Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
10. Pertunjukan Sukses


__ADS_3

Aksa berdiri di hadapan para Penambang Augra di depan pintu gerbang bersama Helen, beberapa prajurit Pasukan Elit, dan Penyihir. Ia memang sengaja untuk tidak menunjukan pasukan Yllgarian kepada para penambang karena memang bagian dari rencana pertunjukannya.


Sementara di atas langit suara retakan berulang masih terdengar dan cahaya kilat masih terlihat menyambar di balik awan, meski suara teriakan-teriakan binatang yang mengerikan tadi sudah tidak lagi terdengar.


"Karena aku adalah reinkarnasi dari Kesatria Cahaya yang stereotype nya berbudi luhur, naif, baik hati, pemaaf, dan berwajah rupawan, jadi aku akan melepaskan kalian semua," ucap Aksa dengan cara bicara yang dibuat sewibawa mungkin.


Terlihat posenya berdiri masih sama seperti saat ia berada di atas gerbang tadi. Kedua tangannya memegang bagian atas dari gagang pedang yang tertancap di hadapannya.


Sementara para penambang mulai terdengar kasak-kusuk setelah mendengar ucapan Aksa yang hendak melepaskan mereka tadi.


"Anda ingin melepaskan kami?" tanya seorang pria Morra setengah baya, yang merupakan pemimpin dari penambang itu, kepada Aksa.


"Benar. Tapi sebagai gantinya, kalian harus melakukan perintahku," jawab Aksa masih dengan suara yang sengaja diberat-beratkan agar terkesan mengintimidasi.


"Perintah apa, Tuan Kesatria?" tanya pria Morra itu.


"Tidak sulit, jadi jangan terlalu kuatir." Aksa berdemah sebentar. "Jadi setelah kalian kembali, sampaikan kepada siapapun pemimpin kalian, jangan pernah berani mengirim pasukan kemari lagi. Atau akan ku kirim Berunda untuk menghanguskan desa dan pemukiman kalian. Kalian paham?" ucapnya memberikan perintah sekaligus ancaman.


Para penambang tidak langsung menjawab. Mereka kembali saling berbisik dan terlihat kuatir.


"Itu burung yang ada di angkasa itu," Aksa menujuk ke arah langit dimana petir masih terlihat menyambar-nyambar. "Dan desa kalian akan jadi seperti itu," lanjutnya sambil menunjuk ke bekas perkemahan prajurit Augra yang hancur porak-poranda tak jauh dari depan gerbang.


Dan setelah melihat hal tersebut para penambang itu segera mengganguk cepat karena ketakutan. "Ya, Tuan Kesatria. Kami mengerti. Kami mengerti." Ucapan mereka terdengar bergetar.


Terlihat Aksa menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya ia tidak tega menakut-nakuti para penambang yang tidak berdaya itu. Tapi semua ini jauh lebih baik dibandingkan peperangan.


"Ya sudah kalau begitu, pergilah kalian," perintah Aksa kemudian. Yang dipertegas oleh Helen dengan gerakan kepala memberi tanda kepada para penambang untuk meninggalkan tempat itu.


Dan secara perlahan para penambang itu mulai berjalan dengan ragu dan waspada meninggalkan pintu gerbang tersebut. Namun meski terlihat ragu, mereka juga merasa lega disaat yang bersamaan.


"Eh loh, kok kalian tidak berterima kasih padaku? Kalian tidak tahu sopan santun ya?" sela Aksa kemudian yang menghentikan gerakan para penambang itu dengan segera.


"Maafkan kami, Tuan Kesatria, maafkan kami," sahut pria Morra pemimpin dari para penambang itu dengan cepat sambil membungkuk berulang kali. "Terima kasih telah mengampuni nyawa kami. Terima kasih," tambahnya kemudian.


"Terima kasih, Kesatria Cahaya. Terima kasih." Ucapan itu diikuti oleh para penambang yang lainnya sambil membungkukan badan mereka berulang kali.


"Ya sudah sana, pergilah kalian," ucap Aksa kemudian memberikan ijin. "Hati-hati jalannya gelap."

__ADS_1


Dan dengan sedikit bergegas para penambang itu segera meninggalkan benteng tersebut menuju ke selatan.


.


Tak lama setelah para penambang itu menghilang dari pandangan, tampak turun beberapa Yllgarian dari balik awan. Salah satunya terlihat sedang menggendong Lily.


"Bagimana?" tanya kelinci mungil itu begitu ia sudah menginjak daratan.


"Kerja yang luar biasa, Lily. Dengan begini, setidaknya mereka tidak akan berani kemari sampai persiapan perlindungan kita selesai," ucap Aksa di tengah acaranya melepas zirah pelindung.


"Baguslah kalau begitu," balas Lily yang terlihat senang.


"Good job, semua," ucap Aksa seraya mengangkat kedua ibu jarinya ke arah para Yllgarian yang tadi berada bersama Lily di atas Kapal Udara, setelah ia selesai melepas semua zirah yang ia pakai.


"Tapi itu Tiang Petir yang kau pasang di ujung geladak, lebih baik kau lepas. Berbahaya," ucap Lily yang mulai berjalan masuk ke dalam benteng.


"Ya aku tahu. Nanti alat itu akan ku jadikan hiasan saja di luar tenda," jawab Aksa mengikuti Lily berjalan masuk.


