Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Prelude


__ADS_3

"Jadi kapal terbang itu mengincar Nezarad, Nalbina, dan Nabradia?" Tyrion bertanya kepada Xiggaz di malam setelah penyerangan di ketiga tempat tersebut terjadi.


"Benar, Tuan. Sepertinya mereka memang sengaja untuk mengepung kita," jawab Xiggaz dari kursi di depan meja kerja Tyrion.


"Kerajaan bedebah itu," sahut Tyrion terdengar sangat kesal. "Lalu apa kau sudah mengertahui dari mana mereka mendapatkan informasi tentang pertemuan tersebut?" tanyanya kemudian mencoba mengalihkan rasa kesalnya.


"Sepertinya, setelah saya gali lebih dalam, itu adalah jaringan mata-mata yang dibangun kembali oleh Joan, tuan," jawab Xiggaz terdengar ragu-ragu.


"Joan?! Perempuan itu yang melakukannya?" Tyrion mulai meninggikan nada suaranya.


"Meski saya juga tidak ingin mempercayainya, tapi seperti itulah informasi yang saya dapat dari beberapa anggota mereka yang berhasil tertangkap," jelas Xiggaz dengan lebih hati-hati setelah melihat reaksi dari tuannya tersebut.


"Berani-beraninya dia menghianatiku. Dasar tidak tahu diuntung," geram Tyrion seraya memukul meja kerjanya.


"Dan sepertinya selama ini dia bergerak dibawah bayang-bayang untuk membantu menjatuhkan wilayah Dux Vistralle." Kembali Xiggaz memberikan informasi yang ia ketahui.


"Jadi ia sudah melakukannya selama ini? Kenapa dia melakukan hal tersebut?" Tyrion menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tidak bisa percaya seseorang yang pernah ia selamatkan itu menghianatinya.


"Saya juga tidak habis pikir. Apa yang ditawarkan pihak Rhapsodia sampai ia mau melakukan semua ini?" Xiggaz juga sama tidak percayanya seperti Tyrion.


"Apa mungkin dia masih marah dengan kejadian 3 setengah tahun yang lalu itu?" Tyrion mulai menduga-duga alasan Joan menghianatinya. "Tapi kematian pria dari keluarga Ghaltia itu tidak bisa dihindarkan lagi. Aku tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkannya," lanjutnya berbicara sendiri.


Sedang Xiggaz yang memiliki pemikiran lain, hanya memilih untuk diam.


"Dan bukan salahku juga dia menolak seluruh bantuan yang ku berikan," lanjut Tyrion seolah mencari pembenaran. "Malah memilih pergi dan hidup miskin dipingiran kota Gala, di wilayah yang sedang dilanda kelaparan seperti itu."


"Tanah yang ia tinggali itu milik keluarga Ghaltia," sahut Xiggaz memberi informasi yang tidak perlu.


"Tetap saja. Apa untungnya menjaga tanah keluarga baron seperti itu?" sanggah Tyrion cepat. "Dan sekarang ia malah mencoba untuk membalas ku? Picik sekali wanita itu."


"Saya rasa Joan tidak memiliki rencana untuk membalas dendam kepada anda, tuan." Xiggaz akhirnya mengungkapkan pemikirannya.


"Ya, itu sebelum ia mendapatkan kekuatan dan juga kesempatan untuk melakukannya," jawab Tyrion cepat. "Jangan terlalu naif, Xig. Sifat dasar manusia memang seperti itu," lanjutnya.


Sedangkan Xiggaz mencoba bijak memilih untuk tidak menjawab ucapan tuannya tersebut.


"Temukan dan tangkap perempuan itu sekarang juga, Xig. Dan bawa kepadaku," perintah Tyrion kemudian.

__ADS_1


"Sebenarnya... saya sudah menemukannya, tuan." Kembali Xiggaz terlihat ragu untuk menjawab. "Namun rasanya akan cukup sulit untuk menangkapnya," lanjutnya.


"Memang ada dimana dia sekarang?"


"Sekarang Joan berada di Nalbina yang telah dikuasai oleh Kerajaan Rhapsodia," jawab Xiggaz kemudian.


"Shhh.... sialan!" Tyrion melempar tempat lilin perak yang berada di atas mejanya ke salah satu lemari kaca di samping kirinya.


Suara benturan logam dan pecahan kaca terdengar nyaring menggema. Tepat di saat Vistralle mengetuk pintu ruangan yang sudah terbuka lebar itu sebagai tanda kesopanan.


"Apa aku datang tak tepat waktu?" ucap Vistralle dari ambang pintu.


"Ck, apa lagi sekarang, Vis?" tanya Tyrion dengan kesal saat melihat keberadaan Vistralle.


"Aku hanya ingin meneruskan laporan dari salah satu prajuritmu yang tidak berani masuk karena melihat kemarahanmu itu," ucap Vistralle seraya berjalan masuk sebelum dipersilahkan. Dan kemudian duduk di kursi di sebelah Xiggaz.


Tyrion menghembuskan nafas penuh beban sebelum kembali membenahi posisi duduknya. "Dan laporan apa itu?" tanyanya kemudian.


"Pasukan Rhapsodia mulai bergerak dari wilayah Eblan menuju ke kota ini," jawab Vistralle dengan tenang.


Kali ini Tyrion tidak berteriak seperti sebelumnya. Ia hanya memegang pelipisnya dengan resah.


