Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
25. Rencana Pengiriman


__ADS_3

Terlihat Telepon Sihir ditempatkan di tengah meja ruang pertemuan kediaman Lucia. Aksa memang membuat alat tersebut dengan beberapa kemampuan seperti pengeras suara agar dapat digunakan sebagai alat komunikasi untuk sebuah pertemuan.


"Apa anda yakin akan melakukan mengiriman melalui jalur darat seperti itu?" Terdengar suara Lugwin dari pengeras suara memastikan setelah mereka selesai membicarakan rencana pengiriman peralatan perang.


"Kita tidak punya pilihan lain. Karena hanya jalur darat lah yang paling praktis dan efisien untuk digunakan." Nata menjawab dengan alasannya.


"Bukankah itu berarti kalian dengan terang-terangan menunjukan sikap melawan Sefier? Hal tersebut akan memprovokasinya untuk menyerang Rhapsodia. Apakah tidak apa-apa? Bukankah itu hal yang ingin kalian hindari?" Lugwin menghawatirkan keputusan yang dibuat Nata tersebut.


"Ya mau bagaimana lagi? Kita memerlukan kecepatan gerak untuk saat ini," balas Nata dengan sedikit pasrah. "Dan karenanya untuk sedikit mempermudahkan kami, kami juga ingin meminta bantuan dari pihak Estrinx," susul pemuda itu kemudian.


"Dan apa itu?" tanya Lugwin.


"Kami ingin pihak Estrinx untuk melakukan penjemputan." Nata menjawab cepat.


"Penjemputan?" Lugwin memastikan.


"Benar. Kita akan bertemu di tengah jalan," balas Nata masih dengan cepat.


"Sebentar, apa aku tidak salah dengar? Itu berarti anda meminta kami melakukan serangan ke wilayah selatan Elbrasta?" suara Lugwin terdengar sedikit meninggi.


"Benar. Serangan ke wilayah selatan Elbrasta. Dengan begitu pendistribusian akan berjalan dengan lebih cepat." Nata menjawab dengan tenang.


"Bukankah itu rencana yang ceroboh."


"Melakukan pertemuan di wilayah lawan yang tidak kita ketahui? Bukan kah itu sangat berbahaya?"


"Apa ini lelucon?"


"Itu terdengar seperti jebakan, buatku."


Terdengar suara-suara gaduh di belakang Lugwin menanggapi permintaan dan rencana dari Nata tersebut.


Sementara di ruang pertemuan kerajaan Rhapsodia, Lucia dan para petinggi yang hadir terlihat memasang wajah maklum. Karena mereka juga memiliki reaksi yang sama saat mendengar rencana Nata tersebut untuk pertama kalinya sebelum pertemuan dimulai.


"Maaf, tuan Nata. Tapi ini bukan soal kecepatan. Bila kami melakukan hal tersebut, maka Sefier akan mulai memusatkan serangan ke Kotaraja. Dan kami tidak akan dapat menahan serangan tersebut karena konstentrasi pasukan kami terbagi." Terdengar Lugwin memberi penjelasan setelah beberapa saat terdiam untuk mengatur emosi dan menenangkan diri.


"Kalau Yang Mulia berkenan mendengarkan, saya memiliki rencana untuk itu," balas Nata kemudian.


"Sebutkan."


Dan Nata pun mulai menjelaskan rencananya secara mendetail.


"Jadi rencanamu adalah merubah rute pasukan kami dan memutar ke arah Kotaraja setelah menerima persenjataan dari kalian?" Lugwin bertanya memastikan setelah mendengar penjelasan dari Nata tentang rencananya.


"Benar. Dengan begitu bila pun mereka berencana melakukan serangan ke kotaraja, pasukan bantuan masih dapat mengejarnya." Kembali Nata menjawab dengan penjelasan.

__ADS_1


"Apa anda berpikir pasukan kami dapat mengejar bila hal tersebut terjadi, tuan Nata?" Tiba-tiba terdengar suara Matiu bertanya dengan sedikit serak.


"Ya, saya yakin pasukan yang anda kirim untuk menjemput kami dapat dengan cepat kembali ke Kotaraja saat dibutuhkan." Nata menjawab dengan penuh percaya diri.


"Karena benda yang disebut dengan Kereta Besi dan Kereta Penghancur yang akan kami antarkan itu dapat bergerak dengan sangat cepat tanpa memperdulikan kebangakan medan. Jadi saya bisa dengan percaya diri mengatakan hal tersebut," lanjutnya dengan penjelasan.


Terjadi kesunyian sebentar setelah Nata selesai berucap. Tampaknya Lugwin dan para pejabatnya tengah berdiskusi tentang masalah tersebut di luar Telepon Sihir.


"Baiklah, tuan Nata. Kami akan mengikuti rencana anda," jawab Lugwin memecah kesunyian.


"Terima kasih, Yang Mulia." Nata terlihat puas. "Setelah ini saya akan menghubungi Yang Mulia secara pribadi setelah persiapan kami selesai dilakukan."


"Baiklah, aku mengerti." Lugwin menjawab.


"Berarti kita sudah sepakat, Arcduke?" Kali ini Lucia yang bertanya kepada Lugwin.


"Ya, Yang Mulia. Kami akan mengikuti arahan dari Yang Mulia Ratu dan tuan Nata untuk rencana kali ini," jawab Lugwin sebagai sesama pemimpin kerajaan.


"Baiklah kalau begitu. Semoga kita bisa bertemu setelah ini, Lug," ucap Lucia yang kali ini berbicara sebagai seorang sahabat.


"Ya, aku menantikannya Luc," balas Lugwin dengan sama kasualnya sebelum kemudian sambungan terputus.


