Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
13. Kota Varun III


__ADS_3

Lucia terlihat geram saat menatap pemandangan Kota Varun yang masih berlatar kepulan asap di beberapa tempat, senja itu.


Ia menyusuri jalanan pelan dari atas kudanya menuju ke alun-alun kota. Penduduk yang selamat tampak bersujud di sepanjang jalan ketika Lucia lewat.


Mereka bersujud karena merasa sangat bersyukur, sekaligus juga merasa takut akan status Lucia yang seorang ratu.


Lucia hanya menatap para penduduk di sepanjang jalan tersebut tanpa berucap apapun. Suasana hatinya sedang tidak baik.


.


Dan pada akhirnya mereka membuat perkemahan di tengah alun-alun kota. Yang setelahnya para prajurit mulai melakukan pembersihan darurat, baik di dalam kota, di luar gerbang, maupun di Benteng Ignus.


Lucia terlihat menghembuskan nafas panjang ketika melihat para penduduk yang kehilangan rumah harus menginap di salah satu tenda di perkemahan tersebut.


Ratu muda itu baru saja hendak memasuki tendanya, saat bunyi berisik Radio Komunikasi dari dalam terdengar memanggil namanya berulang kali.


Suara tersebut terdengar semakin jelas di saat Lucia sudah berada di depan Radio Komunikasi di dalam tenda. Terdengar itu suara Nata.


"Iya, Nat? Bagaimana?" jawab Lucia setelah meraih Mikrofon dan mendekatkannya ke mulut.


"Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Suara Nata terdengar serak dari balik Pengeras Suara.


"Aku baik-baik saja, Nat. Tidak perlu kuatir." Lucia menjawab. "Api sudah berhasil dipadamkan seluruhnya."


"Syukurlah. Kurasa Vistralle memang sengaja ingin membalas kita karena telah membakar semua gudang penyimpanannya," ucap Nata memulai percakapan.


"Bedebah itu memang sangat keterlaluan," geram Lucia saat mengingat apa yang telah dilakukan oleh Vistralle.


"Tapi anda tidak perlu terlalu kuatir, Yang Mulia. Kita akan membangun ulang Kota Varun setelah ini," ucap Nata kemudian memberi semangat dan harapan kepada Lucia.


"Ya, kau benar. Yang bisa kita lakukan setelah ini adalah membangun kembali." Lucia mulai mengatur nafasnya. "Lalu bagaimana dengan rencana yang akan dijalankan oleh pasukan Vossler malam ini?" tanyanya merubah topik pembicaraan.


"Mereka sudah mulai bersiap untuk melakukan serangan ke kota Mara, malam nanti." Nata menjawab.


"Jadi para pemberontak di wilayah Margrace sudah setuju untuk membantu kita?"


"Benar, Yang Mulia. Dengan bantuan dari nona Versica dan seorang bernama Joan, kita berhasil meyakinkan kelompok pemberontak tersebut untuk membantu kita mengambil alih wilayah Margrace." Nata membenarkan.


"Dan apa kau yakin bahwa memberikan Senjata Mistik kepada para mantan Juara itu adalah ide yang bagus?" tanya Lucia yang kembali terdengar ragu.


"Dari yang saya pehatikan selama ini, Nona Versica benar-benar ingin wilayah selatan berada di bawah kekuasaan Rhapsodia. Dan untuk mempertahankan wilayah Margrace yang berada di tengah-tengah wilayah musuh, para Juara dengan Senjata Mistik adalah tambahan kekuatan yang sangat membantu." Nata kembali mencoba meyakinkan Lucia.


"Ya, aku juga percaya niatan nona Versica tulus. Tapi aku tidak bisa yakin dengan orang-orang yang ada di sekitarnya sekarang ini."


"Yang Mulia tidak perlu terlalu kuatir. Meskipun nantinya mereka benar-benar menghianati kita dan melarikan Senjata Mistik tersebut ke pihak lawan, tetap bukan masalah buat kita. Penambahan satu atau bahkan tiga Senjata Mistik sekalipun, tidak akan mempengaruhi arah dari peperangan ini sekarang." Nata kembali mencoba menenangkan Lucia.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang menurutmu seperti itu. Aku serahkan semuanya kepadamu, Nat."


"Siap, Yang Mulia."


"Lalu bagaimana dengan pasukan Tryion dan pasukan Augra?" Kali ini Lucia memulai topik pembicaraan yang baru.


"Menurut kabar dari jaringan informan di wilayah Tyrion, mereka baru saja menggerakan pasukan menuju Kota Xin, dan kota-kota di pesisir utara wilayah Damcyan dan Harbring. Setelah mengetetahui kemunculan kapal kita di perairan mereka," jawab Nata. "Jadi setidaknya, mereka tidak akan mengirikan pasukan dalam dua atau tiga hari ini."


"Kalau Augra?" Lucia bertanya lagi.


"Belum ada pergerakan juga dari kerajaan tersebut. Hanya saja pasukan mereka yang berada di wilayah Lighthill sudah mulai bersiaga," jawab Nata.


"Kurasa hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kerajaan itu mengirimkan lebih banyak pasukan ke Ravus dan Lighthil" Lucia menggungkapkan pemikirannya.


"Untuk masalah tersebut, Nona Helen dan Pasukan Elit sudah berada di perbatasan Ravus sekarang ini. Berjaga untuk menghadang saat pasukan bantuan dari wilayah Augra datang." Nata menjelaskan.


"Semoga mereka baik-baik saja di sana." Lucia kembali terdengar kuatir.


"Apa Yang Mulia menguatirkan mereka?" tanya Nata kemudian.


