
Setelah meninggalkan Alexander dan Eden di Garnisun Pelatihan Senjata Sihir, dan setelah kelompok ksatria dan penyihir yang datang bersama dengan Vossler tadi mengundurkdn diri untuk kembali melajukan tugas dan kegiatan mereka, rombongan Aksa dan Nata kembali melanjutkan perjalanan berkeliling komplek masih ditemani oleh Caspian dan Helen.
"Itu berarti untuk senapan atau pistol bertenaga tekanan angin bisa jauh lebih praktis karena bisa tanpa membawa tabung udara segala, dong? Kalian cukup menggantinya dengan sihir Angin," ucap Aksa saat mereka melewati tanah lapang yang cukup luas dengan papan sasaran terletak dibagian ujungnya. Beberapa orang terlihat sedang membidik menggunakan busur panah, busur silang, senapan, dan varian senjata yang memiliki peluru lainnya.
"Benar seperti itu Tuan Aksa, tapi jenis sihir Angin biasanya hanya dimiliki oleh ras Elf. Dan meskipun Yllgarian atau manusia ada yang mampu menguasainya, namun jumlahnya sangat sedikit," jelas Caspian.
"Oh, benar juga. Jenis sihir Angin tegolong dalam sihir unik, ya? Seperti jenis sihir Penjinak dan Druid. Atau sihir logam miliki Val." Aksa baru sadar mengenai penggolongan jenis-jenis sihir yang pernah ia baca saat berada di perpustakaan kerajaan Elbrasta.
"Jadi hanya Elf yang bisa sihir Angin?" Nata bertanya.
"Tidak juga. Meski ada jenis sihir khusus ras tertentu seperti Sihir Penyelaras suku Azorgia. Tapi selebihnya sihir tidak terikat pada satu jenis ras tertentu," Rafa mencoba menjelaskan. "Contohnya Tuan Vossler. Beliau mampu menggunakan sihir Angin, namun tidak setinggi Nona Yvvone yang sampai bisa membuatnya terbang."
"Oh, aku ingat Tuan Vossler bisa menebas benda tanpa menyentuhnya. Jadi itu karena sihir Angin, ya?" Terlihat Aksa bergumam sendiri.
"Atau sihir unik milik Nona Helen. Yang pada dasarnya adalah sihir logam seperti yang dimiliki Tuan Val. Hanya saja tingkatnya tidak sampai memanipulasi bentuk seperti yang mampu dilakukan oleh Tuan Val. Nona Helen hanya mampu membuat logam tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi," lanjut Rafa.
"Iya, itu benar. Saya hanya dapat membuat logam menjadi sangat ringan." Helen mendukung penjelasan Rafa.
"Wow, kau sampai bisa menyimpulkan bahwa sihir meringankan benda adalah sihir melawan gaya gravitasi planet. Kau memang luar biasa, Ra." Aksa terlihat semakin kagum dan bangga dengan kemampuan Rafa.
"Jadi jenis ras hanya mempengaruhi tingkat kekuatan dari sihir tersebut?" Nata bertanya lagi.
"Bisa jadi seperti itu. Saya belum memahami apakah struktur tubuh tiap ras mempengaruhi Aliran Jiwa."
"Kalau sihir Cahaya miliki Lily, apa termasuk dalam sihir unik juga?" Tiba-tiba Nata teringat akan sihir Lily yang tidak pernah digunakan oleh orang lain.
"Bisa dibilang begitu. Sihir milik Nona Lily tergolong sangat langka. Sihir jenis Cahaya dan Kegelapan mungkin hanya ada satu banding seratus ribu di dunia." Rafa terlihat sangat bangga seolah itu adalah sihir miliknya sendiri.
"Jadi pada dasarnya sihir yang umum dikuasai oleh manusia itu adalah sihir api, tanah, es, petir, dan penyembuh, Nat," ujar Aksa memberi penjelasan kepada Nata.
__ADS_1
"Tapi jenis sihir yang tidak unik itu bisa dipelajari atau setiap orang lahir dengan bakat akan jenis sihir tertentu?" Nata bertanya lagi. Ia tidak ingat apakah pernah menanyakan hal ini kepada Couran saat awal-awal ia tiba di dunia ini.
Sedangkan kali ini mereka mulai memasuki wilayah gudang persenjataan dan tempat di mana Kereta Tempur dan Kereta Penghancur di simpan.
"Setiap orang pada dasarnya bisa menguasai semua jenis sihir. Asal kita tahu bagaimana caranya." Kali ini Luque yang menjawab. "Dulu saat aku masih muda, ada metode pembelajaran Aliran Jiwa yang disebut dengan Neidan. Namun sayangnya metode itu sudah lama hilang."
"Dan sekarang mahluk hidup mempelajari hanya jenis sihir yang mereka berbakat saja," imbuh Rafa kemudian. "Seperti contohnya saya. Bila Anda memperhatikan, saya hanya menggunakan sihir Tanah dan sihir Pelindung. Itu karena saya hanya berbakat pada dua jenis sihir itu saja," tambahnya.
