Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
31. Persenjataan Baru II


__ADS_3

"Coba tebas boneka kayu itu, Tuan Caspian," perintah Aksa saat mereka sudah berdiri di depan boneka kayu setinggi pria dewasa itu.


Caspian tanpa ragu menebaskan pedang tersebut sekuat tenaga. Dengan niatan membelah tubuh boneka kayu itu menjadi dua. Dan alhasil bilah pisaunya menancap masuk beberapa inci pada bagian pundak kiri bonek kayu tersebut.


"Cukup seimbang. Namun bentuk dan beratnya akan mempengaruhi kecepatan pengguna saat melakukan ayunan." Caspian memberikan penilaian.


"Sekarang coba geser switch itu ke bawah," ucap Aksa seraya menunjuk pada sebuah saklar kecil yang berada di bagian atas pelatuknya. "Lalu tarik pelatuknya," tambahnya kemudian dengan perintah.


Tanpa bertanya, Caspian menggeser batang logam yang dimaksud Aksa ke bawah. Dan bersamaan dengan itu, bagian silinder pelurunya ikut berubah posisi. Yang sebelumnya dalam posisi vertikal mengikuti garis lurus bilah pisau dan pegangannya, kini menjadi horisontal.


Dan meski Caspian cukup terkesan dengan pergerakan mekanis pada senjata tersebut, namun tidak membuatnya menunda untuk menarik pelatuk.


Suara ledakan pun terdengar bersamaan dengan berputarnya silinder peluru. Namun kali ini tidak senyaring ledakan senapan laras panjang sebelumnya.


Terlihat asap keluar dari sela-sela rongga silinder. Tapi anehnya tidak ada peluru yang keluar dari senjata itu. Seolah tidak ada yang terjadi selain suara ledakan tadi.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah; posisi bilah pedang tersebut kini menancap lebih dalam dari sebelumnya. Caspian yang pertama menyadarinya. Karena ia merasakan sentakan tepat ketika pelatuk ditekan.


"Tarik pelatuknya lagi, Tuan Caspian," perintah Aksa lagi.


Kembali tanpa bertanya, Caspian menarik pelatuk senjata itu. Kali ini beberapa kali dengan cepat.


Rentetan suara ledakan yang tertahan kembali terdengar, dan asap dengan bau khas bubuk mesiu yang terbakar pun terlihat mengepul.


Dan kini posisi bilah pedang tersebut sudah berada tepat di tengah-tengah dada boneka kayu. Tanpa Caspian menggunakan tenaga untuk menekannya.


Semua orang terlihat terkesan sekaligus penasaran dengan bagaimana hal tersebut bisa terjadi.


"Aku kenal wajah-wajah bingung yang haus akan pengetahuan itu," sahut Aksa setelah melihat reaksi dari yang lain. "Jangan kuatir. Aku akan menjelaskannya pada kalian," tambahnya kemudian.


Mendengar hal tersebut membuat semua orang terlihat kuatir tentang penjelasan yang akan Aksa berikan.

__ADS_1


"Jadi Gun Blade ini menggunakan energi kinetik alias getaran dan sentakan dari ledakan yang dikeluarkan oleh bubuk mesiu," lanjut Aksa tanpa menunggu tanggapan dari yang lain. "Jadi bukannya mendorong peluru, ledakannya akan mendorong piston yang memberi tambahan daya dorong pada senjata keren ini."


"Oh, jadi itu sebabnya pedang ini punya bilah yang cukup tebal sebelum bagian tajamnya?" Caspian yang sudah menarik senjata itu dari tubuh boneka kayu tadi, kini terlihat sedang mengamati dengan teliti bagian di sekitar silinder pelurunya.


"Yap. Benar sekali, Tuan Caspian. Terima kasih pada logam tahan banting, Dracz. Jadi seberapa banyak dan seberapa keras piston melakukan pukulan, kerangka dan bilah pedangnya tidak akan rusak," jawab Aksa dengan nada yang mulai terdengar angkuh.


"Jadi senjata ini tidak dapat menembakan peluru?" Tampak Caspian memutar posisi pedang tersebut, mencoba melihat ujung dari batang logam yang terlihat seperti sebuah laras senapan tadi.


"Tidak. Anda mungkin tertipu dengan adanya batang besi yang terlihat seperti laras senapa, dan juga silinder tempat peluru itu," ucap Aksa menjawab. "Di dalam silindernya memang diisi dengan peluru. Namun jenis khusus yang tidak memiliki projectile. Jadi hanya berupa selongsong tempat bubuk mesiu saja," tambahnya menjelaskan.


"Lalu apa kegunaan logam yang seperti laras senapan ini?"


"Oh, itu. Coba Tuan Caspian, putar kembali posisi switch nya ke atas. Lalu arahkan Gun Blade itu dalam posisi menusuk di depan boneka kayu tersebut," jawab Aksa dengan arahan. "Dan tarik pelatuknya," tambahnya kemudian.


Caspian pun mengikuti arahan Aksa tersebut. Dan setelah bagian silinder peluru senjata itu kembali ke posisi semula, segera ia memasang kuda-kuda dalam posisi menusuk dengan ujung pedang tertuju ke bagian perut boneka kayu. Dan kemudian menarik pelatuknya.


Bersamaan dengan suara ledakan dan berputarnya silinder peluru, bagian yang seperti laras senapan tadi tiba-tiba memanjang bersama dengan sebagian dari bilah pisaunya.