"Meski kau selalu bilang bahwa 30 orang Pasukan Elit itu setara dengan 60 Prajurit Berkuda Senapa Api dan 80 Penyihir Petarung yang sekarang ini kita bawa, namun tetap saja aku tidak bisa untuk tidak merasa kuatir," jawab Lucia yang mencoba menjelaskan alasan atas prilakunya tersebut. "Karena yang harus mereka lawan adalah beratus-ratus pasukan," ujarnya menambahi.


"Yang Mulia tidak perlu kuatir. Karena bila memang mereka mulai kualahan menghadapi lawan mereka, kita dengan Kapal Udara, bisa langsung mengirimkan bantuan atau menyelamatkan mereka, hanya dalam beberapa jam setelah mereka memintanya melalui Radio Komunikasi," balas Nata kembali memberikan alasan agar Lucia tidak perlu terlalu kuatir.


"Benar. Contohnya hari ini. Bila bukan karena Radio Komunikasi, mungkin Kota Varun sudah benar-benar habis terbakar sekarang," ucap Nata yang kembali mengingatkan Lucia atas perasaan kesalnya.


"Ya, kau benar. Lalu kapan rencananya kau dan Aksa akan datang kemari?" Lucia dengan segera merubah tema pembicaraan karena tidak ingin suasana hatinya kembali buruk mengingat tentang hal tersebut.


"Rencananya besok sebelum pukul 7 kami akan berangkat dari Kota Selatan." Nata menjawab.


"Bawalah juga bahan makanan, pakaian, dan keperluan sehari-hari untuk para penduduk di sini, Nat," perintah Lucia kemudian.


"Sudah, Yang Mulia. Kami sudah menyiapkannya. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan 200 orang." Nata menjawab.


"Tentu saja kau sudah menyiapkannya. Kau pasti sudah menduga tentang kemungkinan ini sebelumnya, kan?"


"Benar, Yang Mulia." Nata menjawab singkat, sebelum kemudian perbincangan mereka disela oleh kehadiran Jean yang memasuki tenda.


"Yang Mulia Ratu," ucap Jean.


"Ya, Jean? Ada apa?" tanya Lucia.


"Kehadiran Yang Mulia dibutuhkan dalam pertemuan para Jendral di Tenda Balairung." Jean menjawab cepat.


"Baiklah kalau begitu," ucap Lucia kemudian. "Kita sudahi dulu sampai disini, Nat. Sampai jumpa besok," tambahnya berpamitan.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia. Sampai jumpa besok," balas Nata sebelum Lucia pergi bersama Jean meninggalkan tenda tersebut.


-


-


Di saat yang bersamaan di sebuah perbukitan di wilayah Margrace, terlihat pasukan yang dipimpin oleh Vossler sedang bersiap untuk melakukan penyerangan ke Kota Mara, kota pemerintahan wilayah Margrace.


Bersama mereka ada Versica, Karka, Guanna, dan beberapa prajurit lepas anggota dari kelompok pemberontak wilayah Margrace.


Kelompok pemberontak itu kebanyakan adalah milisi. Jadi tidak sedikit pemuda yang masih belum berpengalaman perangan, ikut dalam penyerangan kali ini.


Namun hal tersebut tidak menjadi masalah. Karena memang bukan jumlah atau kekuatan bertempur yang dibutuhkan dari kelompok pemberontak itu. Melainkan pengetahuan dan pengalaman mereka menjelajahi wilayah dan seluk beluk kota Mara.


Vossler membagi pasukannya menjadi 4 kelompok. Masing-masing beranggotakan 25 prajurit, yang akan menyerang dari keempat sisi kota secara sekaligus.


Versica dan 2 rekannya yang kini telah memegang kembali Senjata Mistik mereka yang lama akan membantu dalam penyerangan di setiap sisinya.


-


"Ya, setidaknya dengan bantuan Senjata Mistik, gerbang kota tidak lagi jadi masalah," ucap Vossler yang baru saja selesai memberi arahan ringan kepada Versica dan kedua rekannya.


"Pertama kalian meminjamkan kami pasukan. Dan sekarang kalian mengembalikan Senjata Mistik ini?" Karka berucap sambil menatap 2 kapak potong yang berada dalam genggamannya itu.


"Ingat, itu hanya dipinjamkan," ucap Vossler mengingatkan. "Setidaknya untuk saat ini," tambahnya kemudian.


"Apa bedanya kalau pada awalnya kalian memang sudah berniat untuk mengembalikannya pada kami." Karka membalas. "Demi para dewa, kalian memang orang-orang yang aneh," ucapnya seraya menggelengkan kepala.


"Jaga bicaramu Karka," hardik Guanna cepat.


"Dia orangnya memang seperti itu. Jadi jangan terlalu diambil pusing." Versica buru-buru menjelaskan, kalau-kalau Vossler merasa tersinggung karena ucapan Karka barusan.


"Bukan masalah. Aku sendiri juga merasa kalau orang yang menyarankan hal ini memang orang yang aneh, kok," balas Vossler yang terlihat tidak terlalu memikirkan tentang hal tersebut.


"Apa orang aneh yang kau maksud adalah dua pemuda yang telah membuat peta dan Radio Komunikasi itu?" tanya Karka memastikan.


"Kau pernah mendengar tentang mereka?" Vossler balik bertanya karena tidak menyangka Karka mengenali Aksa dan Nata.


"Aku yang menceritkannya pada mereka," sahut Versica kemudian.


"Cukup basa-basinya, sekarang coba jelaskan sekali lagi tugas yang harus saya lakukan, Jendral Vossler. Saya ingin memastikannya ulang." Tiba-tiba Guanna memotong percakapan mereka.


"Kau selalu saja kaku, Guan," celetuk Karka sebelum kemudian Vossler kembali mengulangi penjelasannya tentang tugas-tugas yang akan mereka lakukan.


-

__ADS_1


__ADS_2