Sedang Tyrion tidak menjawab. Ia masih terlihat memegang pelipisnya dengan gusar.


"Semua akan berakhir saat wilayah ini berhasil diambil alih oleh mereka," ucap Vistralle sekali lagi.


"Aku tahu tentang itu, Vis. Hanya saja pihak utara sudah tidak mendengarkan permintaanku lagi semenjak Perang Saudara pecah di wilayah Elbrasta." Akhirnya Tyrion pun menjawab. Meski dalam geram. "Mereka hanya bisa memberi ku beberapa Senjata Mistik untuk membantu. Sudah hanya itu saja," lanjutnya menjelaskan.


"Dan apa kau pikir dengan beberapa Juara bersenjata mistik dapat mengalahkan pasukan dari kerajaan itu? Bahkan sekarang mereka juga memiliki Juara dengan Senjata Mistiknya." Vistralle kembali berucap.


"Aku juga tahu itu, Vis. Berhentilah mengeluh dan beri tahu aku apa rencanamu?" Nada suara Tyrion sudah mulai meninggi.


"Rencanaku sudah berantakan setelah mereka mengirim Kapal Udara dengan meriam berimbuh sihir itu ke Kota Suci," jawab Vistralle masih terlihat tenang.


"Jadi kau akan menyerah begitu saja?" tanya Tyrion kemudian.


"Ya, menyerah juga sebuah rencana, kan?" balas Vistralle dengan tenang. "Tapi mungkin hal itu tidak akan cocok untuk kita berdua. Karena itu berarti kematian," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kabur?"


"Benar, aku akan melarikan diri ke selatan." Kembali Vistralle menjawab pertanyaan Tyrion dengan cepat. "Apa kau akan tetap tinggal? Bukankah melarikan diri adalah langkah andalanmu, Ty? Kenapa sekarang beda?"


Terlihat Tyrion menatap sinis ke arah Vistralle. "Aku masih harus bertahan," jawabnya dengan enggan. "Setidaknya sampai aku berhasil membunuh Ratu muda itu."


"Oh, jadi itu rencana besarmu? Kau ingin mengirim semacam pembunuh bayaran untuk menghabisi Ratu mereka?" Vistralle sengaja terlihat terkejut menanggapi ucapan Tyrion tersebut.


Tyrion masih menatap sinis ke arah Vistralle tanpa menjawab.


"Memang memenggal kepala akan menghentikan kaki dan tangannya. Tapi apa kau punya orang yang tepat untuk melakukan tugas itu?" Vistralle bertanya dengan nada tidak yakin.


"Kau tidak perlu tahu tentang hal itu," jawab Tyrion tidak ingin menceritakan hal tersebut kepada Vistralle.


"Ya, setidaknya kau terlihat cukup percaya diri." Kemudian Vistralle bangkit berdiri dari kursinya.


"Kalau begitu, aku mau meminta maaf dan juga berterima kasih terlebih dahulu. Atas segala hal yang telah terjadi selama ini. Karena mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu," ucap Vistralle kemudian. "Selamat tinggal dan semoga beruntung. Pastikan untuk tidak terlambat kabur," lanjutnya seraya berjalan keluar ruang kerja tersebut.


"Pria menyebalkan itu," geram Tyrion menatap Vistralle yang berjalan pergi meninggalkan ruangannya.


\=


Sementara di Kota Wang di wilayah Nalbina. Vossler terlihat sedang berbincang dengan Joan di salah satu tenda yang didirikan di antara puing-puing gerbang kota yang telah hancur.


"Terima kasih, kalian sudah bekerja dengan baik. Sekarang para penyembuh dan para tabib sudah bersiap dengan tenda-tenda perawatan untuk mulai menangani para penduduk yang terluka," ucap Vossler bersungguh-sungguh.


"Ya, Jendral. Saya juga sudah memerintahkan anggota jaringan mata-mata untuk ikut membantu mengantar para penduduk ke tenda-tenda tersebut." Joan menjawab.


"Dan dari yang kudengar, jaringan anda di Kota Zang juga berhasil mengeluarkan para penduduk sebelum tuan Evora menyerang. Aku pribadi juga berterima kasih atas kerja keras yang mereka lakukan," tambah Vossler lagi.


"Terima kasih atas apresiasi yang anda berikan, Jendral. Saya akan memberitahukannya kepada mereka tentang ucapan terima kasih anda tersebut," ucap Joan menjawab dengan penuh rasa hormat.


"Tapi tetap saja kita belum dapat bersantai dulu. Karena ini bukan akhir dari tugas kita. Kita masih akan melakukan serangan ke wilayah Solidor setelah ini," ucap Vossler kemudian seolah mengingatkan Joan.


"Ya, saya mengerti, Jendral. Dan rencananya Informan saya akan tiba malam nanti untuk melaporkan situasi dan kesiapan di wilayah Solidor." Joan yang sadar akan hal itu mrnjawab dengan tegas.


"Baguslah. Kita harus segera bergegas dan mengakhiri peperangan ini," jawab Vossler seraya menuangkan minuman pada gelas kosong Joan. "Untuk keberhasilan kita," ucapnya kemudian seraya mengangkat gelas minumnya yang juga sudah kembali terisi penuh.

__ADS_1


"Untuk keberhasilan kita," balas Joan seraya ikut mengangkat gelas minumnya, bersulang dengan Vossler.


-


__ADS_2