Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
20. Kota Pelabuhan I


__ADS_3

Setelah semua keperluan Aksa selesai di Garnisun tersebut, ia bersama Rafa, Lily, dan Luque segera menuju ke barat, ke kota pelabuhan dengan menggunakan Kereta Uap. Meninggalkan Kereta Besinya bersama Nata yang masih harus tinggal di Garnisun Utara untuk melanjutkan pertemuannya membahas tentang pelatihan prajurit dengan Lucia dan para jendral dan pemimpin militer lainnya.


-


Stasiun Kereta Uap wilayah barat terletak tepat di depan celah jajaran bukit barat. Yang kini sudah di bentuk seperti sebuah gerbang. Bahkan menambahkan sebuah pintu kayu yang besar dan terlihat kokoh.


Para prajurit penjaga gerbang memberi salam saat melihat Rafa, Luque, dan Lily melewati gerbang tersebut. Dan tidak ada satupun dari ke empat prajurit penjaga itu yang mengenali Aksa.


Angin dingin beraroma amis segera menerpa begitu Aksa berada di balik bukit. Suara debur ombak, lonceng Buoy, dan teriakan camar laut terdengar samar terbawa angin tersebut.


Berbeda dari kota-kota yang lain, wilayah Kota pelabuhan ini di bagi menjadi dua. Wilayah pemukiman yang berada di sepanjang tebing karang bukit barat. Dan wilayah perdagangan yang juga sekaligus wilayah hiburan yang berada di sebuah dermaga luas di atas laut.


Terlihat mercusuar berdiri kokoh di atas sebuah tebing karang di ujung selatan pantai. Yang merupakan pemandangan khas wilayah tersebut. Warna usang di beberapa bagiannya seolah menegaskan usia dan kondisi cuaca yang menimpa bangunan tersebut.


Dan karena begitu terkenalnya, penduduk wilayah itu sampai membuat tenunan kain bergambar mercusuar untuk digunakan sebagai penutup jendela dan pintu rumah mereka.


Kain bergambar itu dikenal dengan sebutan Tenunan Menara Api. Yang merupakan sebuah barang khas yang hanya dijual di daerah tersebut.


.


Aksa terlihat bersemangat berjalan di jalanan berlapis batu karang yang ramai dilalui orang itu. Beberapa bangunan kecil terlihat berdiri di pingiran jalan. Bangunan itu berfungsi sebagai pelindung generator listrik lampu-lampu jalanan, agar tidak mudah rusak karena angin laut yang menerpanya setiap hari.


Dan dari pintu gerbang tadi rombongan Aksa harus berjalan sekitar 15 menit untuk akhirnya sampai di kediaman Anna, yang merupakan pusat dari wilayah pemukiman penduduk.


Terlihat Anna dan Nikolai datang menghampiri rombongan Aksa, saat mereka baru memasuki wilayah pemukiman tersebut.


"Bagaimana perjalanan Anda sekalian?" Anna bertanya seraya merapikan rambut panjang berubannya yang berantakan oleh angin.


Wanita pelaut itu mengenakan pakaian bangsawan yang biasa dikenakan oleh laki-laki. Lengkap dengan celana panjang dan sepatu bot. Mengenakan seragam seorang Admiral berwarna merah di luar kemeja berwarna putih kekuningan. Dan tak lupa pedang mistik dan sebuah pistol menggantung di pinggang sisi kiri dan kanannya.

__ADS_1


"Perjalanan menggunakan kereta memang yang terbaik," sahut Aksa dengan wajah cerah.


"Apa Tuan Nata tidak ikut?" Tanya Nikolai kemudian.


Sama seperti Anna, Nikolai juga mengenakan pakaian yang serupa. Hanya saja pria jangkung itu tidak mengenakan seragam seorang Admiral. Dia hanya mengenakan rompi coklat di luar kemejanya.


Terlihat pula menggantung sebuah wadah pistol di pinggang kanannya, namun tidak seperti Anna, tidak ada pedang di pinggang kirinya.


"Nata sedang berada di Garnisun bersama Ratu dan yang lain," jawab Aksa.


"Garnisun? Kalian baru saja kembali tiga hari yang lalu, sudah mulai sibuk saja?" Anna terlihat sedikit terkejut.


"Sepertinya memang ada yang salah dalam diri Nata. Dia suka sekali kerja dan menyibukan diri," timpal Aksa ringan.


"Bukannya ada juga sama, Tuan Aksa? Anda sudah berkeliling wilayah sejak hari kedua." Kali ini Nikolai yang berucap.


"Oh, itu lain lagi. Aku berkeliling karena ingin tamasya dan mencicipin masakan di tiap-tiap daerah. Wisata kuliner," elak Aksa seraya menaik-naikan kedua alisnya.


