
Rombongan Aksa kembali meneruskan perjalanan setelah berbincang cukup lama di tempat Lumire. Kereta Besi mereka kini berjalan melewati terowongan Gerbang Dinding Sekai.
Jalanan yang menembus tebing itu sekarang sudah jauh lebih bagus. Dengan dibangunnya penyangga dari logam Dracz yang kokoh dan juga lampu penerangan.
Daerah di balik Dinding Sekai itu juga sudah jauh lebih bagus sekarang. Penanda jalan dan menara jaga berdiri tepat di persimpangan jalan ke Desa Timur dan Desa Sekai di pesisir timur.
Jalanan menuju Desa Timur dibuat sedikit panjang dan berkelok untuk mempermudahkan Kereta Besi melewati wilayah yang menanjak itu.
Dari kejauhan nampak bangunan pendingin berbentuk kerucut yang sama seperti yang ada di wilayah peternakan Selene, terlihat menjulang di antara petakan sawah yang berundak. Bangunan itu sekarang bertambah 1 lagi, berjajar bersebelahan.
Tak lama kemudian terlihat dua menara yang berdiri mengapit jalan. Itu adalah gerbang masuk Desa Timur. Sebuah papan dengan tulisan 'Desa Wilayah Timur' terpajang tepat di atas gapura tersebut.
Para petani tampak sedang menggarap lahan-lahan di sepanjang jalan itu. Kini mereka sudah menggunakan Kereta Bajak dengan bahan bakar Biogas cair seperti yang digunakan orang-orang di wilayah perkebunan Bukit Waduk.
Dan meskipun disebut dengan desa, namun tempat itu sudah mulai terlihat ramai dan juga memiliki fasilitas tak ubahnya kota-kota di wilayah lainnya.
Tampak pula sekolahan pertama yang dibuat di wilayah itu. Yang kini memiliki menara jam dan sebuah bangunan yang terlihat kokoh di sudut tanah lapang berpagar kayu pendek. Anak-anak terlihat sedang bermain riang di halamannya.
Aksa tersenyum melihat sekolahan dan anak-anak tersebut, sebelum kemudian Kereta Besi mereka membelok memasuki jalan menuju ke rumah kepala desa.
Dan sepertinya kedatangan rombongan Aksa ke desa itu bukanlah sebuah kejutan. Karena meski Aksa tidak memberitahukan rencana kedatangannya kepada Fla, namun sepertinya Fla beserta keluarga besarnya, juga beberapa penduduk asli desa tersebut sudah mengetahuinya. Dan mereka sudah terlihat berkumpul di depan rumah kepala desa untuk menyambut.
"Selamat datang Tuan Aksa. Saya sangat senang bisa bertemu lagi dengan Anda," sambut Livia yang terlihat sangat bahagia. Matanya seolah bersinar saat menatap Aksa.
Livia kini tidak tampak seperti seorang gadis atau wanita muda lagi, meski dalam segi umur ia masih di bawah Rafa dan Lucia. Itu karena pakaian yang dikenakannya membuat Livia terlihat lebih dewasa.
Perempuan itu mengenakan baju terusan sederhana dengan motif bunga berwarna coklat muda, dan sebuah sanggulan kecil tanpa hiasan rambut di kepalanya.
"Oh, halo Livia." Aksa melambai. "Kau terlihat seperti ibu-ibu sekarang," tambahnya yang tidak diambil pusing oleh Livia atau yang lain.
"Apa Tuan Nata tidak bersama dengan Anda sekarang?" Fla bertanya setelah mencari sosok Nata di antara rombongan.
Fla masih terlihat mengenakan jubah kepala desanya. Aksa selalu ingin tertawa saat melihat wajah Fla yang kini terlihat berkumis dan berjanggut tipis itu. Seperti tidak cocok saja menurutnya.
"Nata bersama Ratu," jawab Aksa cepat mencoba untuk tidak tertawa.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan Aksa." Kemudian menyahut Dimitri dan istrinya, yang menyapa dari sebelah Livia.
"Apa kabar Tuan Dimitri, Nyonya Arian."
"Tak ku sangka kita masih bisa bertemu lagi, Tuan Aksa." Kali ini giliran Khan yang menyapa dari sebelah Fla.
Lelaki Morra itu sekarang tampak jauh lebih tua dari yang diingat Aksa. Rambut dan kumisnya sudah terlihat belang oleh uban.
"Anda sehat-sehat saja kan, Tuan Khan?" Aksa balik menyapa.
"Saya sehat, Tuan Aksa. Hanya sedang menikmati masa tuanya saja," jawab Khan dengan sedikit tertawa.
"Wah, aku jadi iri dengan Anda," balas Aksa. "Aku juga ingin segera beristirahat menikmati kehidupan."
"Apa yang Anda bicarakan? Anda masih muda. Masih harus berpetualang dan melakukan hal besar untuk dunia ini," balas Khan yang kemudian dipotong oleh suara teriakan.
"Bibi Ra! Bibi Lu!" Terdengar teriakan dan dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, yang berlari menerobos dari belakan Livia menuju ke arah Rafa dan Luque.
"Hei, kalian harus berlaku sopan saat ada tamu. Ayo beri salam kepada Tuan Aksa." Fla membungkukkan tubuhnya ke arah dua bocah itu.
