Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
22. Ratu Yang Baru


__ADS_3

"Baiklah, anggap saja hal itu sudah selesai. Sekarang kita akan membahas tentang rencanamu melakukan serangan." Tiba-tiba Lucia menyela dan merubah topik bahasan.


Yang kemudian ditanggapi Nata dengan merubah posisi duduknya. Yang menandakan bahwa ia siap.


"Apa tidak terlalu cepat untuk kita memutuskan melakukan serangan ke wilayah Augra," lanjut Lucia kemudian tanpa berbasa-basi.


Terlihat beberapa orang di tempat itu mengangguk menyetujui ucapan Ratu mereka.


"Ya, perhitungan di atas kertasnya sih sekitar enam bulanan. Tapi kenyataannya pasti tidak benar-benar tepat enam bulan." Nata menjawab.


"Tapi melakukan penyerangan untuk mengambil alih sebuah wilayah itu membutuhkan waktu setidaknya satu tahun persiapan, atau secepat-cepatnya sepuluh bulan. Apa lagi itu berada di wilayah yang sulit," ucap Lucia membagi pandangannya terhadap rencana Nata. "Alih-alih mencoba untuk merebut wilayah, kita malah akan memprovokasi lawan untuk menyerang kerajaan ini," tambah gadis itu yang disusul lagi dengan anggukan setuju dari yang lain.


Mendengar ucapan Lucia tersebut, Nata tampak mencoba menekan ekspresi keterkejutannya dengan senyuman.


"Kenapa?" Lucia mengerutkan keningnya sambil menatap Nata dengan raut khawatiir.


"Tidak. Ini hal baru Yang Mulia Ratu. Karena dari sudut pandang saya, baru beberapa hari yang lalu Anda memasrahkan nyaris semua rencana tentang kerajaan ini kepada saya. Dan sekarang Anda mempertanyakan rencana saya," ucapnya masih dengan senyuman.


Mendengar jawaban dari Nata Lucia hanya menghembuskan nafas panjang seolah lega karena itu bukanlah hal yang terlalu penting. "Sekarang aku harus bertindak dengan hati-hati, Nat. Karena kita tidak bisa kehilangan lebih dari yang sudah kerajaan ini terima," lanjutnya berucap.


"Apa Anda menguatirkan saya akan mengorbankan ke 60 prajurit itu untuk melakukan hal yang sia-sia?"


"Bukan itu yang ku maksud." Lucia buru-buru mengkoreksi. "Semua orang di tempat ini tahu, Nat. Aku sangat-sangat ingin untuk segera mengambil alih wilayah kita dan menyelesaikan perang ini. Tapi aku tidak ingin kita terburu-buru melakukannya bila ada kemungkinan kita akan memulai perang dengan pihak lain." Lucia menjedah untuk menarik nafas. "Kerajaan ini sudah banyak kehilangan. Dan aku sudah terlalu banyak menyia-nyiakan sumber daya kita begitu saja," lanjut perempuan berjubah beludru merah yang tampak mewah itu kemudian. "Kita bisa memakai rencana jangka panjang seperti yang sudah kita terapkan sebelumnya," tambahnya lagi memberi masukan.


Kali ini Nata tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresinya. "Apa baru saja Anda mengatakan agar saya tidak gegabah mengambil keputusan yang kemungkinan besar dapat memecah perang yang lain?"


Lucia hanya diam. Namun tatapannya seolah menjawab pertanyaan Nata.


"Wah, apa Anda benar-benar Lucia yang saya kenal?" Nata mendorongkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia benar-benar terlihat kagum sekaligus tidak percaya mendapati Lucia yang sekarang.


Sedang semua orang yang ada di ruangan tersebut hanya terdiam mencoba untuk tidak memberi tanggapan. Dan suasana canggung pun mulai terbentuk kembali.

__ADS_1


"Maaf, bila aku menyinggungmu, Nat. Tapi sekarang aku adalah seorang Ratu. Dan sulit buatku untuk berkata 'iya' dan setuju begitu saja pada rencana yang menyangkut kerajaan ini."


Terlihat Nata menatap mata Lucia cukup lama sebelum kemudian menghela nafas dan berucap, "Baiklah-baiklah, Anda benar Yang Mulia Ratu. Kurasa saya harus mulai membiasakan diri dengan keadaan baru ini." Nata menjedah dengan hembusan nafas panjang. "Jadi sekarang dengarkan baik-baik alasan kenapa kita perlu enam bulan untuk melakukan persiapan ini, Yang Mulia Ratu."


-


Kembali ke wilayah pesisir barat, kini rombongan Aksa sudah berada di kediaman Anna. Setelah mereka selesai berkeliling hampir seluruh wilayah tersebut.


Di ujung garis cakrawala matahari mulai terlihat berubah jingga saat mereka sudah siap duduk di depan meja makan.


Kediaman Anna tersebut memiliki 2 lantai dengan balkon luas menghadap ke arah laut tepat di atas pintu masuknya. Tidak memiliki pekarangan depan, hingga pintu rumahnya hanya berjarak 5 langkah dari jalanan umum.


