Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
30. Gejolak Di Utara


__ADS_3

Esok paginya Lucia menghubungi Nata dari Kota Varun untuk memastikan semua laporan yang ia dengar dari Cornelius semalam.


"Untuk saat ini membuat perkemahan bagi para pengungsi itu adalah jalan yang paling menguntungkan untuk kedua belah pihak, Yang Mulia," ucap Nata setelah Lucia selesai memastikan rencananya terhadap orang-orang dari Kerajaan Elbrasta tersebut.


"Ya, syukurlah. Beruntung masalah ini datang di saat kalian berada di Wilayah Pusat," ucap Lucia terdengar lega dari balik Pengeras Suara.


"Dan karena aku tidak dapat kembali ke Wilayah Pusat sebelum menyelesaikan peperangan ini, maka aku ingin meminta bantuanmu untuk mencari tahu tentang permasalahan yang sebenarnya, sebelum kalian kembali ke Kota Varun," lanjut sang Ratu dengan permintaan tolong. "Kau mengerti yang aku maksud, kan?"


"Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di wilayah Elbrasta, hingga orang-orang itu mengungsi ke tempat kita," jawab Nata menyanggupi permintaan tolong dari Lucia.


"Terima kasih, Nat." Lucia kembali terdengar lega. "Dan bila kau butuh waktu lebih lama di Wilayah Pusat untuk hal itu, lakukanlah. Toh, semua rencana untuk wilayah selatan ini sudah kita jalankan."


"Baik, Yang Mulia. Saya mengerti," jawab Nata sebelum kemudian komunikasi tersebut diputus.


-


Siang harinya Nata kembali mengadakan pertemuan dengan Cornelius dan para anggota Parlemen untuk membahas tentang perkembangan dari para pengungsi tersebut.


Sedang untuk kali ini Rafa dan Luque tidak mengikuti pertemuan itu, karena ada tugas lain yang harus mereka selesaikan.


"Bagaimana kabar terbaru dari perkemahan yang kita bangun untuk para pengungsi itu, Tuan Cornelius?" tanya Nata membuka pertemuan.


"Gugus perkemahan sudah selesai kita bangun di wilayah yang anda maksudkan," jawab Cornelius dari tempat duduknya yang berhadapan dengan Aksa. "Empat Kereta Tempur dan 10 orang prajurit juga sudah bersiap menjaga tempat tersebut."


"Bahan makanan juga sudah diantar ke perkemahan tersebut pagi tadi. Setelah semalam kita sempat mengirimkan beberapa makanan dan minuman darurat untuk mereka," ucap Fla menambahi.


"Dan juga, sepertinya para pengungsi itu semakin bertambah sejak dari semalam." Kali ini Constine yang berucap.


"Ya, siang nanti rencananya kita akan kembali mengirim bahan makanan ke perkemahan tersebut. Tapi mungkin untuk terakhir kalinya," ucap Fla kemudian. "Karena kita sudah tidak punya cadangan bahan pangan lagi untuk dibagikan bila mereka masih terus bertambah."


Nata terlihat mengangguk kecil mendengar laporan tersebut. "Tuan Lexus, Tuan Cedrik, bisakah kalian mengirimkan prajurit menuju pelabuhan Pantai Mado melewati pesisir timur?" tanyanya kemudian yang terkesan keluar dari topik pembicaraan.


"Dan bolehkah saya bertanya tentang alasannya, Tuan Nata?" tanya Lexus dengan suara beratnya.


"Untuk mengantisipasi hal yang tidak kita inginkan," jawab Nata cepat.

__ADS_1


"Apa anda mencurigai adanya prajurit Elbrasta di pelabuhan tersebut yang mungkin akan melakukan serangan ke pesisir timur?" Cedrik terlihat mulai memasang wajah kuatir.


"Lebih baik kita paranoid dari pada kecolongan, kan?" celetuk Aksa tiba-tiba.


"Benar. Saya menguatirkan hal tersebut. Perang di selatan saja sudah cukup untuk saat ini. Kita tidak boleh menerima serangan lain," jawab Nata kemudian.


"Kalau begitu, kenapa tidak kita ambil alih sekalian saja pelabuhan tersebut. Dan membuat pos penjagaan di tempat itu," ucap Lexus memberikan pendapatnya.


"Ya, saya setuju dengan usulan Tuan Lexus," sahut Cedrik memberikan dukungannya.


"Masalahnya bila kita melakukan hal tersebut, besar kemungkinan pihak Elbrasta akan menggunakannya sebagai alasan untuk menyerang kita," ucap Nata menjelaskan.


"Oh, benar juga." Terdengar beberapa orang sependapat dengan ucapan Nata.


"Jadi kita cukup mengirimkan prajurit ke tempat itu. Tidak perlu sampai mengambil alih. Hanya untuk berjaga-jaga saja," ucap Nata lagi. "Dan bila memang tidak ada hal yang mencurigakan di pelabuhan itu, maka lakukan patroli di sekitarnya," tutupnya kemudian.


"Baik, Tuan Nata, saya mengerti," jawab Cedrik dan Lexus nyaris bersamaan.


