Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
30. Peralatan Modern


__ADS_3

Tiga minggu kemudian Aksa dan Nata kembali mengadakan pertemuan dengan Lucia dan para petinggi militer. Kali ini sehubungan dengan beberapa senjata dan perlengkapan untuk para prajurit yang telah selesai dibuat oleh Val dan para pengerajin.


Mereka kembali berkumpul di Atelir Uji Coba. Namun bedanya, kali ini mereka tidak berkumpul di dalam ruangan, melainkan di tanah lapang di belakang bangunannya.


Dihadiri oleh orang-orang yang sebagian besarnya sama. Hanya saja kali ini para pemimpin wilayah tidak hadir. Digantikan oleh beberapa orang dari bidang pertahanan dan serikat petarung.


Telah dijajar di atas satu-satunya meja yang ada di tengah tanah lapang tersebut, beberapa barang yang sebagian dikenali oleh orang-orang yang hadir, dan sebagiannya lagi terlihat sangat asing bagi mereka.


"Alat-alat ini selesai kurang dari dua bulan pengerjaan. Impressive." Aksa membuka percakapan dengan memuji para pengrajin. "Hanya dalam waktu satu setengah bulan, untuk membuat bagian-bagian dari semua peralatan ini," lanjutnya sambil mengangguk kagum menatap Val dan para pengerajin secara bergantian.


"Apa ini semacam sarkas, Tuan Aksa? Apa kita tidak cukup cepat menyelesaikannya?" tanya Matyas yang terlihat ragu dengan pujian Aksa.


"Kuberi tahu, Tuan Matyas. Kalau aku lagi sarkas, alis sebelah kiri ku akan naik," balas Aksa kemudian. "Sekarang, apa anda melihat alis kiriku naik? Tidak, kan?"


"Aksa benar, ini benar-benar pekerjaan yang mengagumkan. Bahkan di dunia kami, sebagian dari peralatan ini butuh waktu cukup lama untuk membuatnya secara manual." Nata tampak setuju dengan pendapat Aksa.


"Kalau memang begitu, berarti kita harus memberi apresiasi kepada para pengerajin untuk kerja keras mereka." Lucia menyela sambil mulai bertepuk tangan untuk para pengerajin yang hadir. Dan kemudian disusul oleh semua orang.


"Wah, gadis itu memang jago sekali kalo buat naikin moral dan manasin suasana kaya gini," bisik Aksa di dekat telinga Nata. "Kurasa itu unique skill miliknya," tambahnya lagi.


.


"Jadi apa saja benda-benda ini. Nat?" tanya Lucia beberapa saat kemudian. Mewakili rasa penasaran lainnya.


"Baiklah kalau begitu, kita akan mulai dari yang ini," ucap Nata mendekati meja dan mengambil benda seperti dua teropong yang sudah umum ada digabung menjadi satu. "Seperti yang sudah Anda sekalian tahu. Pada dasarnya ini adalah teropong. Hanya saja kita membuatnya dua berjajar, yang jelas untuk kedua mata, agar mendapatkan pandangan yang jauh lebih luas dan jelas." Nata menyerahkan teropong tersebut kepada Lucia.


Lucia mendekat dan menerima teropong tersebut.


"Coba arahkan ke sana, Ratu." Aksa menunjuk ke arah tebing jurang jauh di depan mereka. "Anda bisa melakukan penyesuaian dengan memutar bagian depannya seperti ini." Aksa kembali memberi arahan kepada Lucia.


"Seperti ini?" ucap Lucia memutar-mutar lingkaran paling ujung dari teropong tersebut, sambil memperhatikan bagaimana bagian badan alat itu bergerak maju-mundur sambil mengeluarkan suara seperti putaran roda gerigi.


"Bila kalian bingung dengan nama teropong ini dengan yang satu kaca, kalian bisa menyebut yang ini; 'Kekér'," sahut Aksa menyarankan sesuatu yang tidak penting.

__ADS_1


"Oh?!" seru Lucia tiba-tiba, saat ia sudah memasang teropong tersebut di depan matanya. Yang membuat orang-orang di tempat itu bertambah penasaran.


Setelah itu Lucia buru-buru menarik pandangannya dari teropong tersebut dan memincingkan mata memastikan apa yang ada di hadapannya dengan mata telanjang. Kemudian kembali mengangkat teropong itu ke depan matanya.


"Pandangan yang dihasilkan benda ini jauh lebih jelas dibanding teropong yang biasa kita gunakan," ucap Lucia kemudian. "Hanya saja bentuknya terlalu lebar dan kurang mudah disimpan, kalau dibanding dengan teropong umum yang mudah dilipat dan disimpan dalam saku," ujarnya kemudian memberikan pendapatnya.


"Ya, Yang Mulia benar. Untuk sekarang alat ini memang dibutuhkan secara kegunaannya, buka kepraktisannya." Nata menjawab.


"Teropong ini masih mungkin untuk dikecilkan lagi sih, namun perlu bagian-bagian yang akan sulit dibuat untuk sekarang ini," sahut Aksa menambahi.


Semua orang terlihat bersemangat dan dipenuhi oleh rasa penasaran. Kecuali para pengerajin. Karena mereka sudah tahu dan mencoba semua peralatan itu sebelum ini.


.


"Lalu yang ini, seperti yang sudah anda sekalian tahu, adalah Jam. Penunjuk waktu. Kita hanya membuatnya menjadi sangat kecil agar mudah untuk dibawa kemana-mana," jelas Nata kemudian mengambil benda berbentuk lingkaran dengan kaca yang sedikit cembung di salah satu sisinya.


