
"Kalau boleh saya tahu, apa yang mereka katakan tentang masa depan? Dan apakah mereka mengatakan dari waktu kapan mereka berasal, tuan Moor?" tanya Nata memotong pertanyaan Luque.
"Mereka berpesan untuk tidak memberitahukan terlalu banyak kecuali pesan yang dititipkan untuk kalian," ucap Moor menjawab.
"Mereka menitipkan pesan untuk kami?" Aksa terlihat mulai sedikit bersemangat mendengar ucapan tersebut.
"Benar." Moor menjawab, kemudian menoleh ke arah Istar. "Coba bawa kemari benda itu Nona Istar," ucapnya kemudian memberi perintah.
"Baik, Pemimpin," jawab Istar seraya mengangguk kecil sebelum kemudian berjalan keluar ruangan.
"Mereka berkata masa depan mungkin akan bermasalah bila informasi tentang mereka terlalu banyak dibagikan," ucap Moor lagi memulai pembicaraan setelah Istar sudah benar-benar meninggalkan ruangan.
"Dan seingatku mereka pernah berkata, hal tersebut dapat menimbulkan Taim Lub dan Paradok? Aku tidak tahu apa maksud dari kata-kata tersebut. Tapi aku ingat betul karena kata-kata itu begitu aneh didengar," lanjutnya lagi.
"Time loop dan Paradox? Jelas mereka adalah orang-orang yang mengerti tentang istilah dari dunia kita," ucap Nata yang semakin bertambah yakin bahwa orang-orang yang pernah datang itu adalah keturunan mereka.
"Jadi benar kemungkinan besarnya mereka adalah Keturunan kita?" tanya Aksa yang terlihat lemas karena memikirkan kemungkinan ia tidak akan dapat kembali lagi ke bumi.
Namun meski begitu, ia juga merasa bangga karena keturunan mereka melakukan petualangan menjelajah waktu seperti yang ia impi-impikan selama ini.
"Apakah mereka orang-orang baik? Berapa usia mereka?" Luque kembali bertanya tentang keturunan Aksa dan Nata setelah kedua pemuda itu berhenti bertanya.
"Mereka orang-orang baik. Yang kakak beradik Narva itu berumur 18 dan 16 tahun. Yang kakaknya laki-laki, dan yang adik perempuan. Kemudian yang gadis Morra mungkin juga berusia 18 tahun," jawab Moor menjelaskan saat kemudian terlihat Istar memasuki ruangan.
Perempuan Elf itu membawa sebuah kotak kayu yang dipenuhi dengan ukiran khas Marga Azuar di seluruh sisinya.
"Kalau dipikir-pikir ini seperti Kapsul Waktu permintaan," ucap Aksa yang mulai terlihat tidak sabar untuk segera melihat isinya.
Istar membuka kotak kayu tersebut dan mengeluarkan sebuah logam yang besarnya tak lebih dari dua ruas jari pria dewasa dengan tekstur aneh berwarna hitam kusam. Terlihat pula sebuah simbol yang terukir di salah satu sisinya.
"Mereka berpesan untuk menyerahkan ini pada kalian. Entah apa maksudnya, tapi mereka berkata kalian akan mengerti setelah melihatnya," ucap Moor seraya menyerahkan logam aneh itu kepada Nata.
Aksa dan Nata terkejut setelah menerima dan mengamati logam itu dengan seksama.
"Ini bukannya Carbon-alloy?" Aksa terlihat nyaris tak percaya dengan jenis logam yang ia kenali itu.
"Sepertinya iya. Dan tulisan yang diukir ini seperti sebuah rumus persamaan." Nata berucap sambil memperhatikan bagian simbol yang terukir di salah satu sisinya.
__ADS_1
"Benar. Tapi lambang apa ini?" Aksa menunjuk ke lambang garis melingkar seperti spiral pada simbol tersebut. "Yang ini jelas simbol energi, simbol kuantitas, dan simbol variable ruang. Tapi yang ini simbol apa?" lanjutnya kemudian sambil masih mencoba mencari tahu.
"Disamping memberikan benda tersebut, mereka juga berpesan untuk menunjukan metode pembuatan Runic dan Formasi Sihir pada kalian untuk menangani musibah yang akan terjadi di era ini." Moor kembali memberikan informasi yang cukup mengejutkan tidak hanya untuk Aksa dan Nata saja, tapi juga semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Mereka bilang apa?" Solas yang pertama bereaksi mendengar ucapan Moor tersebut.
"Pengetahuan Runic?" Rafa tercekat mendengarnya.
"Apa yang anda maksud dengan menangani musibah yang akan terjadi di era ini?" Yvvone terlihat sangat butuh penjelasan.
"Kenapa anda tidak pernah menyinggung tentang hal ini sebelumnya, Pemimpin Moor?" tanya Kanna kemudian.
"Aku sendiri juga tidak tahu maksud dari ucapan itu sampai baru saja. Ketika dua pemuda ini tiba," jawab Moor.
"Juga ada alasan lain kenapa aku tidak pernah bercerita tentang semua hal ini. Itu karena mereka melarang ku untuk memberitahukan kepada siapa pun sebelum bertemu dengan kedua pemuda ini.
