pemikiran kita mengenai menguasai wilayah selatan ini," ucap Biggs menambahi.
"Ya, kita hanya perlu percaya pada Yang Mulia Ratu dan kedua pemuda tersebut." Caspian berucap saat tiba-tiba ucapannya dipotong oleh teriakan salah satu awak kapal dari dalam anjungan.
"Meriam Siap!"
"Sepertinya waktu kita sudah tiba," jawab Caspian yang seperti memberi pertanda pada yang lain untuk segera menuju ke posisi mereka masing-masing.
__ADS_1
Tampak Corvette mengangguk pamit sebelum kemudian melompat keluar kapal dan meluncur menuju Kapal Udara yang melayang di sebelah.
"Bentuk formasi! Ikuti Berunda!" teriak Corvette setelah menjejakan kaki di geladak Kapal Udara tersebut seraya berjalan memasuki ruang anjungan.
Dan 2 Kapal Udara yang tadinya melayang berdampingkan itu kini mulai bergerak dalam barisan. Dengan Kapal Udara kedua yang disebut dengan Eleanor, yang mana adalah nama belakang Lucia sebelum nama keluarganya, tampak bergerak tepat di belakang Berunda.
Tak lama kemudian meriam berimbuh sihir pun mulai ditembakan ke arah arak-arakan prajurit Joren yang sedang berbaris.
Ledakan terjadi di beberapa tempat secara sekaligus, mengikuti beberapa meriam yang di tembakan secara nyaris bersamaan dari kedua Kapal Udara tersebut.
Terlihat puluhan prajurit menghambur ke udara karena ledakan tersebut. Terpental jauh merusak barisan.
Menanggapi hal tersebut, para pemimpin dan Jendral dari pasukan Joren segera memerintahkan untuk segera memasang formasi bertahan dan mundur secara perlahan.
Beberapa pemanah dan penyihir tampak mencoba menyerang balik 2 Kapal Udara yang menyerang mereka. Namun karena terlalu tinggi, tak ada satu pun dari serangan mereka yang sampai mengenai sasaran.
Sedang Caspian hanya menghembuskan nafas panjang melihat kacaunya situasi di bawah. "Sepertinya sudah selesai," ujarnya kemudian.
-
Dan dengan begitu, karena gagalnya pasukan bantuan dari wilayah Joren datang, membuat pasukan yang bertahan di wilayah Cleyra dan Solidor pun kehilangan semangat juang mereka.
Tak butuh waktu lama, kedua wilayah itu pun akhirnya berhasil diambil alih seluruhnya.
Sementara itu pasukan Augra yang terus menggempur wilayah bekas Tanah Suci masih dapat ditahan oleh pasukan Helen. Meski cukup mati-matian, karena hanya dibantu oleh satu Kapal Udara dan beberapa Kereta Tempur saja.
Karena untuk sementara memang nyaris seluruh pasukan utama Rhapsodia dikerahkan untuk mengambil alih wilayah Solidor dan Cleyra, sekaligus memasangnya untuk berjaga di sepanjang perbatarasan Nabradia dan Nalbina.
Untung saja Helen mendapat bantuan dari Versica dan kedua rekannya tepat waktu. Setidaknya dengan tambahan para pengguna Senjata Mistik, menahan pasukan utama Augra jadi sedikit lebih ringan.
-
Di Ruang Pertemuan kediaman Lucia di Wilayah Pusat, beberapa hari setelah Cleyra dan Solidor berhasil diambil alih sepenuhnya. Nata, Lucia, Jean, dan Vossler tampak sedang mengadakan pertemuan singkat.
"Jadi kau berencana untuk menerobos istana kerajaan Augra sebagai sebuah peringatan dan ancaman kepada mereka?" Lucia terdengar sedikit berteriak tak percaya setelah mendengar penjelasan dari Nata tentang rencananya untuk menghadapi Kerajaan Auga.
"Apa hal itu mampu kita lakukan?" Vossler terlihat sangat sangsi mendengar rencana Nata tersebut.
