Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
19. Pedang Api


__ADS_3

Rombongan besar yang hendak melihat aksi Parpera tadi, kini sudah kembali berada di dalam gedung. Menggerombol di area pelatihan pedang.


Sedangkan gadis Morra dengan topi kerucut biru gelap itu sudah bersiap dengan sebuah pedang di tangannya. Berdiri di hadapan boneka kayu berlapis jerami.


Pedang pipih sepanjang lengan pria dewasa yang terbuat dari campuran besi dan arang itu, diangkat ke depan menghunus ke arah boneka kayu tadi.


Yang lain berdiri menyaksikan dari belakang gadis itu dalam jarak yang aman.


Kemudian terlihat Parpera mulai melakukan rapalan, dan kali ini tidak ada cahaya berbentuk lingkaran yang muncul. Namun tampak bilah pisau pedang tersebut mulai diselimuti oleh lidah api.


"Oh, seperti itu ternyata," ucap Nata yang tidak menyangka bahwa pedang api yang dimaksudkan akan terlihat seperti itu.


"Terlihat seperti peralatan yang sering digunakan para penari api," sahut Aksa yang tidak terkesan melihat pedang api tersebut.


Parperan berjalan mendekati boneka kayu yang biasa digunakan untuk berlatih menebas pedang itu. Kemudian dengan gerakan mengayun yang lemah, Parpera menyabetkan pedang apinya ke arah boneka kayu tersebut.


Dan hanya dengan sekali tebas, jerami yang membalut boneka kayu itu langsung hangus terbakar. Mengikuti pola sabetan Parpera sebelumnya.


"Hm.. jelas akan membakar jeraminya. Tapi tidak bagian kayunya." Aksa memberi penilaiannya. Wajahnya terlihat sedikit kecewa. Karena ia berharap tinggi dari pedang sihir tersebut setelah melihat bagaimana peluri sihir tadi bekerja.


"Benar. Karena panas apinya tidak terlalu tinggi." Rafa menimpali.


"Apa Anda bisa menambahkan panasnya lebih tinggi lagi, Nona Parpera?" pinta Nata kemudian dengan sedikit berteriak kepada Parpera.


"Bisa. Tapi hawa panasnya akan terasa oleh pengguna. Atau orang yang berada di sekitarnya. Seperti ini," sahut Parpera yang kemudian melakukan rapalan sekali lagi.


Parpera mengarahkan posisi pedangnya menjauh dari tubuh. Dan terlihat lidah api yang membalut mata pedang tersebut kian bertambah besar dan liar.


"Oh, seperti obor sekarang," celetuk Aksa seraya mengerutkan dahinya.


"Bagaimana bisa digunakan untuk menyerang bila memegang pedangnya saja sudah sulit seperti itu," ucap Nata yang bukan kepada siapapun.


Merasa tidak tahan lagi dengan hawa panas dari arah tangannya, Parpera dengan cepat menusukan pedangnya ke arah boneka kayu tadi.


Seketika seluruh jerami yang ada di sekeliling boneka kayu tersebut terbakar. Tersambar lidah api dari pusat tusukan pedang tadi.


"Wow, spektakuler," ucap Aksa terdengar sinis.

__ADS_1


Dengan cepat perempuan penyihir itu menarik pedangnya dari boneka kayu tersebut, kemudian mengayunnya ke bawah untuk mematikan api di bagian bilahnya.


Terlihat bilah pedang tersebut mengeluarkan asap samar setelah apinya lenyap. Warna bilahnya yang tadi mengkilat, kini terlihat hangus dan menjadi kusam.


"Dan sekarang senjata ini sudah tidak sekuat sebelumnya," ucap Parpera yang berjalan mendekati rombongan penonton. "Biar Tuan Vossler yang mengujinya," tambahnya seraya menyerahkan pedang tersebut kepada Vossler.


Vossler menerimanya dan kemudian berjalan mendekati seorang Yllgarian Macan Kumbang di ujung barisan.


Setelah memberikan perintah, Yllgarian tersebut segera memasang kuda-kuda bersiap, mencabut pedangnya, kemudian menebaskannya ke arah Vossler.


Dengan cekatan Vossler menangkis tebasan tersebut dengan pedang pemberian Parpera tadi.


Klang! Dan ujung dari bilah pedang Vossler patah.


"Harusnya pedang baru buatan Bintang Timur patah setelah seratus sampai seratus lima puluh hantaman." Vossler memberi informasi.


"Ya, saya mengerti," jawab Nata seraya mengangguk paham.


"Jangankan merusak senjata, dengan sihir seperti tadi, yang ada malah merusak penggunanya kalau sering digunakan," sahut Aksa menimpali.


"Akan lebih efisien lagi kalau kita tidak menggunamannya sama sekali," ucap Aksa sinis.