-


"Sekarang yang harus kau kuatirkan adalah pasukan dari Ravus yang mungkin akan menyerang dari sisi timur, Aks." Terdengar suara Nata dari Radio Komunikasi yang baru saja dipasang di sebuah ruang kerja dalam benteng tersebut.


"Bukannya kau juga akan melakukan serangan ke wilayah Ravus? Jadi harusnya mereka tidak akan menyerang tempat ini lagi, kan?" ucap Aksa membalas.


"Benar. Tapi tetap pastikan untuk memperketat penjagaan di jalur timur. Dan beri tahu Nona Helen dan Pasukan Elit untuk melakukan serangan ke perbatasan Ravus juga. Karena kita perlu memotong jalur menuju Augra," jelas Nata dari balik Pengeras Suara Radio.


"Oke. Aku mengerti. Akan kupastikan semuanya sebelum aku kembali besok lusa."


"Oh, dan jangan lupa juga untuk memastikan pertambangan sudah kembali berjalan dengan baik," tambah Nata mengingatkan.


"Kau pikir siapa dari kita yang memiliki Hyperthymesia? Sudah jangan cerewet, yang lain sudah menungguku buat memulai pestanya. Dah, bye!" omel Aksa yang langsung mematikan Radio tersebut tanpa menunggu jawaban dari Nata.


Dan setelahnya Aksa membuat sebuah pesta kecil untuk merayakan keberhasilan dari pertunjukannya tadi di ruang makan benteng tersebut.


-


Esok paginya, para prajurit Yllgarian tampak mulai membersihkan wilayah di depan gerbang benteng. Mereka mendapatkan banyak senjata dan pakaian pelindung yang ditinggalkan oleh pasukan Augra.

__ADS_1


Lalu siang harinya para pekerja mulai menggali tanah di pinggiran jalur menuju ke wilayah Augra, untuk mengubur jasad para prajurit yang bernasib sial pada malam sebelumnya.


Dan setelah itu Aksa mulai memberikan jadwal dan rencana kerja untuk pembangunan wilayah di sekitar tempat itu kepada para pemimpin yang bertanggung jawab atas kelompok kerja mereka masing-masing.


Rencananya selain membangun ulang bagian-bagian dari benteng dan fasilitas pertambangan, mereka juga akan membangun pos jaga di pinggiran tebing sepanjang jalur tersebut, lengkap dengan Menara Komunikasi agar tetap dapat saling memberi kabar.


-


Esok harinya Aksa dan Lily pun kembali bersama Kapal Udara menuju ke wilayah pusat Rhapsodia. Meninggalkan Go dengan para penambang, dan beberapa kompi pasukan Yllgaria Macan Kumbang dan Kelalawar untuk berjaga.


Sedang Helen dan Pasukan Elit memulai persiapan mereka untuk melakukan perjalanan menuju ke timur, ke wilayah Ravus.


-


"Sebenarnya apa alasan Nata memaksa untuk menguasai pertambangan itu terlebih dahulu? Bukankah kita bisa menguasainya nanti setelah kita berhasil menguasai seluruh wilayah Vistralle?" tanya Lily saat ia dan Aksa sudah berada di atas geladak Kapal Udara menuju ke wilayah Rhapsodia.


"Ya, karena pertambangan itu punya material yang kita perlukan untuk membuat peralatan guna mengelola wilayah yang akan kita kuasai nanti." Aksa menjawab seraya bersandar pada tepian geladak di sebelah Lily.


"Kau tidak pandai dalam hal menyembunyikan sesuatu, Aks. Pasti ada hal lain disamping alasan tadi," sahut Lily tanpa basa-basi.


"Ya, kau benar, Lily," jawab Aksa tanpa berusaha mengelak. "Sebenarnya kami bukan bermaksud menutup-nutupi atau menyembunyikannya, sih. Hanya menunggu saat yang tepat saja untuk memberi tahukannya kepada yang lain," jelasnya kemudian.


"Apa ini menyangkut tentang kepulangan kalian?"


"Benar. Pertambangan itu memiliki mineral Bauxite dan Ferrosilicon yang penting dalam pembuatan Voltage Multiplier untuk menjalankan Mesin Pemecah Partikel. Awalnya kami berencana untuk membangunnya dalam kurun waktu sebulan setelah kerajaan Lucia sudah setabil.


"Tapi tiba-tiba saja kami melompati waktu, dan sekarang pertambangan itu telah dikuasai oleh kerajaan lain. Karena kuatir kalau-kalau mineral itu telah habis ditambang, maka kami memutuskan untuk mengamankannya lebih dulu." Aksa bercerita panjang lebar.


Sementara Lily terlihat mengangguk kecil mendengar cerita tersebut


"Bayangkan bila kami menceritakan hal ini kemarin-kemarin. Pasti orang-orang akan menolak gagasan kami karena alasannya terlalu egois. Benar, kan?" tanya Aksa dengan wajah yang terlihat serius menatap Lily.


Hal tersebut membuat Lily tertawa kecil. "Kalian ini tetap saja anak-anak," ucapnya sambil menutupkan tangan ke depan mulut.


"Aku tahu kau mengatakan itu karena tampangku yang imut ini. Tapi itu hal yang tidak sopan untuk dikatakan kepada pemuda berusia 19 tahun, kau tahu itu, Lily?" Aksa terlihat tidak terima Lily menyebutnya anak-anak.


"Iya-iya, maafkan aku," jawab Lily yang masih terlihat tertawa kecil.

__ADS_1


-


__ADS_2