-


Tak lebih dari 10 hari kemudian pendistribusian peralatan perang dan persenjataan ke wilayah Estrinx pun dimulai dengan menggunakan beberapa Kereta Penghancur langsung dari gerbang utara Rhapsodia, menuju wilayah Estrinx melewati wilayah selatan Elbrasta.


Kemudian dengan koordinasi dari Nata melalui Telepon Sihir, serangan pasukan Estrinx ke garnisun dan markas-markas militer Elbrasta di wilayah selatan pun menjadi jauh lebih mudah.


Dan setelah hari kedua, tim pendistribusian pun akhirnya bertemu dengan pasukan penjemput kerajaan Estrin Tak jauh dari garis perbatasan wilayah Elbrasta.


Setelah melakukan serah terima, kedua pihak pun berpisah keesokan harinya. Tim yang dipimpin Vossler segera kembali ke Gerbang Utara, sementara mengikuti instruksi dan rencana dari Nata, pasukan penjemput kerajaan Estrinx yang kini sudah memiliki persenjataan dan Kerta Penghancur, melakukan rute memutar menuju Kotaraja mereka.


Bersamaan dengan itu melakukan serangan ke garnisun dan markas militer pasukan Elbrasta yang mereka temui di sepanjang jalur mereka.


-


Seminggu setelah menerima bantuan persenjataan dari Rhapsodia, perlawanan pasukan Estrinx dalam menghadapi pasukan Elhrasta di wilayah perbatasan pun mulai membuahkan hasil.


Perlahan namun pasti pasukan Elbrasta dipukul mundur hingga jauh ke belakang garis perbatasan.


Semua itu karena strategi dari Nata dan jaringan Radio Komunikasi yang mulai diterapkan secara bertahap oleh Lugwin di wilayah Estrinx.


Bahkan Kerta Besi dan Kereta Penghancur yang diberikan oleh pihak Rhapsodia sebelumnya, kini hanya digunakan sebagai pembuka serangan dan pendistribusian bahan makan serta obat-obatan saja.


-

__ADS_1


Sementara itu di wilayah Rhapsodia.


"Seperti yang sudah kita duga sebelumnya. Para bangsawan Elbrasta menuntut audiensi dengan Yang Mulla Ratu." Orland membuka tema utama pertemuan kali ini.


Pertemuan dadakan yang hanya diikuti oleh Lucia, Nata, Orland, Amithy, dan Cornelius.


"Apa ini tentang perjanjian kita dengan Estrinx?" Lucia bertanya.


"Kemungkinan mereka telah mendengarnya dan mengira Rhapsodia sudah mulai menentukan sikap dalam permasalahan ini. Yaitu melawan Sefier." Amithy menambahkan dugaannya.


"Dan tampaknya mereka ingin ambil bagian dalam pergerakan tersebut." Orland menimpali.


"Ya sudah jelas itu." Kali ini Cornelius yang berucap setuju dengan sang ayah.


"Bagaimana menurutmu, Nat?" Lucia memotong pendapat yang lain dan meminta pendapat dari Nata.


"Saat ini kita tidak memerlukan lebih banyak masalah. Dan tampaknya akan jadi masalah bila kita mengikut sertakan mereka dalam hal ini," jawab Nata yang serupa dengan pendapat orang-orang yang ada dalam ruang pertemuan tersebut.


"Malahan jauh lebih baik bila kita membantu para pemberontak dari kerajaan Cilum," susul pemuda itu kemudian.


"Ya, tapi sayangnya kita tidak memiliki kemampuan untuk itu sekarang ini." Lucia menjawab.


"Ya, sanyangnya memang seperti itu." Nata menyetujui ucapan Ratu muda itu.


"Kalau begitu tolong ulur permintaan mereka selama yang paman bisa. Setidaknya aku baru akan menemui mereka setelah memastikan Estrinx sudah berhasil mempertahankan wilayah mereka," ucap Lucia meminta kepada Orland.


"Baik Yang Mulia. Akan saya lakukan," jawab pria tua itu dengan cepat. "Tapi mungkin tidak akan terlalu lama. Karena Daniel Voryn itu cukup cerdas dalam membaca situasi dan mempengaruhi sekitar. Saya yakin dia akan menemukan celah yang dapat dia gunakan untuk bertemu dengan Yang Mulia," tambahnya kemudian.


"Aku mengerti paman. Kita akan mencari solusinya ketika hal itu terjadi nanti." Lucua merespon.


"Baik Yang Mulia."


"Dan berhubung  kita sudah berkumpul seperti sekarang, maka ijinkan saya untuk sekalian membahas masalah yang lainnya," sahut Nata kemudian.


"Oh, baiklah. Bahasan apa yang hendak kau bicarakan?" Lucia dengan senang hati mempersilahkan.


Dan pertemuan itu pun berlanjut dengan pembahasan lain. Namun kebanyakan tetap berhubungan dengan kerajaan Estrinx. Disamping permasalahan dengan kerajaan selatan, Joren dan Augra.


-


Dan beberapa hari kemudian, secara mengejutkan, tanpa angin tanpa hujan, terdengar kabar yang menggemparkan Dataran Utara, bahwa Sefier menaiki tahta dan menobatkan dirinya sendiri menjadi raja.


Tapi bukan raja dari kerajaan Elbrasta. Ia telah membubarkan kerajaan tersebut dan mendirikan kerajaan baru bernama Bruixeria Raya.


Dan sebagai tindakan pertamanya setelah menjabat sebagai Raja kerajaan Bruixeria Raya, Sefier mendeklarasikan Perang Suci kepada seluruh kerajaan di Daratan Utara.

__ADS_1


-


__ADS_2