
Sementara di luar Sihir Pelindung buatan Lily, Ikhties yang terlihat baru saja selesai melakukan rapalan dan bersiap untuk kembali menyerangan itu, tiba-tiba dikejutkan oleh sambaran petir dari langit tepat di atas tempatnya berdiri.
Namun beruntungnya, karena kekuatan dari Jubah Sihir yang ia kenakan, Ikhties berhasil selamat dari sambaran petir tersebut, sebelum kemudian menghilang dengan begitu saja.
Sementara dari kejauhan terlihat Jean memacu kudanya dengan cepat menuju ke tempat dimana Lily memasang Sihir Pelindungnya. Sedang Parpera yang baru saja mengeluarkan Sihir Petir untuk menyerang Ikhties tadi, tampak duduk membonceng di belakang Jean.
.
Setibanya di tempat Lucia berada, Parpera segera berinisiatif merapal kubah sihir yang sedikit lebih besar untuk menggantikan kubah sihir milik Lily menahan puluhan peluru es yang masih terus menyerang.
Dan begitu kubah pelindung milik Parpera selesai dibuat, Lily segera membatalkan sihirnya dan berlari mendekati Aksa dan Nata.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Lily begitu ia mendapati kondisi Nata yang tampak lemah. Terlihat tatapannya penuh dengan rasa bersalah.
"Setidaknya peluru dengan Shir Pembeku tingkat tinggi itu sudah berhasil dicabut," ucap Lucia menjawab.
"Sihir Pembeku tingkat tinggi?" Lily mengulang ucapan Lucia seolah sedang memastikan.
"Penyembuh tidak akan bisa memulihkan lukanya sampai efek dari pembekuannya menghilang. Tapi bila menunggu lebih lama lagi, maka lukanya akan..." Lucia tampak enggan untuk melanjutkan ucapannya.
Sementara Aksa yang sedang memeriksa lengan Nata dengan teliti itu, tampak berhati-hati menyentuh beberapa tempat di sekitar lukanya yang terlihat membiru.
"Apa bagian ini terasa, Nat?" tanya Aksa kemudian. Dan Nata hanya menggelengkan kepalanya lemah sebagai penganti jawaban.
"Reaksinya sama seperti Deep Frostbite," ucap Aksa lagi. Yang kali ini kepada Lucia dan Lily yang terlihat kuatir. "Bila memang sihir pembekunya masih aktif, maka kita perlu menjaga agar suhunya tetap stabil dan tidak bertambah turun. Kita perlu handuk, air panas, dan juga obat penahan rasa sakit dari para tabib. Karena proses penghangatan biasanya akan menimbulkan rasa nyeri yang cukup parah," jelasnya kemudian yang tiba-tiba saja dipotong oleh teriakan Jean yang sedang berlari mendekat.
"Yang Mulia! Apa Yang Mulia baik-baik saja?" Jean terlihat sangat kuatir. "Tangan Yang Mulia?!!" serunya lagi dengan lebih panik saat mendapati tangan kanan Lucia yang terlihat memerah.
"Oh, tepat waktu. Aku baik-baik saja, Jean. Tak perlu kuatir," jawab Lucia dengan cepat, sebelum kemudian memberi perintah. "Sekarang dengar. Bawakan handuk dan air hangat kemari. Dan juga seorang penyembuh dan seorang tabib untuk Nata. Sekarang!"
Dan meskipun Jean baru saja tiba dan tidak mengerti akan situasi yang tengah terjadi, namun ia dengan segera menjawab tanpa berpikir. "Baik, Yang Mulia." Setelah sempat sekilas melihat keadaan Nata.
"Oh, dan jangan lupa bawa alkohol sekalian," seru Aksa menambahi sebelum Jean berlari keluar dari kubah pelindung melewati bagian yang sengaja dibuka oleh Parpera.
Kubah pelindung itu masih tetap dipasang karena serangan peluru es masih belum berhenti.
