
Terlihat kereta kuda bangsawan melaju menembus hujan di pinggiran wilayah Novus, di barat daya Kotaraja Elbrasta. Menuju ke sebuah rumah megah yang berada di dalam hutan.
Setelah melewati sebuah gerbang pagar yang terlihat lusuh dan berkarat, kereta kuda itu pun akhirnya berhenti. Terlihat Sefier dan Edea keluar dari kereta dan berlarian kecil di bawah hujan menuju pintu masuk rumah tersebut.
Terkesan rumah itu sudah lama tidak dihuni. Rumput di pekarangan depannya tampak liar tak terurus. Tanaman rambat pun tumbuh lebat menutupi beberapa bagian dindingnya.
Namun keadaan di dalam rumah tersebut menunjukan hal yang berbeda. Perabot dan ruangannya terlihat cukup bersih dan terawat. Bahkan ada pelayan yang menyapa dan memberikan handuk kepada Sefier dan Edea, begitu mereka memasuki ruang depan.
Dan setelah selesai mengeringkan rambut dan pakaian yang tidak terlalu basah itu, Sefier dan Edea kembali berjalan menyusuri koridor menuju ruangan di paling ujung.
.
Tampak Noel dan enam penjaga yang lain sudah menunggu di dalam ruangan tersebut. Ruang kerja yang dikelilingi oleh beberapa lembari kayu dan sebuah perapian kecil yang tidak sedang digunakan. Ruangan itu adalah ruang kerja Sefier.
"Kalian, baik-baik saja?" tanya Sefier begitu memasuki ruangan tersebut.
"Salam, Tuan Sefier." Noel dan rekan-rekannya terlihat langsung berdiri dan memberi salam hampir secara bersamaan begitu melihat Sefier masuk.
"Duduklah," perintah Sefier seraya duduk di depan meja kerjanya di ujung ruangan, mendahului yang lain. "Jadi bagaimana?" tanyanya kemudian setelah tujuh orang tadi sudah kembali duduk di tempat mereka masing-masing. Sementara Edea tetap berdiri di sebelah kursinya.
Tujuh orang itu adalah :
Gestal, Getzja yang menggunakan tameng besar.
Nikea, gadis Getzja dengan dua kapak potong.
Figor, pemuda Morra yang selalu mengenakan Zirah Mistik.
Narshe, Morra dengan cadar di wajahnya.
Mirinda, gadis Narva dengan tombak yang terlihat seperti tongkat sihir.
Dan kemudian Magna, seorang Seithr.
Dan juga Noel.
"Jadi siklus Gerhana Matahari setiap 36 tahun sekali itu, akan terjadi lagi dalam 2 bulan kedepan." Noel menjawab. "Dan hanya pada saat itulah pintu Makam baru bisa dibuka."
"Oh, akhirnya. Penantian selama 8 tahun kita akan segera berakhir," ucap Sefier terlihat lega. Seolah beban pikirannya lenyap begitu saja. "Lalu, apa kau sudah siap? Apa kalian memerlukan sesuatu lagi?" tanyanya kemudian dengan penuh antusias.
"Yang jelas kami perlu tenaga tambahan. Karena kali ini yang harus kami lawan adalah sekumpulan elf penjaga, yang memang dilatih untuk bertempur," ucap Noel menjawab.
__ADS_1
"Jangan kuatir. Kali ini Edea juga akan ikut bersama kalian," balas Sefier kemudian. Yang membuat beberapa orang terlihat mengeryitkan dahi mendengarnya.
"Kurasa kita perlu lebih dari sekedar tambahan 1 orang saja, Tuan Sefier," ujar Noel dengan tenang karena merasa Sefier sedang bercanda
"Hahaha... aku hanya bercanda." Tampak suasana hati Sefier sedang baik.
Kemudian pria Seithr itu terlihat menggeser patung harimau dari perunggu yang ada di atas meja kerjanya.
Tak lama setelahnya, terdengar suara seperti batu dipecah dan bersamaan dengan suara gesekan yang terdengar kasar, dasar dari perapian di sudut ruangan tadi mulai bergeser. Menampakan sebuah tangga batu menuju ke bawah.
"Wow!" seru Nikea tanpa sadar.
Sefier terlihat tersenyum puas mendapati wajah-wajah terkejut dari yang lain saat mengetahui adanya jalan rahasia di tempat itu. "Ayo ikut aku," ajaknya kemudian seraya berjalan menuju ke arah tangga tersebut.
Setelah membuat ujung tongkat sihirnya terbakar api layaknya sebuah obor, Sefier pun mulai menuruni tangga rahasia tersebut. Yang kemudian delapan orang sisanya mulai mengikuti di belakangnya.
.
Mereka turun cukup dalam, sampai kemudian tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Sefier menyalakan obor di ujung ruangan itu dengan sihirnya.
Dan perlahan cahaya obor mulai memperlihatkan isi dari ruangan lembab itu, yang tampaknya seperti sebuah gudang penyimpanan anggur. Hanya saja tidak ada satupun gentong anggur yang terlihat. Digantikan dengan beberapa rak kayu yang terlihat kotor dan berdebu.