"Oh, sebelum itu, rasanya aku ingin berkeliling tempat ini terlebih dahulu," jawab Aksa menolak tawaran Anna.


"Oh, baiklah bila memang itu keinginan Anda. Kita lewat sini." Kali ini Anna mempersilahkan Aksa dan yang lainnya ke arah yang berlawanan dengan kediamannnya.


-


Mereka berjalan menyusuri wilayah pemukiman yang berada di area yang tidak terlalu besar di pinggiran tebing menghadap laut. Dan karena kurangnya akan lahan di area tersebut, memaksa penduduk untuk membangun tempat tinggal mereka saling berdesakan. Menempel bersusun naik ke atas di tepian tebing. Yang membuatnya terlihat unik dan lain dari wilayah yang lain.


Atap rumah yang berada di posisi bawah menjadi jalan umum untuk menuju ke rumah-rumah lain yang terletak di atasnya. Beberapa bahkan berbagi halaman, dan kadang bagian dari bangunan rumah mereka dialih fungsikan sebagai tangga untuk akses ke atas.


Sebenarnya Nata sudah menyiapkan wilayah pemukiman yang cukup besar untuk dapat berkembang di sisi dalam tebing karang. Tidak jauh dari tempat dimana stasiun Kereta Uap dibangun.

__ADS_1


Namun tampaknya orang-orang dan para bawahan dekat Anna tidak ingin jauh dari pemimpin mereka. Hingga pemukiman kecil berjubel itupun akhirnya terbentuk.


Sedang tak jauh dari pemukiman tersebut terdapat sebuah tembok benteng tepat di atas karang di tepi laut. Lengkap dengan beberapa meriam mirip seperti yang ada di pesisir timur.


Dan berlawanan arah dari posisi benteng tersebut ada sebuah dermaga kayu yang luas yang dibangun di atas perairan dangkal. Tempat dimana wilayah perdagangan dan wilayah hiburan berada.


Kemudian rombongan Aksa yang dipandu oleh Anna dan Nikolai mulai berjalan menuju ke arah tersebut.


-


"Sedikit mengejutkan wilayah ini jadi seramai sekarang, meski kalian sedang menuntup jalur perdagangan." Aksa terlihat berdecak kagum melihat suasana sibuk di sekitarnya.


"Mungkin Anda sudah mendengar hal ini sebelumnya, Tuan Aksa. Tapi meski kami tidak membuka jalur perdagangan secara resmi, namun dermaga ini masih berfungsi sebagai pelabuhan dagang pada umumnya. Dan meski dalam skala kecil, wilayah ini adalah satu-satunya pintu perdagangan dengan dunia luar." Nikolai tampak tergelitik untuk memberi penjelasan kepada Aksa.


"Oh iya, Lucia pernah bercerita tentang hal ini," sahut Aksa yang terlihat baru saja memahami sesuatu.


"Dan sekarang wilayah ini menjadi jantung penggerak perekonomian wilayah barat ini," imbuh Anna kemundian.


"Satu-satunya? Bukankah pesisir timur juga melakukannya?" Aksa memastikan.


"Pesisir timur hanya berfungsi sebagai gerbang keluar masuk para pemburu lepas untuk melakukan Permintaan Jasa," ujar Anna menjelaskan. "Lagi pula, pantai di sisi timur hanya menghubungkan wilayah kita dengan wilayah Elbrasta dan Tanah Bebas Azure. Tidak ada pelabuhan dagang yang cukup besar di wilayah itu," imbuhnya lagi.


"Sedang laut barat merupakan jalur perdagangan besar antar banyak wilayah kerajaan. Apalagi kota-kota yang berada di ujung barat dataran Elder ini." Nikolai ikut menambahi.


"Ya benar juga, sih." Terlihat Aksa mengangguk kecil sambil tetap menjelajahkan pandangannya ke segala tempat yang tampak di hadapannya. "Kalau begitu, bagaimana cara kalian memastikan bahwa kapal-kapal yang singgah di pelabuhan ini tidak sedang mencoba untuk menyusupkan mata-mata mereka?" tambahnya dengan pertanyaan.


"Sama seperti di gerbang Utara, Timur, dan Selatan, kami juga memiliki Balai Perijinan yang bertugas untuk mencatat dan mengawasi keluar-masuknya kapal, orang, dan juga barang. Hanya saja, perijinan di wilayah ini jauh lebih ketat. Dan berada langsung di bawah pengawasan Bintang Api." Anna menjelaskan.


"Oh, lebih ketat?" Aksa terlihat tertarik.

__ADS_1


"Untuk lebih rincinya, Anda bisa langsung bertanya kepada anggota Bintang Api," tambah Anna menutup tema perbincangan tersebut.


-


__ADS_2