Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
10. Wilayah Peternakan


__ADS_3

Matahari sudah sejajar dengan puncak dinding bukit di sisi barat saat Kereta Besi Lucia berhenti di depan pekarangan rumah Selene.


Sama seperti saat tiba di tempat Ellian tadi, tampak Selene dan beberapa keluarganya, juga para pekerja lama di tempat itu, sudah menunggu kedatangan Aksa dan Nata di depan rumah Selene. Bahkan Serigala Perak Selene pun ada di tempat itu, ikut menunggu.


Orang-orang itu segera menghambur menyapa dan menyalami begitu dua pemuda itu sudah memasuki pekarangan depan rumah Selene yang sekarang tampak memiliki pagar yang layak.


Bangunan pendingin berbentuk kerucut raksasa serta tangki-tangki besi yang kini sudah tidak terlihat mengkilat lagi itu, masih berdiri di kejauh di belakang rumah Selene. Sementara di sebelah baratnya terlihat wilayah suaka hewan berpagar tinggi, yang kini tampak sudah ditumbuhi banyak pohon.


Tidak membuang waktu Aksa dan Nata segera berkeliling wilayah peternakan tersebut. Yang sekarang kandang-kandang hewan ternak terlihat dibangun lebih bagus dan terlihat bersih. Sementara sisanya tidak terlalu banyak perubahan kecuali ukuran dan jumlahnya saja yang kini bertambah.


"Jadi bagaimana dengan pengolahan Biogas cair selama lima tahun terakhir ini, Tuan Selene?" tanya Nata saat mereka tiba di komplek bangunan Pendingin.


"Sekarang ini produksi dari Biogas cair dan juga bubuk mesiu sudah tidak lagi saya pegang. Saudara saya yang sekarang mengurusinya," jawab Selene yang berjalan di sebelah Nata diikuti Serigala Perak nya. "Itu karena saya sudah tidak bisa menanganinya sendiri. Bahkan untuk beberapa jenis hewan komoditas di luar bahan pangan juga diurus oleh orang lain. Tapi tetap saja mereka masih melapor kepada saya," tambahnya.


"Oh, sekarang Anda sudah jadi atasan, ternyata?" Aksa menyahut dari sebelah Serigala Perak Selene terlihat sibuk mengamati sekelilingnya.


"Bukan begitu. Karena pada dasarnya saya memang hanya mampu dan tertarik mengurusi hewan dan mengembang biakannya saja," jawab Selene dengan cepat. "Sedang untuk masalah; hewan ini bisa menghasilkan benda itu, atau hewan itu berguna untuk hal-hal seperti demikian, semua itu bukanlah minat saya yang sebenarnya," lanjutnya dengan tertawa kecil.


"Ya, saya dapat memahaminya, Tuan Selene," balas Nata juga dengan tawa kecil. "Lalu bagaimana dengan Suaka Anda sekarang?" lanjutnya dengan pertanyaan.


"Oh, tempat itu sudah semakin ramai sekarang. Beberapa tahun ini saya sudah menambahkan beberapa hewan yang saya tahu sedang diancam kepunahan," jawab Selene yang terlihat bersemangat saat mereka sudah mulai beranjak menuju ke kediamannya. Langit sudah semakin gelap. Matahari sudah tertutup jajaran bukit di sisi barat.


"Dan seperti yang Anda lihat. Kelompok Druid Botanikal kita telah berhasil melakukan pengembang biakan beberapa jenis tumbuhan dalam wilayah itu untuk membuat lingkungan yang menyerupai habitat asli hewan-hewan tersebut," tambah Selene lagi saat mereka sudah kembali berada di depan rumahnya menatap ke arah tempat suaka tersebut.


"Druid memang luar biasa," celetuk Aksa kagum.


"Wah, syukurlah kalau memang begitu. Saya senang mendengarnya," ujar Nata sebelum kemudian memasuki rumah Selene.

__ADS_1


.


"Ini adalah daftar hewan yang ada dalam suaka tersebut. Beserta keterangannya." Selene memberikan buku kecil yang ia ambil dari lemarinya kepada Aksa.


"Wah, banyak sekali ternyata. Dan juga sangat beragam. Tapi mengapa hampir tujuh persepuluhnya adalah Hewan Mistik, Tuan Selene? Apa hewan biasa susah hidup berdampingan dengan hewan Mistik?" Aksa mengajukan pertanyaan. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu rumah Selene. Namun hanya bertiga saja. Lucia dan yang lainnya sedang berbincang dengan yang lain di pekarangan depan.


