Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
14. Wilayah Margrace


__ADS_3

Ke empat pasukan Vossler yang hendak menyerang Kota Mara itu sudah berada pada posisi mereka masing-masing di depan setiap sisi gerbang kota.


Vossler sendiri memimpin pasukan di gerbang utara, sementara Versica di gerbang barat, Karka di gerbang timur, dan Guanna di gerbang selatan.


.


Vossler yang juga membawa pedang Mistik berkekuatan Angin itu terlihat bersiap untuk menggunakannya menghancurkan pintu gerbang.


Dan di saat yang hampir bersamaan, para mantan Juara lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka mulai mengaliri Senjata Mistik mereka dengan Aliran Jiwa untuk bersiap.


.


Dan yang pertama melakukan serangan adalah Guanna. Pria Narva berbadan kekar itu berdiri di depan gerbang, di luar jangkauan tembakan panah prajurit penjaga.


Meski keberadaannya menarik perhatian para penjaga, namun ia masih dengan tenang mengayunkan Senjata Mistiknya yang berupa palu raksasa berkekuatan tanah itu dan menghantamkannya sekuat tenaga ke atas tanah di hadapannya.


Di saat yang bersamaan, tanah di sepanjang tempatnya berdiri hingga pintu gerbang, terlihat mulai bergerak turun. Seperti ada sebuah lubang di bagian bawahnya yang menyebabkan tanah itu seolah longsong ke bawah, dengan suara gemuruh yang meresahkan.


Para Prajurit Penjaga yang berada di atas tembok gerbang itu terlihat mulai bingung sendiri karena tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saat kemudian lantai yang mereka pijak tiba-tiba saja bergetar hebat, dan kemudian runtuh secara perlahan bersama dengan seluruh gerbangnya.


Kepanikan segera melanda para Prajurit Penjaga yang selamat dari reruntuhan gerbang tersebut. Dan tanpa menunggu mereka kembali siaga, Pasukan Rhapsodia pun segera memanfaatkan situasi. Mereka berlari menyerbu dengan pedang dan pistol di kedua tangan mereka.


.


Sementara di gerbang timur, Karka yang tidak perduli bahwa Prajurit Pejaga telah menyadari keberadaannya dan mulai menghujaninya dengan anak panah itu, tetap melanjutkan berlari mendekat ke arah pintu gerbang kota.


Alasan dari keberanian Karka itu adalah, karena hanya dengan memutar salah satu dari kapak potongnya di udara, tak ada lagi anak panah yang dapat menyentuhnya.


Kemudian begitu Karka merasa pintu gerbang sudah berada dalam jangkauan serangannya, pria Morra berambut cepak itu segera menebaskan kedua senjatanya menyilang.


Pintu gerbang timur Kota Mara terbelah menjadi empat potongan besar hanya dengan dua kali tebasan saja. Yang tinggal menyisakan jalanan menuju ke dalam kota, yang dijaga oleh barisan prajurit bersenjata lengkap.


Hal tersebut segera ditanggapi oleh Pasukan Rhapsodia dengan bergegas menyerbu masuk. Dan pertempuran antara dua pasukan pun terjadi.


Sedang Karka sendiri terlihat seperti sedang menikmati pertempuran tersebut. Ia ikut berlari menghambur ke arah prajurit lawan seraya mengayunkan kedua kapaknya dengan liar.


.


Sementara Versica di sisi barat menggunakan kekuatan dari Senjata Mistiknya yang berupa pedang cambuk itu dari jarak yang cukup aman. Ia berhasil membuat lubang berukuran cukup besar untuk lebih dari tiga orang berjajar, tepat di tengah-tengah pintu gerbang tersebut.

__ADS_1


Dan sama seperti di sisi timur, pertempuran antara Prajurit Penjaga dan Prajurit Rhapsodia pun terjadi tepat di depan gerbangnya. Bahkan sama seperti yang dilakukan oleh Karka, Versica pun ikut serta dalam pertempuran tersebut dengan pedang cambuknya yang melecut-lecut berbahaya ke arah lawan.


.


Sementara di sisi utara, Vossler menghancurkan pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu menjadi berkeping-keping dengan ****** beliung kecil yang diciptakan dengan bantuan dari Senjata Mistiknya.


Dan tidak berhenti sampai disitu, ****** beliung tadi juga menerbangkan sebagian dari Prajurit Penjaga menjauh dari pintu gerbang. Yang memberikan celah untuk pasukannya menyerbu ke dalam gerbang.


Pertempuran di gerbang utara itu berlangsung paling cepat dibandingkan gerbang-gerbang yang lain. Itu karena formasi dari Prajurit Penjaga gerbang sudah terpecah sejak sebelum pertempuaran dimulai.


.


Dan akhirnya pertempuran di ke empat sisi gerbang Kota Mara yang terasa tidak seimbang itu selesai sebelum hari berganti.


Di samping dampak dari ketidak siapan para Prajurit Penjaga akan serangan kejutan tersebut, juga karena tidak adanya seorang Jendral atau pemimpin yang kompeten lah yang menyebabkan Kota Mara terasa mudah untuk diambil alih.


