
Tidak butuh waktu lama untuk para pengerajin mengeluarkan persenjataan yang baru mereka buat itu dan memajangnya di atas meja.
Senjata yang dijajar di atas meja itu cukup lengkap dan beragam. Mulai dari pisau sampai tombak. Dari busur silang sampai senapan. Begitu pun untuk perlindungannya. Mulai dari seragam dengan bahan jenis baru, sampai pelindung tubuh dengan bentuk yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Dan kemudian yang paling dibangga-banggakan oleh Aksa, sebuah pedang yang sekaligus senapan. Yang ia sebut dengan Gun Blade. Namun tetap saja para pengerajin menyebut senjata itu dengan Senapan Pedang. Terdapat dua model diletakan di paling ujung di atas meja tersebut.
"Mungkin tidak banyak senjata baru di sini. Karena kami hanya merubah bentuk dan bahannya saja, agar lebih praktis dan lebih kuat," ucap Nata membuka penjelasannya.
Semua orang mengangguk paham. Karena mereka mengenali semua persenjataan yang ada di atas meja tersebut. Meski beberapa memiliki bentuk yang sedikit janggal.
"Jadi kita akan melewati penjelasan umum tentang senjata-senjata ini, dan langsung membahas mengenai fungsi atau kemampuan tertentu dari rancangan barunya," lanjut Nata.
"Kita mulai dari Masterpiece Gun Blade ini," sahut Aksa memotong.
"Tidak. Kita mulai dari ujung sana," balas Nata cepat. "Dari Rapid Crossbow itu." Kemudian menunjuk ke arah panah silang berukuran sedang dengan beberapa tambahan tuas dan kotak kayu di bagian atasnya.
Sedang Aksa terlihat cemberut dan membuang muka.
"Jadi busur silang ini adalah peningkatan dari busur silang pada umumnya." Nata memulai penjelasannya. "Bagian atas busur ini memiliki tempat untuk meletakan peluru pasak lebih dari satu. Dan juga menggunakan mekanik untuk menarik tali kekangnya, agar jauh lebih cepat melakukan tembakan." Nata mengambil busur silang itu, kemudian mengarahkannya ke boneka kayu tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Seperti ini kurang lebihnya," ucap Nata yang mulai menarik tuas pelatuk yang ada dibagian atasnya.
Dan bersamaan dengan itu terdengar suara tali busur menegang dan mengendur bersamaan dengan meluncurnya satu peluru pasak dari ujung busur silang itu.
Namun sayangnya peluru pasak itu tidak mengenai sasaran dan melaju terus menghantam dinding bukit di belakangnya.
"Ya, saya memang tidak ahli membidik," ucap Nata jujur, sebelum kemudian mulai menarik tuas pelatuk tadi beberapa kali dalam jedah waktu pendek.
Dan seperti bunyi dari mesin kereta besi saat sedang berjalan, busur silang itu meluncurkan beberapa peluru pasak hampir tanpa sela.
__ADS_1
Semua orang mulai terlihat terkejut dan terkesan dengan rancangan baru busur silang tersebut.
Namun kemudian terdengar Aksa tertawa mencemooh, "Meleset semua, Nat?" tanyanya sambil menunjuk ke boneka kayu yang masih terlihat bersih di hadapan mereka.
Beberapa orang tampak mengikuti Aksa tertawa, walau tidak terang-terangan.
"Yah, this is not my forte," sahut Nata setelah menyerahkan bisur silang itu kepada Caspian untuk dicoba.
"Oh, tidak seberat yang ku kira." Caspian terlihat menimbang sebelum kemudian melakukan bidikan.
Dan tiga peluru pasak menancap berurutan di tengah dada boneka kayu tersebut, tepat setelah Caspian menarik tuas pelatuknya tiga kali.
Semua orang tampak terkesan dengan tembakan Caspian.
"Ya, senjata hebat hanya ketika penggunanya ahli," celetuk Aksa.
"Baiklah, kita lanjut ke senapan ini," ucap Nata kemudian mengacuhkan Aksa. "Bentuk larasnya memang dibuat lebih panjang dibanding senapan umum, karena memang penggunaannya untuk menembak dari jarak yang cukup jauh. Maka dari itu kita juga pasang teropong bidik pada bagian atasnya." Nata mengangkat senapan yang panjangnya hampir satu bentangan tangan pria dewasa itu dan kali ini menyerahkannya ke Cedrik yang berdiri di dekatnya. Ia cukup tahu diri untuk tidak lagi mencoba senjata-senjata itu sendiri.
"Coba bidik papan sasaran yang ada di ujung sana, Nona Shuri," pinta Nata sambil menunjuk papan kayu yang menggantung cukup jauh di dekat dinding bukit.