"Karena masa depan dapat berubah dan menjadi kacau bila hal itu aku lakukan," susulnya dengan penjelasan.
"Ya, kurasa itu benar. Bila memang ini adalah sebuah Time Loop, maka kita tidak boleh membuat sebuah paradox yang mungkin akan menimbulkan masa depan parallel," ucap Aksa menanggapi.
Sedang tak seorang pun paham dengan perkataan yang baru saja Aksa ucapkan.
"Tidak perlu tuan Moor. Ayo kita langsung saja. Mana arah ke perpustakaan?" sahut Aksa yang terlihat sudah tidak sabar.
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu, Aks. Maafkan ketidak sopanan pemuda ini, Pemimpin," ucap Val yang kali ini melarang Aksa untuk bertindak terburu-buru.
"Prilakunya sama seperti gadis Morra itu," jawab Moor kemudian seraya tersenyum kecil. "Nona Istar, tolong panggil pelayan untuk mengantar mereka ke kamar. Kita akan bicarakan hal ini lebih lanjut saat makan malam nanti."
"Berarti sudah dapat dipastikan kita akan tinggal di tempat ini lebih lama dari yang sudah direncanakan," ucap Nata setelah yakin bahwa mereka tidak akan kembali dalam waktu yang sudah ditentukan.
"Setelah ini aku akan ke Kapal Udara untuk meminta mereka mengabari wilayah Rhapsodia." Lily berinisiatif.
Tak berapa lama muncul perempuan Elf yang kemudian mengantar rombongan menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Aksa dan Nata beristirahat di kamar yang sama. Sementara Rafa sekamar dengan Luque dan Lily. Sedangkan Yvvone satu kamar dengan Kanna, lalu Val dengan Solas.
.
__ADS_1
"Kau kenapa, Nat?" tanya Aksa saat melihat Nata menatap serius ke logam hitam dalam pegangannya. Sedang terduduk di atas tempat tidur dalam kamar mereka.
"Merasa sedih karena kemungkinan kita tidak akan kembali ke Bumi lagi?" lanjutnya dengan dugaan.
"Bukan. Tapi aku sedang bertanya-tanya. Dari masa apa keturunan kita itu datang," balas Nata tanpa merubah pandangannya.
"Memang kenapa?" tanya Aksa yang kemudian duduk di kursi rotan di hadapan sahabatnya itu.
"Carbon-alloy itu merupakan terobosan baru dalam dunia teknologi di Bumi saat kita melakukan percobaan," ucap Nata yang alih-alih menjawab pertanyaan sahabatnya itu. "Dan merupakan bagian terpenting dari Mesin Pemecah Partikel itu sendiri."
"Lalu?"
"Apa kau tidak sadar kualitas Carbon-alloy ini jauh lebih bagus dari yang terpasang di mesin kita?" Nata balik bertanya sambil menunjukan logam hitam itu ke arah Aksa.
"Memang sih. Mungkin Carbon-alloy ini berasal dari ribuan tahun di masa depan. Dimana anak cucu kita sudah bisa membuat yang jauh lebih baik dari yang kita punya saat ini," jawab Aksa mencoba memberikan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Sekarang ku tanya lagi. Apa kau tahu cara membuat Carbon-alloy itu?" Nata kembali bertanya pada Aksa.
"Tidak tahu." Aksa menjawab cepat seraya menggelengkan kepala.
"Itu karena Alloy jenis tersebut merupakan terobosan baru saat kita berada di Bumi. Jadi tak ada makalah atau paper yang dikeluarkan untuk umum," lanjutnya kemudian.
"Kan? Aku juga tidak tahu cara membuatnya. Lalu bagaimana pengetahuan tentang Carbon-alloy ini bisa berkembang di dunia ini di masa depan?" Nata menjelaskan maksud dari pertanyaannya tadi.
"Mungkin salah satu dari keturunan kita nanti adalah jenius yang berhasil menciptakannya benar-benar from nothing?" Aksa masih berpikir bahwa kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Sedang Nata terlihat diam memikirkan ucapan sahabatnya itu. Sambil tetap menatap ke potongan logam hitam di tangannya.
"Tapi kemungkinan besar sih, keturunanku yang akan melakukannya. Itu karena gen ku jauh lebih superior," ucap Aksa lagi dengan tiba-tiba. Seolah ia kelupaan mengatakan hal tersebut sebelumnya.
"Tetap saja aku merasa janggal dengan Carbon-alloy ini," ucap Nata kemudian seraya kembali meletakan potongan logam hitam itu ke dalam kotak kayu. Dan mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tak perlu memikirkan hal itu sekarang. Mengetahui rumus persamaan yang terukir di Carbon-alloy itu jauh lebih penting saat ini," ucap Aksa kemudian.
"Apa lagi setelah ini kita akan mendapatkan pengetahuan tentang Runic dan Formasi Sihir yang sudah lama kita inginkan," lanjutnya lagi.
"Kau benar. Saat ini kita perlu pengetahuan untuk dapat mengimbangi kekuatan Alta Larma," balas Nata sependapat.
__ADS_1
"Ya, meski kita belum tentu mengerti karena itu tentang sihir, tapi masih sangat patut untuk dicoba. Aku sudah tidak sabar," ucap Aksa yang sudah mulai membayangkannya.
-