
Beberapa bulan sebelum penerbangan pertama Kapal Udara Rhapsodia dilakukan.
-
Di kastil tempat kediaman Vistralle di kota Dios, di selatan wilayah Ceodore.
Terlihat 3 pria Narva duduk saling berhadap-hadapan mengelilingi sebuah meja panjang dalam ruangan dengan langit-langit yang tinggi dan lampu gantung antik terpasang di bagian tengahnya.
Yang berambut panjang dikuncir kuda adalah Vistralle. Ia terlihat sibuk dengan lembaran kertas yang menumpuk tidak rapi di atas meja tersebut.
"Dux Vistralle, kita mendapat kabar sepertinya pihak Rhapsodia mulai melakukan aktifitas yang mencurigakan," ucap pria berambut cepak dengan bentuk rahang tegas yang duduk di sebelah kiri Vistralle, menyampaikan kabar.
"Oh, benarkah? Setelah diam hampir 2 setengah tahun, sekarang mereka akan melakukan sesuatu?" Pria lain dengan dagu lancip, berkumis tipis, tampak menanggapinya dengan cibiran.
"Rumornya, dua pemuda dibalik kehancuran kerajaan kita dulu, yang kabarnya sempat menghilang itu, kini muncul kembali." Pria berahang tegas tadi berucap kembali.
"Benarkah? Apa kau sudah memastikannya, Lucas?" Kali ini Vistralle yang menyahut. Pria itu akhirnya mengangkat wajah dari gulungan kertas yang sedang ia teliti, karena ucapan tentang 'Dua Pemuda' itu tadi menarik perhatiannya.
"Saya tidak bisa benar-benar memastikannya, Dux. Karena pengumpul informasi kita hanya dapat masuk sejauh Distrik Merah wilayah mereka saja." Pria berahang tegas yang dipanggil Lucas itu menjawab. "Dan cerita tentang kedua pemuda yang telah kembali itu lumayan gencar dibicarakan oleh beberapa penduduk asli wilayah tersebut," lanjutnya kemudian.
"Kalau begitu kita harus segera bergegas menyelesaikan pembangunan dinding utara." Vistralle terlihat mulai membongkar tumpukan kertas di hadapannya. "Mana laporan anggaran mengenai pembangunan dinding utara itu? Aku akan membuatnya menjadi prioritas mulai sekarang."
"Tapi, Dux Vistralle. Kita masih harus mengurusi para penduduk yang gagal panen di wilayah timur Margrace." Pria berdagu lancip tadi menyela.
"Tahan dulu yang itu, John. Selesaikan yang ini terlebih dulu. Dan selesaikan secepatnya," perintah Vistralle tegas.
"Tapi Dux, semua kabar itu baru rumor belaka. Apa tidak terlalu berlebih bila kita memutuskan sesuatu hanya berdasar dari sebuah rumor. Lagi pula kita sudah memiliki pasukan dengan Senjata Api berjaga di perbatasan Utara wilayah Ignus," ucap pria bergadu lancip yang dipanggil John itu mencoba menyanggah perintah Vistralle.
"Pemikiran itu sama dengan pemikiran para Pemimpin Estat sebelum Urbar hancur. Kita tidak boleh menganggap enteng Rhapsodia. Kerajaan itu sangat kuat dan menakutkan. Bersyukur mereka menghentikan penyerangan selama dua tahun terakhir ini. Kita mungkin tidak akan bisa bertahan bila mereka terus melakukan perlawanan," ucap Vistralle terlihat penuh perhitungan. "Jadi meski hanya rumor belaka, kita harus tetap waspada terhadap mereka," tambahnya kemudian.
"Baik, saya mengerti, Dux." John sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi kecuali mengikuti perintah dari pemimpinnya itu.
__ADS_1
"Dan kau, Lucas. Sebisa mungkin cari informasi tentang kebenaran rumor itu. Secepatnya," ucap Vistralle kemudian, memberi perintah pada Lucas.
"Baik, Dux. Saya akan mencoba untuk menghubungi beberapa bandar informasi untuk memastikan kebenaran dari rumor ini," jawab Lucas dengan sigap.
"Oh, dan juga perkuat pelabuhan timur. Aku punya firasat mereka pasti juga akan mengincar tempat itu," perintah Vistralle yang baru saja teringat akan hal tersebut.
"Besok akan saya sampaikan perintan ini langsung kepada Bangsawan Feymarch." John menjawab.
"Juga kirim kabar kepada Tyrion. Pastikan bahwa mata-mata mereka juga mendengar informasi yang sama dengan kita mengenai hal ini," perintah Vistralle sebelum kemudian kembali menjatuhkan pandangannya ke tumpukan kertas di atas meja.
"Baik, Dux. Saya akan segera mengirim kabar ke kota Hui," jawab Lucas lagi masih dengan sigap.
