Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
21. Daftar Pelatihan


__ADS_3

"Untuk tanda pengenal, kami sudah membuat lempengan tipis logam Dracz selebar 2 ruas jari dan sepanjang telunjuk," ujar Maeve menjawab pertanyaan Aksa tentang bagaimana Rhapsodia melakukan pemeriksaan untuk mencegah penyusup masuk.


"Dalam lempengan tersebut dicetak nomor pendaftaran penduduk dan simbol khusus pekerjaan. Yang hanya diketahui oleh petugas pencatatan perijinan dan orang-orang yang memilikinya," tambah gadis berambut pendek itu lagi.


Mereka berdelapan berbincang mengelilingi meja panjang di sebelah perapian di ruang kerja tersebut.


Ruangan itu memang terbilang luas dengan tiga lemari kayu besar berisi buku-buku dan gulungan kertas berdiri berjajar menghadap pintu masuk di sebelah meja kerja Maeve dan Carl.


Sedang di sisi kanan pintu, tepat di sebelah tungku perapian, terdapat 2 jendela kaca berbingkai lebar yang menghadap lurus ke arah dermaga tempat kapal-kapal berlabuh.


Aksa, Luque, dan Rafa duduk berjajar di sebuah kursi panjang, sementara Lily duduk sendiri di kursi lain di sebelah kiri nya.


Anna duduk di kursi sebelah kanan yang berhadapan langsung dengan Lily, dan Maeve duduk di kursi di hadapan kursi panjang tempat Aksa duduk.


Sementara itu Nikolai duduk di kursi tambahan di sebelah kursi Anna, dan Carl duduk di kursi lain di antara kursi Maeve dan kursi Lily.


"Bagaimana kalau tanda pengenal itu hilang atau dicuri oleh orang lain, dan disalah gunakan?" Aksa bertanya lagi.


"Kami melakukan pencatatan mendetail terhadap penduduk kerajaan ini. Kami bahkan melukis sketsa wajah mereka agar dapat dibandingkan. Upaya untuk mengantisipasi penyalah gunaan tanda pengenal tersebut. Terutama bagi para pedagang dan orang-orang yang akan keluar meninggalkan wilayah ini." Kali ini Carl yang menambahi.


"Hm, kurasa itu sudah cukup detail." Aksa mengangguk paham. "Kalau untuk mereka yang bukan penduduk wilayah ini? Apa mereka benar-benar dilarang memasuki tanah ini?" tanyanya kemudian.


"Benar, Tuan Aksa. Untuk pedagang yang berasal dari luar, mereka hanya diperbolehkan menginjak wilayah Dermaga ini. Tidak diperbolehkan melewati atau memasuki bahkan wilayah penduduk Kota Barat sekalipun." Carl kembali menjelaskan.


"Seperti itu ternyata. Baguslah kalau memang begitu. Kurasa sistem keamanan di tempat ini memang sudah cukup ketat." Aksa menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil melipat tangan. Terlihat cukup puas dengan jawaban atas pertanyaannya.


"Kami belajar dari pengalaman." Tiba-tiba Rafa menimpali sambil terdengar menghembuskan nafas panjang.


"Ya. Kita belajar dengan cara yang keras," sahut Anna dengan senyum getir di wajahnya.


-


Sementara itu di Garnisun Utara, Aksa dan para petinggi militer mengadakan pertemuan untuk membahas masalah pembentukan kelompok prajurit baru.


"Maaf, Tuan Nata? Ini daftar pelatihan untuk prajurit kita?" Caspian memberikan tanggapan tidak mengerti setelah membaca daftar yang diterima dari Nata beberapa saat sebelumnya.

__ADS_1


"Benar." Nata menjawab sambil mengangguk kecil.


Mereka berduabelas duduk mengelilingi meja oval di salah satu ruang pertemuan di Garnisun tersebut. Selain Nata dan Caspian, ada juga Lucia, Jean, Helen, Vosler, Cedrik, Margaret, Shuri, dan tiga pemimpin pasukan Yllgarian. Jaguar si Macan Kumbang, Lexus si Banteng, dan Evora si Burung Hantu.


"Sebanyak ini? Apa para prajurit mampu menyerap semuanya, Nat?" Kali ini Lucia yang terdengar ragu dengan gagasan Nata setelah mendapati daftar tersebut.


"Dan lagi, apakah keahlian dalam daftar ini penting untuk dimiliki oleh para prajurit?" sahut Jean menambahi. "Mungkin pelatihan pengobatan dan penanganan luka memang dibutuhkan, tapi ini pelatihan cara jatuh dan merangkak, apakah ini serius?" lanjutnya dengan keluhan.


"Saya juga tidak mengerti mengapa prajurit harus mendapat pelatihan cara jatuh dan merangkak? Apa memang ada cara jatuh dan merangkak yang benar?" Helen ikut berpendapat.


"Daftar ini terlihat lebih seperti catatan konyol buatan Aksa." Jean masih terlihat sulit untuk memahami kenapa hal tersebut masuk dalam daftar pelatihan prajurit.


"Tenang saja Tuan-tuan dan Nona-nona sekalian. Pelatihan dalam daftar itu semuanya diperlukan prajurit kita. Setidaknya untuk strategi serangaan kita berikutnya," jelas Nata mencoba menyakinkan yang lain.


"Oiya, dan juga rencana serangan itu." Lucia seperti baru saja diingatkan akan sesuatu setelah mendengar ucapan Nata.


