Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
07. Mempersiapkan Panggung


__ADS_3

"Hari ini tadi, Aksa bersama para pekerja dan para penambang telah berangkat menuju Pegunungan Trava. Dan dua hari lagi kita akan mulai penyerangan kita ke tempat-tempat penting di wilayah Vistralle," ucap Nata di sebuah pertemuan yang diadakan beberapa saat setelah Aksa berangkat.


"Menunggu dua hari lagi? Bukankah akan sangat disayangkan bila kita melewatkan kesempatan untuk melakukan serangan kejutan lagi? Setelah penyerangan di Pegunungan Trava, bukankah mereka akan jadi lebih waspada terhadap kita?" Vossler mengungkapkan pendapatnya.


"Saya rasa tidak. Saya yakin sekarang pun mereka tidak akan sadar bahwa kita lah yang telah menyerang Pertambangan Trava tersebut. Mungkin malah saat ini Vistralle dan kerajaan Augra akan mulai saling mencurigai," jawab Nata menanggapi.


"Benar. Karena tidak masuk akal bila kita melakukan serangan jauh di tengah dataran selatan tanpa meninggalkan jejak saat melewati wilayah Vistralle," ucap Caspian menambahkan pengamatannya.


"Meskipun mereka memiliki kecurigaan, mereka tetap tidak akan melakukan persiapan apapun sebelum benar-benar dibuktikan," ucap Nata lagi.


"Benar. Aku rasa juga seperti itu." Lucia terlihat sependapat dengan Nata. "Jadi yang sekarang kita prioritaskan adalah keamanan para penambang dan pekerja yang berada di pertambangan Trava sana," tambahnya kemudian.


"Jangan kuatir, Yang Mulia. Kita telah mengirim 80 prajurit Yllgarian ikut bersama rombongan Tuan Aksa tadi." Caspian membalas.


"Nantinya Aksa juga akan menjalankan rencana untuk menghadapi serangan pihak Augra. Dan setelah berhasil, kita bisa segera menarik Pasukan Elit dari sana dan mulai menjalankan rencana berikutnya." Nata kembali memberi penjelasan. "Yaitu memotong semua jalur dari wilayah Augra ke wilayah Ravus dan Lighthill, sebelum kita mengambil alih wilayah-wilayah itu."


"Saya mengerti, Tuan Nata." Caspian mengangguk paham.


"Apa Aksa akan baik-baik saja?" Lucia terlihat sedikit kuatir.


"Meski orang itu selengean dan tidak tahu adat, tapi dia adalah orang yang teliti dan sangat perhitungan. Jadi Yang Mulia tidak perlu terlalu mencemaskan Aksa. Lagi pula Lily ada bersamanya." Nata menjawab.


"Aku malah merasa kasihan dengan prajurit Augra. Entah apa yang akan ia lakukan terhadap mereka disana," sela Jean kemudian dengan candaan.


Terlihat beberapa orang tertawa kecil mendengar lelucon Jean tersebut.


"Lalu bagaimana dengan kabar dari Nona Versica?" Nata melanjutkan tema perbincangan.


"Dia sudah siap dengan seluruh jaringannya. Radio yang kita selundupkan ke dalam jaringan mata-mata mereka juga sudah dipasang dan bisa digunakan," jelas Caspian.


"Apa tidak berbahaya mengirim Radio Komunikasi pada mereka, Nat? Bagaimana bila mereka berkhianat? Mereka bisa mendengar semua percakapan kita dengan para prajurit." Lucia kembali terlihat kuatir.


"Jangan kuatir, Yang Mulia. Radio yang kita berikan pada mereka memiliki frekuensi.. maksud saya jalur komunikasi yang berbeda dengan yang kita gunakan. Mereka tidak akan mendengar apapun diluar jalur yang sudah kita tentukan," jelas Nata mencoba untuk menghilangkan kekuatiran Lucia.


"Oh, jadi Radio bisa digunakan seperti itu?" celetuk Jean tanpa sadar.


"Benar. Dan kita akan sangat mengandalkan bantuan informasi dari jaringan Nona Versica untuk meningkatkan keberhasilan kita dalam penyerangan kali ini," ucap Nata yang masih mencoba untuk meyakinkan Lucia.

__ADS_1


Sementara Lucia sendiri hanya mengangguk diam. Tatapannya masih sedikit terlihat kuatir.


-


Sementara sesampainya di Pertambangan Trava, Aksa segera berkeliling melakukan pemeriksaan wilayah.


Dan kemudian mengadakan pertemuan dengan Helen, Evora, dan Go untuk membahas tentang rencana berikutnya.


"Jadi mereka sudah mengirim pasukan menuju kemari? Wah, gercep sekali mereka," ucap Aksa setelah mendengar laporan dari Helen bahwa pasukan Augra sedang dalam perjalanan menuju tempat tersebut.


"Kemungkinan mereka akan tiba di depan gerbang benteng nanti malam." Evora menambahi.


"Tapi mereka tak mungkin langsung melakukan serangan bukan? Mengingat perjalanan mereka menuju tempat ini," ucap Aksa memastikan perkiraannya.