"Oh, jadi manusia tidak hanya memiliki satu jenis bakat sihir saja?" Tampaknya rasa penasaran Nata masih belum terpuaskan.
"Benar. Tapi meskipun ada orang yang memiliki banyak bakat sihir seperti Nona Parpera, tetap saja ada orang yang hanya memiliki satu jenis bakat. Dan bahkan ada yang sangat kecil seperti kaum Getzja."
"Seperti Jean, kan? Dia hanya memiliki satu bakat sihir, kan?" sahut Aksa yang memang sengaja ingin menggoda Jean.
"Sudah, diam saja kau bocah!" sergah Jean cepat.
"Beliau mendapat gelar Penyihir Bulan bukan tanpa sebab. Nona Parpera dapat mengunakan sihir Petir, sihir Api, sihir Tanah, dan Pelindung Sihir dalam tingkatan yang hampir setara."
Nata terlihat kagum mendengar cerita Rafa. Sebelumnya ia memang tidak terlalu tertarik dengan sihir di dunia ini. Berbeda dengan Aksa yang sudah sangat antisias sejak awal.
"Berarti sihir jenis penghancur itu paling pas kalau digabungkan dengan peluru yang memang dirancang untuk rusak atau hancur, dong?" ucap Aksa mengembalikan topik pembicaraan. "Dengan membuatnya menjadi peluru api, peluru es, atau peluru petir," lanjutnya kemudian dengan antusias.
"Benar sekali, Tuan Aksa. Segala jenis sihir bisa di imbuhkan pada sebuah peluru," jawab Rafa membenarkan.
"Wow, jadi sekarang kalian punya Jobs Gunbreaker, dong? Baiklah, setelah ini akan kubuatkan kalian Gunblade yang super badass untuk digunakan," sahut Aksa yang terlihat berapi-api meski ucapannya tidak dapat dimengerti oleh yang lain.
"Hanya saja mengimbuhkan sihir pada peluru itu tidak efektif dan efisien dalam pertarungan yang sesungguhnya," ujar Rafa kemudian.
"Apakah terkendala dengan waktu yang digunakan untuk merapal?" Aksa menduga.
__ADS_1
"Benar. Dan itu baru untuk satu kali tembakan saja. Dengan jedah rapalan di tiap tembaknya, maka lawan akan mudah untuk menghindar atau berlindung dari peluru tersebut."
"Hm... berarti mungkin bisa digunakan untuk pertarungan jarak jauh atau prajurit yang berada di garis belakang. Semacam serangan kejutan atau serangan bantuan." Aksa mengajukan idenya.
"Saya rasa memang cocok sebagai serangan dari garis belakang. Karena sebelum ini Nona Rafa, Nona Ende, dan Nona Yvvone pernah menerapkan satu peluru di imbuhi dengan tiga jenis sihir sekaligus. Dan hasilnya melebihi kekuatan peluru Kereta Penghancur. Sangat menakutkan." Caspian menyela karena mengingat kejadian di mana tembakan sihir Rafa mampu menghabisi puluhan Mugger dan menghancurkan beberapa bangunan sekaligus.
"Benarkah?" Nata terdengar sedikit terkejut.
"Benarkah? Aku ingin kelihatnya, Ra. Mana Nona Ende, Nona Parpera? Ayo, aku ingin meliat Magic Gunner beraksi." Aksa terlihat semakin berapi-api mendengar cerita dari Caspian.
"Sabar, Tuan Aksa. Sekarang ini Nona Parpera sedang berada di Kota Selatan. Sedang Nona Ende sedang menjalani Permintaan Jasa keluar wilayah. Mungkin besok kita bisa minta Nona Parpera untuk menunjukannya pada Anda." Rafa mencoba menenangkan Aksa.
"Ah, aku sudah tidak sabar ini," sahut Aksa sambil mengacak-acar rambutnya sendiri dengan kedua tangan.
-
Tampak dua Kereta Besi mendekat saat rombongan Aksa dan Nata hendak kembali ke Kereta Besi mereka untuk melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Ellian di Bukit Waduk.
Terlihat Cornelius keluar bersama Constine dan seorang perempuan Narva. Bersamaan dengan itu turun dari Kereta Besi satunya, Leon, anggota dari Bintang Api yang mengurus cabang di Kota Utara.
Dan akhirnya mau tidak mau mereka pun menunda rencana dan menuju ke gedung pertemuan komplek Garnisun untuk berbincang.
Diketahui bahwa perempuan Narva yang datang bersama Cornelius itu adalah tunangannya yang bernama Iris. Seorang bangsawan dari salah satu keluarga bangsawan Elbrasta yang pindah ke kerajaan Rhasodia tiga tahun yang lalu.
.
Setelah berbincang tak lebih dari 20 menit, rombongan Aksa dan Nata pun akhirnya meninggalkan komplek Garnisun tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke wilayah Bukit Waduk.
-
__ADS_1