Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
33. Gambar Udara I


__ADS_3

Seminggu setelah Elektrolisis Air selesai dipasang, dan Galangan kapal di sungai Jurang Besar sudah mulai digunakan, Aksa pun mulai mengurung diri dalam Laboratorium dan memulai pekerjaan khusus yang sudah ia janjikan pada Nata.


Aksa praktis tidak pernah keluar gua. Di samping karena mereka sempat membangun kamar mandi dan toilet di dalam gua tersebut saat mereka sedang membangun kamar mandi di tebing belakang tenda, juga karena Aksa jadi sangat serius ketika sedang bekerja. Ia bahkan sering lupa makan bila tidak diingatkan.


Namun tidak keluarnya Aksa dari gua kali ini tidak menimbulkan kekuatiran yang lain kalau-kalau pemuda itu menghilang lagi. Di samping Nata yang masih sering bertemu dengan orang-orang untuk membahas tentang berbagai hal, juga karena Couran, Val, dan juga Marco ikut tinggal di dalam Laboraturium tersebut untuk membantu. Bahkan mereka memasang tungku perapian untuk menempa logam di dalam gua di depan Laboraturium tersebut. Tak jauh dari kamar mandi dan toilet berada.


Di sisi lain, Rafa, Luque, dan Lily juga rutin mengunjunginya setiap hari untuk mengantarkan makanan.


.


Dan tepat lima hari kemudian Aksa menyelesaikan pekerjaannya. Dan akhirnya ia pun keluar dari gua setelah sekian lama tidak melihat matahari.


Tampang pemuda itu terlihat lusuh dan tampak kurang istirahat. Kulitnya pucat, kantung matanya tebal. Namun raut wajahnya terlihat puas dan bahagia. Berjalan angkuh dengan dada membusung dan kepala diangkat. Menenteng sesuatu yang tampak dibungkus oleh kain, dengan bangganya.


Di belakang tampak Val, Couran, dan Marco berjalan mengikuti. Terlihat Marco menarik lori berisi beberapa peralatan aneh lainnya.


Couran dan Marco tidak tahu alasan kenapa Aksa begitu gembira telah menyelesaikan pembuatan benda aneh tersebut. Dan meski ikut membantu membuatnya, namun mereka tetap tidak tahu benda apa itu. Karena setiap kali mereka bertanya benda apa itu, dan apa kegunaannya, Aksa selalu menjawab; 'Kalian lihat sendiri saja kalau sudah jadi.'


.


Lucia dan hampir semua orang penting hadir saat Aksa keluar dari gua tersebut. Mereka tidak mau ketinggalan melihat benda yang benar-benar dibuat oleh Aksa sendiri. Yang seolah menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk membuat benda tersebut.


Dan mengikuti arahan dari Nata, para pekerja membuat sebuah tenda terbuka tak jauh dari tenda mereka. Untuk memasang peralatan yang sekarang berada dalam lori yang sedang ditarik oleh Marco.


Aksa mengeliat sambil menarik nafas dalam-dalam begitu tiba di hadapan orang-orang yang sedang menunggunya. "Dan setelah lima hari ini bekerja keras, akhirnya tiba juga waktu untuk kalian melihat maha karya yang telah ku buat. Relik Utusan Dewa. Benda yang berasal dari luar dunia ini. Teknologi dan ilmu pengetahuan dari masa depan," ucapnya kemudian dengan penuh semangat. Bahkan ia tidak menyapa orang-orang tersebut.


"Sudah cepat, Aks. Ga usah lebay," sahut Nata memotong ucapan Aksa.


Namun suasana hati Aksa yang sedang baik itu membuatnya tidak merasa kesal atau marah mendengar ucapan Nata tersebut. Ia masih terlihat tersenyum lebar berjalan mendekati kerumunan orang dan kemudian menyibak kain yang menutupi benda yang sedari tadi ia bawa.


"Behold!The elegant yet very deadly. Inilah dia, Qubeley." Aksa mengangkat benda itu ke depan agar dapat dilihat oleh yang lain.

__ADS_1


Benda itu berbentuk kotak panjang mengerucut dengan banyak persendian terpasang dalam jarak tertentu. Mirip seperti tubuh seekor capung, lengkap dengan empat cincin besar dalam posisi berjajar di sisi kiri dan kanannya sebagai pengganti sayap. Namun bedanya dengan capung, benda itu masih memiliki dua cincin lagi yang lebih kecil mengapit tepat di tengah bagian yang serupa dengan ekor.


Di dalam cincin-cincin itu tadi terdapat baling-baling seperti kincir dengan 8 kipas yang terlihat hampir tembus pandang.


Benda berbentuk janggal itu memiliki warna dominan putih dengan unggu pudar dan hitam kusam tampak di beberapa tempatnya.


Di bagian atasnya terdapat seperti kotak logam yang menempel tepat di antara empat cincinnya.


Dan yang membuatnya semakin terlihat janggal adalah, adanya bola logam dengan enam lingkaran kaca yang membentuk pola, menempel tepat di bagian bawah benda yang disebut dengan Drone itu.