Banyak barang disimpan di dalamnya. Kebanyakan adalah kitab-kitab tebal yang terlihat usang, juga beberapa peti penyimpanan, yang sebagian besarnya adalah Peti Mistik marga Shuuran.
Terlihat ada empat gelang dengan warna dan corak yang berbeda-beda, di dalam peti tersebut. Semua orang tampak terkejut melihatnya. Tidak terkecuali Noel.
"Kenapa?" tanya Sefier memecah keheningan. "Aku menunjukan ruangan penyimpanan ini kepada kalian karena aku mempercayai kalian," ucapnya kemudian, yang seolah menjawab pertanyaan batin dari yang lainnya.
"Kami benar-benar merasa terhormat mendengar hal tersebut, Tuanku," ucap Gestal menanggapi.
"Ini. Bawalah empat gelang ini bersama mu, sebagai tenaga tambahan," ucap pria Seithr itu kepada Noel.
"Baiklah, Tuan. Saya rasa ini sudah lebih dari cukup." Tanpa terlihat ragu sedikitpun, Noel menerima empat gelang tersebut.
"Kau yakin, Noel?" Gestal yang kuatir memastikan bahwa Noel sudah benar-benar memikirkan keputusannya itu.
"Bukankah berbahaya menggunakan gelang terkutuk itu secara bersamaan?" Kali ini Figor yang bertanya.
"Dan lagi tekanan Aliran Jiwa dalam jumlah besar dari gelang-gelang itu akan membebani penggunanya." Magna ikut berucap. "Bahkan Seithr terlatih pun masih akan kesulitan untuk menahannya," tambahnya kemudian.
"Kalian semua jangan kuatir. Noel ini orang yang tidak biasa. Ia seolah dilahirkan khusus untuk mengunakan gelang-galang itu," ujar Sefier dengan candaan, berharap bisa mengurangi kekuatiran yang lain tehadap Noel.
__ADS_1
"Benar. Bila kalian benar menguatirkan aku. Setidaknya lindungi saat aku melakukan rapalan di medan tempur nanti." Noel juga ikut mengeluarkan lelucon untuk mencairkan suasana, yang tampaknya tidak terlalu berhasil.
-
"Jadi setelah ini yang perlu kita kuatirkan adalah pergerakan para elf, Tuan. Karena mereka pasti sudah bisa menebak siapa kita, dan apa yang sedang kita rencanakan," ucap Noel beberapa saat setelah mereka sudah kembali berada di ruang kerja Sefier.
"Ya, aku tahu," ucap Sefier yang sudah kembali duduk di depan meja kerjanya. "Karena itulah kenapa kita perlu membuat kerajaan ini terus berada dalam pergolakan. Agar begitu saatnya tiba, bisa dengan mudah kita ambil alih," lanjutnya kemudian. "Dan dengan begitu, kita memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi elf-elf itu."
"Saya percaya dengan rencana Tuan," ucap Noel menaggapi penjelasan Sefier.
"Jangan kuatir. Keadilan akan ditegakan kembali di atas daratan ini. Cepat atau lambat," ucap Sefier kemudian.
.
"Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya Gestal kepada Noel saat mereka sudah berada di atas kereta terbuka beberapa saat setelah pamit dari kediaman Sefier.
Mereka bertujuh sedang dalam perjalanan menuju kota Zeraza. Sedangkan Edea saat ini masih bertugas mengawal Sefier sampai sebulan kedepan.
"Sebulan lagi kita akan menyeberang ke daratan selatan, kemudian menuju ke timur, ke Tanah Bebas Azure." Noel menjawab.
"Apa kita tidak bisa menggunakan Arcane Pemindah saja? Aku malas naik kapal laut," sahut Nikea yang duduk di ujung kereta sambil menggerak-gerakan kedua kakinya yang menggantung keluar.
"Si Aeron itu bisa melacak Aliran Jiwa dari batuan Arcane." Mirinda menanggapi.
"Oh, benar juga. Malas sekali kalau gadis Elf itu muncul lagi." Nikea menekuk wajahnya kecewa. "Belum lagi para Azorgia itu. Mereka benar-benar gigih dan sangat mengganggu."
"Kita saja nyaris gagal saat mengambil permata di perbukitan Natua di ujung barat setahun yang lalu, bila tidak karena kita unggul dalam jumlah." Figor yang duduk di sebelah Gestal ikut menambahi. "Mereka memang para petarung yang handal."
"Maka dari itu, cara paling aman untuk bersembunyi dari mereka adalah dengan mengurangi penggunaan Aliran Jiwa yang dapat mereka rasakan," ucap Noel kemudian.
"Ya, baiklah. Aku mengerti. Berarti sebulan ini kita bisa bersantai, kan?" Nikea merubah tema pembicaraan.
"Melakukan persiapan, Nik. Jaga kesehatan dan staminamu. Karena perjalan yang akan kita lakukan nanti akan cukup melelahkan," ucap Noel memberi peringatan.
"Nah, maka dari itu, aku harus bersenang-senang terlebih dahulu sebelum mengajami kesusahan nantinya." Nikea menjawab dengan ringan.
"Caramu berpikir itu aneh sekali, kau tahu?" celetuk Mirinda kemudian.
-
Arc Pertama Selesai.
__ADS_1
---iIi---