-
Beberapa hari kemudian di kediaman Tyrion yang baru di kota Hui, di timur perbatasan wilayah Raygod dan Damcyan, tampak Xiggaz berjalan sedikit tergesa menuju ruang kerja Tyrion.
"Selamat Pagi, Tuan." Xiggaz menyapa sambil mengetuk pintu ruang kerja Tyrion yang sudah terbuka.
"Ya, Xig. Ada perlu apa?" Terlihat Tyrion baru saja menyelesaikan pekerjaannya memeriksa tumpukan laporan di atas meja.
"Dari Vistralle? Tumben. Coba bacakan, Xig," perintah Tyrion seraya meletakan berat badannya ke sandaran kursi.
Xiggaz membuka amplop surat yang masih tersegel dengan lilin bertanda lambang keluarga Ceodore itu di hadapan Tyrion. Kemudian mengeluarkan isinya.
Setelah membentang kertas surat tersebut, Xiggaz mulai membacanya. "Salam, Dux Tyrion Raygod. Bersama dengan surat ini, kami ingin memastikan tentang suatu hal kepada Anda. Ini mengenai kabar yang sedang beradar beberapa hari terakhir. Apakah Anda juga mendengar tentang aktifitas yang mencurigakan dari kerajaan Rhapsodia?"
"Ck, Tanah Mati itu," sela Tyrion yang terlihat tidak senang mendengar nama Rhapsodia disebut.
"Dan tentang kembalinya dua pemuda yang berhasil mengambil alih Kota Suci?" ucap Xiggaz yang terlihat sedikit terkejut dengan apa yang sedang ia baca.
"Apa?! Orang-orang itu kembali? Bukannya mereka mati saat kejadian penyerangan Mugger 5 tahun yang lalu?" Terdengar Tyrion kembali menyela ucapan Xiggaz. "Apa kau sudah mendengar kabar ini dari mata-mata kita, Xig?" tanyanya kemudian memastikan.
__ADS_1
"Belum, Tuan," jawab Xiggaz yang juga terlihat bingung dan tidak percaya dengan hal tersebut.
"Apa saja yang dilakukan mata-mata kita?!" Terdengar suara Tyrion meninggi. Tanda ia sedang emosi.
"Mungkin mata-mata kita tidak melapor, karena masih tergolong sebuah rumor, Tuan," ucap Xiggaz mencoba untuk mencari alasan.
"Tetap saja. meski hanya rumor, mereka harus bisa memilah apakah rumor itu dapat menimbulkan bahaya atau tidak," ucap Tyrion geram, tidak terima dengan alasan yang diucapkan Xiggaz. "Cepat panggil Joan kemari. Mereka semua memang tidak becus melakukan apapun," perintah pria Narva itu seraya memukul meja.
"Apa Anda ingin meminta Joan melakukan penyelidikan mengenai hal ini, Tuan?" tanya Xiggaz yang seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Dia sudah berhenti melakukannya sejak tiga tahun yang lalu, Tuan. Sejak kejadian tersebut," ucapnya kemudian dengan ragu.
Tyrion tampak terdiam sesaat. Seperti baru saja teringat akan sesuatu. "Lalu apa kau bisa mencarikan orang yang dapat bekerja sebagus dia sekarang ini, Xig?" Tyrion bertanya balik kepada pemuda itu.
Sedang Xiggaz hanya terdiam tidak dapat menjawabnya.
"Katakan padanya, ini permintaan langsung dari ku. Dan aku tidak akan memintanya untuk kembali. Anggap saja ini hanya pekerjaan lepas," ucap Tyrion dengan nada suara yang sudah kembali normal.
"Baiklah, Tuan. Akan saya sampaikan kepada Joan dengan segera," balas Xiggaz seraya menggangguk paham.
"Lalu apa kau sudah menghubungi Seifier lagi?" Kali ini Tyrion merubah tema pembicaraan.
"Sudah, Tuan. Tiga kali dalam seminggu ini. Tapi masih tidak ada tanggapan dari pihak mereka,." Xiggaz menjawab.
"Sebenarnya apa yang dilakukan orang itu di Utara sana? Bukankah seharusnya gampang saja membereskan pemberontakan bangsawan-bangsawan kecil seperti itu. Kenapa ia membiarkan keadaan terus bergejolak?" Terlihat Tyrion berbicara sendiri.
Sedang Xiggaz hanya mengangguk kecil tidak bersuara.
"Padahal ia sudah menjanjikan bantuan penuh untuk menghancurkan wilayah Tanah Mati itu. Seithr memang tidak bisa dipercaya." Tyrion mengelengkan kepala sambil menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Tyrion. Saya ijin pamit dahulu," ucap Xiggaz kemudian.
"Ya, silahkan. Dan jangan lupa bilang ke Joan, aku akan memberi bayaran yang sepadan untuk hasil kerjanya." Tyrion menambahi.
__ADS_1
Kembali Xiggaz hanya mengangguk kecil dan kemudian menghilang di balik pintu.
-