Shuri mulai melangkah maju. Mengerakan-gerakan bahu dan lehernya sebelum kemudian melakukan posisi membidik melalui teropong kecil yang terpasang di bagian atas senapan tersebut. Terlihat sedang berkonsentrasi.
Kemudian gadis pemburu itu melepaskan nafasnya dan suara ledakan dari senapan pun terdengar. Nyaris bersamaan dengan itu, papan sasaran di dekat dinding bukit tadi berputar liar. Yang menandakan bahwa tembakan Shuri mengenai sasaran.
Sekali lagi orang-orang tampak terkesan. Cedrik bahkan bersiul kagum. Meski nyatanya setelah diperiksa, peluru Shuri hanya mengenai sudut di ujung papan. Bahkan masuk dalam lingakaran sasaran pun tidak.
"Jadi ukuran laras senapan berpengaruh pada jarak jangkau tembakannya?" tanya Caspian tanpa sadar.
"Ya sederhananya seperti itu, Tuan Caspian. Ukuran laras menentukan besarnya tekanan dari ledakan bubuk mesiu untuk mendorong peluru keluar," jawab Nata mencoba untuk memberi penjelasan sesederhan mungkin.
__ADS_1
"Meningkatkan efek dari Powder Burn," sela Aksa. "Dan juga akurasi," susulnya lagi.
"Dan juga, kita menggunakan peluru dengan bentuk dan ukuran yang berbeda." Kali ini Matyas yang sudah cukup paham dengan rancangan senapan tersebut, ikut menambahi.
"Begitu," balas Caspian yang tidak ingin memperpanjang pertanyaannya. Karena ia tidak mau sampai Aksa melakukan penjelasan rumit secara ilmu pengetahuan yang tidak ia pahami.
"Rasanya aneh melakukan bidikan dengan teropong seperti ini. Tapi kurasa tidak terlalu sulit untuk membiasakannya," ucap Shuri setelah beberapa kali melakukan bidikan dan tembakan. "Dan juga sentakan setelah melakukan tembakan itu membuat sulit untuk tetap memastikan posisi bidikan," tambahnya lagi.
Sementara Lucia terlihat puas dengan kemampuan senjata-senjata tersebut. Meski ia belum juga mengeluarkan kata-kata sama sekali semenjak Nata memperkenalkannya.
"Kemudian varian dari pisau dan tombak ini hanya berbeda bahan dan bentuk saja." Nata pun menutup penjelasannya tentang persenjataan baru mereka.
"Dan yang terakhir adalah Mahakarya Gun Blade ini." Aksa dengan segera mengambil alih.
"Jadi apa keunggulan dari senjata ini di luar untuk menebas dan menembak?" tanya Jean kemudian. Terlihat tidak terkesan dengan senjata yang sedari tadi dielu-elukan oleh Aksa itu.
"Eith, bila kalian menyangka senjata ini hanyalah penggabungan dari pedang dan senapan, maka kalian salah besar." Aksa dengan semangat mengambil salah satu dari dua senjata tersebut dengan cara anggun yang dilebih-lebihkan.
Senjata yang Aksa sebut dengan Gun Blade itu memang seperti perpaduan pedang dan pistol bersilinder. Bagian gagangnya tidak benar-benar lurus, karena harus menempatkan pelatuk di bagian atasnya.
Kemudian di bagian pertemuan antara gagang dan bilah pisaunya, terdapat sebuah silinder logam tempat biasa pistol menyimpan peluru. Yang menempel pada sebuah batang logam serupa laras senapan yang memanjang sampai ujung pedang.
Bilah pisaunya pun hanya bermata tunggal. Tajam di bagian dalam. Bagian yang segaris dengan posisi pelatuknya.
"Senjata ini memiliki fiture khusus." Aksa menyerahkan Gun Blade nya itu kepada Caspian. "Cobalah, Tuan Caspian," ucapnya kemudian.
Caspian menerima senjata tersebut. Terlihat nyaman dalam genggaman, meski terasa sedikit lebih berat karena memiliki silinder peluru, beberapa batang logam, dan walau ukuran bilahnya tergolong umum, namun ketebalannya dua setengah kali pedang biasa.
Sedang untuk penampilannya, perpaduan warna hitam pada gagang dan perak mengkilat pada bagian lainnya lah yang menjadikan pedang itu terlihat cukup elegan. Ditambah dengan ukiran burung lambang kerajaan pada pangkal bilah pisaunya, membuat senjata itu jauh lebih cocok dijadikan sebagai pelengkap pakaian resmi sang Ratu untuk menghadiri acara kenegaraan, dari pada sebuah pedang untuk bertarung.
__ADS_1
Dan setelah Caspian merasa cukup melakukan penilaian pada senjata itu, mereka pun mendekat ke bonek kayu untuk melakukan uji coba.
-