"Ya, seperti yang Yang Mulia Ratu kuatirkan, sebagian prajurit pasti akan kesulitan untuk menerima pelajaran ini dalam waktu yang relatif pendek," ujar Nata menjedah. "Itu hal wajar. Karena mereka tidak memiliki kemampuan yang sama dalam mempelajari hal baru. Dan bila memang ada yang tertinggal, pasti juga akan ada yang dapat mengimbanginya," tambahnya yang ditanggapi dengan anggukan oleh beberapa orang yang mulai paham.


"Itu berarti kau tidak memerlukan mereka semua?" Tanya Lucia dengan wajah butuh penjelasan.


"Enam puluh orang?" Lucia terlihat seperti sedang berpikir. "Apa hanya dengan enam puluh orang itu cukup, Nat?"


"Itu karena kita akan membentuk kelompok kecil yang berisikan dua belas orang saja."


"Itu berarti kita hanya memerlukan lima kelompok saja?" Tanya Cedrik memastikan. Seolah ia baru saja mendengar sebuah lelucon.


"Benar. Kita hanya memerlukan lima kelompok prajurit elit itu saja. Setidaknya untuk menjalankan strategi yang telah ku rencanakan." Nata menjawab dengan yakin seperti biasa.


Orang-orang yang ada ditempat itu mulai saling memandang dengan ekspresi canggung. Mereka terlihat ragu namun juga terlihat tenang mendengar perkataan penuh percaya diri dari Nata.


Alasan dari reaksi mereka itu adalah karena sudah hampir 5 tahun orang-orang tersebut tidak bertemu dengan Nata. Dan banyak hal terjadi dalam kurun waktu tersebut. Banyak kejadian yang telah mereka alami, yang membuat mereka kembali tidak terbiasa dengan rencana Nata yang terdengar tidak lazim dan cenderung tidak masuk akal itu.


Terutama Lucia. Gadis itu terlihat serius menyimak penjelasan dari Nata. Ia terus menimbang semua yang ia dengar dan kemudian mempertanyakannya ulang.


"Dan untuk apa kau ingin membentuk kelompok kecil? Apa kau akan menggunakan mereka untuk menyusup dan melakukan sabotase?" Lucia memecah kecanggungan suasana dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Benar. Tidak mungkin membuat kelompok sekecil itu untuk berperang langsung dalam medan tempur. Mereka akan kalah jumlah meski memiliki kemampuan di atas rata-rata." Caspian ikut menambakan dengan analisanya.


"Iya dan bukan," jawab Nata dengan senyuman.


"Maksudnya?"


"Mereka akan dirancang untuk menjadi prajurit segala medan. Mereka dapat ditugaskan sebagai penyusup untuk sekedar melakukan pantauan atau melakukan sabotase. Namun tetap masih memungkinkan untuk ikut masuk ke medan tempur secara langsung, meski dengan cara bertarung yang berbeda." Nata menjelaskan.


"Apakah itu mungkin? Membentuk prajurit segala medan hanya dalam waktu 6 bulan?" Celetuk Shuri yang tanpa sengaja menyuarakan pemikirannya.


"Kau mau mempersenjatai mereka dengan senjata aneh apa lagi, bocah?" Timpal Jean dengan nada yang seperti sedang menuduh.


"Lagi pula bila memang hal itu mungkin, bagaimana dengan rantai perintahnya? Kelompok kecil memang memiliki kelebihan dalam bergerak. Namun mereka memiliki kekurangan dalam hal berkomunikasi dan menerima perintah dari Jendral Besar," terdengar Caspian menyela.


"Apa Anda berniat membuat mereka memiliki kebebasan bergerak? Atau menempatkan pengambil keputusan dalam setiap kelompok tersebut?" Kali ini Vossler yang urun bicara.


"Pengamatan Anda berdua memang sangat tajam, Tuan Caspian, Tuan Vossler. Tapi kembali lagi, jawabannya Iya dan Bukan," jawab Nata yang terlihat puas setelah mendengar pertanyaan dari Caspian dan Vossler tersebut.


"Kita memang akan memilih 1 pemimpin di tiap kelompoknya. Tapi orang itu hanya akan memiliki wewenang terbatas. Itu karena rantai perintah masih akan terpusat," lanjut Nata menjelaskan.


"Saya semakin tidak paham, Tuan Nata. Bagaimana mungkin kita mempertahankan rantai perintah bila mereka bergerak terpisah dan berjauhan?" timpal Vosller.


"Atau jangan-jangan kau memiliki cara untuk melakukan komunikasi antar kelompok meski mereka terpisah dan berjauhan?" Tebak Lucia menyela percakapan.


"Oh, benarkah? Apa itu dengan menggunakan tanda bendera dan cahaya seperti yang kita gunakan di Menara Jaga?" Cedrik menambahi.


"Kalau memang dengan menggunakan cara tersebut, bukankah itu kurang praktis? Belum lagi kemungkinan penerima gagal menerima pesan dengan baik. Atau bisa-bisa malah bocor ke pihak lawan," sela Helen kemudian ikut mengutarakan pendapatnya.


"Jangan kuatir. Saya dan Aksa akan membuat alat komunikasi yang baru. Yang tanpa mengunakan bendera atau cahaya," jawab Nata dengan senyum penuh percaya diri.


"Benarkah? Jadi menggunakan apa?"


"Sulit dijelaskan. Tapi Anda sekalian akan tahu setelah alat tersebut selesai dibuat."


Semua orang kembali saling pandang dan kemudian tersenyum. Harapan mereka mulai kembali.

__ADS_1


-


__ADS_2