
Serangan ke Benteng Ignus itu berkesan seperti tanpa usaha sama sekali. Karena hanya dengan satu tembakan peluru dan sihir dari seorang penyihir saja, benteng tersebut sudah tidak lagi berguna.
Ditambah sisa prajurit penjaga yang selamat telah kabur melarikan diri sebelum pasukan Lucia tiba.
Lucia dan pasukannya terus berlanjut berarak menuju Kota Varun tanpa jedah untuk berhenti, dan membiarkan benteng tersebut seperti adanya. Karena ia harus menggunakan kesempatan ini untuk segera mengambil alih Kota Varun.
\=
Sementara itu di Kota Varun. Seorang pria Narva dengan pakaian kesatria bangsawan tampak sedang mengadakan pertemuan di gedung pemerintahan tak jauh dari alun-alun kota.
"Ingat baik-baik perintah Dux Vistralle. Bila pasukan kita kalah menghadapi serangan Rhapsodia, maka hanguskan Kota Varun dan kemudian mundur ke wilayah Ceodora." Pria Narva itu berucap kepada 2 pria Morra dengan pakaian seorang prajurit.
"Ya, saya mengerti, Jendral Gall. Para prajurit kita sudah mulai menyebar untuk melakukan persiap," jawab pria Morra yang berkumis.
"Lalu, bagaimana dengan para penduduk, Jendral?" Pria Morra yang mengenakan bandana di kepalanya bertanya.
"Keluarkan pengumuman pada penduduk untuk segera melarikan diri," perintah pria bernama Gall itu kemudian.
"Tapi apakah tidak terlalu mendadak, Jendral? Mereka tidak akan sempat untuk bersiap dan melarikan diri." Pria berbandana itu menjawab.
"Hei, sekarang ini kita sedang berperang. Kita tidak bisa menjamin keselamatan setiap orang dalam sebuah peperangan, kau ingat itu. Setiap orang bertanggung jawab atas keselamatan mereka sendiri," ucap Gall terdengar ketus. "Setidaknya kita sudah memberitahukan pada mereka bahwa tempat ini akan dibakar. Setelahnya adalah tanggung jawab mereka masing-masing," tambahnya lagi masih terdengar kesal.
"Sa-saya akan mengingat hal tersebut mulai dari sekarang, Jendral," jawab pria berbandana itu dengan sedikit terbata karena takut.
"Bagus. Sekarang pergilah kalian," perintah Gall kemudian. "Dan juga pastikan para Serikat Petarung Bayaran itu tidak kabur dari medan perang," tambahnya lagi.
"Siap, Jendral." Kedua pria itu menjawab dengan serempak, sebelum kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Bagaimana sekarang, Jendral?" tanya seorang pria Narva yang berdiri di sebelah Gall.
"Siapkan kuda ku, Bane. Kita akan kembali ke Kota Dios sekarang juga," perintah Gall kemudian.
"Anda tidak menuju ke gerbang kota untuk menghadang pasukan Rhapsodia, Jendral?" Pria bernama Bane itu bertanya.
"Apa kau juga mau aku mati seperti Jendral Zan di Benteng Ignus itu, hah?" terdengar Gall berucap dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Apa menurut anda kita tidak akan bisa menghadang pasukan Rhapsodia dan mempertahankan kota ini?"
"Kau pikir prajurit-prajurit yang ada di kota ini dapat mengalahakan pasukan Rhapsodia? Mereka adalah prajurit bayaran yang lebih mementingkan nyawa mereka sendiri dibanding kesetiaan pada Dux Vistralle. Kau pikir para pengecut itu akan berperang dengan sungguh-sungguh?"
Mendengar hal tersebut Bane terdiam seperti sedang menimbang.
"Ayo cepat, jangan bengong saja. Pasukan Rhapsodia akan segera tiba di tempat ini," ucap Gall menyadarkan Bane.
"Baik, Jendral. Akan saya siapkan sekarang juga," sahut Bane seraya bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
\=
Tak lebih dari setengah jam perjalanan, gerbang Kota Varun pun mulai terlihat. Tampak puluhan prajurit Vistralle sudah bersiap membentuk formasi di depan gerbangnya.
Lucia menghentikan pasukannya pada jarak yang cukup jauh dari formasi pasukan lawan. Sekedar untuk berjaga, karena pihak lawan juga memiliki Senjata Api.
"Kuserahkan gerbang itu padamu, Cas," ucap Lucia yang juga memberi perintah kepada Caspian untuk melakukan serangan.
"Siap, Yang Mulia," jawab Caspian sebelum kemudian mengarahkan kudanya untuk menuju barisan para penunggang kuda di sebelah kiri.