Namun meski begitu ruang makan yang juga berbagi fungsi dengan dapur itu memiliki jendela dengan panorama matahari terbenam yang spektakuler. Yang bahkan sempat dipuji Aksa sebagi 'Hunian Impian' saat pertama kali memasukinya.


Mereka hanya berenam mengelilingi meja makan tersebut. Tuan rumah Anna, Nikolai, Aksa, Rafa, Luque, dan Lily. Sedang Maeve dan Carl tidak dapat ikut karena masih memiliki banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


"Oh, jadi ini Sup Kerang Hitam dari wilayah Xin yang terkenal di kalangan para bangsawan itu?" ujar Aksa membuka pembicaraan saat semangkuk sup berwarna putih susu disajikan oleh pelayan di depan mejanya.


"Iya, Anda benar. Dulu Tuan Edward pernah membuatkannya untukku. Tapi dia bilang itu sup ala Elbrasta, dan bukan cara memasak yang asli," ucap Aksa yang terlihat tidak sabar untuk segera mencicipinya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, selamat makan." Anna segera mempersilahkan para tamunya.


.


"Galangan Kapal kita diresmikan 3 tahun yang lalu. Meski sebenarnya tempat itu sudah mulai berjalan setahun setelah Anda menghilang," ujar Anna menjawab pertanyaan Aksa setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.


Mereka masih duduk memutari meja makan ditemani dengan segels teh herbal hangat. Melanjutkan perbincangan mereka yang sebelumnya tertunda karena makan malam.


"Namun sebelumnya galangan kapal itu lebih berfungsi untuk pemeliharaan dan perbaikan kapal yang rusak karena perang saja." Kali ini Nikolai yang berucap memberi tambahan informasi.


"Benar. Dan setelah kita mulai memutuskan untuk menghentikan perlawanan, maka galangan kapal itu kini mulai membuat kapal-kapal untuk perjalanan jauh," balas Anna kemudian.

__ADS_1


"Maksud Anda untuk berlayar ke ujung barat benua?"


"Benar. Karena tidak mungkin lagi melakukan perdagangan di sekitar wilayah tengah ini. Maka dengan berbagai pertimbangan, termasuk kemampuan kapal kita untuk melakukan perjalanan jauh, Yang Mulia Ratu akhirnya memutuskan untuk melakukan perdagangan dengan kota-kota pelabuhan di wilayah feudal di ujung barat." Anna menjawab.


"Keputusan yang bijak." Aksa mengangguk dengan wajah bangga. Terlihat tulus memuji keputusan tersebut.


"Anda ingat Axel, Sigurd, dan Ende dari Bintang Api? Mereka diberi mandat sebagai penanggung jawab perjalanan tersebut," ucap Nikolai memberi tambahan informasi lagi.


"Ya, aku sudah mendengarnya dari Shyam kemarin. Mereka sedang berlayar dalam jangka waktu yang cukup lama," ujar Aksa seraya menyesap teh herbalnya. "Ada berapa kapal yang melakukan perjalanan jauh tersebut?" lanjutnya kemudian dengan pertanyaan.


"Dalam kurun waktu 3 tahun ini, kami telah membuat 3 Kapal Besi untuk melakukan perjalanan jauh. Di luar beberapa kapal jaga atau kapal sedang yang digunakan sekedar untuk melakukan penyeberangan di sekitaran wilayah tengah ini." Kapten perempuan itu menjelaskan.


"Mengesankan." Aksa mengangguk kecil. "Dan ada berapa kapal yang tidak melakukan perjalanan jauh sekarang ini?"


"Kita punya 8 kapal sekarang ini. Baik di pesisir barat maupun di pesisir timur, masing-masing memiliki 4 kapal. Dua untuk berjaga dan dua sisanya untuk melakukan penyeberangan jarak pendek. Perjalanan yang memerlukan waktu kurang dari satu minggu," jawab Nikolai menjelaskan.


"Berarti wilayah ini tidak membuat kapal untuk perjalanan jauh ke arah timur?"


"Hanya ada wilayah Estrinx dan dataran tempat para elf saja di bagian timur. Sehingga perjalanan kesana belum jadi prioritas kita saat ini." Anna menjawab setelah meneguk teh herbalnya. "Mungkin setelah perang berakhir kita akan mulai melakukan penjelajahan ke arah timur," tambahnya lagi.


Aksa kembali menggangguk kecil sebagai jawaban. "Lalu siapa yang mengelola galangan kapal itu sekarang ini?" tanyanya kemudian.


"Sekarang galangan kapal itu dikelola oleh Tuan Sabil, kalau Anda masih mengingatnya?" ujar Anna menjawab


"Oh, bukankah dulu dia pemimpin di kota Xin?"


"Benar. Dan juga sahabat lama saya yang dulunya adalah seorang pembuat kapal saat berada di kota Xin, kini menjabat sebagai pemimpin para pekerjanya."


"Anda mengenal orang-orang berbakat, Nona Anna," ujar Aksa sambil sekali lagi mengangguk kecil.


"Ya, saya merasa bersyukur dengan hal itu," jawab Anna yang tidak dapat menutupi perasaan senangnya mendengar ucapan dari Aksa tersebut.

__ADS_1


-


__ADS_2