Semua orang tidak berpendapat ketika melihat benda tersebut. Mereka tidak tahu harus berharap apa tentang benda yang tidak pernah ada sebelumnya itu.


"Oh, Kau memberi warna putih dan pink untuk Drone itu?" Nata terlihat kurang suka.


"Jelaslah, apa kau tidak tahu AMX-004 Qubeley?" Aksa merasa tidak terima dengan reaksi pertama dari sahabatnya itu.


"Tidak. Lagi pula dari mana kau mendapatkan pewarna itu?"


"Jadi benda apa itu? Dan apa itu Dron?" Lucia bertanya penasaran.


"Itu adalah alat pengintai tingkat dewa. Memiliki ini sama dengan memiliki satelite di dunia kami. Mata Dewa," jawab Aksa yang tidak membuat orang mengerti.


"Yang Mulia akan segera mengerti benda apa ini setelah diperagakan," sela Nata memberikan jawaban yang lebih mudah.


"Baiklah." Lucia mencoba untuk bersabar.


Kemudian dibantu Marco dan Couran, Aksa mulai membongkar peralatan yang berada dalam lori dan mulai merakitnya kembali di tenda terbuka tadi. Peralatan itu terdiri dari banyak bagian dan terlihat cukup rumit untuk dirakit.


Sementara itu Nata terlihat memeriksa Drone tersebut dengan seksama. Mengamati setiap detail bagiannya.


"Berapa banyak dari isi Lab yang telah kau bongkar? Apa kau membongkar PC Server juga?" tanya Nata masih terlihat membolak-balik Drone tersebut.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya membongkar beberapa komputer client untuk mendapatkan prosesor dan beberapa komponen lain yang ku perlukan." Aksa menjawab sambil sibuk memasang skrup pada sebuah papan dengan lapisan kaca berwarna hitam mengkilat di salah satu sisinya. "Dan juga aku membuat bagian luar kerangkanya dari daur ulang barang-barang plastik dalam Lab dengan bantuan 3D printer," tambahnya kemudian.


"Jangan bilang kau menggunakan rak Power Supply anti-conductor sebagai bahan materialnya?" Nata terdengar kuatir.


"Iya. Aku juga membongkar satu UPS server untuk membuat baterainya," balas Aksa lagi yang kali ini mulai memasang seperti tiang penyangga pada papan hitam tadi.


Nata terlihat mengusap dahinya dengan pasrah, mendengar jawaban dari Aksa tersebut.


"Kau bilang asal tidak menghilangkan kesempatan kita untuk pulang," sahut Aksa cepat mencari pembelaan.


"Ya. Aku ingat itu." Nata kembali mengarahkan pandangannya pada Drone yang ada di tangannya.


"Oh, dan karena ukuran webcam pada layar monitor yang sekecil itu tidak akan mampu menangkap gambar dari angkasa dengan baik, maka aku membuat ulang bagian cameranya dengan tambahan lensa yang dapat menangkap gambar sejauh 600 meter tanpa bantuan Optical Zoom. Dan bukan cuma satu atau dua, tapi lima buah sekaligus. Impresif, kan?" Aksa membanggakan hasil kerjanya tanpa orang lain paham apa maksudnya.


"Siapa yang membuat kaca-kaca untuk lensa camera itu? Kau, Val?" Nata bertanya pada Val yang berdiri diam di sebelahnya. Dan hanya dijawab dengan anggukan kecil tanpa suara.


"Benar. Val yang membuatnya. Untunglah kita membuat tungku perapian di dalam gua," sahut Aksa dengan ceria.


"Ya. Untungnya." Nata terlihat membuang nafas panjang.


"Aku juga membuat boosters untuk antenanya agar mampu menangkap gelombang remote control dengan radius jangkauan mendekati satu kilometer." Aksa masih terlihat menggebu-gebu membanggakan keunggulan alat yang ia buat itu.


"Apa ini roda dan jointball dari kursi Lab?" Sementara Nata tampak tidak menghiraukan ucapan Aksa.


"Ditambah lagi Panel Control yang sangat elegan lengkap dengan dua layar 14 inci ini." Aksa juga tampak tidak menghiraukan pertanyaan Nata, dan tetap melanjutkan menjelaskan semua keunggulan dari peralatan tersebut. "Fiture pengendaliannya sudah ku program dengan rinci dan sangat lengkap, layaknya pengendali pesawat tempur," lanjutnya seraya membantu Marco meletakan dua papan hitam tadi di atas meja.


"Apa lapisan Carbon di bagian atasnya ini dari kerangka pendingin Server?" Nata masih tidak mengacuhkan penjelasan Aksa.


"Dia mampu terbang selama 4 jam tanpa henti, dan melakukan segala jenis manuver di udara karena empat rotor utama dan dua rotor pendukungnya." Aksa juga masih tidak mau mengalah dengan terus memberi penjelasan.


Sementara yang lain hanya mampu terdiam menyaksikan kedua pemuda itu berdebat mengenai hal yang tidak mereka pahami.

__ADS_1


-


__ADS_2