"Dan bagaimana kabar terbaru tentang perang saudara yang tengah terjadi di kerajaan Elbrasta?" Nata kembali bertanya. Kali ini dengan topik yang baru lagi. "Apa semua ini ada kaitannya dengan sepupu Yang Mulia Ratu?"


"Dua keluarga bangsawan paling besar di Kerajaan Elbrasta itu?" tanya Aksa terlihat memastikan.


"Benar, Tuan Aksa."


"Impresif sekali sepupu Lucia itu bisa melawan dua power house secara sekaligus." Aksa tampak terkesan mengertahui hal tersebut.


Sedang situasi menjadi hening setelah Aksa berhenti berbicara. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, kecuali Nata, tidak mengerti apa yang baru saja pemuda itu ucapkan.


"Kenapa? Apa karena aku menyebut nama Lucia?" tanya Aksa yang menyadari adanya situasi canggung yang terbentuk. "Maksudku Yang Mulia Ratu. Sorry-sorry," lanjutnya yang tampak menyalah artikan kebingungan orang-orang akan ucapannya itu dengan ketidak nyamanan mereka karena ia kelepasan menyebut nama Lucia.


"Sepertinya Pangeran Grevier itu memiliki kekuatan yang cukup besar hingga dapat mengimbangi kekuatan dua keluarga besar yang bersatu," ucap Nata kemudian mencoba mengembalikan suasana.


"Benar. Pangeran Grevier memang memiliki kekuatan untuk mengimbangi keluarga Roxan dan Voryn." Cornelius membenarkan.


Terlihat Nata melirik samar ke arah Lily yang duduk di belakangnya. "Kekuatan seperti apa yang beliau miliki, Tuan Cornelius?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Apa semacam Senjata Mistik? Atau Pasukan Elit?" Aksa kembali menyahut. Yang kali ini dengan pertanyaan.


"Entahlah, saya juga tidak begitu yakin, Tuan Aksa. Tapi yang bisa saya simpulkan berdasar dari laporan mata-mata kita, bahwa kekuatan itu adalah beberapa individu yang yang sangat ahli dan kompeten dibidang mereka masing-masing," jelas Cornelius mencoba memberikan jawaban.


"Terdengar seperti Delapan Penjaga bagiku," sahut Aksa cepat, seraya menatap ke arah Nata.


"Ya, kurasa permasalahan ini bergerak ke arah yang aku takutkan," ucap Nata membalas.


-


Selepas makan siang, Nata kembali menghubungi Lucia di Kota Varun. Disamping untuk melaporkan hasil pertemuannya tadi, juga sekalugus untuk meminta persetujuan Lucia terhadap rencana yang akan ia buat.


"Jadi kau mengira kejadian ini ada sangkut pahutnya dengan orang-orang yang sedang mengumpulkan gelang Scion itu?" Lucia bertanya ulang setelah mendengar semua penjelasan dan rencana dari Nata sebelumnya.


"Benar, Yang Mulia. Karena waktunya terlalu tepat untuk dibilang kebetulan." Nata menjawab. "Seminggu yang lalu rekan Nona Yvvone mendapati bahwa wilayah Elf Marga Azuar telah disusupi oleh sekelompok orang. Dan sesuatu berahasil dicuri dari Makam Kuno mereka," ucapnya kemudian ke arah mikrofon di tangannya.


"Ya, hal itu memang terlalu kebetulan," ucap Lucia menanggapi.


"Dan bila dugaan saya benar, maka kita perlu segera menyelesaikan permasalahan di selatan dengan secepatnya, Yang Mulia. Karena permasalahan di Kerajaan Elbrasta sekarang ini akan jauh lebih buruk dari yang kita kira," ucap Nata kemudian.


"Tapi apa menurutmu itu hal yang bijak, Nat?" Terdengar suara Lucia meragu. "Maksudku memasang meriam yang akan diimbuh dengan sihir pada Kapal Udara kita," lanjut perempuan itu menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


"Itu adalah cara tercepat yang kita punya untuk mengalahkan Tyrion, Augra, dan juga Joren, Yang Mulia." Nata mencoba meyakinkan Lucia akan rencananya.


"Memang benar. Dampak yang ditimbulkan oleh meriam itu terbukti sangatlah kuat. Tapi juga sangat merusak," ucap Lucia yang masih belum yakin benar dengan rencana dari Nata tersebut. "Apa kau hendak melakukan penggempuran kota-kota di wilayah sisi barat menggunakan meriam itu?"


"Kita bisa berusaha untuk memperkecil kerusaan dan korban yang akan ditimbulkan oleh senjata tersebut. Tapi kita sudah tidak punya waktu lagi, Yang Mulia," ucap Nata lagi masih berusaha meyakinkan Lucia.


"Baiklah kalau memang begitu. Kita akan bicarakan hal ini lagi setelah kalian kembali ke Kota Varun. Aku dan yang lainnya perlu untuk mendengar rencana itu lebih rinci lagi secara langsung dari mu," ucap Lucia kemudian.


"Baik, Yang Mulia. Saya mengerti. Kalau tidak besok mungkin lusa kami akan kembali ke Kota Varun." Nata menjawab.


"Berhati-hatilah. Aku tunggu kedatangan kalian."


-

__ADS_1


__ADS_2