"Mungkin mereka akan memulai penyerangan besok paginya." Evora juga memiliki perkiraan yang sama.


"Hm... tapi kita perlu melakukannya saat malam hari agar terasa lebih mengena." Aksa terlihat mulai berbicara sendiri.


"Apa rencana Anda, Tuan Aksa?" Helen bertanya.


"Pertunjukan?" Helen terlihat tidak mengerti maksud ucapan Aksa.


"Menakut-nakuti?" Evora juga terlihat tidak mengerti.


"Ya, nanti aku jelaskan sekalian saat mulai dikerjakan. Sekarang kita akan membuat jadwal untuk pembangunan ulang beberapa bagian pada benteng ini," ucap Aksa kemudian. "Dan juga memulai penambangannya," tambahnya yang kali ini ditujukan kepada Go.


"Sepertinya peralatan-peralatan kita sebelumnya tidak digunakan oleh penambang mereka. Mungkin karena mereka tidak mengerti cara penggunaannya. Tapi untung hampir seluruhnya masih dalam kondisi bagus dan dapat langsung kita gunakan. Jadi Penambangan bisa segera dimulai kapanpun kita mau," ucap Go panjang lebar menjelaskan penilaian dari hasil pemeriksaan yang baru saja ia lakukan.


"Nona Elaine memang andalan," puji Aksa dengan tulus.


"Sudah kubilang, jangan memanggilku dengan nama depan saat berada di pertemuan seperti ini." Go terlihat kesal dengan kelakuan Aksa.


"Kenapa memangnya? Nama anda cantik. Apa yang salah dengan nama itu?" Aksa menanggapi kekesalan Go dengan santai. "Benarkan?" tanyanya kemudian kepada Helen dan Evora.


Sedang Helen dan Evora terlihat mencoba menghindar dari tatapan juga pertanyaan Aksa tersebut.


"Sudah lupakan." Go terlihat malas meneruskan pembicaraannya dengan Aksa. "Lalu bagaimana dengan para penambang Augra yang sedang dikurung itu?" tanyanya kemudian merubah topik bahasan.

__ADS_1


"Apa kita akan mempekerjakan mereka?" Helen ikut bertanya.


"Menurut saya percumah mempekerjakan mereka," sahut Go mengutarakan pemikirannya. "Karena cara menambang yang mereka gunakan masih cara yang kuno. Saya takut hal itu malah akan memperlambat pekerjaan penambang kita," tambahnya memberikan alasan.


"Wah, anda benar-benar jumawa, Nona Elaine. Aku suka itu," sahut Aksa dengan senyum mengembang. "Dan memang tidak. Kita tidak akan menggunakan mereka sebagai pekerja. Kita akan menggunakan mereka sebagai alat penyebar rumor," jelasnya kemudian.


"Penyebar rumor?"


"Benar. Setelah semua pertunjukan yang akan mereka saksikan nanti, kita akan melepaskan mereka. Dan membiarkan mitos terbentuk dari tutur yang terus menular di wilayah kerajaan Augra sana," jelas Aksa yang terlihat mulai bersemangat dengan bayangannya sendiri.


"Maaf, tapi aku masih tidak bisa mengerti jalan pikiran mu." Go berucap jujur.


"Aku memang orangnya abstrak dan misterius, Nona Elaine," balas Aksa yang terlihat bangga seolah ucapan Go tadi adalah sebuah pujian. "Oh, dan juga jangan lupa untuk mematikan dan menyimpan peralatan Formasi Sihir anti-teleportasi milik Augra yang dipasang di benteng ini, setelah penambang mereka keluar semua," ucapnya lagi mengingatkan Helen. "Lumayan kan, kita dapat barang sihir gratisan."


-


Setelah itu Aksa mulai melakukan persiapan untuk pertunjukannya. Dibantu oleh para pekerja, prajurit Yllgarian, dan juga Trio Pemburu.


"Jadi untuk apa cetakan-cetakan dengan bentuk peluru ini, Tuan Aksa?" Loujze bertanya saat membantu Aksa mengelurakan peralatan dari dalam peti kayu.


"Untuk mencetak peluru es," jawab Aksa sambil lalu.


"Peluru es? Apa seperti sihir es yang biasa digunakan para penyihir untuk menyerang itu?"


"Kurang lebih. Kita memerlukannya untuk menghadapi prajurit Augra nanti," jawab Aksa yang tampak berjalan dengan sempoyongan karena puluhan tongkat logam dalam pelukannya.


"Kenapa kita perlu mencetak peluru es? Bukankah lebih praktis bila para penyihir langsung mengeluarkannya di saat pertarungan berlangsung?" Terlihat Loujze mengambil beberapa tongkat logam dari pelukan Aksa.


"Karena kita akan gunakan peluru-peluru itu dengan senapan." Aksa menjawab.


"Senapan dengan peluru es? Apa itu juga bagian dari pertunjukan yang akan anda lakukan nanti?" Loujze bertanya lagi.


"Dan segala lampu berkaki ini juga bagian dari pertunjukan itu?" Deuxter menambahi sebelum Aksa sempat menjawab.


"Benar. Kita akan membuat sebuah legenda dengan semua ini."


-

__ADS_1


__ADS_2