"Jadi mereka anak-anak kalian?" Aksa terlihat tersenyum lebar ke arah bocah-bocah itu. Yang membuat keduanya menjadi sedikit takut dan bersembunyi dibalik tubuh Rafa dan Luque.
"Benar," sahut Livia menjawab. "Yang perempuan bernama Sona dan yang laki-laki bernama Naka."
"Nama yang bagus. Tapi tidak bisa ku bayangkan, dua bocah kecil itu buatan kalian berdua." Aksa menunjuk Fla dan Livia secara bergantian seraya menggeleng pelan memasang wajah tidak percaya yang dibuat-buat.
Yang lain hanya menanggapinya dengan tawa pendek sebelum kemudian beberapa penduduk tampak mulai bergantian menyapa dan menyalami Aksa.
Setelah itu Livia mempersilahkan Aksa dan yang lain untuk masuk ke dalam.
Rumah kediaman keluarga Fla itu juga terlihat sudah banyak berubah. Bangunannya bertambah lebar dan bertingkat satu lantai ke atas. Meski demikian halaman belakangnya masih tetap dipertahankan terbuka dan asri seperti sebelumnya.
Mereka kemudian mulai berbincang panjang lebar mengenai hal-hal yang telah terjadi di desa tersebut sepeninggalan Aksa. Dan kali ini Aksa harus benar-benar menolak sebagian besar dari jamuan yang telah disiapkan oleh Arian dan Livia, karena sudah sangat kenyang.
-
__ADS_1
Aksa dan Fla mulai berkeliling desa dengan berjajan kaki, setelah selesai berbincang. Mereka berdua hanya ditemani oleh Trio Pemburu, Dimitri, dan dua penduduk desa. Sementara Rafa dan Luque tampak sedang berbincang dan melakukan sesuatu bersama Livia dan kedua anaknya.
"Desa ini terlihat lebih ramai sekarang." Aksa membuka percakapan saat mereka berada di tepi jalan menghadap ke petakan sawah yang terlihat berundak.
"Itu karena penduduk wilayah ini tidak hanya berprofesi sebagai petani saja. Banyak lapangan pekerjaan di wilayah ini. Meski tidak sebanyak perkotaan di wilayah lain." Fla menjawab dengan penuh percaya diri.
"Lihat, sekarang cara bicaramu sudah seperti seorang pemimpin," sahut Aksa yang mengejutkan Fla. "Dulu, kau bahkan tidak berani memandang wajah saat berbicara."
"Anda benar, Tuan Aksa. Memiliki pengetahuan membuat kita menjadi lebih percaya diri," jawab Fla seraya mengangguk kecil.
"Ngaco, kamu. Utusan Dewa mana mungkin salah," sahut Aksa dengan sombong.
"Semuanya oleh karena Anda. Saya tidak akan cukup berterima kasih kepada Anda. Tidak terbayangkan bila dulu saya tidak bertemu kalian semua." Kali ini terlihat Fla mengangguk kecil ke arah Trio Pemburu di sebelah Aksa.
"Cukup kirim ke tendaku buah terbaik kalian tiap kali panen," jawab Aksa dengan ringan.
"Baik, saya akan mengirimkannya." Fla tersenyum.
"Ngomong-ngomong, sedari tadi aku merasa penasaran. Apa itu pipa air?" tanya Aksa seraya menunjuk ke sebuah pipa besi yang tampak setengah tertimbun di pinggir petakan sawah.
"Benar sekali. Itu karena beberapa tahun yang lalu kami menemukan sumber mata air di lereng utara gunung Sekai. Dan dengan bantuan dari Tuan Couran dan para pengerajin Bintang Timur, kami berhasil membuat wadah penampung air bersih untuk dialirkan ke Pemukiman Pertambangan, Desa Sekai, dan ke arah Hutan Sekai."
"Jadi Tuan Couran yang membuat jalur pipa itu? Seperti yang diharapkan dari seorang Cendikia." Aksa terlihat puas.
"Oh iya, bicara soal mata air. Beberapa bulan yang lalu saat kami sedang melakukan penjelajahan lereng Sekai sisi selatan, kami dan anggota klan Bufo menemukan sumber air belerang." Loujze tiba-tiba berucap.
"Benarkah? Sumber air panas? Oh, mantab sekali. Nanti antar aku melihatnya. Kita harus membuat pemandian di tempat itu," sahut Aksa terlihat bersemangat.
"Tempat itu berada di lereng yang cukup terjal di dalam hutan." Deuxter menambahi.
"Oh, baiklah. Nanti saja kalau begitu," jawab Aksa dengan cepat. "Aku akan meminta Lucia membangun jalan dan fasilitas untuk memudahkan orang menuju ke wilayah itu terlebih dulu. Dan aku akan memastikan bahwa Lucia memprioritaskan pembangunan tersebut," lanjutnya dengan berapi-api. Meski yang lain terlihat sedikit terganggu saat mendengar nama pemimpin mereka disebut dengan begitu saja.
Namun hal itu tidak terlalu dianggap oleh yang lain. Mereka sadar, Aksa dan Nata adalah pengecualian di wilayah tersebut.
-
__ADS_1