
Pollux yang menyadari akan serangan tiba-tiba itu dengan cekatan menebaskan pedang petirnya ke sihir berbentuk sabit es dan sabit api yang mengarah padanya.
Dan ledakan pun terjadi saat sihir petirnya beradu dengan kedua sihir yang hendak menyerangnya itu tadi.
Terlihat Jean dengan dua Pedang Mistik di kedua tangannya melompat turun dari atas kuda, setelah ledakan terjadi.
"Itu, Gemini?!" ucap Pollux terlihat terkejut begitu mendapati dua pedang pendek yang dulu adalah miliknya itu ada dalam genggaman tangan Jean.
"Oh, apa ini dulu pedangmu?" Jean mengangkat kedua pedang itu agar Pollux dapat melihatnya dengan lebih jelas.
"Nona Jean?" Versica tampak terkejut mendapati Jean ada di tempat itu.
"Dengan begini pertarungan akan jadi lebih adil, bukan?" balas Jean dengan senyum mengembang.
"Sudah, jangan banyak bicara kau perempuan tua. Kembalikan Gemini itu kepadaku," teriak Pollux seraya melompat menerjang Jean tanpa rasa takut.
Namun dengan mudah Jean menangkis pedang Pollux dengan pedang api di tangan kanannya. "Kau bocah yang tidak tahu sopan santun," ucap kesatria perempuan itu kemudian. "Kalau saja kau sepintar bocah sialan itu, mungkin aku akan memaklumi ketidak sopananmu. Tapi sayangnya kau tak lebih dari lelucon saja," tambahnya seraya menebaskan pedang es di tangan kirinya yang bebas itu ke perut Pollux.
Merespon hal tersebut Pollux segera melompat mundur untuk menghindar.
"Kulihat gerakanmu masih seburuk saat melakukan serangan ke gerbang selatan dulu," ucap Jean lagi yang segera memicu kemarahan pemuda berpedang petir itu.
"Aku akan membunuhmu!" seru Pollux yang kembali menyerang Jean tanpa ragu.
Sementara pertarungan Pollux dan Jean dimulai kembali, Agoros juga memulai serangannya ke arah Versica dengan tombak trisulanya.
.
Tak berapa lama kemudian Jean pun berhasil menjatuhkan Pollux dan melucuti Senjata Mistik nya. Di saat yang lain masih terlihat bertarung.
"Sudah kubilang sebelumnya, bukan? Bahwa Senjata Mistik hanyalah sebuah alat. Dan sehebat apapun alat tersebut, tetap bergantung dari kecakapan penggunanya." Jean menendang Pedang Mistik Pollux menjauh dari jangkauan pemuda itu.
Sedang Pollux sendiri hanya menatap tajam ke arah Jean. Mencoba mencari cara untuk melawan Kesatria perempuan itu.
"Aku beri kau pilihan, bocah," ucap Jean kemudian sambil menyarungkan kedua Pedang Mistik nya ke pinggang kiri. Menggantung berjajar atas-bawah.
"Menyerah dan segeralah kabur dari tempat ini," jedah kesatria wanita itu seraya mengambil Pedang Mistik milik Pollux yang tadi terjatuh.
"Atau pertahankan harga dirimu, dan bersiap mati di tanganku," tambahnya sambil menghunuskan Pedang Petir itu ke arah pemiliknya.
Mendengar hal tersebut Pollux mulai terlihat sedikit panik. Ia melihat sekeliling ke arah teman-temannya yang tengah bertarung. Tidak ada satu pun yang dapat membantunya saat ini.
__ADS_1
Urgula yang bertarung tak jauh di sebelahnya, terlihat tidak memiliki celah untuk membantu, karena Guanna melakukan serangan yang terus menekan.
Dragcoz yang berada jauh di belakangnya pun juga tampak sibuk melawan Karka dengan kedua kapak apinya yang terlihat berterbangan kesana-kemari.
Bahkan Kanya dan Zygos yang hanya melawan Parpera seorang, tetap tidak bisa bernafas lega menghadapi kelihaian Penyihir Bulan tersebut dalam melakukan serangan sihir dan berlindung. Yang menyebabkan mereka juga tidak dapat berbuat apapun untuk membantu rekannya yang lain.
Hanya Agoros yang bertarung sedikit jauh di belakang Jean yang menyadari akan situasi yang dialami Pollux. Namun tetap saja ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Karena Versica sangat ketat menjaganya untuk tetap berada dalam pertempuran.
"Bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya?" tanya Jean bersamaan dengan mulai terlihatnya kilatan petir di antara bilah pedang yang ia pegang.
Terlihat semakin panik, Pollux mulai mengangkat tangannya dan kemudian berjalan mundur dengan perlahan. "Aku.. aku menyerah," ucapnya tergagap.
"Pilihan yang bijak," ucap Jean kemudian. "Sekarang pergilah dari tempat ini," perintahnya kemudian.
Dan tanpa berpikir panjang, pemuda itu segera berbalik badan dan berlari dengan kecepatan penuh menuju medan tempur.
"Ck, dasar bocah itu," ucap Agoros terlihat kesal melihat Pollux yang kabur meninggalkan pertarungan.
"Apa anda yakin melepaskannya begitu saja, Nona Jean?" tanya Versica yang melihat semua kejadian itu dari belakang Jean.
"Tanpa Senjata Mistik, ia tidak akan bertahan lama dalam medan perang," ucap Jean sebelum tak lama kemudian terlihat Pollux terjatuh karena tembakan Senjata Api dari salah satu prajurit Rhapsodia. "Apa ku bilang," tambahnya lagi.