"Tidak juga. Hewan Mistik dapat hidup berdampingan dengan hewan biasa. Hanya saja itu karena memang banyak hewan Mistik yang diambang kepunahan karena diburu untuk dijadikan totem dan sejenisnya." Selene menjawab seraya menyuguhkan dua gelas teh kepada Aksa dan Nata.


"Aku jadi ingin melihat isi suaka tersebut. Apakah berbahaya?" Tanya Aksa kemudian. Meski wajahnya terlihat ragu, namun matanya terlihat berbinar-binar.


"Jangan kuatir, Anda akan baik-baik saja selama bersama saya," jawab Selene dengan percaya diri.


"Melegakan," sahut Aksa masih terdengar ragu.


"Tapi lebih baik Anda melihatnya saat pagi hari. Karena hanya sedikit jenis hewan malam di suaka tersebut. Dan di waktu seperti ini rata-rata hewan-hewan itu pasti sudah kembali ke sarang mereka masing-masing." Selene menambahi.


"Untuk saat ini kami hanya menjual bagian tubuh mereka tanpa diolah. Biasanya bagian-bagian yang berharga untuk membuat Totem atau senjata dan peralatan Mistik," jawab Selene.


"Oh, begitu..." ucapan Nata kemudian dipotong oleh Lucia yang memasuki ruangan bersama yang lain.


"Sepertinya kita harus segera kembali ke kota Tengah. Hari sudah sore sekarang," ucap Lucia kemudian.


"Anda bisa pergi duluan, Yang Mulia. Karena mungkin kami akan berbincang sedikit lama. Kami akan kembali denhan Kereta Uap nanti. Jadi jangan kuatir." Nata menjawab.


"Kalian juga harus ikut. Karena nanti malam kita akan mengadakan acara makan malam untuk merayakan kedatangan kalian." Lucia membalas.


"Acara makan malam untuk kami? Tidak perlu, Yang Mulia. Anda seperti tidak mengenal kami saja." Nata buru-buru menolaknya.

__ADS_1


"Tapi itu adalah bentuk rasa syukur kami karena kalian sudah kembali. Dan juga kami akan mengundang yang lain. Jadi Kalian tidak harus berkeliling sendiri seperti hari ini."


"Saya menghargai niatan Anda dan yang lain, Yang Mulia. Tapi kami melakukan ini memang sekaligus ingin melihat perkembangan dan situasi di setiap wilayah." Nata mencoba memberi penjelasan kelada Lucia. "Dan bila memang sekedar ingin bertemu, kita bisa mengadakan rapat atau sejenisnya. Tidak perlu sampai harus sebuah acara makan malam segala."


"Aku juga setuju dengan Nata. Acara makan malam terlalu biasa untuk menyambut Utusan Dewa seperti ku. Jadi kita harus mengadakan sebuah Festival," sahut Aksa tiba-tiba. Yang membuat Nata menggeleng pelan seraya menghembuskan nafas pasrah.


"Festival?" Terlihat Lucia memastikan.


"Iya, tapi besok saja kita bicarakan lagi, setelah kami sudah benar-benar selesai berkeliling wilayah," sela Nata dengan cepat.


.


Akhirnya setelah berbincang lebih lama lagi rombongan Aksa dan Nata pun meninggalkan kediaman Selene. Langit sudah benar-benar gelap. Dan lampu di sepanjang jalan di depan rumah Selene sudah terlihat menyala. Yang tidak hanya bertugas menerangi jalanan, namun sekaligus menghiasi dan membuatnya terlihat cantik.


"Tapi, ngomong-ngomong, di mana kita akan tidur malam ini, Nat? Di penginapan Kota Tengah?" tanya Aksa yang baru saja mengingat bahwa tenda mereka bukan lah milik mereka lagi sekarang.


"Apa yang kalian bicarakan? Jelas di tenda kalian sendiri, lah," sahut Luque saat mereka sedang berjalan menuju Kereta Besi Lucia.


"Koreksi. Itu tenda kalian sekarang," balas Aksa dengan cepat.


"Tenang saja, kami membuat sekat untuk memisahkan ranjang kalian berdua dengan ranjang kami berdua," jawab Luque mencoba untuk menjelaskan.


"Tapi meskipun begitu..." Nata terlihat tidak yakin dengan ucapan Luque tersebut.


"Aku tidak akan mengijinkan kalian untuk bermalam di tempat lain. Karena tenda itu adalah rumah kalian." Luque berucap biasa namun dengan wajah yang terlihat seperti sedang mengancam.


"Baiklah, Nona Luque. Kami akan tidur di tenda," jawab Nata terlihat pasrah. Mengikuti Aksa yang sudah menyerah untuk mendebat semenjak Luque membalas ucapannya tadi.

__ADS_1


-


__ADS_2