Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
10. Kabar Buruk


__ADS_3

Selepas acara penutupan di hari terakhir festival, Lucia yang segera terbang kembali ke Wilayah Pusat, dikejutkan oleh Cornelius dan Vossler yang sudah menunggunya.


"Apa yang terjadi? Apa kalian memiliki kabar penting?" tanya Lucia saat melihat dua orang itu tengah berdiri di depan pintu masuk kediamannya.


"Maaf Yang Mulia. Tapi kami memiliki kabar buruk yang harus kami sampaikan kepada Yang Mulia," jawab Cornelius dengan wajah tak nyaman.


"Apa itu? Apa tentang wilayah utara?" tanya Lucia memastikan.


Cornelius dan Vossler hanya mengangguk ragu. Dan segera tersirat ketakutan dan kekuatiran di wajah Lucia dan juga Jean yang berdiri di sebelahnya.


"Masuklah, kita bicara di dalam," perintah Lucia kemudian seraya berjalan lebih dulu menuju ke Ruang Pertemuan.


.


"Jadi apa kabar buruk itu?" tanya Lucia begitu mereka berempat sudah duduk saling berhadapan dalam Ruang Pertemuan. Jean, Vossler, dan Conelius.


"Hm..." Cornelius terlihat sedikit ragu untuk berucap. Namun kemudian ia menekatkan hati. "Pangeran Grevier telah meninggal."


"Apa?!" Lucia dan Jean berteriak nyaris bersamaan. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Apa kau sudah memastikan kabar tersebut? Bagaimana bisa?" Lucia kembali berucap seolah mencoba untuk menyangkal hal tersebut.


"Kabar ini dikeluarkan oleh pihak dari Pangeran Grevier sendiri, Yang Mulia." Kali ini Vossler yang menjawab.


"Menurut kabar resmi dari mereka, Pangeran Grevier dibunuh saat sedang tidur di dalam kamarnya. Oleh seorang pembunuh bayaran," lanjutnya kemudian memberi penjelasan.


"Pembunuh bayaran? Bagaimana bisa seorang pembunuh bayaran memasuki kamar pemimpin sebuah kerajaan besar?" Lucia terlihat marah tanpa alasan.


"Dan apa mereka berhasil menangkap pembunuh tersebut?" Kali ini Jean yang bertanya menggantikan Lucia yang mulai panas kepala.


"Ya, menurut kabar pembunuh bayaran itu berhasil ditangkap. Namun sayangnya, orang itu berhasil bunuh diri sebelum sempat diinterogasi lebih lanjut," jawab Vossler memberikan penjelasan yang dirasa perlu.


"Dan menurut mereka pembunuh bayaran itu dikirim oleh kerajaan lain. Dan sepertinya pendukung Pangeran Grevier menyalahkan Estrinx dan Cilum untuk hal itu," susul Cornelius menambahi.


"Omong kosung apa lagi itu?!" Lucia yang terlihat sudah benar-benar marah itu memukulkan tangannya ke atas meja, hingga mengetarkan lapisan marmernya.


"Rasanya memang cukup mencurigakan, dan seperti sudah direncanakan." Vossler menyuarakan pandapatnya yang tak beda dari pandapat Lucia.


"Selidiki lebih lanjut tentang masalah ini," perintah Lucia kemudian.


"Baik Yang Mulia." Vossler dan Cornelius menjawab nyaris bersamaan.

__ADS_1


Terlihat Lucia menyandarkan tubuhnya yang lemas ke sandaran kursi. Kemudian memijat pelipis dan kelopak matanya dengan tangan kiri.


"Sekarang bagaimana aku harus mengabarkan hal ini pada Alexander dan Eden," ucapnya seraya menghembuskan nafas panjang.


-


Pagi berikutnya pertemuan darurat pun dilakukan di kediaman Lucia. Yang dihadiri oleh beberapa petinggi dan juga Nata yang datang bersama Lily.


Sementara Caspian, Helen, dan beberapa jendral Yllgarian tidak dapat hadir karena masih berada di wilayah perbatasan selatan.


"Bagaimana menurutmu, Nat?" Lucia menanyakan pendapat Nata setelah menceritakan kabar tentang kematian Grevier.


"Sudah jelas ini rencana yang disengaja. Tepat setelah si pangeran berhasil mengalahkan kedua bangsawan dan menduduki istana, seorang pembunuh bayaran berhasil merenggut nyawanya?" Nata menjawab.


"Kami juga mengira seperti itu, Tuan Nata," sahut Vossler yang tampak sependapat dengan Nata.


"Hal ini juga berarti menghilangkan kecurigaan kita terhadap kakak Yang Mulia sebagai dalang dari dikumpulkannya gelang-gelang Scion itu," ucap Nata lagi. Yang membuat Lucia dan yang lain terdiam memikirkan hal tersebut.


"Jadi siapa saja orang-orang yang ada di sekitar Kakak anda yang mungkin untuk dicurigai, Yang Mulia?" Kali ini Lily yang bertanya.


"Apa anda mencurigai Kak Grevier dihianati oleh orang-orang di sekitarnya?" Lucia bertanya ulang untuk memastikan.


"Benar." Kelinci mungil itu menjawab cepat.


"Apa kau memiliki kecurigaan pada seseorang, Lily?" tanya Nata kemudian. Yang sedari tadi memperhatikan Lily yang seperti tengah mencoba memastikan dugaannya.


"Bagaimana dengan si Penasehat Seithr?" jawab Lily dengan pertanyaan.