"Jangan kuatir. Pasukan Elit kita mampu melakukannya," jawab Nata ringan. "Kita hanya perlu menunjukan bahwa kita dapat dengan mudah bertemu pemimpin tertinggi mereka kalau kita mau. Itu saja sudah cukup. Dengan begitu mereka akan paham kekuatan kita yang sesungguhnya dan akan memikirkan ulang tawaran kita untuk melakukan perundingan."
__ADS_1
"Tapi bagaimana bila semua tidak berjalan baik, Tuan Nata? Bagaimana bila Pasukan Elit tertangkap." Vossler masih terlihat gusar dengan rencana yang terkesan nekat itu.
"Kita tinggal siapkan Kapal Udara di atas istana mereka sebagai bantuan," jawab Nata masih dengan nada ringan, seolah semua itu adalah hal remeh. "Tapi saya sangat yakin kalau Pasukan Elit kita tidak akan tertangkap. Bahkan saya rasa mereka bukan tandingan prajurit dan kesatria kerajaan itu," lanjutnya dengan cukup percaya diri.
"Bagaimana dengan pengguna Senjata Mistik? Mereka bisa saja mengalahkan Pasukan Elit dengan sihir dari senjata-senjata tersebut." Kali ini Jean yang menambahi.
"Untuk itu, saya sudah mempersiapkannya. Saya akan mengirimkan Senjata Mistik untuk Nona Helen. Senjata Mistik yang sangat tepat untuk melawan Senjata Mistik lainnya."
"Senjata apa itu?"
"Belati milik Val. Kalau tidak salah namanya Varzo..." Nata menjawab sambil terlihat mengingat-ingat.
"Maksudmu Varazonium? Pisau dengan bilah ungu yang dapat memakan Aliran Jiwa disekitarnya itu?" Jean terdengar sedikit terkejut mendapati jawaban Nata. Tak ubahnya yang lain.
"Ya, benar. Pisau ungu yang membuat orang tak bisa menggunakan sihir," jawab Nata membenarkan.
"Ya, saya rasa bila memang Nona Helen membawa senjata itu, akan sangat membantu saat harus berhadapan dengan pengguna Senjata Mistik. Bahkan Penyihir Petarung sekalipun." Vossler terlihat mengangguk setelah menimbang.
"Kalau kau memang sudah siap dan seyakin itu, maka aku juga akan menyutujuinya, Nat," jawab Lucia kemudian.
"Terima kasih Yang Mulia," jawab Nata cepat. "Sedang untuk masalah kerajaan Joren, saya rasa saya harus berbicara dengan Joan terlebih dahulu," tambahnya lagi.
"Ya, lakukan apa yang kau pikir perlu, Nat," jawab Lucia.
-
"Dan sepertinya sebentar lagi waktu anda dan Pasukan Elit untuk bertindak akan segera tiba, Nona Helen," ucap Nata di depan Radio Komunikasi di dalam tendanya kepada Helen yang berada di Kota Nezarad.
Nata baru saja selesai makan siang bersama Lucia, Aksa, Jean, Rafa, Luque, dan Lily dalam tendanya. Hal yang jadi sebuah kebiasaan dalam seminggu terakhir.
"Beberapa hari lagi tuan Evora akan menjemput kalian dan akan membawakan peralatan yang kalian perlukan, dan juga barang yang harus diantar kepada Raja Augra," lanjut Nata memberi tambahan informasi.
"Saya mengerti Tuan Nata." Suara Helen terdengar tegas menjawab dari balik pengeras suara Radio.
"Dan karena tugas ini akan sangat berbahaya, maka nantinya kau dan Pasukan Elit diperbolehkan melakukan segala hal yang dirasa perlu untuk melindungi diri. Karena nyawa kalian lebih penting," sahut Lucia yang berdiri di belakang Nata.
"Saya mengerti Yang Mulia Ratu," jawab Helen masih dengan tegas dan tanpa ragu.
"Semoga dewa selalu berserta kalian," balas Lucia sebelum kemudian komunikasi diputus.
-
__ADS_1