Terlihat di dalam batang serupa laras senapan tadi, sebuah batang logam lain yang tersambung dengan kerangka dari silinder peluru. Logam itulah yang mendorong sebagian dari bilah pisau dan kerangka senjata tersebut maju memanjang.


Semua orang terlihat terkejut, tidak mengantisipasi hal tersebut. Tidak terkecuali Caspian. Tangan kanannya terasa sedikit nyeri karena sentakan tak terduga saat bilah pisaunya kembali ke posisi semula.


"Sebelum kalian mencoba untuk menebaknya, akan aku beri tahu," sahut Aksa cepat. "Jadi logam yang seperti laras senapa itu juga sebuah piston. Yang sekaligus kerangka untuk bilah pisaunya," jelasnya kemudian.


"Namun dibanding saat melakukan tebasan tadi, sentakan dalam posisi menusuk yang kali ini terlalu kuat dan berpotensi menciderai penggunanya." Caspian terlihat menggerak-gerakan jari dan cengkeramannya yang terasa sedikit kebas akibat sentakan tersebut.


"Ide dari game seperti itu memang tidak akan efektif dalam medan pertempuran nyata, Aks. Tidak akan ada prajurit yang bisa menggunakannya," ucap Nata memberikan pendapatnya.


"Ya, Gun Blade ini memang punya banyak ruang untuk improvement." Aksa berkilah.


"Dan lagi banyak energi terbuang percumah dibandingkan saat kau menggunakan mesiu itu untuk menembakan peluru." Nata menambahkan penilaiannya. "Belum lagi, backfire sentakannya pada pengguna."

__ADS_1


"Hei, setidaknya pedang ini dapat digunakan dan juga keren." Aksa mencari pembelaan. "Sekarang ini aku tengah dalam tahap pembuatan yang versi kapak nya."


"Lalu apa senjata yang itu juga sama seperti yang ini?" tanya Caspian menunjuk Gun Blade yang satu lagi. Yang memiliki bentuk lebih kecil dan ramping, dengan warna yang tidak terlalu mencolok.


Karena berbeda dengan yang dipegang Caspian, senjata yang satu lagi itu mulai dari pegangan sampai bilah pisaunya, semua berwarna hitam buram, dengan sedikit aksen garis berwarna merah di beberapa tempatnya.


"Atau hanya bahannya saja yang berbeda? Karena bentuk dan tekstur pisaunya berbeda," tanya Caspian lagi.


"Oh, tidak. Gun Blade yang ini tidak sama dengan yang itu. Ini khusus buat ku sendiri," jawab Aksa seraya mengambil senjata tersebut.


Gun Blade tersebut juga memiliki silinder peluru di bagian pertemuan bilah pisau dengan pegangannya. Hanya saja tidak terlihat ada laras senapan sama sekali. Pegangannya juga tampak lurus seperti sebuah gagang pedang pada umumnya. Yang membuatnya menjadi sulit ketika hendak menekan pelatuk yang berada di sebelah silinder peluru.


Dan tidak sama dengan Gun Balde sebelumnya. Senjata ini memiliki guratan seperti pola garis dan lingkaran pada bilah pisaunya. Bermata dua dan terlihat ramping. Namun tidak simetris seperti pedang-pedang yang biasa digunakan oleh para ksatria.


"Tidak seperti yang putih itu, Gun Blade ini hanya perpaduan antara pedang dan senapan," ucap Aksa kemudian sambil tersenyum lebar.


"Berarti yang itu bisa menembakan peluru? Kenapa saya tidak melihat larasnya?" Caspian terlihat penasaran dengan senjata tersebut. Karena sekilas penampakannya tak ubah seperti pedang biasa. Hanya saja memiliki sebuah silinder peluru di antara pegangan dan bilah pisaunya.


"Iya, Gun Blade ini bisa menembak." Aksa mengangguk kecil. "Itu karena aku juga mau punya pedang yang juga sekaligus senapan. Tapi aku tidak suka bawa-bawa yang berat seperti itu," tambahnya seraya dengan santai menekuk bagian pegangan senjata itu ke arah posisi pelatuk berada. Kemudian menarik ujung bilah pisau seolah hendak melipatnya.


Semua orang terkejut dengan apa yang baru saja Aksa lakukan pada senjata tersebut. Karena kini bentuk pedang itu jadi lebih seperti sebuah pistol dengan ujung lancip dari bilah pisaunya berada tepat di atas sebuah laras pendek yang tadinya tertutup badan pisau.


"Oh, jadi itu larasnya," ujar Caspian saat mendapati senjata itu sudah seperti sebuah pistol dengan beberapa oramen, dalam genggaman Aksa.


"Aku juga mau Gun Blade ini seperti pisau lipat serba guna," ujar Aksa masih dengan senyuman lebar. Terlihat dia bahagia bisa membuat orang terkejut dan terkesan dengan senjata rancangannya itu.


"Yang ini malah jauh lebih berguna," sahut Nata mengambil senjata tersebut dari tangan Aksa. Kemudian mengamati bagian-bagiannya dengan teliti.


"Jelaslah. Aku memang sengaja membuat Gun Blade khusus ini lebih keren dari yang lain," balas Aksa yang terlihat bangga.


Setelah itu orang-orang mulai mencoba senjata-senjata yang sudah di perkenalkan tadi sampai kemudian Lucia menghentikannya.

__ADS_1


"Jadi untuk mempercepat pertemuan ini, tolong lanjutkan penjelasan untuk bagian pelindungnya, Nat. Biar urusan yang berhubungan dengan senjata-senjata itu, kita lanjutkan setelah pertemuan ini selesai," perintah Lucia kemudian.


-


__ADS_2