Terlihat Jendral Besar Rhapsodia itu mulai menggenggam erat tali kekang dan memasang ancang-ancang. Kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas, sebelum berseru "Rhapsodia, serbu!" Seraya memacu kudanya berlari ke depan.
-
Caspian dan pasukan berkuda itu melesat cepat menuju ke arah pintu gerbang Kota Varun. Dan sesuai dengan namanya, yaitu : Pasukan Berkuda Senjata Api, maka tak heran bila para pengendara kuda itu tampak membawa Senapan Laras Panjang di punggung mereka.
Senapan itu dibuat khusus memiliki bilah pisau di bagian ujung larasnya. Yang seperti mempertegas bahwa senjata itu tidak hanya bisa digunakan untuk menembak, tapi juga bisa digunakan untuk menebas.
Namun tidak seperti Gunblade milik Aksa, senjata ini pada dasarnya adalah Senapan Laras Panjang yang cukup ringan. Hanya saja memiliki tambahan bilah pisau di bagian ujungnya.
Sedang bagian kerangka luarnya dibuat dari logam Dracz agar larasnya tidak langsung hancur saat Senapan tersebut menghantam pedang lain ketika diayunkan untuk menebas.
.
Terlihat Caspian mulai mengangkat senapannya ke atas untuk memberi tanda pada pasukan di belakangnya. "Bersiap membidik!" teriaknya kemudian.
__ADS_1
Dan nyaris bersamaan, para penunggang kuda tersebut mulai mengambil senapan mereka dari belakang punggung. Kemudian mulai mengangkatnya dengan kedua tangan ke depan wajah untuk bersiap melakukan bidikan.
Pasukan khusus itu memang telah dilatih untuk menembak dari atas pelana saat kuda mereka sedang berlari. Meski bidikan mereka tidak seakurat saat membidik di atas tanah, namun masih cukup jitu untuk mengenai sasaran yang ada di hadapan mereka.
Sebenarnya jenis pasukan seperti ini juga dimiliki oleh kerajaan Estrinx. Hanya saja pasukan mereka menggunakan panah. Pasukan Berkuda Pemanah.
.
"Bersiap!" Kembali Caspian yang juga telah melakukan bidikan itu berteriak memberi aba-aba. "Tembak!" Dan bersamaan dengan seruan tersebut, ia menarik pelatuk senjatanya. Yang diikuti oleh para prajurit yang lain.
Suara ledakan Senjata Api terdengar saling sahut di antara riuhnya derap kaki kuda. Dan kemudian terlihat beberapa prajurit lawan mulai berjatuhan terkena peluru dari Caspian dan pasukannya tersebut.
Namun karena prajurit musuh juga memiliki Senjata Api, maka balasan yang sebanding pun bisa mereka lakuakan. Dan kini suara ledakan Senjata Api lain terdengar dari kubu lawan.
Meski para prajurit penunggang kuda itu mengenakan pakaian pelindung Anti Peluru, tetap saja beberapa tampak terjatuh karena kuda-kuda mereka yang terluka terkena peluru lawan.
Namun karena jumlahnya tidak terlalu banyak, maka formasi dan kecepatan laju pasukan tersebut tidak berubah sama sekali.
"Bersiap membidik!" Lanjut Caspian seraya mengangkat senapannya ke depan wajah dan bersiap untuk kembali membidik. "Tembak!" Dan kembali ia menarik pelatuk senjatanya. Diikuti oleh yang lain.
Lawan yang terlihat hendak memasukan peluru ke senapan mereka terpaksa harus menghentikannya dan mulai berlindung. Karena rentetan tembakan kembali dikeluarkan oleh prajurit berkuda tersebut.
Memang kelebihan lain dari senapan milik Pasukan Berkuda itu adalah; memiliki logam silinder untuk wadah peluru. Seperti yang ada pada sebuah pistol. Meski kecil dan hanya berisi 4 peluru saja, namun hal tersebut sangat membantu ketika berada dalam medan pertempuran. Karena itu berarti mereka bisa melakukan 4 kali tembakan secara beruntun tanpa perlu mengisi peluru terlebih dahulu.
.
Kini prajurit lawan yang berjatuhan pun semakin bertambah seiring dengan mendekatnya Pasukan Berkuda tersebut.
Caspian yang sudah kehabisan peluru mulai memegang senapannya seperti sedang memegang sebuah pedang. Kemudian ia mulai memacu kudanya dengan lebih kencang ke arah barisan lawan sambil bersiap untuk menyabetkan senapannya.
Sementara pihak lawan tampak tidak berniat untuk mundur ataupun kabur dari medan pertempuran. Mereka juga sudah bersiap memasang kuda-kuda untuk menyambut kedatangan pasukan berkuda itu dengan tameng dan pedang mereka.
Dan kemudian pertarungan jarak dekat pun terjadi.
-
__ADS_1