"Apa dalam sihir api seperti itu penggunanya dapat memanipulasi tingkatannya?" Nata bertanya kepada Parpera.


"Memanipulasi tingkatannya?" Parpera tidak mengerti pertanyaan Nata.


"Apa maksud Anda merubah bentuknya menjadi bola api atau panah api?" Rafa mencoba memastikan pertanyaan Nata.


"Bukan. Maksud saya suhunya. Memanaskannya sampai berubah warna." Nata mencoba menjelaskan. "Karena yang tadi saya lihat, Nona Parpera hanya memperbesar apinya saja. Dan karena itu hawa panasnya juga ikut menyebar ke pengguna," lanjutnya kemudian.


"Saya tidak mengerti apa yang Anda maksudkan, Tuan Nata." Terlihat Parpera mengernyitkan dahinya.


"Maksud Nata itu yang seperti api biru," sahut Aksa tiba-tiba.


"Api biru?" Rafa dan Parpera bertanya dengan wajah terlihat bingung, seolah mewakili sisa orang yang ada di tempat itu.


"Kalian tidak pernah melihatnya?" Aksa bertanya balik dengan wajah tidak percaya.

__ADS_1


"Kami belum pernah melihatnya." Parpera menjawab cepat.


"Api itu biasanya sering ada di gunung berapi yang punya banyak gas beleran," jawab Aksa kemudian. "Oh! Kalau tidak, nanti coba kuminta Val membuatkan alat untuk membuat api biru itu," lanjutnya lagi.


"Anda bisa membuat api berwarna biru?" Parpera sedikit terkejut, namun juga terlihat bersemangat mendengar ucapan Aksa.


"Besok-besok kalau sudah jadi akan kutunjukan," jawab Aksa menjanjikan.


"Saya tidak sabar menantikannya, Tuan Aksa," balas Parpera yang terlihat benar-benar ingin melihat api biru tersebut.


"Dan mengenai hal sebelumnya, jadi apa yang Anda maksud dengan meningkatkan suhu dan bukan memperbesar api itu tadi, Tuan Nata?" Parpera yang merasa tertarik dan penasaran melanjutkan pertanyaannya kepada Nata. "Bukankah panas api meningkat dengan semakin membesarnya api?"


"Benar. Tapi panas api bisa meningkat tanpa harus menjadi besar. Kita bisa membuat lidahnya tidak berkobaran dengan liar." Nata mencoba menjelaskan.


"Bentuk lidah api bisa dirubah? Saya tidak pernah tahu tentang hal tersebut." Kali ini Rafa yang ikut merasa penasaran.


"Ya, sebenarnya bila kita mengetahui bagaimana api bekerja, kita bisa memanipulasi bentuknya dengan memberikan tekanan pada oksigen yang dibakarnya." Aksa menyahut mencoba untuk memberi penjelasan.


"Oh, saya mengerti," sahut Rafa kemudian sambil mengangguk kecil.


"Tidak. Saya tidak mengerti. Memang bagaimana cara menambahkan tekanan pada api? Dan apa itu oksigen?" timpal Parpera cepat.


Sementara sisa orang yang ada di sekitar mereka hanya mampu terdiam tidak dapat mengikuti penjelasan Nata dan Aksa seperti Parpera.


"Gampangnya itu, api bisa bertahan menyala karena membakar komponen dalam udara. Jadi bila kita bisa mengerakan udaranya, maka bentuk dari apinya juga akan ikut berubah." Nata mencoba sebisa mungkin menyederhanakan penjelasannya agar mudah dimengerti.


Namun sepertinya Parpera dan yang lain masih tidak dapat memahaminya.


"Tapi saya tidak tahu juga apakah sihir api bekerja seperti api pada umumnya. Karena saya tidak bisa menggunakan sihir," lanjut Nata kemudian.


"Namun secara teori bila memang bentuk dari sihir api itu bisa dirubah menjadi lebih ramping, maksud saya lidah apinya, dan masih bisa mempertahankan atau bahkan menambahkan tingkatan panasnya, maka kita dapat mengimbuhkan api tersebut pada pedang tanpa takut terbakar saat pengguna melakukan gerakan-gerakan menebas." Nata menambahi.


"Tapi kita juga perlu mempertimbangkan untuk mengganti bahan dari pedang yang akan ditambahkan sihir tersebut." Akss mengimbuhi. "Karena sekarang saja sudah seperti itu. Bagaimana kalau menerima panas yang lebih tinggi lagi? Bisa-bisa melebur leleh saat diayunkan."


"Ya, itu juga harus diperhatikan," jawab Nata setuju. "Tapi kita bahas hal itu nanti saja setelah Nona Parpera sudah memahami benar tentang konsep dari api biru itu, dan berhasil membuatnya ulang dengan sihir."


-

__ADS_1


__ADS_2