"Maksud anda Sefier?" Lucia kembali memastikan.


"Benar. Pria Seithr itu punya Aliran Jiwa seorang Magus. Dan rasanya tidak asing bagiku," jawab Lily mencoba menjelaskan alasan dari kecurigaannya.


"Kalau tentang Sefier, jujur aku tidak tahu latar belakangnya. Dan juga bagaimana ia bisa jadi penasehat yang dipercaya oleh paman Albert." Lucia menjawab dengan jujur.


"Dari yang saya dengar, sepertinya Sefier pernah menyelamatkan Yang Mulia Albert saat beliau masih muda," sahut Orland mengambil alih jawaban.


"Namun hanya itu saja yang saya dengar tentang latar belakangnya. Sefier kemudian dipanggil ke istana beberapa bulan setelah Yang Mulia Lucia dipindahkan dari istana ke kota Varun."


"Memang kemisteriusan penasehat Seithr itu cukup terkenal di kalangan istana. Bahkan hingga ke kalangan bangsawan dan militer." Vossler ikut menambahkan.


"Hal itu sudah tidak terlalu penting lagi saat ini. Karena dengan membiarkan sang pangeran meninggal, itu berarti siapapun dia, sudah tidak lagi membutuhkan topeng untuk menutupi rencananya," ucap Nata memotong. "Dan dapat dipastikan, siapapun orang itu, ia akan mulai muncul dengan sendirinya, tak lama lagi."

__ADS_1


"Benar. Karena kemungkinan ia sudah memiliki Alta Larma sekarang," ucap Lily sependapat dengan Nata. "Jadi ia sudah cukup percaya diri untuk keluar."


"Alta Larma... Senjata menakutkan itu," gumam Lucia yang terlihat kuatir dengan dugaan Lily tersebut. Tak beda dengan yang lain.


"Dan menurut anda, apa tujuan orang itu melakukan semua ini? Mengambil alih tahta Elbrasta?" Cornelius mengeluarkan pertanyaan untuk Nata dan Lily.


"Itu mungkin saja. Tapi menurutku sedikit aneh, karena ia seperti sedang melemahkan kerajaan yang akan dikuasainya," jawab Nata kemudian.


"Jadi menurutmu mungkin tujuannya bukan untuk mengambil tahta?" Lucia bertanya. "Lalu untuk apa?"


"Entahlah. Bisa saja untuk menjatuhkan Elbrasta? Mungkin ia memiliki dendam atau semacamnya," jawab Nata memberi kemungkinan lainnya.


"Atau mungkin ia malah ingin membangun ulang Elbrasta. Melihat rencananya memulai agresi ke wilayah Cilum dan Estrinx."


"Kau benar juga. Bisa jadi memang tujuannya untuk menghancurkan Elbrasta yang sekarang." Lucia terlihat mulai kuatir setelah mendapat gambaran dari ucapan Nata tersebut.


"Dan sepertinya rencana orang itu tidak hanya berhenti di kerajaan Elbrasta saja," ucap Vossler menambahi.


"Hal ini akan membawa kekacauan di daratan utara," sahut Cornelius menanggapi.


"Namun tetap kita tidak boleh ikut campur dalam masalah ini dengan begitu saja. Meski ada Elbrasta dibelakang nama Yang Mulia," ucap Orland kemudian yang seperti sedang mengingatkan Lucia.


"Ya, aku tahu itu paman," jawab Lucia cepat. "Selama mereka tidak mengusik kita, dan selama pihak Cilum dan Estrinx tidak meminta bantuan kepada kita, maka kita tidak akan melakukan apapun mengenai hal ini.


"Namun meski begitu kita tetap tidak akan tinggal diam bila ada penduduk yang datang mencari perlindungan kemari," tambah ratu muda itu.


"Saya setuju dengan keputusan tersebut Yang Mulia. Tapi kita tetap harus bertindak hati-hati terhadap para pengungsi yang datang kemari," ucap Cornelius yang memang selalu kuatir bila menyangkut tentang orang-orang yang hendak memasuki wilayah Rhapsodia.


"Dan akan lebih baik bila kita juga mulai bersiap untuk memperkuat daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan daratan utara," ucap Vossler mengutarakan pendapatnya.


"Ya, saya juga setuju dengan usulan tuan Vossler dan tuan Cornelius," ucap Nata kemudian. "Kita harus sudah mulai memperkuat pertahanan di pesisir timur dan Gerbang Utara."


"Itu berarti kita memerlukan tempat lain untuk para pengungsi dari utara. Karena bila masih berada di depan Gerbang Utara sana, maka akan merepotkan kita dan juga membahayakan mereka sendiri." Lucia berucap.


"Mungkin kita bisa menyiapkan tempat di daratan selatan di timur wilayah Ignus yang berbatasan langsung dengan Tanah Bebas Azure?" Nata memberikan masukan.


"Karena kita bisa langsung memindahkan mereka melalui pelabuhan Mado ke pelabuhan baru di tempat itu tanpa perlu membawa mereka masuk melalui Wilayah Pusat."


"Ya, kurasa itu ide yang bagus," sahut Lucia cepat menyetujui masukan Nata. "Kak Cornelius, tolong urus masalah tersebut," lanjutnya kemudian dengan perintah.


"Serahkan pada saya, Yang Mulia," jawab Cornelius dengan cepat.

__ADS_1


"Baru beberapa bulan kita selesai berperang, sekarang masalah lain datang kembali," keluh Lucia kemudian seraya menghembuskan nafas panjang.


-


__ADS_2