"Apa dia akan baik-baik saja, Aks?" Lily bertanya dengan kuatir.
__ADS_1
"Tidak perlu kuatir, Lily. Lengannya akan baik-baik saja. Cuma mungkin akan meninggalkan bekas seperti luka bakar," jawab Aksa mencoba menenangkan Lily dan juga Lucia sekaligus.
Wajah Lily terlihat sedikit lega setelah mendengar ucapan dari Aksa tersebut. Karena ia mempercayai ucapan pemuda itu.
"Kalau begitu, bolehkah saya meminta tolong kepada Yang Mulia untuk menjaga Aksa dan Nata sebentar saja?" tanya Lily tiba-tiba.
"Apa yang hendak anda lakukan, Nona Lily?" tanya Lucia yang terlihat sedikit bingung sebelum menjawab.
"Kita harus menghentikan serangan peluru sihir ini," jawab Lily tidak terlalu rinci.
Namun Lucia tahu benar apa yang handak Lily lakukan. "Baiklah. Kami akan menjaga mereka," jawab Ratu muda itu kemudian.
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Lily sebelum berjalan keluar dari kubah pelindung, dan kemudian melesat menghilang dari pandangan.
Melihat Lily meninggalkan kubah pelindung seorang diri, membuat Ikhties merasa gusar. Ia memiliki firasat Lily sedang mencari asal dari serangan peluru-peluru es tersebut. Yang mana adalah rekannya sesama Juara.
"Ini gawat. Toxo tidak akan bisa bertahan dari sang Kilat Putih bila hanya mengandalkan Senjata Mistiknya saja," ucap Ikhties pada diri sendiri sebelum kemudian memutuskan untuk menyusul Lily dan membantu rekannya.
.
Tak lebih dari 5 menit kemudian, serangan peluru es pun berhenti. Pertanda Lily telah berhasil menemukan orang dibalik serangan tersebut, dan mengalahkannya.
.
Kini mereka sudah berada di dalam Kereta Besi. Aksa dan para Tabib terlihat sedang mengurus Nata yang membujur di kursi tepat di seberang Lucia terduduk. Terlihat juga beberapa Tabib dan Penyembuh sedang mengobati tangan kanan Lucia yang sebelumnya sempat bersentuhan dengan peluru es.
"Peluru sihir tersebut dihasilkan oleh Panah Mistik Pinaka. Begitu menyentuh sesuatu, peluru itu akan membekukannya dengan sangat cepat. Mencabut atau menghancurkannya tidak akan langsung menghentikan dampak dari pembekuannya." Parpera memberikan penjelasan setelah memastikan peluru sihir yang beberapa masih membekukan tanah dan rerumputan di sekitar tempat benda itu tergeletak.
"Sihir pembeku ini bisa bertahan sampai berjam-jam sebelum menghilang," lanjut Parpera yang duduk di sebelah pintu. "Namun meski mencabutnya adalah keputusan yang sangat baik, Yang Mulia tetap tidak boleh gegabah dengan langsung mengunakan tangan seperti itu." Terdengar perempuan penyihir itu memarahi Lucia dengan bersungguh-sungguh.
"Karena tidak banyak yang bisa selamat dari jenis sihir seperti ini. Meskipun berhasil selamat, mereka akan kehilangan bagian tubuh mereka," tutupnya kemudian.
"Maafkan aku, Nona Parpera. Aku tidak berpikir jernih, saat itu," jawab Lucia terlihat menyesal. "Aku langsung merasa panik saat melihat adanya kemungkinan Nata tidak akan selamat," lanjutnya lagi memberi alasan.
Parpera hanya terdiam. Meski ia benar-benar merasa marah akan tindakan Lucia, namun ia masih bisa mengerti perasaan dan alasan mengapa Ratunya sampai bertindak seperti itu.