"Terima kasih untuk pengerajin Bintang Timur, yang telah berhasil mengecilkan roda gerigi. Hingga sekarang aku bisa punya jam tangan baru dengan krecek perak yang bertatah permata seperti ini," ucap Aksa sambil menunjukan jam yang tadinya tertutup lengan baju, melingkar di pergelangan tangan kanannya.


Orang-orang terlihat kagum dan sedikit iri melihat jam Aksa tersebut.


"Norak, Aks." Sementara Nata berpendapat lain.


"Sirik. Ini jam tangan official Rhapsodia, kok," balas Aksa acuh tak acuh.


"Itu semua karena bantuan kaca pembesar yang diambil dari konsep teropong, yang telah anda sarankan kepada kami." Matyas menanggapi pujian Aksa.


"Anda merendah biar dibilang orang baik, atau karena ingin dipuji dua kali, Tuan Matyas?" ucap Aksa menyipitkan mata menatap Matyas. "Aku meski dengan kaca pembesar pun tetap tidak akan bisa membuat roda gerigi untuk jam tangan ini," tambahnya kemudian. Yang dibalas dengan tawa kecil dari beberapa rekan pengerajin.


"Baiklah kalau begitu, akan saya lanjutkan," ucap Nata lagi seraya mengambil benda yang mirip dengan jam tadi, namun tidak memiliki kaca cembung di salah satu sisinya. "Ini adalah kompas. Sederhananya ini adalah batu magnet. Dan fungsinya untuk menunjukan arah," jelasnya sambil memutar-mutar alat tersebut untuk menunjukan pada yang lain bahwa jarum yang ada di dalamnya akan selalu mengarah ke Utara dan Selatan.


"Oh, berguna sekali," komentar salah satu orang.


"Benar. Alat ini bisa menjadi pengganti peta bintang saat melakukan pelayaran."

__ADS_1


"Oh, benar juga."


"Lalu yang ini adalah Pisau Lipat serba guna." Nata melanjutkan mengambil sebuah benda oval sebesar genggaman dengan seperti lapisan logam yang sengaja ditumpuk dan dijejalkan di bagian tengahnya.


"Pisau lipat? Serba guna?"


"Karena di dalamnya ada berbagai macam alat yang berguna untuk bertahan di tempat dan kondisi yang tidak terduga," tambah Nata sembari menjungkil keluar satu persatu tumpukan lempengan logam yang berada di bagian tengah tadi.


"Wah, benar-benar ide yang sangat bagus," ucap Caspian saat melihat ada sendok kecil, gunting kecil, batang dengan pola skrup dibagian ujungnya, dan beberapa bentuk peralatan yang sering ia lihat namun dalam ukuran kecil ada dalam pisau lipat tersebut. Disamping bilah pisaunya sendiri.


"Kurasa petarung dan pemburu yang sering melakukan perjalanan melakukan Permintaan Jasa, harus memilikinya," sahut Cedrik tanpa lama berpikir. Pria itu terlihat seperti baru saja menemukan harta karun. Matanya terlihat berbina-binar.


"Ya, benar. Itu akan sangat membantu sekali," timpal salah satu anggota Bintang Api yang lain.


"Kita akan coba mengadakan alat ini untuk para pemburu dan serikat petarung setelah kita menyelesaikan bagian untuk para prajurit," ucap Lucia kemudian.


"Saya mengerti Yang Mulia Ratu," sahut Cedrik seraya membungkuk kecil.


"Ok, baiklah. Dan ini yang terakhir. Kami menyebutnya Senter," ucap Nata seraya mengambil sebuah benda logam berbentuk silinder sebesar pergelangan tangannya. Panjangnya kurang lebih dua kepalan tangan, dan di bagian ujungnya terlihat seperti sebuah corong kecil dengan kaca cembung dan bola lampu pijar sebesar ibu jari terpasang di dalamnya.


"Atau kalian bisa menyebutnya dengan Lampu Portable," ucap Aksa menimpali.


"Ya, karena pada dasarnya alat ini adalah lampu. Namun dibuat sekecil mungkin agar dapat dibawa-bawa." Nata menjelaskan. "Alat ini dijalankan dengan baterai sekali pakai yang mampu membuat lampu menyala selama dua jam penuh sebelum kehabisan tenaga," ucapnya lagi sambil menggeser bagian menonjol yang berada di salah satu sisi Senter tersebut. Dan kemudian bola lampunya pun menyala.


"Ya, inti dari peralatan yang kali ini adalah mengecilkan ukuran benda-benda yang.sudah ada, dan membuatnya terlihat lebih keren," sahut Aksa sambil mengangkat-angkat kedua alisnya dengan wajah konyol.


"Lalu bagaimana dengan baterainya? Kau bilang itu sekali pakai?" tanya Lucia saat ia sedang memperhatikan Senter di tangannya dengan seksama.


"Benar. Dan karena pembuatan baterai berbahan dasar Zeng dan Karbon ini cukup sulit untuk mereka yang belum paham benar dengan listrik dan reaksi kimia, maka beberapa minggu yang lalu kami dan para pengerajin melakukan diskusi menhenai hal ini," ucap Nata menjelaskan. "Dan kita mendapat keputusan bahwa untuk saat ini akan dibentuk sebuah kelompok kecil yang dipimpin oleh Tuan Couran, yang akan bertugas untuk memproduksi baterai-baterai tersebut. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan Senter para prajurit."


"Jadi alat ini juga belum dapat dipakai untuk umum. Baiklah, aku mengerti," jawab Lucia seraya meletakan Senter yang ia pegang di atas meja. "Karena peralatan pendukung ini sudah semua diperkenalkan, sekarang kita lanjut ke persenjataan," ucapnya kemudian.


.

__ADS_1


__ADS_2