
Dan karena dermaga tersebut cukup kecil dan hanya mampu menampung perahu dan kapal nelayan saja, maka Kapal Besi Nata membuang jangkar sebelum perairan dangkalnya.
Kemudian dengan menggunakan perahu kecil bermotor, rombongan Nata berlabuh ke demarga tersebut.
Tampak beberapa utusan Lugwin sudah menunggu di tempat tersebut.
.
"Oh, tuan Piere? Anda sampai datang langsung kemari menunggu di dermaga ini?" ucap Nata saat mendapati sosok yang ia kenal ada diantara orang-orang yang sedang menunggu kedatangannya.
"Apa anda sedang berbicara sarkas, tuan Nata? Malahan Arcdux sendiri yang seharusnya menyambut anda di tempat ini kalau tidak karena situasi yang seperti sekarang," balas Piere seraya menjabat tangan Nata.
Sekarang Piere adalah seorang Pejabat Kerajaan yang bertugas mengurusi masalah diplomatik di luar Kerajaan Estrinx.
"Tidak perlu sampai seperti itu. Memang siapalah kami ini sampai Arcdux atau bahkan orang seperti anda harus menyambut kami di tempat ini," ucap Nata membalas jabat tangan Piere.
"Sekarang anda jadi mahir berbasa-basi, tuan Nata." Piere menjawab.
"Benar, tuan Piere. Karena itu salah satu cara untuk bertahan hidup di lingkungan bangsawan," ujar Nata seraya tertawa.
"Haha... Benar-benar," balas Piere menanggapi.
Dan perbincangan pun berlangsung hingga mendekati tengah hari. Disaat awak kapal selesai menurunkan semua barang bawaan Nata ke dermaga tersebut.
"Bila semuanya sudah siap, lebih baik kita segera berangkat. Di musim-musim seperti sekarang, suhu di wilayah ini sering menurut dengan cepat menjelang petang," ujar Piere memberi saran.
"Oh, baiklah kalau begitu." Nata menjawab.
"Kami hanya bisa menyiapkan 5 kereta kuda, mencoba memenuhi permintaan dalam pesan yang kami terima sebelum ini. Semoga saja barang-barang anda muat," ucap Piere setelah melihat tumpukan peti kayu yang diturunkan dari Kapal Besi.
"Oh, benar. Maaf merepotkan." Nata terlihat meminta pemakluman.
"Bukan masalah."
Dan kemudian Piere pun mengantar rombongan Nata menuju ke kereta kuda yang berada di luar dermaga.
Lima kereta kuda yang telah disiapkan tersebut hampir tidak muat membawa seluruh barang bawaan Nata.
Sampai trio Pemburu dan tiga anggota Bintang Api pun harus menaiki 3 kuda dan berarak bersama rombongan kereta kuda tersebut.
"Maaf bila perjalanan ini tidak nyaman, tuan Nata, nona Lily. Karena di wilayah ini hanya kereta kuda seperti ini lah alat angkut paling mewah yang bisa kami sediakan," ucap Piere saat sudah berada dalam Kereta Kuda bersama Nata dan Lily.
__ADS_1
"Tidak ada bedanya dengan wilayah Rhapsodia, tuan Piere," jawab Nata.
"Disini tidak ada Kereta Besi, ataupun Kereta Uap. Terlebih Kapal Udara," ucap Piere seraya tertawa kecil.
Yang kemudian dibalas Nata juga dengan tertawa kecil.
"Anda tidak menjawab itu mengindikasikan kebenaran yang ditutupi atau kebenaran yang tidak mau diakui secara langsung?" timpal Piere dengan pertanyaan.
"Anda memang pantas ditugasi mengurus masalah diplomatik dengan wilayah luar, tuan Piere," ucap Nata yang menghindari menjawab pertanyaan Piere.
"Tapi perjalanan dengan menggunakan kereta kuda di wilayah ini, membuat saya kembali mengenang masa lalu," lanjut pemuda itu mengalihkan tema pembicaraan.
"Saya rasa anda akan lebih bernostalgia lagi setelah tiba di desa Dyms," balas Piere kemudian.
"Ya, saya tidak sabar untuk melihat desa itu lagi."
-
Setelah 30 menit berkendara akhirnya rombongan Nata tiba juga di Desa Dyms.
Dari jauh terlihat beberapa prajurit sedang berjaga di depan gerbang desa tersebut.