"Anda tidak perlu kuatir, Yang Mulia. Nata tidak akan apa-apa. Bahkan cacat pun tidak akan," ucap Aksa berusaha menenangkan Lucia yang terlihat kini telapak tangannya sedang dibalut.
__ADS_1
"Benar, anda tidak boleh membuang waktu dengan menguatirkan hal ini, Yang Mulia. Anda masih punya peperangan yang harus segera dimenangkan," ucap Nata tiba-tiba, yang terdengar seperti sedang mendesis.
"Yang Mulia akan menyia-nyiakan pengorban saya dan semua orang, bila tidak segera kembali fokus dan menyelesaikan peperangan ini," tambahnya lagi yang kali ini disertai dengan senyuman lemas di wajah.
Mendengar ucapan Nata tersebut, membuat Lucia tersadar. Ia masih memiliki tanggung jawab yang harus ia selesaikan.
Dan setelah menghembuskan nafas panjang, Lucia pun kembali menegakan tubuhnya. "Kurasa kau benar. Bertahanlah sedikit lagi, aku akan segera mengakhiri perang ini," ucap Lucia kemudian.
Terlihat Nata mengangkat jempol kirinya perlahan menanggapi ucapan ratu muda tersebut.
"Kenapa aku jadi merasa iri dengan Nata sekarang?" celetuk Aksa kemudian.
"Nona Parpera, tetaplah di sini untuk melindungi Aksa dan Nata," ucap Lucia kemudian. "Namun sebelum itu, perintahkan kepada para penyihir untuk bersiap melakukan pembatalan Sihir Pelindung kota," lanjutnya dengan perintah.
"Maaf Yang Mulia, tapi disaat kami menuju kemari, masih ada beberapa Juara yang belum dikalahkan." Parpera memberikan informasi yang belum sempat ia laporkan.
"Tidak perlu menguatirkan para Juara dan hal lainnya," jawab Lucia dengan tegas. "Agar lebih cepat, minta Kereta Tempur untuk mengirim para penyihir ke posisi yang diperlukan."
Mendengar Lucia memberi perintah dengan tegas, membuat Parpera tidak lagi merasa ragu. "Baik, Yang Mulia," jawabnya cepat, sebelum kemudian berlari menuju ke salah satu Kereta Tempur terdekat.
Kemudian terlihat Lucia keluar dari Kereta Besi dengan menggengamkan tangan kanannya yang terbalut perban itu kuat-kuat, seraya berjalan menuju ke arah kudanya.
"Yang Mulia?" Jean segera menyusul Lucia setelah melihatnya keluar dari Kereta Besi.
Namun Lucia tidak menjawab. Ia mulai menaiki kudanya dan membenahi posisi pedangnya.
"Yang Mulia, anda jangan gegabah. Anda tidak bisa turun langsung ke medan pertempuran," ucap Jean mencoba melarang Lucia.
"Jean, bersiap di kuda mu," ucap Lucia tidak memperdulikan larangan Jean.
"Tapi Yang Mulia..."
"Ini perintah. Bila kau tidak menurutinya, maka aku akan melepas jabatanmu sebagai pengawal pribadiku. Dan aku tetap akan pergi ke medan perang seorang diri," sahut Lucia dengan tegas.
Mendengar ucapan tersebut, Jean terlihat seperti sedang mengutuk dalam hati. Namun dengan cepat melompat ke atas pelana kudanya. "Saya siap, Yang Mulia," ucapnya kemudian dengan nada tidak senang.
"Sasaran kita adalah para Juara. Ayo, berangkat!" perintah Lucia seraya menarik kekang kudanya. "Rhapsodia, serbu!" teriaknya kemudian seraya menarik pedang dari sarungnya.
__ADS_1
Melihat sosok Lucia yang memacu kudanya dengan teriakan penuh semangat menembus medan peperangan itu, membuat para prajuritnya ikut bertambah semangat. Teriakan balasan dari Pasukan Rhapsodia pun terdengar riuh mengalahkan suara deting pedang beradu dan suara ledakan.
-