Agoros hanya bisa merasa kesal tanpa mampu melakukan apapun melihat kejadian tersebut. Sementara Versica hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan penuh rasa iba ke arah Pollux.
.
Sambaran petir yang dikeluarkan Jean dari Pedang Mistik milik Pollux itu berhasil menyita perhatian dan menghentikan pertarungan antara Parpera dengan dua Juara lawannya.
"Nona Jean?" Terlihat Parpera sedikit terkejut melihat Kedatangan Jean.
"Bukankah itu Senjata Mistik milik Pollux?" reaksi Zygos saat melihat pedang yang ada dalam genggaman Jean tersebut.
"Kau jeli sekali. Ini memang senjata bocah tidak tahu sopan santun itu," jawab Jean dengan santai.
"Berani-beraninya kau... di mana Pollux sekarang?" Kali ini Kanya yang menyahut dengan suara seperti sedang berteriak.
"Itu. Di utara tak jauh dari tempat Nona Versica bertarung," jawab Jean seraya menunjuk ke tempat dimana Pollux tergeletak.
"Pollux?!" teriakan Kanya tercekat. "Apa kau membunuh Pollux?" tanya perempuan itu dengan tekanan emosi dalam nada bicaranya.
"Bukan." Jean menjawab cepat. "Aku menyuruhnya kabur dari tempat ini. Dan sepertinya ia tidak terlalu pandai memilih rute. Jadi prajurit berhasil menjatuhkannya dengan tembakan Senjata Api," lanjutnya mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Kau perempuan ******, akan kubunuh kau sekarang juga." Terlihat Kanya bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Tenanglah, Kan. Kita tidak boleh terpancing amarah. Kita masih memiliki tugas di tempat ini," sahut Zygos mencoba mengingatkan Kanya yang wajahnya kini mulai terlihat memerah karena amarah.
"Sekarang aku paham apa persamaan yang membuat kalian bisa bersatu." Jean berucap. "Kalian sama-sama tidak tahu sopan santun dan bermulut besar," lanjutnya kemudian.
Dan tampaknya Kanya sudah tidak dapat lagi membendung amarahnya. Ia mulai merapal sihirnya dengan tujuan untuk menyerang Jean.
"Sepertinya anda harus berhadapan dengan yang besar, Nona Parpera. Karena perempuan ini perlu untuk ditatar," ucap Jean seraya memasang kuda-kuda tempurnya.
"Tentu saja, Nona Jean. Dengan senang hati," sahut Parpera yang juga dengan segera memasang kuda-kuda siap untuk merapal.
Dan kini dengan adanya Jean, Parpera jadi bisa bertarung dengan lepas tanpa perlu lagi menghawatirkan perlindungannya saat hendak melakukan serangan. Karena ada Jean yang menangani salah satu dari lawannya itu.
Pertarungan dua lawan dua itu tidak begitu bagus untuk para Juara. Karena jelas Jean dan Parpera dapat dengan mudah mengungguli mereka.
.
Sementara Agoros yang terlihat tidak fokus karena mendapati teman-temannya yang mulai kualahan itu, juga akhirnya berhasil disudutkan oleh Versica.
"Pertarungan ini sia-sia saja, Ag. Kenapa kalian tidak menyudahinya, semua perlawanan ini?" ucap Versica mencoba merubah pemikiran Agoros. "Pasukan kalian tetap tidak akan menang melawan pasukan Rhapsodia," tambahnya lagi.
Mendengar ucapan Versica tersebut, Agoros hanya tertawa kecil. "Kau selalu saja gegabah dan terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu, Ve. Tidak pernah memikirkan gambaran besarnya," ucapnya kemudian.
"Tetap saja, apapun yang sedang kalian rencanakan, tidak akan berhasil. Kalian bahkan tidak dapat mengoyak pakaian pelindung yang kami kenakan sekarang ini," balas Versica dengan tajam.
"Kami tidak perlu mengoyak pelindung yang kalian kenakan. Karena yang perlu kami lakukan adalah mengincar kepala kalian yang tidak terlindung itu," ucap Agoros terlihat tenang. Meski nafasnya terdengar terenggah-enggah.
"Hahaha... kau dan omong besarmu itu, Ag," balas Versica dengan tawa kecilnya.
"Benarkah omonganku besar?" tanya Agoros dengan penuh percaya diri dan pandangan mencemooh ke arah Versica. "Juara Urbar adalah kelompok yang solid, kau tahu? Ya, kecuali kalian bertiga tentunya," lanjutnya sambil kembali memasang kuda-kuda tempurnya.
Versica yang merasa ada yang salah dengan kelakuan dan rasa percaya diri dari lawannya itu mulai mencoba untuk berpikir. Perempuan itu mencoba mencari apa yang disebunyikan oleh Agoros. Dan apa yang telah ia lewatkan.
"Kenapa? Kau merasa takut sekarang?" ucap Agoros mencoba memprovokasi Versica.
"Kau mengatakan, 'kecuali kami bertiga'. Itu berarti kalian tidak hanya berenam saja." Terlihat Versica masih mencoba mencari tahu. "Jangan bilang kalian mengincar Yang Mulia Ratu?!" seru perempuan itu saat ia menyadari rencana para Juara yang sebenarnya.
Dan tidak menunda-nunda lagi, Versica pun segera berteriak ke arah Jean. "Nona Jean! Masih ada Juara yang lain yang sekarang sedang mengincar Yang Mulia Ratu!"
"Apa kau bilang?!"
__ADS_1
-