Dan diantara para prajurit itu terlihat sosok Lugwin berdiri menanti kedatangan Nata dan Lily bersama beberapa orang lainnya.
"Senang akhirnya bisa bertemu lagi, Yang Mulia Arcdux," balas Nata seraya membungkuk kecil ke arah Lugwin. Memberi hormat dengan sopan.
"Senang bisa berjumpa kembali Yang Mulia Arcdux." Lily pun juga melakukan hal serupa.
Tak beda dari Lucia, sosok Lugwin kini juga terlihat jauh lebih dewasa dibanding terakhir Nata melihatnya.
Sekarang pemimpin Kerajaan Estrinx itu terlihat lebih anggun, tenang, dan elegan. Meski pun begitu kecantikannya masih tidak berubah.
Mengenakan pakaian kesatria bangsawan berwarna biru gelap dengan pelindung logam berwarna putih perak di beberapa tempat, karisma wanita itu membuat Nata terkesima.
Selain Lugwin terlihat pula Matiu dan Hans diantara beberapa bangsawan lain yang belum Nata kenali.
"Tuan Nata, Nona Lily," sapa Matiu dan Hans secara bergantian. "Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda berdua lagi."
"Saya juga senang bisa bertemu anda sekalian." Nata membalas.
"Dan tampaknya lima kereta kuda yang kami siapkan nyaris tidak cukup untuk membawa barang bawaan anda, Tuan Nata." Matiu berucap setelah melihat empat sisa kereta yang datang bersama Nata itu berisi penuh dengan peti-peti kayu.
__ADS_1
"Aku pikir surat yang meminta untuk menyiapkan banyak alat angkut itu hanya gurauan saja. Ternyata anda benar-benar mengisi seluruh kereta dengan barang bawaan anda." Lugwin menambahi.
"Maaf bila saya merepotkan," ucap Nata kemudian. "Tapi hampir setengah lebih dari peti kayu tersebut adalah hadiah untuk wilayah ini," tambahnya kemudian seolah sedang mencari alasan.
"Oh, sekarang anda sudah terdengar seperti seorang duta besar saja, tuan Nata." Matiu merespon. Yang hanya di balas dengan tawa oleh Nata.
"Mari, mari, kita masuk."
.
Rombongan Nata bersama rombongan Lugwin pun memasuki desa Dyms. Berjalan kaki menyusuri jalanan utama desa tersebut.
Cukup banyak yang berubah dari yang diingat Nata tentang desa itu.
Yang jelas terlihat adalah pembangunan fasilitasnya. Meski tak setara Kotaraja, namun jauh lebih baik dibanding sebuah desa pelosok seperti saat pertama kali Nata bertandang.
Dan juga kediaman sang Oracle kini dibangun sedemikian rupa sehingga terlihat lebih seperti sebuah tempat ibadah.
"Kami masih menjaga kediaman anda di ujung bukit sana, Nona Lily. Anda sekalian bisa menggunakannya selama berada di desa ini." Lugwin berucap di tengah perjalanan menyusuri desa tersebut.
"Oh, terima kasih. Saya tidak mengira kediaman saya masih tetap ada sampai sekarang." Lily terlihat tidak menyangka.
Dan rombongan mereka pun menuju ke rumah Lily yang lama itu.
Tak banyak orang berlalu-lalang di desa itu sekarang. Entah disebabkan karena kehadiran Lugwin, atau memang begitulah keadaan desa itu setiap hari.
.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di lahan tempat tinggal Lily yang lama di tebing sisi timur desa.
Bangunan rumah kayu itu masih berdiri, namun terlihat sudah mengalami pemugaran disana sini sehingga terlihat lebih layak huni dan artistik.
Mengingatkan Nata pada sebuah Villa musim panas di dunianya.
"Wah, rumah ini jadi lebih bagus dari yang ku ingat," ucap Nata menanggapi.
Sedang Lily hanya mengangguk seolah menyetujui keputusan untuk melakukan pemugaran pada tempat tinggalnya itu.
"Kami harus membenahinya karena bila dibiarkan seperti mana aslinya, maka bangunan tersebut tak akan bertahan oleh waktu dan cuaca," ucap Matiu memberikan alasan.
"Ya, keputusan bagus," sahut Nata setuju.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita masuk. Anda sekalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."
-