Kemudian setelah memasuki kota, kelompok pemberontak pun mulai mengambil alih untuk menuntun Pasukan Rhapsodia langsung menuju tempat-tempat penting, agar tidak terlalu menimbulkan kerusakan atau memakan korban tidak perlu dalam kota tersebut.


Dan oleh karena itu, tak lama setelah pasukan Rhapsodia memasuki kota, bangsawan pemimpin kota tersebut, beserta beberapa keluarga bangsawan lain bawahan Vistralle, berhasil ditangkap tanpa perlawanan berarti.


-


Seperti halnya Antena Radio Komunikasi dan juga senjata pelontar harpun bertenaga tekanan udara. Yang semuanya itu masih dalam bentuk setengah terakit di dalam peti-peti kayu. Tidak ketinggalan Pompa Udara dan Generator Listriknya.


Dan memang keberadaan Pasukan Yllgaria pimpinan Evora dan juga Kapal Udara itu sengaja mereka sembunyikan dari orang luar selama mungkin. Agar bila tiba waktunya, dimana keberadaan mereka benar-benar diperlukan, dampaknya pada lawan akan sangat terasa.


-


"Demi para dewa, dari mana semua peti-peti kayu ini berasal? Apa kalian memiliki Peralatan Mistik Pemindah?" tanya Karka saat ia mendapati tumpukan peti kayu di depan gerbang sisi utara.


"Tak perlu dipikirkan. Suatu hari nanti kau juga akan mengetahuinya." Vossler menjawab dengan santai sambil mengikuti prajurit bawahannya membongkar peti-peti tersebut.


"Banyak sekali alat-alat aneh yang kalian miliki." Karka menggeleng pelan saat melihat peralatan aneh dikeluarkan dari dalam peti kayu itu.


"Sudah, ayo bantu kami merakit semua senjata dan peralatan ini di atas tembok gerbang kota," ucap Vossler memerintah.


"Ya, kecuali di sisi selatan. Karena sudah tidak ada tembok yang tersisa di tempat itu," ucap Karka kemudian seraya mengangkat beberapa tongkat logam setinggi setengah tubuhnya.


"Kau mengharap apa dari Taurus? Senjata Mistik itu memang dibuat untuk menghancurkan," sahut Guanna dari samping Versica yang terlihat tidak terima Karka seolah sedang menuduhnya.

__ADS_1


"Hei, kalau alasanmu seperti itu, kau pikir Cancer ku dan Scorpio milik Versica juga tidak dibuat untuk menghancurkan? Tapi tetap sajs gerbang yang kami tangani masih utuh." Karka membalas dengan sewot.


"Kau harusnya sudah paham bahwa 'menghancurkan' itu juga memiliki beberapa jenis." Guanna tidak mau mengalah.


"Sudah, hentikan kalian. Jangan malah ribut sendiri membahas hal yang tidak penting di saat seperti ini," sergah Versica dengan sedikit kesal. Ia terlihat sedang menenteng dua kotak logam seukuran Senapan Laras Panjang di kedua tangannya.


"Ya, kurasa untuk sementara waktu ini kita akan membuat sebuah penghalang di depan reruntuhan Gerbang Selatan, sebelum memasang senjata-senjata ini dibelakangnya." Vossler berucap, mencoba ikut mengakhiri perdebatan tersebut. "Baru setelah itu akan kita pikirkan bagaimana cara terbaik untuk membangun kembali gerbang tersebut," tambahnya kemudian.


"Ya, aku setuju." Versica menjawab cepat.


"Kalau begitu, ayo mulai bekerja," balas Vossler kemudian.


"Lalu Jendral Vossler, bagaimana dengan Roland dan keluarga bangsawan lainnya?" tanya Versica kemudian sambil berjalan membarengi Vossler menuju ke dalam kota.


"Maksudmu pemimpin kota ini?" Vossler memastikan. Yang hanya dijawab dengan anggukan pendek oleh Versica.


"Untuk sementara kita akan kurung mereka di tempat yang aman dalam kota ini. Sampai kita mendapat tanggapan dari pusat." Vossler menjawab. "Karena sepertinya setelah ini, Yang Mulia Ratu akan mengirimkan Ultimatum kepada Vistralle untuk menyerah tanpa syarat," tambahnya lagi.


"Aku mengerti," jawab Versica sambil mengangguk lagi.


-


-



-


Pagi harinya puluhan Kereta Besi mulai bergerak dari wilayah pusat Rhapsodia menuju ke Kota Varun.


Bersama mereka ikut serta Aksa, Nata, Lily, dan Val. Sementara dua perempuan, Rafa dan Luque yang biasanya selalu bersama mereka, untuk kali ini tidak dapat ikut. Karena tugas-tugas mereka di wilayah pusat masih belum selesai.


.


Sedangkan di Kota Varun sendiri, pasukan yang dipimpin oleh Wedge mulai bergerak maju menuju perbatasan wilayah Lighthill yang dikuasai oleh kerajaan Augra. Bersama mereka ikut dibawa 8 Kereta Penghancur.


Sementara pasukan yang dipimpin oleh Biggs mulai bergerak ke perbatasan wilayah Ceodore untuk membuat perkemahan yang nantinya akan di jadikan sebagai markas saat hendak melakukan penyerangan.


-

__ADS_1


__ADS_2